Majalah BERKAT

Menjalin Komunikasi bagi usaha-usaha Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian antar Gereja dan Anggota Gereja

MENGAPA HARUS BERBAGI DENGAN INDONESIA TIMUR?

Pdt Djoko

Pdt Djoko Sugiarto

Indonesia bagian Timur adalah bagian negara kesatuan Indonesia yang kaya raya dengan kekayaan alam. Kekayaan yang terkandung dalam bumi, kekayaan laut, bahkan kekayaan fauna dan floranya sangat menakjubkan! Bayangkan saja berapa kekayaan emas di kandungan bumi yang ada di sana, kekayaan kayu cendana, kayu hitam, kopra, cengkeh serta pala. Woow. . . berapa duit semua itu?

Ditambah adanya kekayaan berjenis-jenis ikan termasuk ikan napoleon yang sangat langka di dunia ini, kepiting, tuna, udang besar, teripang, rumput laut, cakalang, penyu dan mutiara. Rasanya tak bisa habis dimakan sampai tujuh turunan. Belum lagi hasil tambang seperti, mika, tembaga, batu bara, gas, emas, uranium dan lainnya. Betapa kayanya  Indonesia bagian Timur!

Bahkan banyak penduduk dunia dikejutkan dengan jenis-jenis tumbuhan dan bunga anggrek serta jenis burung-burung yang langka di dunia. Belum juga terhitung pemandangan alam dan pantai-pantainya yang biru dengan ombak yang bergulung-gulung menabrak pasir putih yang terhampar sepanjang pantai. Semua itu menambah pesona dan indahnya panorama di Indonesia bagian Timur.

Beragam budaya, bahasa daerah dan agama ada di Indonesia bagian Timur. Tapi sayang kekayaan yang tak terhingga nilainya itu belum mampu memberi kemakmuran bagi masyarakatnya. Seolah dapat dikatakan “bagai tikus di dalam lumbung padi tetapi mati kelaparan”. Itulah yang saat ini dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia bagian Timur.  Salah pengelolaan atau bagaimana?

Beberapa tempat di Indonesia bagian Timur menyimpan permasalahan seperti, kemiskinan, pendidikan, dan keadilan. Ketiga hal ini saling terkait erat.  Ketiganya mbundel seperti benang kusut. Mana dulu yang akan dibenahi? Tentu harus dibenahi secara simultan dan bersama dengan banyak pihak yang terkait, termasuk gereja sebagai Lembaga Keagamaan.

Salah satu penyebab kemiskinan adalah adanya tradisi yang sangat mengikat dan membelit kehidupan masyarakat. Adanya tuntutan adat dengan biaya sangat tinggi misalnya, mas kawin untuk lamaran, pesta nikah, kematian dan rangkaian upacara pemakaman. Karena tuntutan adat ini menyangkut prestise keluarga maka biaya yang sangat tinggipun tidak jadi soal. Caranya ialah berhutang kesana kemari! Selesai mengadakan upacara adat, terkadang beban hutang harus dipikul seumur hidup karena pendapatan tidak mencukupi untuk  membayar hutang.

Untuk biaya kehidupan sehari-hari saja sudah sangat mepet. Maka seringkali mereka harus kehilangan tanah atau ternak miliknya. Seringkali tanah itu beralih tangan dikuasai oleh pemberi pinjaman uang. Sehingga mereka akhirnya tidak memiliki tanah lagi. Mau tidak mau mereka hanya bertahan hidup pas-pas an sebagai buruh atau pekerja di ladang/tanah milik orang lain. Dalam keadaan yang demikian untuk melepaskan” kesesakan hidupnya” mereka malah sering kali lari kepada minum minuman keras dan menghisap rokok. Uang sebagian besar justru dihabiskan untuk membeli minuman keras dan rokok dan bukan untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Anak-anak dibiarkan tidak sekolah. Mereka  larut  terbawa dalam kehidupan di bawah pengaruh alkohol. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi bila pengaruh alkcohol demikian kuat pada seseorang? Mereka tidak punya lagi semangat kerja, hanya bermalas-malasan saja, mereka tidak lagi mampu berpikir rasional. Pengaruh alkohol menjadikan mereka sangat temperamental, gampang tersinggung sehingga memicu kekerasaan baik kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan antar masyarakat.  Kekerasan tersebut bisa berujung saling berkelahi bahkan saling bunuh.

Keadaan seperti ini makin kompleks dengan hadirnya banyak pendatang dari luar daerah yang mencoba hidup di sana atau para transmigran yang di kirim oleh pemerintah. Biasanya pendatang-pendatang baru itu lebih ulet dalam bekerja, mau bekerja keras dan mempunyai keterampilan. Sehingga mereka lebih cepat “berhasil” dibanding dengan penduduk asli. Keadaan ini menimbulkan kesenjangan sosial antara penduduk asli dan pendatang. Hal ini berpotensi menimbulkan konflik yang membahayakan bagi kesatuan bangsa. Perlu serius dicarikan solusi. Dan perlu pula dijaga adanya keseimbangan antara desa di mana penduduk asli tinggal dan desa di mana para pendatang/transmigran hidup dan bekerja. Jangan sampai berat sebelah dalam perlakuan dan fasilitas yang tersedia. Perlu dijaga perasaan keadilan di masyarakat.

Sebab itu pemerintah daerah perlu menata sistim perekonomian atau tata niaga dengan benar dan adil, supaya jangan ada monopoli perdagangan di tangan orang atau kelompok tertentu saja. Praktek-praktek ijon yang sudah berlangsung lama mengakibatkan pemiskinan pada masyarakat.  Karena itu bantuan-bantuan kredit bagi usaha kecil dan menengah sangat diperlukan. Pemerintah Daerah perlu menyalurkan kredit melalui bank pemerintah atau mengembangkan usaha koperasi. Pengembangan perekonomian rakyat memang perlu dipikirkan dengan serius untuk mencegah kemiskinan yang berlarut. Karena kemiskinan bisa menimbulkan banyak  sentimen termasuk sentimen agama.

Disayangkan bila pengelolaan sumber kekayaan masih terasa kurang melibatkan masyarakat setempat. Terkadang mereka menjadi penonton saat kekayaan yang ada disekitarnya diangkut dari daerahnya. Pemerintah perlu membuat regulasi yang jelas untuk penyerapan tenaga kerja lokal. Tidak dapat dipungkiri semua itu disebabkan masalah kemampuan SDM yang masih rendah karena mutu dan sarana pendidikan yang masih tertinggal. Sehingga tidak bisa melahirkan angkatan kerja terampil dan mumpuni.

Kurangnya sarana pendidikan serta kesadaran orang tua untuk merelakan anaknya belajar di sekolah masih perlu dibangkitkan. Tidak sedikit orangtua yang “memanfaatkan anaknya” membantu mereka di ladang atau menjaga ternak. Menyebabkan anak-anak kurang mempunyai waktu untuk belajar. Suasana ”dunia pendidikan” masih terasa jauh dari kehidupan anak-anak karena mereka sejak kecil sudah dilibatkan dalam “dunia kerja” orang tuanya. Kesadaran untuk berjuang mencapai pendidikan yang tinggi agar dapat merubah” nasib” perlu ditanamkan pada generasi tua maupun muda. Pemerintah perlu mengupayakan pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, pertanian, peternakan yang menyentuh kebutuhan masyarakat setempat. Proyek-proyek pembangunan dalam bidang-bidang ini memang memerlukan biaya tinggi. Itu sebabnya perlu diawasi dengan benar supaya jauh dari praktek korupsi. Proyek-proyek ini jika tidak termakan korupsi pasti bisa dinikmati oleh masyarakat dan sangat bermanfaat untuk pengembangan Indonesia bagian Timur. Dengan demikian mereka bisa merasakan hasil kekayaan daerahnya.

Masalah keadilan sosial, pemerataan lapangan kerja dan pendapatan yang layak memang menjadi isu penting. Pemerataan pembangunan di Jawa dan Indonesia bagian Timur masih belum seimbang. Khususnya masalah tenaga listrik, pembangunan jalan, jembatan, waduk, pusat perbelanjaan dan transportasi laut, udara maupun darat . Sarana seperti ini sangat kurang memadai. Itu sebabnya pertumbuhan ekonomi juga terasa lambat. Dalam hal ini peran Lembaga Sosial dan Keagamaan sangat penting. Bukan lagi “rebutan” wilayah dan pengikut. Tapi berlomba dalam program  dan bekerja sama mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan sebagai subyek yang mampu mendatangkan transformasi bagi daerahnya.

Panggilan Gereja

Pelayanan gereja di Indonesia bagian Timur perlu menyentuh akar permasalahan kemiskinan dan pemiskinan yang ada. Akar dan penyebab kemiskinan dan pemiskinan perlu dibuka dan disebar luaskan kepada masyarakat. Supaya mereka menjadi masyarakat yang well informed. Supaya mereka akhirnya sadar bahwa tuntutan  adat  dengan biaya sangat tinggi, merupakan penyebab orang masuk ke dalam lumpur kemiskinan. Apakah Pendidikan Agama Kristen, katekisasi dan pemahaman Alkitab memberi ruang selebar-lebarnya untuk bersama mendiskusikan, memikirkan dan mencari solusi pemecahan masalah adat, dan minuman keras?

Selama gereja tidak mampu menembus kegelapan ini , gereja belum mampu menjadi garam dan terang dunia. Banyak sudah teolog asal Indonesia Timur yang hebat, tapi belum satupun hasil pemikiran teologisnya yang  berdampak menimbulkan transformasi bagi masyarakat (boleh dibaca: mendatangkan pertobatan dan perubahan). Iman Kristen meyakini bahwa Tuhan ingin semua manusia  menampilkan citra-Nya sebagai manusia ciptaan Allah yang sesuai dengan gambar dan peta Allah. Manusia harus hidup layak sebagai manusia ciptaan Allah.

Gereja di kota besar perlu bekerja sama dan berbagi dengan gereja lokal di Indonesia bagian Timur mendatangkan transformasi. Dengan mengadakan pembinaan spiritual dan keterampilan. Mereka membutuhkan teknologi tepat guna untuk pembangkit listrik tenaga dari: air, biogas, angin dan sampah. Penemuan dan pengadaan sumber air bersih juga mendesak. Di kota besar banyak anggota gereja yang ahli dalam tehnologi tepat guna. Hanya saja gereja belum menggerakkan potensi ini untuk dijadikan berkat bagi yang membutuhkan. Ibu-ibu dari gereja kota besar bisa diajak membimbing  masyarakat untuk terampil mengolah bahan baku yang tersedia disekitarnya, misalnya: mente, jagung, kacang, ketela, asam, kapok, kelapa, pisang, nanas, pala bisa diolah menjadi bermacam jenis makanan baik kering maupun basah yang bisa dijual. Karena masyarakat di sana kurang terampil mengolah bahan baku, maka bahan itu terbuang sia-sia atau dibiarkan busuk. Padahal semua itu punya nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Keterampilan di bidang seni kerajinan tangan untuk menjadikan tempurung kelapa dan bambu sebagai alat-alat dan hiasan rumah tangga. Tentu punya nilai seni yang berharga. Di sana bambu, tempurung dan serabut kelapa begitu limpahnya padahal barang ini punya nilai ekspor yang mahal. Perlu dirancang secara sistimatis pemberdayaan tenaga kaum ibu dan lansia untuk dilengkapi dengan kepandaian membuat corak dan gambar kain tenun. Nantinya akan mampu meningkatkan nilai jual tenunan Indonesia Timur bahkan bisa menjadikan tenunan sebagai salah satu komoditi andalan.

Tentu masih banyak lagi lahan yang bisa dilayani oleh gereja. Sebab itu gereja di kota besar perlu memobilisasi warganya untuk ikut terjun melayani dengan berbagi kepandaian, keahlian, keterampilan, waktu, tenaga, perhatian dan bahkan dana secara sinambung dan terencana. Kalau gereja di kota besar terlambat bergerak. Jangan salahkan pihak lain bila akhirnya gereja-gereja di Indonesia Timur ditinggalkan warganya menjadi sebuah monumen tua yang tak berarti lagi.

Majalah Berkat edisi Maret 2013 No. 98

HIDUP PENUH SEMANGAT WALAU CACAT

Rangkaian kegiatan memperingati 76 tahun GKI Jatim

Parapenyandangcacat

Para penyandang cacat

Dua puluh April lalu, GKI Diponegoro kembali menghelat rangkaian kegiatan memperingati 76 tahun GKI Jatim. Sebuah acara yang menghadirkan saudara-saudara kita yang tergabung dalam dCare Surabaya. Mereka adalah penyandang cacat tuna netra, tuna rungu, dan tuna daksa. Continue reading

Puasa: Ketersembunyian yang Bernilai

Anil Dawan M.Th

Anil Dawan

Masa puasa Pra-Paskah sudah terlewati, namun di benak jemaat masih saja ada pertanyaan tentang apa, mengapa dan bagaimana orang Kristen berpuasa. Bahkan pertanyaan dari yang praktis hingga theologis dipertanyakan. Hal ini menunjukan bahwa puasa belum cukup dipahami oleh jemaat. Penulis ingin memberikan sedikit sumbangan pemikiran terkait dengan puasa dalam perspektif Iman Kristen. Continue reading

BERDOA UNTUK KOTA

Pdt. Ir.Andreas Rahardjo, M.A.*)

Mengapa kita perlu memikirkan tentang kota?

Pdt. Ir. Andreas Rahardjo, M.A. dan keluargaBanyak orang Kristen tinggal di suatu kota tetapi tidak mau tahu bahkan tidak mau memperhatikan kota mereka tinggal. Tuhan tidak ingin kita hanya sekedar tinggal di suatu kota tetapi Tuhan ingin kita untuk memperhatikan kota di mana kita tinggal. Firman Tuhan mengatakan: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”. (Yeremia 29:7)

Jika kota kita tenang, maka kitapun juga akan tenang. Jika kota kita bergolak maka yang menderita adalah warga kota itu sendiri. Ada pepatah yang mengatakan: There is no prosperity without security. Kota yang penuh dengan ketenangan, akan membawa berkat yang besar bagi warganya. Continue reading