Sarasehan Pokja Yakoma Jawa Timur, Tantangan Gereja Dalam Menyampaikan Kabar Baik

0
42

Dalam rangka penguatan kembali media-media komunikasi gereja, forum sarasehan Kelompok Kerja (Pokja) Yayasan Komunikasi Masyarakat (Yakoma) Jawa Timur menggelar sarasehan dengan tema, “Tantangan Penyampaian Kabar Baik di Era Multimedia,” pada 5 April 2016 lalu.

Sarasehan Pokja Yakoma Jawa Timur yang digekar di GKI Pregolan Bunder Surabaya ini diikuti sekitar 60 insan media-media Kristen dan para profesional media Kristen baik media cetak, media online, radio dan televisi yang ada di lingkup Jawa Timur. Acara ini di dukung oleh PGIW Jawa Timur, Perhimpunan Pustaka Lewi, Jaringan Masyarakat Transformatif (Jarimata), dan IGNITE GKI.

Menghadirkan dua pembicara, yaitu Drs. Ronny Herowind Mustamu, M.M, selaku pemerhati media dari Universitas Petra Surabaya, dan Irma Riana Simanjuntak, M.Si, selaku direktur Yakoma PGI. Mereka berdua memaparkan bagaimana para pelaku media Kristen dalam menghadapi tantangan perubahan zaman sekarang ini. Perbincangan santai namun serius ini dimoderatori oleh Fardik Rudiyanto, salah seorang jurnalis Kristen senior.

Mengawali sarasehan, Irma Riana Simanjuntak memberi pernyataan bahwa Yakoma-PGI sebagai pusat pengembangan seni peran ini sudah ada sejak 1980. Ketika itu Yakoma sebagai media komunikasi untuk pewartaan di gereja-gereja. Nah, dengan struktur kelompok kerja (Pokja) Jatim ini, Yakoma-PGI sekarang ingin mengembalikan lagi fungsinya menjalankan pelayanan komunikasi masyarakat dengan mengaktifkan kembali media komunikasi, baik media cetak, media online, radio maupun televisi.

Lebih lanjut Irma mengatakan, bahwa posisi Yakoma sekarang memerlukan jaringan lebih luas terutama dalam konteks pemberdayaan media-media Kristen, baik media internal gereja maupun media-media Kristen yang mempunyai sirkulasi terbuka. “Banyak gereja yang tidak siap terkait media. Di satu sisi media gereja punya nilai plus yaitu punya pangsa pasar yang jelas, di sisi lain kesadaran gereja memanfaatkan media komunikasi masih terbatas,” jelas Irma.

Fenomena lain yang terjadi adalah banyak beredar media yang tidak berbasis sinode yang dikelola secara profesional, lebih bisa bertahan dan berkembang bahkan beroplah nasional, meski seringkali muatan pemberitaanya kurang secara kuantitas maupun kualitas. Sedangkan media yang berbasis sinode tidak dikelola dengan baik, ketika hadir di ruang publik, mereka belum siap dengan content yang bisa diterima semua orang.

Sementara itu Ronny Mustamu menyampaikan kritik bahwa secara umum gereja terlalu sibuk mengurus dirinya sendiri, sehingga upaya pewartaan kabar baik menjadi terabaikan. “Gereja jangan hanya membangun dirinya sendiri, menyorotkan lampunya ke dalam. Gereja harus menyorotkan lampunya ke luar, menjangkau jiwa-jiwa di luar gereja,” tegas dosen Universitas Kristen Petra tersebut.

Dalam sarasehan perdana Pokja Yakoma Jatim ini, Ronny juga memaparkan kiat-kiat memahami tren perkembangan media cetak maupun media online yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Apa pun bentuk maupun format penyampaiannya adalah penting untuk mempertahankan kualitas pemberitaan. Karena itu untuk mencapai kualitas yang baik diperlukan metode jurnalistik yang baik pula.

Sarasehan singkat ini menjadi awal baik bagi insan media-media Kristen untuk bangkit dalam mewartakan kabar baik. Hal ini tentu membutuhkan kerjasama dan kesadaran gereja, lembaga pelayanan maupun sinode sebagai penopang keberlangsungan media-media Kristen ini. Kehadiran Pokja Yakoma Jatim diharapkan dapat menjadi wadah sharing teman-teman media seluruh Jawa Timur. (doc/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here