Ketika Harapan Itu Datang

0
185

Oleh : Pdt. Nathanael Channing, M.Div *)

Sekalipun kesalahan-kesalahan kami bersaksi melawan kami, bertindaklah membela kami, ya TUHAN, oleh karena nama-Mu! Sebab banyak kemurtadan kami, kami telah berdosa kepada-Mu. Ya Pengharapan Israel, Penolongnya di waktu kesusahan! Mengapakah Engkau seperti orang asing di negeri ini, seperti orang perjalanan yang hanya singgah untuk bermalam?

Mengapakah Engkau seperti orang yang bingung, seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong? Tetapi Engkau ada di antara kami, ya TUHAN, dan nama-Mu diserukan di atas kami; janganlah tinggalkan kami!” (Yeremia 14:7-9).

Masih adakah pengharapan dalam hidup kita? Apakah hidup ini kita jalani saja… mengalir seperti air sungai ke mana perginya, atau pasrah bungkam seribu bahasa karena sudah putus asa. Seolah menyalahkan nasib, kalau memang hidup ini sudah digariskan oleh yang di atas, mau apa lagi? Tidak mungkin akan merubah yang namanya nasib dan garis hidup!

Pergumulan tema kita dalam menghayati Natal tahun ini “Ketika Harapan Itu Datang” yang tentunya ditujukan kepada semua orang yang masih mempunyai harapan dan juga bagi yang sudah putus asa tak berpengharapan. Tema ini mengajak kembali untuk melihat apakah ada pengharapan dalam hidup kita? Pengharapan yang dicita-citakan terwujud dalam kehidupan ini, walaupun secuil harapan atau setitik kecil nun jauh di sana… tetapi itu tetap pengharapan. Masih adakah itu? Apa pengharapan Saudara? Apakah pengharapan yang memenuhi kebutuhan dan keinginan sekarang ini atau untuk masa depan yang jauh; harapan yang menjadi cita-cita di mana suatu kelak akan menjadi kenyataan.

Dalam keadaan apa pengharapan itu ada dalam hidup kita? Situasi dan kondisi yang bagaimana pengharapan itu kita rindukan menjadi kenyataan? Bukankah pengharapan itu sebenarnya merupakan bagian hidup untuk melepaskan dari yang tidak nyaman menjadi nyaman? Dari yang tidak puas menjadi puas? Dari yang tidak memiliki menjadi kepunyaannya? Dari penderitaan, kesengsaraan, kesusahan menjadi penyembuhan, pemulihan, kenikmatan, kegembiraan, kesehatan? Pengharapan yang ingin dialami menjadi kenyataan pasti akan membawa dirinya lebih baik, lebih bagus, lebih benar, lebih nikmat, lebih memiliki damai sejahtera dari masa-masa sebelumnya, bukan?

Yeremia hadir di tengah-tengah pergumulan umat Tuhan, bangsa Israel yang sedang dalam keadaan yang tidak enak, susah, penuh penderitaan dan kesulitan. Suasana yang menyakitkan dan sama sekali tidak memberikan kenikmatan, rasa aman, kedamaian dan sebagainya; sebaliknya penderitaan silih berganti, kesusahan saling berguling-guling tak kunjung padam, yang membawa semua umat Tuhan menjalani mati tak mau, namun hidup segan. Panas tidak dingin juga tidak, lebih tepat suasana suam-suam dan “meriang”. Raut muka yang penuh dengan kesuraman dan air mata yang terus mengalir, tangan kaki tak tahu mau melangkah ke mana dan mengerjakan apa? Di mana-mana yang nampak kasat mata hanya kekeringan dan kekeringan! Binatang dan tumbuh-tumbuhan sudah kering kerontang ditengah-tengah manusia yang masih setengah hidup dan setengah mati!

Semua situasi dan kondisi disadari benar oleh bangsa Israel dengan satu pengakuan, itu semua kesalahan kami, kemurtadan kami dan dosa-dosa kami. “Kami telah berdosa kepada-Mu” di mana kami umat-Mu telah meninggalkan Engkau, Allah yang benar; Allah Pencipta langit dan bumi, Allah Penyelamat dan Pemelihara umat-Nya…. telah kami tinggalkan. Sekarang nyata bahwa hanya Engkau Allah kami yang benar! Penolong kami dan pengharapan kami. Engkau memang sudah jauh dari kami, bukan karena Engkau menjauh tetapi kami yang lari dari pada-Mu. Kami merasa bahwa Engkau sudah tidak lagi membela kami, Engkau menjadi orang asing bagi kami, Engkau hanya berjalan setelapak dan kemudian meninggalkan kami, Engkau bingung seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong kami…

Woouw… betapa naifnya kami Tuhan, buruk sekali dalam mengenal Engkau, bahkan kami tak mampu lagi mengenal siapakah diri kami, sampai kami dapat berkata-kata seperti itu terhadap Engkau! Bukankah sebenarnya kami hanya mengatakan “Aku orang berdosa””Aku orang yang telah melakukan kesalahan” Titik! Dan tidak berprasangka terhadap Engkau… Pada hal Engkau ada ditengah-tengah kami!

“Engkau ada diantara kami, ya Tuhan, janganlah tinggalkan kami! Itulah yang kami katakan, seruan dan jeritan kami kepada-Mu, ya Allah: “Jangan tinggalkan kami!” Apakah ada di benak kita bahwa memang Tuhan pernah meninggalkan kita atau kita yang meninggalkan Tuhan? Di sini jelas sekali bahwa dosa itulah yang membuat kita merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita; karena kita tidak penah mau mendengarkan suara dan panggilan-Nya. “Jangan tinggalkan kami!” sebagai wujud teriakan minta tolong karena sudah tidak berdaya dan tidak mampu lagi menjalani hidup ini. Yeremia bersama umat Israel berseru dengan suara nyaring, “Tuhan jangan tinggalkan kami!”

Mengapa umat Israel berseru agar Tuhan jangan meninggalkan mereka? Karena di sana masih ada harapan. Pengharapan itu yang membuat mereka meihat jauh ke depan walaupun mereka ada di tengah-tengah penderitaan yang amat sangat. Pengharapan itu yang menolong mereka untuk bangkit dari kesengsaraan dan penderitaan hidup mereka. Pengharapan itu yang memapukan mereka menatap ke masa depan yang jauh lebih enak dan nyaman, penuh kasih dan damai sejahtera, kemakmuran dan berkat-berkat Allah dinikmati.

Natal kembali kita peringati, dengan apa dan bagaimana kita merayakan Natal? Apa yang kita harapkan dalam menyambut dan menjalani Natal tahun ini? Adakah keprihatinan kita dengan situasi dan kondisi yang ada disekitar kita? Bagaimana realita kehidupan keluarga kita – adakah kasih mula-mula yang penuh dengan keharmonisan itu tetap melekat dan dialami? Atau sudah dipisahkan dengan seperangkat gadget yang membuat orang-orang yang jauh menjadi dekat dan orang-orang yang dekat menjadi jauh, bahkan sudah diceraikan? Apakah kita sedang ada di dalam panggung sandiwara kehidupan, yang menampakkan baik, indah, penuh keharmonisan secara lahiriah, namun batiniah dan realita hidup rumah tangga penuh dengan air mata?

Ketidakjujuran, kebohongan, hidup diantara dusta, sudah membudaya dalam kehidupan keluarga, sehingga setiap orang sudah tidak bisa dikenali lagi jati dirinya yang asli. Pendidikan dan pergaulan anak-anak kita, semua sudah tidak terkontrol lagi, karena masing-masing orang sudah tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. Kemajuan teknologi boleh mendapatkan acungan jempol, tetapi kerusakan rumah tangga yang semakin berantakkan juga ada dalam puncak realita. Apa yang terjadi disekitar kita pada hari ini?

Adakah pengharapan yang masih nampak dan dapat kita lihat dalam merayakan Natal yang benar dalam tahun 2014? Adakah seruan “Tuhan, jangan tinggalkan kami!” Jangan sampai ketika kita merayakan Natal dengan meriah dan gegap gempita, sorak sorai dan penuh dengan suka cita Natal, namun di sana tidak ada Tuhan!…. Tuhan ada ditengah-tengah umat-Nya, tetapi kita sama sekai tidak menganggap bahwa Tuhan ada di tengah-tengah kita? Bukankah sangat kontradiksi ketika Natal diperingati justru Tuhan tidak ada di sana. Marilah kita terus berseru kepada Tuhan: “Janganlah tinggalkan kami!” Pengharapan itu sudah datang dan ada ditengah-tengah kita, yang adalah umat-Nya. Natal menjadi kerinduan kita bersama untuk terus memperbaharuhi kesaksian hidup kita. Selamat Natal, kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, senantiasa memberkati kita semua, sampai Maranatha!

*) Pendeta GKI Sulung Surabaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here