Layakkah LGBT Dilegalkan?

0
103

Oleh: DR. Abigail Susana, M.A., M.Si., M.Th. *)

Isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) marak belakangan ini dan menjadi salah satu trending topic. Semenjak dilegalkannya perkawinan sejenis oleh negara adidaya Amerika Serikat, isu-isu mengenai LGBT mulai merambah di kalangan masyarakat, termasuk negara Indonesia.

Misi dan pesan LGBT banyak bermunculan dan disusupkan melalui buku-buku bacaan dewasa maupun anak-anak, komik, film, emoticon di media sosial, bahkan di game anak-anak. Tercatat per 1 Januari 2015, ada 17 negara yang undang-undangnya telah melegalkan perkawinan sesama jenis dan akan menyusul belasan negara lain.

Faktor Terjadinya Homoseksual (Gay)

Ada berbagai pendapat yang membagi kaum homoseksual dalam dua golongan, yaitu bawaan dan kelainan. Homoseksual bawaan adalah mereka yang dilahirkan sebagai homoseks atau mereka yang disebut memiliki orientasi homoseksual. Sedangkan orang-orang yang  dilahirkan sebagai  heteroseksual  atau memiliki orientasi heteroseksual, tetapi terseret ke dalam aktivitas homoseksual disebut kelainan seksual.

Ada kelompok yang percaya bahwa homoseksualitas adalah pilihan hidup. Argumen mereka juga berdasarkan penelitian yang menghubungkan adanya pengaruh faktor lingkungan terhadap penyimpangan perilaku seksual. Misalnya, hubungan antara ibu dan anak perempuan yang tidak harmonis, absennya figur ayah, orangtua bercerai, dan pernah mengalami pelecehan seksual. Ketidakmampuan seorang anak laki-laki beradaptasi dengan anak kelompok bermainnya (yang sejenis) atau penolakan, juga bisa menjadi faktor penyebab.

Peneliti dari Queen Mary’s School of Biological and Chemical Sciences dan Karolinska Institutet di Stockholm Menemukan faktor genetika dan faktor lingkungan bisa memainkan peranan penting dalam membentuk perilaku homoseksual. Sementara riset yang dilakukan tim yang dipimpin oleh Dr Niklas Langstrom dari Karolinska Institutet menemukan faktor lingkungan lebih berpengaruh ketimbang gen. Faktor lingkungan punya pengaruh hingga 64 persen. Meskipun seseorang tidak memiliki gen gay, ia bisa saja mengembangkan perilaku seks sejenis jika faktor lingkungannya mendukung. Contohnya sering melihat perilaku sesama jenis yang diperlihatkan di muka umum. Karena itu bisa dibilang bahwa perilaku homoseksual ini dapat menular ke orang lain.

Faktor penyebab lainnya adalah semakin gencarnya promosi homoseksualitas oleh media massa (tv, majalah, film) dan tokoh masyarakat, meningkatnya jumlah aktivis gay yang secara terang-terangan memperjuangkan hak-hak mereka, serta bertambahnya simpati dan toleransi masyarakat bagi kelompok ini. Semua ini membantu memperkuat indentitas diri kaum homoseks dan menutup pintu bagi mereka untuk mencari jalan keluar.

Beberapa Sudut Pandang Menyoroti Masalah LGBT

Ditinjau dari Sisi Hukum Negara dan Hak Asasi Manusia

Berdasarkan Pasal 1 UU no.1 tahun 1974 tentang perkawinan. Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 2 ayat (1). Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Ini berarti selain negara mengenal perkawinan antara pria dan wanita, negara juga mengembalikan lagi hak tersebut kepada agama masing-masing.

Hak Azasi Manusia dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari penjajahan dan perbudakan. Kebebasan berperilaku yang dilakukan para kaum LGBT menjadikan HAM sebagai alat untuk mengapresiasi. Pada jumat,17 juni 2011 di Genewa, Swiss disahkannya resolusi PBB terkait persamaan hak homoseksual. Sebanyak 23 negara anggota PBB setuju meloloskan resolusi sejarah tentang persamaan hak bagi semua orang tanpa memandang orientasi seksual, resolusi ini menandai penegakan hak-hak kaum homoseksual di dunia.

Di Indonesia kaum gay memiliki komunitasnya yaitu “Gaya Nusantara”, yang menerbitkan buku-buku dan majalah-majalah, juga mendirikan beberapa tempat seperti bar-bar sebagai tempat untuk berdansa dan melakukan hubungan seks. Meskipun budaya di Indonesia masih menganggap bahwa pernikahan sejenis adalah tabu, namun pada kenyataannya pasangan gay mulai menampakkan eksistensinya, diantaranya melalui komunitas Gaya Nusantara tersebut.

Ditinjau Dari Sisi Teologis

Alkitab diakui oleh kaum Kristiani sebagai otoritas tertinggi dalam segala yang berhubungan dengan iman dan perilaku. Alkitab berbicara banyak tentang homoseksualitas. Alkitab tidak membagi atau menggolongkan perilaku homoseksualitas sebagai bawaan dan kelainan. Alkitab jelas menyebutkan bahwa homoseksualitas adalah dosa dan kekejian di mata Allah.

Kejadian 19:5 merupakan suatu petunjuk yang pertama dalam Alkitab tentang homoseksualitas, dimana perilaku homoseksualitas dipraktikkan oleh orang-orang Sodom dan Gomora. (Bnd. Yudas 1:7-8). Imamat 18:22; 20:13 adalah suatu peringatan bagi umat Israel untuk tidak melakukan praktik homoseksualitas, seperti yang dilakukan bangsa Kanaan. Dalam ibadah kebudayaan Kanaan pada waktu itu ada praktik homoseksual di kuil-kuil yang menyesatkan orang kepada penyembahan berhala, yang merupakan kebiasaan keji, yang ditentang oleh Allah.

Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang dengan keinginan homoseksual. Alkitab memberitahu kita bahwa seseorang menjadi homoseks karena dosa (Roma 1:24-27) dan pada akhirnya karena pilihan mereka sendiri. Seseorang mungkin dilahirkan dengan kecenderungan terhadap homoseksualitas, sama seperti orang dapat dilahirkan dengan kecenderungan kepada kekerasan dan dosa-dosa lainnya. Ini bukan merupakan dalih untuk hidup dalam dosa dengan mengikuti keinginan dosa mereka.

Roma 1:26, 27 mengungkapkan bahwa perilaku homoseksual sama seperti halnya dosa-dosa lain, muncul dari penolakan untuk menghormati dan mengakui Allah. Penyalahgunaan seksual itulah yang terjadi dalam masyarakat Roma dan Yunani, dimana mereka melakukan perbuatan seksualitas yang sangat kotor dan menjijikkan sebagai cara untuk menyembah berhala-berhala mereka. Yang dimaksud dengan pengumbaran hawa nafsu yang memalukan adalah persetubuhan yang dilakukan antara laki-laki dengan laki-laki atau wanita dengan wanita, di mana perbuatan persetubuhan ini dianggap suatu kebanggaan yang merupakan suatu tanda keagungan kepada penyembahan dewa-dewi orang Romawi dan Yunani. Ketegasan Paulus mengatakan bahwa itu merupakan suatu perbuatan persetubuhan yang memalukan (Roma 1:26).

Kata “memalukan” adalah terjemahan dari kata patheatimias (Yunani), berasal dari kata “Atimos”, yang berarti nafsu besar, tak terkontrol dan memalukan. Sedangkan kata “tidak wajar” adalah terjemahan dari kata “Paraphusim” (Yunani) berasal dari kata “Phusikos”, yang berarti persetubuhan yang tidak wajar, bertentangan dengan hukum alam, dan menentang kodratnya.

Dari kenyataan di atas dapat kita pahami mengapa perilaku homoseksual dianggap tidak wajar karena hubungan homoseksual ini hanya mencari kenikmatan semata dan objek persetubuhan salah arah, serta dianggap menentang kodrat dalam hal seksualitas manusia.

Di samping itu hubungan homoseksualitas tidak dapat memberikan keturunan, dan hal ini tidak sesuai dengan rencana Allah. Allah menetapkan bahwa hubungan seks antara pria dan wanita, dan hanya dalam ikatan pernikahan. Di awal penciptaan dalam kitab Kejadian 1:27, dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Dalam kitab Kejadian 1:28, Allah memberkati mereka (laki-laki dan perempuan) (diperjelas lagi dalam kitab Kejadian 2:18, 21-25). I Korintus 6:9,10 menjelaskan bahwa pelaku homoseksual tidak dapat bersekutu dengan Allah. Hubungan vertikal pribadi dengan Allah tak akan terjadi, mereka tetap menjauh dari Allah.

Dari ayat-ayat Firman Allah dijelaskan bahwa Allah benar-benar berbicara mengenai pokok homoseksualitas. Gagasan dari para teolog gay yang menyebarluaskan bahwa Allah tidak berbicara tentang pokok homoseksualitas adalah kebohongan belaka. Sebagai orang Kristen banyak diantara kita telah diracuni filsafat dan pemikiran yang menolak kebenaran firman Tuhan dan menjadikannya kabur.

Allah sangat menentang perilaku homoseksual karena Allah tidak menginginkan manusia jatuh ke dalam dosa. Dan tujuan Allah untuk seksualitas manusia adalah hubungan di dalam pernikahan supaya kekudusan seksualitas tetap dipertahankan. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus mengatakan bahwa perilaku homoseksualitas sama dengan dosa-dosa lainnya dan tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah. (I Kor. 6:9b-10).

Dalam ayat tersebut terdapat kata pemburit, kata pemburit adalah terjemahan dari kata arsenokoites” (Yunani). Kata “Arsenokoites” ini berasal dari kata “Arsen” dan “Koite”. “Arsen” berarti hal yang bersangkut paut dengan jenis seks laki-laki dan “Koite” berarti hubungan seksual. Jadi, arti kata “Arsenokoites” adalah perbuatan seorang laki-laki dengan lelaki lain yang tidur dan sedang melakukan hubungan seksual. Jadi, bagi Rasul Paulus perilaku hubungan seksual (pemburit) sama salahnya dengan  penyembahan berhala dan zina, sebagai suatu kesesatan dan sama dengan dosa-dosa yang lainnya yang tidak layak menerima bagian dalam kerajaan Allah.

Dalam Roma 1:26, perkataan “ Allah menyerahkan mereka”, itu mengandung arti bahwa Allah menghukum pelaku homoseksualitas. Bahkan tiga kali Paulus memakai kata “Allah menyerahkan mereka” (ayat 24, 26, 28). Warren W. Wiersbe menjelaskan tentang kata Allah menyerahkan mereka, berarti bahwa Allah membiarkan mereka hidup di dalam dosa-dosanya dan meraka akan menanggung akibatnya.

Bagaimana Paradigma dan Sikap Kita Sebagai Orang Kristen?

Di dalam terang Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, saya ingin menunjukkan bagaimana seharusnya paradigma orang Kristen terhadap homoseksualitas, gay, dan juga lesbian. Alkitab secara tegas menunjukkan bahwa homoseksualitas adalah dosa, tetapi Alkitab tidak menyatakan bahwa para pelakunya (kaum gay dan lesbian) bebas diperlakukan dalam ketidakadilan atau dikucilkan. Tuhan Yesus membenci dosa homoseksualitas, sama seperti Dia membenci dosa-dosa yang lain, tetapi Dia tetap mengasihi mereka.

Kekristenan tidak kompromi dengan dosa homoseksualitas, tetapi mengasihi individu gay dan lesbian dalam kasih Kristus, sehingga mereka dapat dibawa kepada pertobatan dan kesadaran akan dosa-dosa itu, serta dikembalikan kepada kemurnian seksualitas yang sebenarnya.

Salah satu fenomena sosial yang terjadi di dekade belakangan ini adalah munculnya dorongan yang kuat dari kelompok homoseks untuk menuntut persamaan hak dan keadilan bagi mereka, sehingga mereka juga merasa mempunyai hak asasi yang sama bahkan juga di dalam lembaga pernikahan. Di sinilah gereja dan kekristenan harus membuat keputusan yang tegas. Jikalau Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa homoseksualitas adalah dosa, maka gereja pun seharusnya tidak mengizinkan pernikahan sesama jenis. Ini bukan tentang hak asasi manusia, tetapi tentang otoritas tertinggi yang dipercayai oleh gereja, yaitu Alkitab sendiri.

Sekali lagi, gereja perlu mengambil prakarsa melayani golongan ini dengan mengambil bagian di dalam karya Tuhan Yesus Kristus untuk membawa pertobatan bagi kaum gay dan lesbian. Di sisi lain, gereja perlu memberikan pembekalan bagi jemaat, khususnya anak-anak muda agar tidak terjebak di dalamnya.

*) – Dosen di beberapa Sekolah Teologi
    – Pembicara Seminar & Konselor

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here