Keberagaman Sebuah Kebutuhan

0
134

Fakta makin menurunnya nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan, yang berujung pada kasus-kasus intoleran dan pertikaian antar suku serta agama, membuat upaya-upaya penanganan persoalan ini sudah sepantasnya masuk dalam daftar prioritas bagi setiap institusi keagamaan.

Permusuhan antar suku dan agama ini ternyata tidak saja menjadi permasalahan di negara berkembang seperti Indonesia. Namun, juga terjadi di beberapa negara di seluruh dunia. Survey Pew Research Center menemukan bahwa sepertiga dari 198 negara yang mereka teliti mengalami konflik agama yang tinggi bahkan sangat tinggi.

Melihat kondisi tersebut, muncullah ide-ide anak bangsa yang rindu menyatukan dan menata kembali akibat dari pertikaian-pertikaian yang disebabkan perbedaan suku maupun agama itu, sehingga kenyataan perbedaan itu dapat menjadi sesuatu yang indah. Salah satunya dilakukan oleh Forum Beda Tapi Mesra, disingkat FBM. Forum ini didirikan pada 3 Desember 2016 lalu yang dihadiri Yayasan Masjid Indonesia (Yammi), Yayasan Bakti Moral, Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag), Yayasan Pondok Kasih, Vihara Dhamma Jaya, dan Tempat Ibadah Tri Dharma Hong San Ko Tee (Klenteng Cokro).

Hingga saat ini Forum Beda Tapi Mesra (FBM) telah mengadakan pertemuan rutip setiap bulan. Pada pertemuan ke delapan yang diadakan di Vihara Dhammadipa Surabaya, BERKAT turut hadir dan bertemu langsung dengan ketua Umum FBM, K.H. Achmad Suyanto. Pertemuan tanggal 29 Maret 2017 ini selain dihadiri organisasi-organisasi keagamaan, perwakilan dari masing-masing enam agama yang ada di Indonesia, juga ada dari aliran kepercayaan, Achmadiah, serta aliran Syiah.

Menurut K.H Achmad Suyanto, yang mendasari berdirinya FBM ini, yaitu adanya proses kasadaran dan keprihatinan. “Kesadarannya, langsung maupun tidak langsung bahwa kita ini berbeda. Keberagaman ini diakui atau tidak itu ada. Dengan keikhlasan maka akhirnya kita sadar bahwa keberagaman sebuah kebutuhan dan keniscayaan. Kita merdeka karena kita berbeda. Tidak ada Indonesia tanpa ada Konghucu, Hindu, Buddha, Kristen dan Islam. Keberagaman agama, etnis dan suku ini yang menyadarkan kita untuk bersatu sebagai modal kita merdeka,” paparnya lebih lanjut.

Keprihatinan

FBM ini diilhami situasi dan kondisi bangsa dimana sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara mengalami degradasi dalam memaknai kebhinnekaan. Pengenalan pemahaman dan penghayatan apalagi dalam kontek nilai-nilai perilaku yang tidak dan kurang dipahami, menjadi keprihatinan kita. Dalam fakta yang nampak, adanya kelompok-kelompok yang mengadu domba, sehinga kerukunan gampang diobok-obok baik dari internal maupun ekternal kita. Perbedaan ditonjolkan tanpa melihat persamaan.

Saat BERKAT ingin tahu kenapa memakai nama “Beda Tapi Mesra,” Achmad Suyanto menjelaskan bahwa ini adalah idenya. Kemudian di dalam forum meminta kesepakatan hadirin semua dan akhirnya disetujui. “Pada dasarnya memang kita berbeda, faktanya juga  kita berbeda, tetapi bagaimana kita bisa guyub. Kita cari yang lebih romantis dan dinamis yaitu ‘Mesra.’ Kasih sayang ada di mesra, romantis, guyub juga ada di kata mesra. Di dalam mesra ada kebersamaan,” ungkapnya.

Tekad

Forum Beda Tapi Mesra bertekad akan terus melakukan tindakan langsung. Lebih cenderung pada arti kasih, pada fakta-fakta, pada implementasi, dan bukan hanya pada tataran wacana. Sebab FBM ini sudah ditata sejak awal dengan implementatif dan aplikatif. “Bahwa FBM ini sebagai media interaksi spiritual karena terdiri dari tokoh-tokoh agama, kita membawa perbedaan-perbedaan itu supaya kita tahu bahwa agama Hindu seperti ini, Buddha seperti ini dan lain-lain,” terangnya kepada BERKAT.

Lebih lanjut Achmad Suyanto menjelaskan, kalau kita sudah tahu tentang wacana dan kontek masing-masing, perilaku masing-masing agama, kita akan menyadari bahwa kita ternyata sama, ritualnya saja yang berbeda. Dalam tataran tertentu ada kesamaan. Inilah yang mendasari berdirinya FBM.

“Selain itu FBM juga menjadi sarana potensi ekonomi. Siapa yang mempunyai potensi ekonomi lebih baik bisa membantu yang lain. Diintegrasikan, mendinamisasikan interaksi ini bisa berjalan dengan baik, maka ada BAMAG, ada GKI, Tokoh Masyarakat Masjid, Bakti Moral, Pondok Kasih, dan lain-lain. Kita tinggal mengembangkan bagaimana baiknya,” Tegas Achmad Suyanto di akhir acara.

Melalui sambutannya, Bhante Viriyadharo Mahathera sebagai tuan rumah pertemuan ini mengatakan, hendaknya kita semua menjadi pelopor yang baik, menjadi penyegar dan bukan perusak, serta membawa nilai-nilai luhur yang bisa memberikan kecerahan.

Sementara itu, Kolonel Nyoman Sukasana sebagai narasumber untuk wawasan kebangsaan, mengingatkan kita semua akan bahaya ‘Proxy War’ yang sedang marak terjadi. Karena itu sebagai elemen bangsa haruslah memperkuat 4 konsensus dasar yang ada, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45 dan NKRI. “Jangan terpancing berita-berita yang memprovokasi. NKRI harus dipertahankan terus, jangan sampai terpecah belah,” tegasnya

Kedepan FBM akan terus melakukan tindakan-tindakan nyata untuk kebhinekaan. Melalui Rapat Kerja (Raker) pertama yang digelar pada 23-24 April 2017 di Pasuruan, FBM mengambil tema, “Merajut nilai-nilai kebhinnekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).” Tema ini menjadi upaya FBM agar setiap elemen bangsa senantiasa mempertahankan NKRI bagaimana pun caranya. Bangunlah persatuan dalam perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika, meski berbeda tetapi tetap satu untuk Indonesia (doc/brkt).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here