Eksklusif atau Inklusif

0
300

Oleh: Pdt. Novarita *)

Bagaimana Pandangan dan Upaya GKI dalam Menjaga Perdamaian di tengah Kehidupan Bersama diantara Umat Beragama

Dalam kehidupan bersama ada sikap yang muncul ketika kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda dengan kita; baik itu suku, budaya, ras dan agama. Sikap ini menentukan arah kehidupan yang dibangun secara bersama. Sikap orang atau kelompok yang eksklusif cenderung menyatakan bahwa, diri atau kelompoknyalah yang paling utama, paling hebat dan menjadi puncak dari segala sesuatu. Karena itu kelompok ini cenderung merendahkan orang atau kelompok lain. Mereka juga cenderung tidak mau bergaul dengan orang atau kelompok lain. Itulah yang dilakukan orang atau kelompok eksklusif.

Sebaliknya, ada juga kelompok yang mempunyai pandangan terbuka kepada orang atau kelompok lain. Mereka mampu untuk hidup berdampingan dengan orang lain, bahkan bercampur dalam komunitas di mana dia tumbuh dan berkembang. Mereka mampu hidup bersama tanpa saling merendahkan, dan mampu mencapai tujuan bersama dalam komunitas tersebut.

Manakah yang harusnya menjadi pilihan kehidupan orang Kristen? Hidup eksklusif tentu menimbulkan hidup yang terkotak-kotak dan cenderung saling berlomba antara kelompok satu dengan kelompok lain. Jika ini yang terjadi, maka konflik semakin mudah tersulut dan keinginan saling berkuasa menjadi tinggi. Kalau masyarakat menganut hal ini, maka rasio tidak lagi dipakai, kta “pokoknya” menjadi kalimat yang akan terus didengungkan. Apakah kita menghendaki masyarakat yang seperti ini?

Sedangkan hidup inklusif berarti hidup yang terbuka. Terbuka terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Namun, yang seringkali tidak dipahami adalah seakan-akan hidup inklusif itu menjadi hidup dengan tidak mempunyai identitas apa-apa. Justru pandangan seperti ini yang keliru. Orang yang benar-benar mampu hidup inklusif, berarti dia sudah memahami identitas dirinya. Ia paham kalau ditanya, “Siapakah kamu?” Sehingga percampuran atau pembauran ini bukan menghilangkan identitas, justru karena kesadaran identitasnya. Ia atau kelompok ini mampu hidup bersama dan berdampingan dengan orang lain.

Kehidupan yang saling menghormati dan menghargai identitas dan keunikan dari setiap pribadi atau kelompok dalam komunitas itu menjadi hal yang patut dilakukan. Jika sudah demikian, maka keunikan masing-masing bukan menjadi alat untuk semakin memisahkan lebih lebar masing-masing kelompok atau golongan, justru perbedaan dan keunikan itu menjadi alat pemersatu sebuah komunitas.

Hal tersebut disampaikan dalam Dialog Lintas Iman bersama Gusdurian, Komisi Pemuda GKI Tumapel pada 8 Agustus 2015. Dialog ini diikuti oleh 33 peserta dari GKI Tumapel, Kebonagung, Gusdurian Malang dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia Cabang Malang. Bertindak sebagai narasumber yaitu Al Muiz Liddinillah dari Gusdurian Malang dengan topik, “Gusdurian Malang dan Islam Nusantara.” Sedangkan Pdt Novarita, M.Min, sebagai narasumber dari GKI Kebonagung mengusung topik, “Bagaimana Pandangan dan Upaya GKI dalam Menjaga Perdamaian di tengah Kehidupan.”

Bagaimana dengan GKI?

Dalam Mukadimah Tata Gereja GKI poin 10, GKI menuliskan: [10] Dalam kebersamaan yang dijiwai oleh iman Kristiani serta semangat persatuan dan kesatuan bangsa, GKI membuka diri untuk bekerja sama dan berdialog dengan gereja-gereja lain, pemerintah, serta kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat, guna mengusahakan kesejahteraan, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jadi, kehidupan yang inklusif-lah yang dipilih GKI untuk hidup bersama, semangat triumphalisme (dengan terompet kemenangan; semangat untuk lebih unggul, menang dari yang lain) haruslah ditinggalkan oleh orang percaya. Kehidupan yang membangun bersama sebuah komunitas merupakan kegiatan bersama yang harus terus dihidupi oleh kita sebagai GKI. Bukankah kita hidup bersama dengan orang lain adalah merupakan anugerah?

Yesaya dalam nasihatnya kepada orang-orang buangan pun menasihati mereka yang ada di Babel (Yeremia 29: 7), “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Ayat yang seringkali dipakai tanpa keterangan lanjutan dan kita disejajarkan dengan orang buangan. Mestinya ayat ini diterangkan bahwa itu nasihat Yesaya kepada mereka yang ada dalam pembuangan. Apakah kita merupakan orang yang dibuang? Pasti tidak. Dan kalau tidak, seharusnya justru usaha kita untuk hidup berdampingan dengan orang/kelompok lain lebih lagi karena kita hidup bersama di negara yang merdeka. Perbedaan itu indah. Seindah pelangi dengan berbagai warna yang terpadu menjadi satu.

Upaya Yang Dilakukan

Dalam lingkup GKI mencoba membuat Tim Gerakan Kemanusiaan, yang mencoba menyikapi situasi-situasi konflik yang terjadi dengan mengirimkan bantuan kepada para korban pasca konflik, juga menyampaikan surat penggembalaan dan pernyataan sikap ketika terjadi konflik antar kelompok dan menimbulkan relasi yang kurang baik. Dalam lingkup GKI Sinode Wilayah Jawa Timur juga dalam lingkup Klasis dibentuk Departemen Oikumene Kemasyarakatan (Oikmas).

Dalam GKI Sinode Wilayah Jawa Timur diputuskan untuk memiliki tenaga penuh waktu dalam diri Pdt. Simon Filantropha yang selama ini sudah turut membangun jejaring lintas iman dengan berbagai program yang dilakukan dengan kelompok-kelompok antar gereja dan juga dengan kelompok yang berbeda keyakinan.

Selain Pdt. Simon Filantropha, dalam lingkup GKI Klasis Madiun juga dikenal alm. Pdt. Edy Sumartono (1969-2014) salah satu pencetus  program Live in Departemen Oikumene Kemasyarakatan (Oikmas) GKI Klasis Madiun. Setidaknya sudah 6 kali diadakan Live in, masing-masing di Pondok Pesantren Ngalah, Pasuruan; Maha Vihara Mojopahit, Trowulan, Mojokerto;  Klenteng Vihara Avalokitesvara Pamekasan Madura; di Komunitas Tengger, Bromo;  Komunitas Masyarakat Samin di Desa Jepang, Margomulyo, Bojonegoro; tempat retreat Katolik Pohsarang, Kediri dan Masyarakat Osing, Banyuwangi (April 2016).

Tujuan program Live in adalah untuk mengenal lebih jauh komunitas maupun kelompok masyarakat atau agama yang berbeda, sehigga diharapkan meminimalkan kesalahpahaman diantara masing-masing kelompok. Di GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah juga dikenal sebuah lembaga bernama Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial (YBKS) kerjasama GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah dan GKJ Jawa Tengah, dimana salah satu perintis adalah Pdt. Em. Josef P. Widyatmadja.

Dan jauh sebelum ini kita juga mengenal tokoh lintas batas, Yap Thiam Hien (1913-1989). Beliau bergabung menjadi jemaat di GKI Samanhudi Jakarta. Sejak tahun 1992, Yayasan Pendidikan HAM (sekarang menjadi Yap Thiam Hien Foundation) memakai nama Yap Thiam Hien Award sebagai suatu penghargaan bagi para tokoh HAM di Indonesia yang dianugerahkan setiap tahun.Demikian sekilas upaya-upaya GKI dalam menjaga perdamaian antar kelompok umat beragama. (doc*)

*) Pendeta GKI Kebonagung

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here