Gereja Sampah

0
131

Tengah hari di Cairo sungguh terik dan menyengat. Kami harus pindah dari kenyamanan bus yang ber AC ke mobil “colt” yang lebih kecil untuk bisa menyusuri lorong-lorong padat di Manshiyat Naser (garbage city, kota sampah), di pinggir tenggara kota Cairo.

Tumpukan karton bekas, karung-karung plastik sarat berisi sampah adalah pemandangan yang lazim di pemukiman yang padat itu. Banyak kali kami berpapasan dengan truk-truk bermuatan karungan sampah dan sejenisnya.

Di sana sini penghuni tampak bersantai menghirup shiza (mengisap rokok ala Turki), atau menikmati kopi tengah hari. Ada toko kecil berjualan HP, ada toko kelontong, dll. Ada penjual buah di pinggir jalan, ada pula toko roti, tampak rotinya bertumpuk tanpa ditutup. Pastilah tidak bebas debu dan lalat. Seperti kata pemandu wisata kami, penduduknya sudah kebal karena vitamin D (ebu) dan L(alat). Unik sekali. Apalagi meskipun rumah-rumah itu kebanyakan lebih menyerupai gudang sampah, tapi di pintunya tampak tergantung salib. Banyak juga gambar-gambar icon Bunda Maria menggendong Bayi Yesus di dindingnya.

Memang kaum Zabbaleen, mayoritas penghuni Manshiyat Naser, Kota Sampah ini beragama Kristen Orthodox Mesir (Koptik, injil masuk ke Mesir melalui murid Yesus sendiri, Rasul Markus). Sebenarnya mereka adalah orang-orang pendatang yang terpaksa pindah ke Cairo (kira-kira tahun 1940-an) untuk mencari nafkah karena paceklik di tempat asal mereka. Sebagai petani dan peternak, mereka membawa serta kambing domba mereka. Di ibu kota ini kebanyakan mereka harus mengais sampah  mencari makanan bagi ternak mereka.

Jumlah mereka makin hari makin banyak. Tersebar di seluruh penjuru kota Cairo.  Hingga pada 1969, pemerintah mengeluarkan peraturan untuk mengumpulkan para pemulung ini di kaki bukit Muqattam di pinggiran kota. Pada 1987 jumlahnya sudah menjadi  kira-kira 15.000 orang, dan sekarang sudah menjadi lebih dari 30.000 orang. Jadilah tempat ini kampong pemulung, pusat sampah, pusat daur ulang sampah kota Cairo.

Jalan yang kami susuri berakhir di sebuah bukit batu kapur, bukit Muqattam. Sebuah bangunan gerbang gereja dengan 2 kubah dan 3 buah salib di atasnya bagaikan tumbuh di antara bukit batu, ramah menyambut para pendatang. . .  Kami sudah tiba di Gereja Sampah yang unik itu.

The Cave Church

Di balik bangunan gerbang gereja terbentang sebuah goa yang luas dan dalam, di dalam bukit limestone (batu kapur). Inilah The CAVE CHURCH (gereja Goa) atau seperti umat Koptik menyebutnya: St Simon the Tanner Church. Konon kisahnya adalah seorang pemuda pemulung yang putus asa, merasakan beratnya tekanan hidup, betapa gelap masa depannya. Suatu malam, dalam keadaan mabuk berat Farhat Qiddis Agib, begitulah nama pemuda itu, jatuh tak sadarkan diri di muka rumah seorang pendeta Kristen Koptik. Pak pendeta kemudian menolong, merawat dan terus mendampingi, mengenalkan Farhat kepada Yesus Sang Juruselamat dan Sumber Harapan. Akhirnya Farhat yang telah diubahkan kembali ke kampung pemulung, membawakan terang, membagikan harapan bagi teman-temannya di slum kota Cairo ini.

Mereka menemukan goa di kaki bukit Muqattam, yang mereka bersihkan dan kemudian menjadi tempat mereka berkumpul, bersekutu dan beribadah. Mereka menggelar karung-karung bekas sebagai alas duduk di dasar goa dan belajar Firman Tuhan di sana. Berulang kali Farhat mengajak pendeta yang menolongnya untuk datang membawakan firman. Mulanya sang pendeta enggan, khawatir memasuki sarang pemulung dan menolak. Namun suatu hari hembusan angin menerbangkan sampah di jalan kemana-mana, menjatuhkan secarik kertas di dekatnya.

Ternyata secarik kertas sampah itu adalah robekan Alkitab bertuliskan Kisah Rasul 18 : 8,9 yaitu Firman Tuhan kepada Paulus dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan Firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau , sebab banyak umat-Ku di kota itu.” Maka tanpa ragu lagi ia berangkat dan dengan setia melayani di kota sampah ini.

Akhirnya Paus (Koptik) Shenouda mendengar tentang persekutuan pemulung ini dan memberikan uang $ 150 dengan pesan agar Farhat mendirikan sebuah gereja. Maka pada tahun 1976 mulailah di buat sebuah altar di dasar goa. Jemaat duduk mengelilinginya. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk kampung pemulung ,bertambah pula jumlah jemaat yang setia beribadah. Farhat pun menjadi abuna, pendetanya…

Keunikan gereja ini menarik perhatian banyak orang, bahkan mendunia. Banyak turis berdatangan, simpati dan donasi pun mengalir. Sekarang goa yang luas ini bisa menampung 20.000 orang. Tidak lagi harus duduk bersimpuh di atas karung ataupun karpet jerami bekas seputar altar. Sudah tersedia bangku-bangku permanen, rapi berderet, berlapis bertingkat seperti layaknya tribune yang baik. Tersedia pula layar LCD besar.

Bahkan ketika Mario, seorang turis dari Polandia menanyakan: mengapa gereja begitu polos, tanpa icon  (gambar-gambar orang suci)? Farhat menjawab: Kami tidak ada orang yang dapat membuat ukiran, dan dinding kami adalah dinding batu. Maka Mario yang adalah seorang pemahat mengajukan diri untuk membuat ukiran di dinding goa.

Sampai sekarang Mario terus mendedikasi kan dirinya, mengukir pahatan demi pahatan di dinding bukit. Ada ukiran Keluarga Kudus, Yusuf, Maria dan Bayi Yesus, ukiran ayat-ayat Alkitab, ukiran kubur kosong dengan batu yang sudah terguling, kisah tentang bukit Muqattam, dll.

Meskipun sekarang di kompleks gereja ini sudah ada 7 kapel, Mario terus mengukir dan mengukir. Iapun menetap di Mesir, menikah dengan seorang wanita Mesir dan membangun keluarga di sana. Siang itu waktu kami datang, Mario memberi kami kesempatan berfoto bersama, lalu mengikatkan sabuk pengamannya kembali, naik memanjat tebing, meneruskan karyanya.

Simon the Tanner

Menurut pemandu wisata kami, nama “Gereja Sampah” hanyalah orang Indonesia yang menyebutnya. Penduduk setempat, orang-orang koptik Zabbaleen menyebutnya St Simon the Tanner Church, atau gereja Santo Simon sang Penyamak Kulit. Santo Simon (atau dalam bhs Arab: Sama’an) al Kharrazadalah seorang Koptik orthodoks yang sangat saleh. Beliau hidup di akhir abad 10. Di kenal sebagai pengrajin kulit, beliau di gambarkan sebagai seorang saleh bermata satu yang menggendong kantung air di pundaknya. Memang tiap pagi sebelum mulai pekerjaannya sebagai pengrajin kulit beliau menyempatkan untuk berjalan keliling kota menggendong kantung air , mengunjungi orang-orang sakit dan para janda yang membutuhkan. Bagi  Cairo yang amat jarang turun hujan, pelayanan ini sungguh amat berarti.

Mengapa Simon yang saleh ini bermata satu? Di dinding kapel St Markus terukir kisahnya; sebagai pengrajin kulit, Simon juga membuatkan kasut, sandal seperti pada umumnya. Suatu hari datanglah seorang wanita minta dibuatkan sepatu. Namun ternyata wanita ini bukan wanita baik-baik, dan mencoba merayu, menggodanya. Menurut catatan, Simon mengambil jarum yang biasa digunakannya untuk menjahit kulit sepatu dan mencucukkannya ke mata kanan nya sendiri. Dengan demikian beliau ingin menunjukkan ketulusan hatinya, melawan godaan, agar jangan berzinah, taat menuruti Firman, Matius 5 : 29,  Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.

Iman Sebesar Biji Sesawi

Kisah kesalehan Simon Penyamak Kulit tidak berakhir di sini. Pada tahun 972 – 975  Mesir, yang adalah sebuah Negara Islam dengan ibu kotanya Babylonia (sekarang di sebut Cairo) di perintah oleh Khalifah yang pertama dari dynasti Fatimid, Fatimid al Muizzi. Beliau adalah seorang muslim yang taat, bijak dan berpikiran terbuka , yang gemar mengadakan perbincangan agama. Para pemuka agama sering di undang untuk berbicara dan berdebat.

Suatu kali beliau mengundang Paus Kristen Orthodoks Abraam dan seorang pemuka agama Yahudi Yaqub bin Killis. Dalam perdebatan ini Yaqub yang merasa bahwa Paus Abraam  berada di atas angin balik menyerang dengan menanyakan: “Bukankah di Alkitab anda ada ayat yang mengatakan: jika kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata pada gunung: pindah dari tempat ini ke sana. . .  maka gunung  ini akan pindah?“(Mat.17 : 20)

“Benar,” jawab Paus Abraam. Maka Khalifah pun menimpali: “Kalau begitu, buktikanlah. Kalau benar demikian berarti imanmu benar, Allah mu hebat. Tapi jika kamu gagal berarti agamamu salah dan karena itu seluruh orang Koptik harus dibasmi dengan pedang.” Paus terkejut dan meminta waktu 3 hari.

Dengan sedih Paus pulang. Beliau meminta seluruh pendeta dan jemaat berkumpul di Gereja Santa Maria (disebut juga Gereja Gantung) selama 3 hari itu, berpuasa, berdoa mohon pengampunan dan pertolongan Tuhan.

Di hari ketiga, pagi-pagi benar karena keletihan dan kegundahan Paus Abraam jatuh tertidur. Dalam mimpinya beliau melihat Bunda Maria datang dan menanyakan mengapa beliau begitu berduka. Kemudian Bunda Maria berkata: “Pergilah pagi-pagi hari ke pasar, jumpailah seorang pria bermata satu yang menggendong kantung air, karena melalui dialah mujizat Tuhan akan dinyatakan”. Paus tersentak dan segera menuruti perintah Bunda Maria. Pria yang dimaksud tak lain adalah Simon si Penyamak Kulit.

Pada waktu yang telah ditetapkan, Khalifah beserta para prajuritnya, dan orang-orang Yahudi pun berkumpul di depan bukit yang dimaksud. Semua ingin membuktikan mujizat. Menuruti arahan Simon, Paus membuat tanda salib ke arah bukit, kemudian bersama seluruh umatnya bersujud sampai ke tanah, berdoa dan berseru Kyrie eleison, Tuhan kasihani kami. Tiga kali ini dilakukan. Alkisah tiap kali mereka bersujud berdoa terjadi goncangan hebat bak gempa bumi, batu dan pasir beterbangan dan bukit tenggelam ke dalam bumi, untuk timbul kembali, lebih ke depan, saat umat Kristiani bangkit dari sujudnya. Semua yang hadir gentar karenanya.

Setelah tiga kali di ulangi dan suasana kembali tenang, jelas nampak bukit telah bergeser dari tempatnya semula. Namun, Simon Sang Penyamak tidak dapat ditemukan di mana-mana, lenyap bagai ditelan bumi. Dengan jujur Khalifah al Muizzi mengakui: “Allahmu sungguh luar biasa!” Beliau pun menanyakan hadiah apa yang Paus minta sebagai imbalan, dan Paus meminta izin untuk memperbaiki gereja-gereja yang rusak, bahkan ada yang sudah dijadikan asrama tentara.

Khalifah memberi izinnya dan menawarkan bantuan dana, tapi dengan halus Paus Abraam menolak: “Tuhanku yang sudah memulai segala sesuatu ini, Dia sendirilah yang akan menyelesaikannya.”

Paus dan Khalifah menjalin persahabatan yang indah. Dikisahkan di kemudian hari Khalifah Fatimid al Muizzy bertobat, menjadi pengikut Kristus dan dibaptis. Dan bukit yang semula bernama Bukit Qiskam dinamakan orang Bukit Muqattam, Bukit belah atau bukit pindah.

Goa yang lapang , dinding batu dengan pencahayaan  yang begitu alami benar-benar  memberikan keteduhan di teriknya Cairo. Mengunjungi Gereja Sampah, beribadah di sana, mengukirkan kesan tersendiri dalam hati: sungguh agung  mulia Tuhan kita. Kasih-Nya menembus jauh kedalam tumpukan sampah, merengkuh jauh melampaui kemegahan tembok  istana. Menyirami hati yang lembut ataupun keras membatu, hati yang remuk menjerit ataupun acuh, yang rendah ataupun congkak, tanpa pandang bulu.   Panggilannya terus berkumandang: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Semoga telinga dan hati kita terus peka memenuhi panggilan-Nya, dan tidak lalai meneruskannya. Semoga. (Ny. Na Kiem Hwie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here