Kecewa

0
421

Dengan tergopoh, seorang ibu paruh baya mendatangi pendetanya. “Aduh. . . pak pendeta, saya ini kurang apa. Dari kecil saya beri makan, saya cukupi segala keperluannya, saya sekolahkan, bahkan selalu saya ajak ke gereja. Lha. . . kok sekarang, setelah dewasa tiba-tiba pindah agama. Bahkan tidak itu saja, anak laki-laki saya ini diam-diam telah menikah dengan wanita non-Kristen. Kecewa berat saya pak pendeta.”

Kekecewaan seringkali membuat orang cenderung menyalahkan keadaan. Lebih fokus pada apa yang sudah dilakukan menurut kebenarannya sendiri tanpa mau mengoreksi apa yang salah pada dirinya.  Ketika yang diharapkan dalam hidup ini tidak tercapai, di situlah muncul kekecewaan. Bila sudah demikian orang cenderung menyalahkan orang lain ketimbang melihat dan menyalahkan diri sendiri.

Lihat Penyebabnya

“Saya kan sudah melakukan yang terbaik, tetapi jika hasilnya begini, ya. . . bukan salah saya.” Ungkapan pembelaan ini sering terlontar ketika orangtua merasa sudah melakukan yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun, sebenarnya jauh dari harapan dan keinginan sang anak.

Orangtua jangan hanya mampu mencukupi kebutuhan jasmani saja, tetapi mampu memahami dan mengerti yang terjadi pada diri anak. Kurangnya perhatian dan pendampingan sering membuat anak pandai bermain sandiwara. Bila anak berada di rumah, mereka bisa saja bersikap baik, kelihatan nurut pada orangtua, patuh dan bersikap seolah tidak mengerti apa-apa, padahal saat berada di luar rumah, anak punya kehidupan sendiri yang jauh dari aturan rumah serta orangtuanya.

Cara-cara berpolitik anak ini tidak bisa kita anggap enteng, mereka bisa dua atau tiga langkah lebih maju dari kita sebagai orangtua. Jangan salah jika anak lebih suka mencari kesenangan, merasa dihargai, diperhatikan, dimengerti justru saat berada di luar rumah.

Orangtua hanya melihat, “. . .ah, anak saya baik-baik saja kok, tidak ada masalah.” Apalagi bagi orangtua yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Sibuk dengan pekerjaannya, bisnisnya atau sibuk menjaga kekayaannya. Tak dapat dipungkiri bila waktu bertemu menjadi sangat berkurang.

Cara orangtua memberi perhatian, akan menentukan kualitas hubungan orangtua dengan anak. Jika sejak kecil anak dididik secara over protective, dilarang tanpa memberinya penjelasan. Atau anak hanya dituruti keinginannya tanpa diberi pengertian manakah yang bermanfaat dan mana yang tidak, maka saat menginjak dewasa, anak cenderung lemah menghadapi persoalan kehidupan.

Orangtua memang tidak bisa mengendalikan kehidupan anak. Namun, orangtua bisa menanamkan nilai-nilai kebenaran sedari kecil. Jangan hanya bisa memarahi saat anak melakukan kesalahan, menghukum saat anak berperilaku tidak baik, tetapi masuki pikiran melalui perilaku dan kegiatan-kegiatan anak. Sekali lagi masalah pendampingan sangatlah penting.

Dampak dari kekecewaan lainnya, misalnya saja seorang bapak tega membunuh anaknya saat kedapatan menggunakan sekaligus pengedar narkoba. Seorang ibu menjadi syok setelah mengetahui anak perempuannya yang selama ini rutin mengirim uang, ternyata hasil dari menjual diri. Contoh lain, seorang suami melakukan bunuh diri gara-gara istrinya yang selama ini kelihatannya baik, ternyata telah berselingkuh dengan beberapa rekan kerjanya. Bahkan ada pula seorang jemaat tiba-tiba meninggalkan kekristenannya setelah mengetahui bahwa pendeta yang dikaguminya selama ini ternyata seorang penipu.

Kembali ke Tujuan Utama

Kecewa bisa membuat orang putus asa dan tidak sedikit yang bertindak diluar kendali. Cobalah kita tengok sekitar dua ribu tahun lalu, banyak murid Kristus juga merasa kecewa, sebab Tuhan Yesus yang mereka andalkan tiba-tiba mati bahkan dengan cara disalibkan.

Bukankah Allah telah memberitahukan tujuan utama mengapa Dia datang ke dunia? Bahkan beribu-ribu tahun sebelumnya Allah telah menubuatkan melalui nabi-nabi-Nya? Namun, manusia sudah terlanjur  percaya diri, terlanjur senang dan berharap seperti apa yang diharapkannya. Dan ketika harapannya itu telah melenceng jauh, maka kekecewaan-kekecewaan itulah yang terus menggerogotinya.

Demikian juga dengan orang yang memutuskan untuk membina rumah tangga (keluarga). Jangan karena kecewa, rumah tangga porak poranda. Ingat bahwa setiap rumah tangga punya ‘salib’nya sendiri-sendiri. Yang terpenting tujuan utama itu tadi. Apa tujuan utama kita sebagai suami, sebagai istri dan sebagai orangtua?

Sebenarnya bukan Kristus yang membuat murid-murid-Nya kecewa. Bukan orang lain yang membuat kita kecewa, dan bukan pula orang-orang terdekat kita atau keadaan sekeliling kita. Yang menjadikan kita kecewa adalah sikap kita sendiri. Kita sering tidak mau tahu dengan sikap orang lain, dengan maksud orang lain dan dengan keinginan orang lain. Apalagi maksud dan keinginan Tuhan. “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Matius 11:6)

Terkadang kita terlalu dibutakan oleh harapan dan keinginan kita sendiri, sehingga ketika Tuhan menunjukkan rencana lain dalam hidup kita, seringkali kita tidak menjadi peka untuk mendengar serta memahaminya. Kita lebih memilih kecewa daripada menyerahkan harapan kita kepada Kristus sumber segala-galanya.

Tuhan sendiri tidak pernah kecewa dengan apa yang telah dilakukan-Nya. Sebab Dia punya tujuan besar bagi penyelamatan manusia. Meskipun kedatangan-Nya tidak diterima oleh sebagian besar orang, karya Kristus tetap bejalan dan berlaku sampai sekarang. Apakah kita masih kecewa? (brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here