Hilangnya Sebuah Prestasi

0
57

Zaman dulu informasi menjadi barang langka dan sangat berharga, sehingga orang dengan susah payah mencarinya. Siapa pun yang mempunyai informasi seperti memiliki sebuah komoditas. Informasi yang disampaikan pada waktu itu jelas dan sangat lengkap.

Informasi juga menjadi alat negosiasi. Dan bagi mereka yang butuh informasi, akan susah payah mencari dan rela membeli demi kelangsungan usaha atau untuk kepentingan pribadi.

Zaman sekarang, informasi tidak lagi menjadi hal yang langka. Orang tidak perlu lagi mencari informasi, sebab informasi sekarang ini begitu melimpah, yang dilakukan hanyalah mengambil dan mengolah informasi yang berlimpah tersebut. Tentu saja dengan berbekal pencarian di internet yang dikenal dengan sebutan “mbah google” itu.

Orang dengan bebas bisa mengolah serta menyusun informasi selengkap mungkin, ditambah dengan contoh dan pembuktiannya. Tak jarang, siapa pun bisa memberikan informasi kepada kalayak luas. Bahkan jika ada informasi lain dari pada yang lain, meski terkesan nyleneh akan langsung diolah dan dipublikasikan, apalagi ditambah semaraknya media sosial (medsos). Maka tak sedikit informasi yang sudah diolah itu mengandung kebohongan (hoax).

Informasi yang benar menjadi kurang diminati karena ulah sebagian orang yang hanya mencari sensasi. Parahnya lagi, banyak orang lebih percaya hoax. Mereka bahkan tidak bisa membedakan mana berita benar dan yang palsu, tidak sedikit malah ikut meyebarluaskan dengan alasan supaya tidak ketinggalan zaman. Prinsipnya, semakin hoax semakin menarik dan cepat tersebar menjadi viral.

Matinya Pribadi Berprestasi

Lalu bagaimana dengan prestasi? Di zaman ini prestasi menjadi kurang dihargai. Prestasi dianggap hal biasa, siapa pun bisa berprestasi. Mereka yang pandai mengolah informasi, serta mahir menyampaikan informasi tersebut dianggap telah berprestasi. Bahkan tidak perlu menjadi kutu buku bagi seorang pelajar untuk menyandang prestasi. Tidak perlu belajar begitu lama dan tidak perlu berpengalaman pada bidang tertentu untuk berprestasi.

Padahal dalam pengamatan saya, prestasi haruslah menjadi alat ukur bahwa orang itu lebih superior karena prestasinya. Misalnya, karena sudah terbukti dalam memimpin sebuah organisasi, terbukti melalui program yang hebat dengan hasil yang baik, serta kerja keras tanpa pamrih dan tanpa korupsi, seseorang layak disebut sebagai sosok yang berprestasi.

Prestasi Bisa Dibeli?

Sayangnya, di zaman modern ini prestasi banyak disandang oleh orang-orang yang bahkan belum terbukti kualitasnya. Hanya berbekal pandai bicara, pintar berwacana dan mampu berargumentasi, serta mahir mencari pendukung orang bisa langsung dianggap berprestasi. Dengan kata lain, prestasi bisa dibeli oleh siapa pun yang punya kuasa terhadap hal tersebut.

Hilangnya sebuah prestasi ini makin lama akan menggerogoti tatanan yang sudah jadi. Tidak hanya berimbas pada suatu organisasi. Namun, lebih dari itu bisa merombak jati diri, yang telah disusun sebagai dasar menata dan membangun kehidupan lebih baik dimasa mendatang. Apakah kita akan terus berdiam diri ketika prestasi menjadi barang mati karena tidak dihargai sebagaimana mestinya?

Tak gampang menyandang sebagai pribadi yang benar-benar berprestasi. Ada proses serta didikan yang harus dilalui. Dan yang pasti, proses dan didikan itu berada di dalam sebuah kebenaran sejati. “Kebenaran terkadang datang terlambat, tetapi tidak ada kata terlambat untuk melakukan kebenaran.” (john/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here