Magnet Tak Bertuan

0
50

Oleh : Pdt. Martin Krisanto Nugroho

Hanya sebuah isapan jempol belaka ketika kita dari sumber yang sama mendapatkan penjelasan, sebahaya apakah sebuah teknologi bisa memberikan Brain damage dan berbagai akibat fatal lainnya. Dan tidak cukup membuat orang-orang yang membacanya berhenti atau mengurangi kontak mereka dengan gadget terutama internet.

Pengalaman tertipu dunia maya sampai harus kehilangan jutaan rupiah juga tidak membuat mereka berhenti untuk jatuh ke lubang lain. Tayangan tentang kematian seorang pemudi yang terjerat situs bunuh diri belum juga cukup disadari. Di sisi lain, malahan ekstrim lain juga terjadi ada sedikit orang yang cenderung anti dengan Teknologi.

Benarkah ini merupakan mekanisme terbitnya mamon baru? Harta yang telah mengambil kuasa seakan-akan mempunyai kuasa yang dahsyat padahal kuasa itu kuasa implantasi saja dari keserakahan manusia. Demikian juga rupanya teknologi dengan pola yang berbeda juga mendapat kedudukannya. Ironisnya ayat-ayat Alkitab mengenai mamon sudah tidak lagi punya wibawa di depan anciently original sin di balik semua ini. Sampai-sampai Kristus berkata “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi,  kamu diterima di dalam kemah abadi.” (Lukas 16:9)

Bukan Netral Tidak Netral

Beberapa teolog bercakap melalui dunia literatur, bahwa teknologi itu netral bagaikan sebilah pisau yang bisa dipakai membunuh atau bisa dipakai untuk memasak. Sebagian lagi mengatakan bahwa teknologi tidak bisa dianggap netral begitu saja karena diciptakan dengan maksud dan tujuan yang jelas-jelas hanya untuk kepentingan sekelompok orang dan sebagainya. Percikan kali ini bukan hendak berbicara ke arah itu. Hanya perlu disadari bahwa teknologi merupakan salah satu produk dari sebuah budaya, dan apakah ada produk budaya alternatif lainnya yang mampu mengimbangi agar perilaku manusia dengan teknologi bisa membawa terang kasih Kristus? Jika Kristus melalui umat-Nya mengerjakan perubahan maka Injil mendapat peluang mengimbangi perilaku tersebut.

Merambah Keluarga

Keluarga yang berkumpul di waktu makan, keluarga yang pergi berlibur bersama dan berkunjung lama-kelamaan hilang diganti dengan “COPAS” pesan ucapan yang bisa disampaikan sambil lalu tanpa ada kualitas kepedulian. Suami istri, orangtua anak tanpa terasa makin terpisah oleh kesibukan plus ketika memasuki waktu senggang mereka memegang gadget. Walau terkesan positif karena masih chatting urusan kantor, urusan pelayanan bahkan mengerjakan tugas kelompok, namun berbeda ketika akses itu tidak ada, maka terkondisi untuk ngobrol antara anggota keluarga sendiri yang ada dalam satu rumah. Belum ada bukti apapun yang menunjukkan bahwa komunikasi via IT mampu meningkatkan kualitas sebuah hubungan, sebaliknya sarat salah paham dan menjadi sarana mengumbar emosi dan kata-kata yang menyakitkan pihak lain.

Sementara orangtua berasal dari angkatan sebelumnya yang Gaptek (Gagap teknologi) memperbesar peluang memberikan kepercayaan yang terkadang belum siap dipegang oleh anak-anak mereka. Sedikit orangtua yang sebenarnya mengetahui bahwa anaknya terjerat pornografi akibat fasilitas internet dimana pun kita berada. Kalaupun orangtua tahu malahan mereka pun tak berani koar-koar karena mereka sendiri pengguna fasilitas yang sejenis bahkan bisa lebih parah. Pengakuan beberapa orang malah harus menonton dahulu sebelum masuk dalam hubungan intim dengan beribu alasan. Keluarga yang merupakan gereja terkecil dalam komunitas Kristen perlu dipertanyakan kembali.

Wajah Kusut Pendidikan

“Teknologi mempermudah segalanya” sadarkah kita bahwa itu sebuah jargon yang jelas-jelas salah? Dalam sebuah retret anak telah dilakukan sebuah laboratorium sosial. Anak-anak diajak bermain dengan jalan tidak boleh berbicara melainkan harus berkomunikasi via sms ataupun chat, alhasil permainan menjadi jauh lebih rumit dan sering salah pengertian. Lalu di akhir permainan mereka membuat kesimpulan dan ternyata kalimatnya menjadi “Teknologi memperlambat komunikasi” lepas dari bahasa anak kecil yang terbatas namun untuk mengeluarkan kalimat ini bukan hal yang mudah karena sudah ada semacam ‘doktrin’ bahwa teknologi itu sangat positif. Jangan-jangan kalimat “Kristuslah jalan yang mempermudah segalanya” tidak ada di dalam hati dan iman mereka, kalimat semacam ini sejauh teori yang baik saja untuk diingat-ingat (terbukti dalam retret-retret remaja dan anak)

Memang benar bahwa sudah merupakan tuntutan zaman, bahwa anak-anak diperkenalkan pada IT yang sedang ‘IN’ di masanya. Namun, seserius apa lembaga pendidikan mengupayakan peningkatan kemampuan mawas diri pada nara didik mereka? Hampir setiap pengajaran Kristus hendak mengajak para murid untuk kritis dan tajam melihat permasalahan dan inti permasalahannya, sehingga mereka tidak hanya ‘meminum susu’.

Buram Ditelan Dunia Medis

Sudah pengetahuan umum di kalangan kita bahwa orang mengejar Kristus karena ingin kesembuhan, namun setelah sembuh mereka tidak memikirkannya. Berapa orang yang benar-benar bersyukur bukan karena perkembangan teknologi penopang atau mempertahankan hidup manusia tetapi kehidupan orang itu pasca kesembuhan makin dipakai Tuhan dan seberapa banyak orang yang bersyukur ketika melepas kepergian orang yang dicintainya karena tidak tahan melihat penderitaan mereka? Berapa banyak orang yang men ’dewa’ kan pengobatan berikut teknologinya dan melupakan bahwa penderitaan adalah sahabat orang beriman dan doa melampaui semua itu. (penulis seorang survival kanker).

Gereja dan Teknologi

Kalimat berikut bukan bermaksud memberikan penilaian, namun hanya menunjukkan beberapa gejala yang ada. Sebuah gereja yang telah puluhan tahun bertahan di kota yang berhawa panas tanpa AC karena sosok pemimpin yang berwibawa, dan pada saat pemimpin itu pergi maka sekonyong-konyong desain arsitektur yang sudah dirancang sejuk di tutup semua ventilasinya lalu dipasanglah AC.

Pemakaian Proyektor merupakan sarana umum di setiap gereja bahkan di desa. Gereja-gereja di kota besar membangun unit multimedia khusus dan dengan serius membuat klip pendek dan menyediakan sound system dengan teknologi serba digital. Beberapa institusi religi bahkan lembaga sosial juga menambah fasilitas mereka dengan Lift atau elevator.  

Ada anggota jemaat yang merasa tertolong ketika menerima pesan elektronik berisikan ayat Alkitab, namun sebaliknya ada yang merasa terganggu karena toh mereka sudah membaca renungan harian sendiri.

Merambah Masa Depan

Anak-anak kita mayoritas hidupnya merancang masa depan hampir selalu terkait dengan IT, dan semua bidang menjadi IT sebagai faktor wajib sebagai sarana dalam studi dan pekerjaan. Desa yang tertutup gunung pun ketika difoto dari ketinggian maka hampir semua atap berhiaskan parabola. Ketika kita menelusuri desa-desa sampai pada pelosok, maka di sana masih bisa kita temukan penjual pulsa handphone. Anak anak desa sekarang lebih memilih buka kios pulsa atau cucian motor ketimbang bertani atau beternak. Sedikit orang saja yang sadar bahwa masa depan bangsa sedang sangat dipertaruhkan, pengalaman bangsa dengan Freeport masih belum cukup menggugah bahkan pemuda gereja. Jika ada yang bercita-cita menjadi misioner atau pendeta kita sudah mengucap syukur, kita lupa bahwa berapa gelintir yang bercita-cita mengembangkan kekayaan agraris dan kemaritiman kita atau kita percayakan kepada mereka yang hanya berpikir untuk dirinya sendiri?

Sayang, orangtua ikut merancang masa depan suram anak-anaknya. Mereka justru menfasilitasi anak mereka dengan berbagai sarana, namun jarang duduk bagi mereka dan menjelaskan sejauh mana kegunaan berikut bahayanya. Anak-anak yang kecanduan teknologi notabene adalah anak-anak yang jarang berprestasi, alias jarang menerima penghargaan yang tulus dari orang-orang terdekatnya.

Degradasi Nilai-nilai Filantropis

Saya menyaksikan sendiri anak-anak gereja yang melempari pengemis yang tidur di trotoar di dekat rumah di mana kami persekutuan, tentu saya langsung mencegah mereka, namun beberapa orangtua di situ yang melihatnya tidak ada yang bertindak. Foto-foto korban bom, korban reruntuhan rumah yang bersimbah darah tersebar dengan mudahnya melalui media sosial. Penghargaan pada sesama makin merosot. Jika mereka adalah orangtua kita yang kita cintai, keluarga tentu tidak akan rela foto jenazah mereka dalam kondisi mengenaskan itu tersebar begitu saja. Sedikit orang yang berpikir bahwa masalah kemanusiaan adalah masalah serius yang harus dikerjakan dengan alasan bahwa itu urusan pemerintah dan lembaga sosial lain.

Sumber Masalah dan Jalan Menuju Solusi

Berbagai penelitian dilakukan untuk menggali dengan serius permasalahan ini, dari segi psikologi, dari segi budaya dan sosiologi, segi medis, namun apakah ada upaya penelitian ekklesiologis atau teologis mengenai hal ini? Gereja terlalu sibuk dan semakin terhindar dari pekerjaan rumahnya.

Jika belajar dari perumpamaan yang Yesus paparkan di Lukas 16 tentang perilaku bendahara memakai kemampuannya (baca: kebiasaannya) untuk bertahan hidup demi alasan di balik kata “Mengemis aku malu.”(ay.3) yang merupakan salah satu bentuk mamon juga. Mamon yang dimaksud bisa ditafsirkan harta atau pun kedudukan sosial atau kesejahteraan versi fana.

Yesus melemparkan perumpamaan ini dan diarahan kepada semua pendengarnya (terutama murid-murid), mengajak mereka untuk menyelami diri mereka dengan jujur. Dengan sangat sederhana bisakah kita jujur menjawab pertanyaan “Malukah aku jika tidak memegang tablet?” , “dengan sengaja relakah kita sejenak hidup tanpa teknologi dan tetap merasa nyaman?” bandingkan dengan ay. 25 “telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu…” setidaknya pantulkan dua pertanyaan ini ke setiap topik di atas sesuai ketertarikkan kita. Sejauh apakah “jurang yang terbentang” dalam arti kita merasa mustahil nyaman hidup tanpa internet, komputer, mobil, listrik lancer, mesin cuci, lemari es layaknya hidup di desa terpencil. Jujur pada diri ketika muncul rasa enggan ikut serta pada kegiatan gereja semacam “live in” di tempat-tempat yang tak tersentuh teknologi.

Kejujuran Anda menolong Anda seserius apakah pekerjaan Tuhan di masa depan akan terhambat, berapa banyak orang yang belum menyadari hal ini? Betapa pentingnya mencari akar-akar permasalahannya. Maka tentu solusi telah Kristus sediakan bersama proses pencarian ini ketika segera dilakukan.

Proporsional Saja!

Saya akui bahwa sebagai orang yang berlatar belakang IT bersama istri saya seputar elektro dan industry, dan sekarang menekuni bidang rohani, religionum, humanistik dan ekologis. Maka bisa dikatakan bahwa setiap hari tetap bersentuhan dengan IT, istilahnya pakailah tanpa tergantung, belilah bukan untuk membayar harga diri, berilah contoh yang sehat bagi mereka yang muda dan seterusnya

IT adalah sarana dan prasarana, segala hal yang seharusnya di andalkan biarlah tetap pada manusianya. Dengan demikian maka manusia yang mengandalkan Tuhan sajalah yang bisa dengan proporsional mengendarai teknologi. Jika makin banyak anak Tuhan yang terjebak, maka berdosalah kita jika berpangku tangan, Tuhan akan menggerakkan hati dan kaki kita!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here