Majalah BERKAT

Menjalin Komunikasi bagi usaha-usaha Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian antar Gereja dan Anggota Gereja

RUGI

Purnowo Junarso, ST

Purnowo Junarso, ST

Saat akan membeli laptop untuk anak saya yang masih duduk di sekolah dasar, saya bertemu dengan penjual di salah satu toko komputer yang ada di mall. Setelah menyebutkan kriteria laptop yang saya butuhkan, si penjual menunjukkan beberapa merek dan jenis laptop yang dipajang di tempat itu. Ketika  saya menentukan pilihan laptop yang mau saya beli, tiba-tiba penjual itu mengatakan, “bapak rugi kalau beli tipe ini! Harusnya ini saja pak,” sambil menunjuk laptop lain. Sedikit kaget saya bertanya, “lho, rugi bagaimana? Saya kan beli barang baru, bermerek dan bergaransi.” Rupanya penjual tadi ingin agar barang yang terjual adalah barang yang lebih mahal. Dengan begitu ia mendapat untung lebih besar.

 

Setiap transaksi jual beli, baik penjual maupun pembeli sama-sama tidak mau rugi. Karena itu jika hendak membeli atau menjual sesuatu, orang pasti mempertimbangkannya secara matang. Ketika saya akan menjual mobil bekas, saya mengiklankannya hingga beberapa kali sampai menemukan pembeli yang menawar paling tinggi. Ya, jika tidak mau rugi memang harus sabar, teliti dan hati-hati.

 

Bagaimana jika segala sesuatu dihitung untung dan rugi? Mulai memilih pekerjaan, memilih teman, memilih jodoh, memilih tempat tinggal, memilih sekolah, sampai memilih gereja pun dilihat dulu apakah menguntungkan atau merugikan. Secara duniawi hal itu tidaklah salah. Bahkan saking kuatirnya ada sepasang suami istri yang membuat perjanjian harta milik sendiri secara terpisah ketika hendak menikah. Ada pula orang yang mau menolong orang lain, melakukan pelayanan, menjadi aktifis gereja  bahkan menjadi hamba Tuhan ditimbang dulu untung ruginya.

 

Namun, ada juga orang yang bertindak tanpa memperhitungkan untung rugi, misalnya: sukarelawan yang menolong korban bencana, pekerja sosial yang menampung dan mendidik anak-anak terlantar, para aktivis kemanuasiaan yang membantu orang-orang miskin dan lain sebagainya. Mereka melakukan itu dengan tulus meski tanpa imbalan. Orang-orang seperti ini malah merasa rugi bila tidak melakukan aksi kemanusiaan seperti itu.

 

Jadi, untung dan rugi mempunyai makna berbeda bila dilihat dari sudut yang berbeda. Negara merasa rugi dengan banyaknya korupsi yang terjadi, perusahaan akan rugi jika target penjualan tidak tercapai, dan bencana banjir yang melanda kota Jakarta pada bulan Januari lalu, membuat warga Jakarta mengalami banyak kerugian. Sebaliknya, orang yang telah bertobat kepada Kristus merasa beruntung meski masalah terus datang seolah tanpa berujung.

 

Keuntungan bisa berubah menjadi kerugian, sebaliknya kerugian bisa menjadi sebuah keuntungan. Seperti dikatakan Paulus dalam Filipi 1:21 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Paulus tahu persis apa yang terjadi pada dirinya. Apa pun yang dibanggakan manusia secara duniawa, tidak ada artinya dibandingkan hidup setelah mengenal Kristus.

 

Dalam hidup kita sering memperhitungkan untung rugi. Jika kita merasa rugi saat melayani Tuhan, entah di gereja, di rumah tangga, di pekerjaan, itu berarti kita belum mengenal Kristus secara benar. Rugi hanya bisa dihitung jika kita melayani Tuhan dengan konsep dunia. “Jika saya melayani, apa yang saya dapat?” Atau, “Bagaimana kalau yang saya lakukan ternyata sia-sia?”

 

Apakah perkataan Yesus berikut ini membuat kita merasa rugi? “Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34)

 

(Majalah Berkat edisi Maret 2013 No. 98)

Caviar dari Salatiga

Pdt. Margono Susilomurti *)

Pdt. Margono Susilomurti

Kota Salatiga, seperti yang kita semua tahu, berada di Jawa Tengah. Di kota ini banyak makanan enak dan khas. Misalnya sayur gudeg, yang biasanya terbuat dari bahan baku gori saja, tetapi kalau di Salatiga dikombinasikan dengan daun singkong. Rasanya OK juga. Continue reading