Ketika Pekerjaan Menjadi Tujuan

0
118
Casual group of excited friends with arms up isolated on white

Pernikahan adalah lembaga yang didirikan Allah. Pada dasarnya Allah bermaksud baik atas pernikahan manusia, tetapi kenyataan yang ada malah banyak pernikahan saat ini kandas di tengah jalan, entah itu perbedaan prinsip, perbedaan tujuan maupun lemahnya membangun dasar-dasar sebuah pernikahan.

Salah satu yang menjadi pergumulan sebuah rumah tangga saat ini adalah masalah pekerjaan, baik pekerjaan suami maupun pekerjaan istri. Di satu sisi, pekerjaan merupakan sesuatu yang perlu, sebab dengan bekerja sebuah keluarga dapat mencukupi kebutuhannya. Di sisi yang lain pekerjaan dapat menjadi masalah saat menyita banyak waktu bahkan mengambil alih tujuan hidup berkeluarga.

Tak dapat dipungkiri, pekerjaan atau penghasilan adalah bagian dari pergumulan hidup pernikahan dan keluarga. Keluarga membutuhkan penghasilan, tetapi pencarian penghasilan yang membabi-buta menghasilkan banyak sekali masalah.

Berikut sebuah kasus tentang pergumulan keluarga yang dipicu oleh masalah pekerjaan:

Aryo (40 tahun) adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan pelayaran terkenal. Yani (37 tahun), isteri Aryo adalah seorang pegawai sebuah bank yang juga punya kedudukan tinggi. Untuk urusan rumah, mereka dibantu jasa asisten rumah tangga. Sedangkan untuk urusan antar jemput kedua anaknya yang masih kecil ke sekolah, mereka menyewa sopir pribadi.

Sebenarnya Aryo sudah berulangkali meminta istrinya berhenti bekerja dan fokus pada urusan rumah tangga serta anak-anaknya. Bagi Aryo, penghasilannya sudah bisa mencukupi seluruh kebutuhan rumah tangganya. Namun, hal itu selalu ditolak sang istri dengan alasan karirnya sudah bagus, penghasilan banyak dan komunitas yang sulit ditinggalkan. Perdebatan inilah yang selalu memicu pertengkaran.

Pemicu pertengkaran lainnya adalah, Aryo kepingin, di saat pulang kantor ada istri yang siap menunggu dan menemani bersama anak-anaknya bercengkerama sambil istirahat. Namun, Yani tidak mau, ia juga merasa punya hak untuk bekerja dan menghasilkan uang. Ia bahkan menganggap suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga perhatian, kemesraan dan waktu untuk dirinya serta anak-anaknya berkurang. Keegoisan masing-masing inilah yang menimbulkan kecurigaan bahkan hilangnya keharmonisan.  

Kasus di atas adalah contoh pergumulan yang dihadapi sebuah keluarga terkait masalah pekerjaan.

Antara Kebutuhan dan Perhatian

Selalu menjadi dilema keluarga jika menyangkut masalah kebutuhan rumah tangga. Seberapa besarkah kebutuhan rumah tangga dapat tercukupi? Jawabanya tentu berbeda-beda. Ada yang meng-klaim bahwa penghasilan untuk kebutuhan rumah tangga harus sekian banyaknya, kalau tidak maka rumah tangga tersebut tidak bisa hidup. Maka kebutuhan materilah yang akhirnya menjadi faktor utama membangun rumah tangga. “Yang penting kaya dan banyak uang, masalah kebahagiaan dan keharmonisan bisa dicari dan dibeli dengan uang,” kata seorang ibu saat menasihati anaknya ketika akan berumah tangga.

Yang sering terjadi adalah, baik suami atau istri saling berlomba mencari penghasilan sebanyak-banyaknya untuk mencukupi kebutuhan hidup rumah tangga. Urusan kebahagiaan, keharmonisan dan urusan anak menjadi nomor ke sekian. Jika itu yang menjadi tujuan, maka bukan kebahagiaan yang di dapat, justru masalah barulah yang muncul di kemudian hari. Kalau pun bertahan dengan kondisi seperti itu, maka kebahagiaan menjadi semu. Bahagia hanya karena banyak uang, namun hidup dengan penuh kekosongan.

Suami atau istri merasa bahwa ia telah bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya. Apa yang dilakukan merupakan tanggung jawab sebagai orangtua yang wajib dipenuhi. Padahal, banyak kebutuhan lain (tidak hanya materi) yang harus diberikan kepada pasangan dan anak-anaknya, seperti: perhatian, keterlibatan langsung, waktu yang bermanfaat dan lain-lain.

Antara Ego dan Perasaan

Menjalin hubungan keluarga biasanya dilandasi komitmen awal. Bagaimana mereka membuat aturan atau batasan-batasan pada saat akan melakukan hubungan pernikahan. Begitu pula dengan masalah pekerjaan, seharusnya masalah ini sudah dibicarakan sebelumnya ketika akan berumah tangga. Pekerjaan yang seperti apa? siapa yang harus bekerja? Dan bagaimana dampak pekerjaan tersebut dengan kehidupan rumah tangganya.

Jika sudah ada kesepakatan awal, sebaiknya kedua belah pihak saling mengerti dan memahami. Namun, bila masalah itu muncul seiring berjalannya waktu, entah itu bertambahnya kesibukan atau masalah anak sebaiknya dibicarakan ulang. Masalah pekerjaan, baik istri maupun suami harus terbuka sehingga tidak muncul kecurigaan yang berujung pada pertengkaran. Jika salah satu yang bekerja atau dua-duanya bekerja, maka keduanya harus saling minta pendapat dan masukan.

Sikap egois dan mementingkan diri sendiri sebaiknya dihindari, karena segala sesuatu yang dilakukan haruslah menjadi keputusan bersama. Ingat bahwa suami-istri adalah pasangan sepadan, jadi tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi.

Masalah muncul ketika masing-masing hanya memperhatikan perasaan dan pemikiran pribadi. Suami-istri harus menyadari bahwa perannya tidak hanya di pekerjaan, tetapi berperan juga dalam urusan rumah tangga. Mau tahu dan terlibat langsung dengan urusan rumah tangga merupakan peran lain yang tidak boleh ditinggalkan.

Prinsip Tunduk

Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan,” (Kolose 3:18). Pengertian kata ‘tunduk’ dalam hal ini bukan mengacu kepada susunan atau kedudukan dari pada istri yang lebih rendah dari suaminya. Tunduk di sini tidak sama dengan ketundukan hamba kepada majikan, atau bawahan kepada atasan. Kata tunduk bukan juga memiliki pengertian n’rimo atau manut alias pasrah, tetapi mau mengerti, memahami dan menyesuaikan diri dengan kondisi pasangan. Tunduk yang dimaksud di sini berhubungan dengan di dalam Tuhan.

Apabila para istri menyerahkan dirinya kepada Yesus Kristus dan membiarkan Dia menjadi Tuhan dan Tuan atas kehidupannya maka ia tidak akan mengalami kesulitan dalam menjalankan prinsip tunduk kepada suaminya. Sikap tunduk inilah yang justru membuat suami semakin menyayangi. Kristuslah yang harus menjadi dasar relasi dan standar prinsip-prinsip yang dianut setiap anggota keluarga.

Prinsip Kasih

Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:19).

Kata kasih dalam ayat ini berasal dari kata kerja Yunani agapate, yang artinya, mengasihi; menunjukkan kasih atau menyukai. Kata ini menunjuk kepada pengertian adanya tindakan untuk harus mengasihi dalam situasi dan kondisi apapun sekarang sampai selama-lamanya.

Bila suami mengasihi istrinya seperti Kristus maka kasihnya akan disertai pengorbanan. Ia akan berkorban untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. Kasih dari suami itu pula sebagai kasih yang menguduskan. Karena keharmonisan akan nampak jika dilandasi dengan kasih Kristus. Di sini seorang suami tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri, tetapi yang diutamakan adalah kepentingan bersama.

Tujuan Allah mendirikan pernikahan berkaitan dengan beberapa aspek yaitu, aspek perasaan, aspek sosial, aspek fisik dan aspek rohani. Aspek rohani inilah yang menjadi hal utama dalam suatu pernikahan, di mana suami dan istri bersama-sama menikmati penyerahan diri serta kasih dari Kristus. Hal ini tidak boleh diabaikan. Bila hal itu terjadi maka hidup pernikahan akan senantiasa diwarnai perselisihan yang berbuntut pada perceraian.n

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here