Amanuban Timur, Cinta Membawa Kami Kembali!

0
129

Oleh: Mario Benu – GKI Ngagel Surabaya

Beberapa dari pembaca Majalah Berkat mungkin masih ingat sekitar setahun yang lalu pada September 2014, Majalah Berkat memuat cerita kami dari GKI Ngagel yang melakukan perjalanan misi  pertama kami ke Amanuban Timur, Timor Tengah Selatan – NTT,  berikut ini adalah episode cerita kedua dari perjalanan misi kami ke Amanuban Timur.

Memang tidak pernah kami pikirkan sebelumnya dengan jalan apa Tuhan akan membawa kami untuk perjalanan misi kami berikutnya, terlebih kembali lagi untuk melayani di Amanuban Timur.

Sungguh bahagia ketika kami mengetahui ternyata Tuhan memberikan kesempatan kami untuk melakukan perjalanan misi. Panitia Paska GKI Ngagel 2015 memutuskan, bahwa hasil dari pundi-pundi paska dari Jemaat GKI Ngagel diperuntukkan bagi pelayanan jemaat di  Amanuban Timur. Dengan semangat kami pun mulai mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari pengalokasian dana, waktu sampai detail kegiatan kami  setiap harinya.

The A-Team

The A-Team, begitu kami menyebut tim mission trip kedua ke Amanuban ini. Total anggota tim misi kali ini sebanyak 17 orang, 12 anggota tim dari GKI Ngagel. Turut berpartisipasi juga 4 teman dari beberapa Gereja lain, yaitu GKI Sulung Surabaya, GKI Bogor, GKR Kupang, Gereja St. Thomas Kelapa Dua, dimana masing-masing Gereja diwakili 1 jemaatnya. Pdt. Mex Gasperz dari Worldwide Evangelization for Christ (Badan Misi yang memiliki lebih dari 2000 anggota dan 974 anak misionaris) juga turut ambil bagian dari tim perjalanan misi GKI Ngagel tahun ini

Senin, 14 Sept 2015 pukul 05.00 pagi, kami  sudah berada di Bandara Juanda untuk siap terbang dari Bandara Juanda Surabaya dengan tujuan Bandara Eltari Kupang, perjalanan udara di tempuh selama +2 jam dan dilanjutkan perjalanan darat menggunakan mobil selama + 6 Jam untuk sampai di Amanuban Timur.

Kami mendarat di Bandara El-tari kupang sekitar pukul 09.30 pagi, kami disambut Pdt. Blegur selaku Ketua Klasis Amanuban Timur. Pdt. Blegur dan beberapa anggota tim misi kemudian menuju Kantor Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) NTT untuk bertemu dan berkenalan serta bertukar informasi dengan jajaran pengurus SINODE GMIT NTT mengenai perjalanan misi GKI Ngagel kali ini. Anggota tim yang lain juga bergerak untuk membeli perbekalan yang akan kami gunakan selama 4 hari di Amanuban.

Selepas makan siang dengan menu Daging Se’I, makan paling ngetop dan makanan wajib bagi siapa pun yang berkunjung ke Kupang, rombongan misi pun melanjutkan perjalanan darat menuju Amanuban Timur, dengan berhenti sejenak di Kota So’e guna mengambil beberapa perlengkapan yang kami pinjam dari salah satu kerabat anggota tim kami yang menetap di So’e.

Malam Pertama di Amanuban Timur

Pukul 18.00 akhirnya kami sampai di Amanuban Timur, kami pun sejenak beristirahat, makan malam, dan melakukan ibadah malam pertama kami di Amanuban Timur. Malam ini kami habiskan dengan memilah dan membagi sumbangan seragam sekolah bagi anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar, kurang lebih ada 600-an setelan baju seragam lengkap untuk putra dan putri yang harus kami atur dan bagi sesuai ukuran.

Seragam sekolah ini akan kami bagi untuk 6 dari 9 Gereja yang akan kami layani dalam 3 hari pelayanan misi ini. Beberapa rekan-rekan dari komisi anak juga membantu mempersiapkan bahan-bahan lain yang akan digunakan selama pelayanan. Beberapa dari kami pun berlatih menjadi badut untuk acara esok hari. Sekita pukul 00.30 kami pun selesai dan beristirahat, persaaan semangat ada diantara kami, tidak sabar menanti pagi hari untuk segera memulai pelayanan kami di Amanuban Timur ini.

Bergerak Serentak

Selasa, 15 September 2015, hari pelayanan kami pun dimulai. Tim dibagi dalam 3 kelompok kecil untuk kemudian masing-masing kelompok melayani di satu Gereja yang sudah ditentukan setiap harinya, total 11 Gereja akan kami layani dalam 3 hari perjalanan misi episode kedua ini, 9 Gereja akan dilayani dalam bentuk pelayanan pembinaaan penatua dan diaken, pembinaan guru sekolah minggu dan pelayanan anak, pelayanan anak berupa panggung boneka, badut, beberapa permainan dan pemutaran filim kartun Kristen, pelayanan ke 9 Gereja ini dilakukan dari pagi sampai sore hari.

Setiap harinya pada sore hingga malam bersama-sama dengan seluruh tim misi, kami mengadakan Ibadah KKR pada 2 Gereja selain 9 gereja yang akan kami layani, ibadah KKR untuk jemaat dewasa pada hari pertama dan ibadah KKR Anak pada hari kedua dan ketiga.

Melayani Anak-anak, Membangun Masa Depan

Sebagian besar waktu pelayanan kami setiap harinya selama di Amanuban Timur memang difokuskan pada pelayan anak, termasuk di dalamnya pembinaan guru selolah minggu yang juga berperan penting  mengajar dan membimbing anak-anak secara rohani.

Mengapa lebih banyak terfokus pada anak? Ya, karena tim misi ini memang sejak perjalanan misi amanuban pertama, sudah punya satu tujuan khusus, dimana kami sangat berharap bahwa anak-anak sebagai penerus generasi, akan tetap tumbuh besar, bekerja, berkarya dan melayani di Amanuban Timur, tidak terprovokasi menjadi TKI baik legal atau illegal, atau bekerja sebelum waktunya apalagi berpindah agama karena iming-iming kesejahteraan dan harta, serta tidak terjebak dalam pusaran human trafficking karena sudah lebih terdidik dan kuat secara iman. Karena alasan-alasan ini, dalam tim misi kali ini terdapat 7 orang anggota dari aktifis di Komisi Anak GKI Ngagel.

Mengalirkan Air, Mengalirkan Harapan

Untuk diketahui sumbangan dari pengumpulan pundi-pundi Paska GKI Ngagel 2015, dialokasikan untuk pembelian 3 mesin pompa air, 5 tandon air @5200 liter beserta seluruh kelengkapan instalasi pipanisasi dan selang guna menyirami kebun, serta 1 unit mesin penggiling beras. Semua sumbangan ini sudah dikirim dan sebagian sudah dipasang serta diuji coba sebelum kami sampai di Amanuban Timur.

Hari pertama kami sempatkan melihat dan mengecek mesin pompa serta tandon air pertama yang berada di Tuaheli, Desa Mnela Anen, sore hari nya kami sempatkan juga melihat 1 tandon lain di Gereja Nazareth yang merupakan tempat ibadah KKR Jemaat Dewasa. Hari kedua kami mengunjungi lokasi mesin penggiling beras ditempatkan, yaitu di Desa Nunfutu – Fatukopa. Hari ketiga kami mengunjungi 2 lokasi lain dimana 1 mesin pompa air dan 2 tandon air tempatkan, yaitu di Kali Bono Desa Oe’ekam dan lokasi mesin pompa air dan tandon terakhir ada di Desa Bila.

Saat perkunjungan ini kami merasakan sukacita dari jemaat dan masyarakat sekitar lokasi mesin pompa air dan mesin penggiling beras ini, nampak kebahagiaan karena ada jawaban dari sebagian pergumulan mereka dalam memperoleh air, air yang bisa mencukupi kebutuhan kebun dan rumah tangga dari jemaat dan masyarakat sekitar. Dan juga kebahagiaan bahwa tidak lagi perlu melalui jalan yang jauh untuk menggiling padi hasil sawah mereka, semua bantuan ini adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi para jemaat dan masyarakat di Amanuban Timur .

Kembali ke Kupang

Jumat, 18 September 2015, setelah melakukan ibadah pagi, kami pun bergerak kembali ke Kupang. Kami melanjutkan ke Kota So’e untuk mengembalikan beberapa peralatan yang kami pinjam sebelumnya, dan kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Kupang.

Malam sekitar pukul 19.00 kami Tiba di kupang, istirahat sejenak dan kemudian seluruh tim beranjak untuk makan malam dan ibadah malam bersama di rumah keluarga dari seorang anggota tim kami yang kebetulan keluarganya menetap di Kupang.

Pelayanan di Pulau Kera

Sabtu, 19 september 2015, pagi hari kami sudah siap di pinggir Pantai Solor untuk menyebrang ke Pulau Kera menggunakan perahu berukuran sedang yang berkapasitas sekitar 25 orang. Pemandangan indah selama 45 menit perjalanan kami, melihat kota kupang dari sisi berbeda dan melihat putihnya pasir Pulau Kera yang akan menyambut kami.

Perlu diketahui Pulau Kera Luasnya hanya 48,17 Ha, dengan penduduk sekitar 300 jiwa, kebanyakan datang dari Suku Bajo dari NTB. Di pulau ini tidak ada air bersih, air bersih di ambil dari kota kupang, juga tidak ada listrik, listrik di pulau ini bersumber pada satu mesin pembangkit listrik diesel, dan listrik hanya ada pada sore sampai malam hari, itu pun hanya untuk beberapa jam saja, kemudian pulau ini akan menjadi gelap lagi, sangking kecilnya pulau ini hanya dibutuhkan 10-15 menit untuk kita berjalan dari sisi pantai bagian selatan pulau ini ke pantai bagian utara dari pulau ini.

Di Pulau Kera, kami bertemu dengan para penduduk, di sini kami melakukan kegiatan kemanusiaan berupa permainan bersama anak-anak Suko Bajo, panggung boneka yang bercerita pentingnya pendidikan serta kami membagikan seragam dan beberapa beberapa peralatan sekolah, harapan kami melalui perkunjungan ini anak-anak di Pulau Kera tetap punya semangat untuk dapat bersekolah setinggi-tingginya walau kondisinya tidaklah gampang, tapi merka harus tetap percaya bahwa pertolongan selalu ada buat mereka yang membutuhkan. Kegiatan-kegiatan ini kami lakukan di sebuah rumah tidak permanen yang saat ini digunakan sebagai sekolah karena sekolah yang sebenarnya baru saja hancur di terjang angin beberapa waktu sebelumnya.

Tak Mudah Kembali ke Surabaya

Pukul 12.00 siang kami bersiap menyebrang ke Kota Kupang karena harus mengejar pesawat yang akan membawa kami kembali ke Surabaya. Beberapa kejadian membuat kami cukup khawatir, kapal yang harusnya sudah menjemput kami ternyata terlambat, sehingga kami harus menunggu sekitar 1 jam di pantai, kemudian dalam perjalanan kembali ke Kupang, gelombang pun semakin membesar dan tinggi, hal ini membuat kami tidak bisa kembali ke pantai dimana kami berangkat pada pagi hari tadi, kami harus berputar sekitar 2 jam ke Pelabuhan Tenau untuk bisa bersandar dan turun di dermaganya.

Jam menunjukan pukul 03.00, kami baru saja turun dan merapat di dermaga, segera kami bergegas kembali ke penginapan kami bersiap-siap dan berangkat ke Bandara. Puji Tuhan Kami tiba di bandara tidak terlambat sama sekali, pertolongan Tuhan yang luar biasa bagi kami

Pukul 18.35 WIB kami tiba di Bandara Juanda Surabaya, kami menutup perjalanan misi kami dengan berdoa bersama mengucap syukur atas perjalanan misi kali ini, banyak cerita sukacita bagi tim kami, juga bagi masing-masing pribadi kami, kembali kami merasakan sungguh penyertaan dan pertolongan Tuhan dalam misi ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here