Liputan Kelas Menulis #3 Eklesia Prodaksen, Menulis Untuk Kebaikan

0
91

Eklesia Prodaksen GKI Kebonagung bekerja sama dengan majalah Berkat mengadakan Kelas Menulis#3 pada Minggu, 9 April 2017 pukul 10.00 di GKI Kebonagung. Menghadirkan narasumber Purnowo Junarso, yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Berkat. Dari jumlah peserta yang semula dibatasi hanya untuk 50 orang, ternyata hingga hari pelaksanaan tercatat ada 63 yang mendaftar. Hal ini karena besarnya antusiasme peserta yang tertarik belajar menulis.

Adapun peserta yang mengikuti kelas menulis ini terdiri dari perwakilan Forum Komunikasi Pemuda GKI se-Malang Raya, jemaat GKI Batu, Blimbing, Tumapel, Bromo, Kebonagung, Sidoarjo, GKJW, GKE, MGMP Guru Agama Kristen, Gusdurian Malang, Sekolah Kristen Petra, Pamerdi, serta dari Jaringan Kristen Hijau.

Kelas Menulis dengan tema “Menulis dan Menembus Media Massa” ini memberikan tip-tip praktis bagi peserta tentang bagaimana menjadi penulis dan sekaligus menembus media massa, baik media cetak maupun online.

Selain itu, Pemimpin Redaksi Majalah Berkat yang saat ini majalahnya di tangan Anda, memberikan cara bagaimana agar tulisan kita diterima di media massa. Antara lain, rajin mengirim artikel dengan berbagai tema ke beberapa media, jangan mudah putus asa jika mengalami penolakan, kirim artikel lagi dengan tema yang lain.

Sebagai pendukung dalam menulis, hauslah kita memiliki hobi membaca, senang mendengarkan berita radio dan berita tv, dan yang pasti segera memulai menulis. Di akhir sesi, Pak Purnowo Junarso memberikan tantangan kepada semua peserta untuk menulis artikel dengan tema bebas sesuai bidang ilmu yang dikuasainya. (doc/brkt)

Berikut Beberapa Catatan Singkat Sebagian Peserta Kelas Menulis :

Bagi sebagian orang, menulis bukanlah sesuatu hal yang mudah. Salah satu kunci untuk dapat membuat sebuah tulisan adalah adanya ide dan komitmen untuk menyelesaikan tulisan yang sudah mulai dibuat. Sebenarnya ada begitu banyak ide yang dapat dituangkan dalam sebuah tulisan. Akan tetapi bukan hal yang mudah pula untuk seseorang dapat konsisten membuat sebuah tulisan secara kontinyu.

Kemampuan untuk dapat menuangkan ide dalam bentuk tulisan, dan kemauan untuk konsisten menulis akan menjadi hal yang mudah apabila seseorang paham bagaimana langkah-langkah menghasilkan sebuah tulisan. Sayangnya pengetahuan tentang hal tersebut jarang sekali dapat kita temui, sehingga tidak banyak orang yang mau menulis. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah pun tidak ditemui adanya materi yang mengulas secara detail tentang pelajaran menulis itu sendiri.

Melalui Kelas Menulis #3  “Menulis menembus media massa”, saya memperoleh banyak pengetahuan baru yang membuat saya merasa bahwa sesungguhnya menulis bukan hal yang sulit. Narasumber Bapak Purnowo Junarso, memberikan materi secara detail dan jelas bagaimana membuat suatu tulisan dapat diterima oleh media masa. Mulai dari cara membuat sebuah judul yang menarik, langkah-langkah membuat tulisan, hingga pada bagaiman perbedaan cara penulisan di media cetak dan internet. Terkait dengan profesi saya sebagai guru, melalui Kelas Menulis #3 saya dapat memberikan pengetahuan baru bagi anak didik saya terutama bagi mereka yang gemar menulis. Melalui Kelas Menulis inipun saya merasa semakin terpacu untuk dapat mewarnai dunia pendidikan dengan menulis.

Kelas Menulis yang telah beberapa kali diadakan oleh Eklesia Prodaksen GKI Kebonagung merupakan sebuah program apik yang sebaiknya dapat dilaksanakan secara kontinyu. Sebab melalui Kelas Menulis ini akan lebih banyak orang yang tahu bagaimana cara menulis yang baik, dan menambah semangat berkarya melalui tulisan mereka. Semua ide, pemikiran, dan pengetahuan kita tidak akan pernah menjadi berarti apabila hanya kita pendam. Hendaknya semua ide kita paksakan untuk dikeluarkan melalui tulisan, sehingga dapat lebih memberkati dan mewarnai setiap orang yang membacanya.  (Winda Yulia,  Pendidik Sekolah Kristen Pamerdi  Kebonagung, Malang)

Saya ingin menulis namun tidak tahu caranya. Saya suka membaca. Saya ingin menulis kisah hidup saya untuk berbagi dengan masyarakat agar kita sama-sama mengetahui dengan persis bahwa tiap manusia punya masalah sendiri-sendiri. Kalau kita mau menyambung dengan Tuhan kita pasti akan mendapat  solusi yang terbaik– melalui orang-orang disekitar kita. Tuhan memberi kita karunia melalui kejadian-kejadian yang kita alami, baik kesengsaraan maupun suka cita. (Endang Suciawati, 54, lulusan Sekolah Pekerja Wanita Kristen, Magelang, tahun 1985)

“Taukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena engkau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”“Orang boleh pandai setinggi langit namun ketika dia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat, menulis adalah bekerja untuk keabadian”.  Dua ajakan dari Pramoedya Ananta Toer sering berkeliaran dalam benak saya, setiap apa yang saya lewati dan alami, ajakan itu seolah dibisikan pelan namun menancap dalam ingatan.

Kelas Menulis yang diadakan oleh Eklesia Prodaksen merupakan sebuah ajakan mengabadi seperti apa yang dikatakan Pram, sudah dua kali Ekpro (Eklesia Prodaksen) mengadakan Kelas Menulis namun saya sendiri sangat menyesal tidak dapat menghadiri dua kelas yang pernah diadakan sebelumnya.

Di Kelas Menulis#3 bersama Pak Purnowo Junarso selaku Pemimpin Redaksi Majalah Berkat adalah satu momen yang luar biasa dimana 60 orang hadir dan sadar bahwa menulis itu penting. Kedua momen ini juga sebuah kesempatan berharga saya bertemu langsung dengan Pemimpin Redaksi dimana 2 tulisan sederhana saya diijinkan terbit di dua edisi majalah Berkat, tentunya berkat kemurahan Pemimpin Redaksi juga. Ketiga menulis bukan hanya penting, jauh daripada penting menulis adalah usaha mengaksara suara agar tidak menguap dan menjadikannya melekat abadi.

Otak terbatas, membaca menembus batas, menulis membuatmu tak terbatas.(Rivaldi Anjar Saputra, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang)

Membuka kran literasi melalui narasi. Menulis tidak pernah menjadi hal yang remeh, meskipun sebenarnya adalah sederhana. Rangkaian kata yang terurai menjadi untaian makna dari berbagai peristiwa. Tidak pernah remeh, meskipun sederhana.

Minggu pagi itu, tepat 1 minggu setelah kegiatan lain yang tidak kalah tebal dalam menggoreskan makna. Terjadi sebuah reuni singkat, karena salah satu sahabat yang akan berangkat pulang. Namun di reuni singkat tersebut pula sahabat tersebut mengisi bekalnya di penghujung ceritanya di Malang. Kelas Menulis #3 ini membekalinya sebelum ia kembali ke kampung halaman.

Belajar menulis itu mudah, menuangkannya menjadi nyata itu yang penuh lembah. Bagi kami, orang yang bahkan menulis buku diary saja hampir tidak pernah, Kelas Menulis ini menolong kami. Banyak tips-tips yang kami dapatkan untuk menuangkan ide kreativitas kami melalui literasi. Tidak hanya tips, tapi juga ilmu-ilmu dasar untuk memulai diri menjadi penulis amatir, dimulai di kelas ini. Kelas yang singkat padat meskipun juga cenderung membosankan, namun dengan bekal yang ditawarkan kami seakan mendapat cukup porsi untuk mulai “menggodok” kata demi kata yang melintasi pikiran ini. Hal membosankan tersebut tidak lepas dari fakta bahwa MC sedang mengantuk berat karena semalaman begadang menemani“peserta reuni” menikmati suasana malam Kota Malang. Tak apalah, kantuk tersebut dapat menjadi bumbu dalam narasi ini.

Mengembangkan ide yang selama ini terkekang, menjadi hal yang asyik selepas kelas berakhir. Berminggu-minggu setelah kelas usai, barulah tulisan ini lahir. Keberanian, menjadi hal pertama bagi penulis untuk menemukannya. Ide-ide yang berseliweran, ditambah rasa gatal untuk ibu jari ini bergerak diatas papan ketik android karena panggilan menjadi komentator pun menambah gairah. Dan boom, satu buah tulisan pun lahir. Ia tidak rupawan, tidak juga menawan, namun ia adalah buah hasil perkawinan, antara momen dan keberanian.

Tulisan ini menjadi awal perjalanan, yang tak tahu hingga kapan akan bertahan. Berawal dari minggu pagi lewat sepekan dari awal pertemuan, Kelas Menulis telah banyak memberikan pelajaran. Diujung perjalanan seorang kawan, meskipun sesaat sebelum kepulangan. (Mabriantama, KPR GKI BRomo, Malang, 9 Mei 2017, Diatas kereta api Penataran)

Pada awal April 2017 lalu, Saya lupa tepatnya, diselenggarakan Kelas Menulis #3 di GKI Kebonagung. Beberapa waktu sebelumnya Saya tertarik dengan kegiatan pelatihan menulis ini. Namun baru pada seri ketiga ini , Saya berhasil memaksakan diri untuk mengikutinya. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Eklesia Prodaksen dan GKI Kebonagung kali ini menghadirkan Pak Purnowo Junarso dari Majalah Berkat. Acara ini dihadiri oleh banyak orang dari berbagai pihak. Saya lupa tepatnya berapa orang, padahal sempat melihat daftar hadirnya.

Diawali dengan sejarah singkat Majalah Berkat sampai bagaimana cara tulisan kita dapat diterima Media Massa. Sungguh Saya lupa dengan sebagian besar materi yang disampaikan. Saya juga tidak menyangka materinya cukup lengkap. Untungnya Pak John (begitulah panggilan akrabnya Pak Purnowo Junarso) berbaik hati berbagi file materi Kelas Menulis #3 kali ini.

Namun dari kesemuanya itu , Saya menangkap pesan penting dalam pesan penutup dari acara ini. “Jangan berputus asa dalam hal menulis. Mari mewarnai dunia dengan memberitahukan , mewartakan dan mengabarkan. Tuhan kiranya memampukan kita. Ayo Menulis.” Sebuah ajakan dan menguatkan bagi Saya untuk berani menulis. Satu hal yang paling penting bagi Saya adalah “MELAWAN LUPA”. Melawan lupa dari peristiwa, pengalaman, dan dampak perbuatan baik yang sudah terjadi. Juga melawan lupa terhadap penuntasan ide, pikiran dan rencana tindakan baik sebagai bagian wujud syukur atas Cinta Kasih Tuhan.  (Median Arsianto, GKI Sidoarjo)

Kelas Menulis itu penting diterapkan. Harus memaksa diri menulis. Bila tidak suatu ide akan berhenti dan kesempatan berliterasi terlalui dengan sia-sia (dr.Ratih Gunadi, GKI Tumapel)

Menulis bagi saya bagian dari perjuangan mencerdaskan bangsa, menulis juga menuntut saya untuk mampu membawa pikiran saya lebih kreatif dan inovatif. Saya secara pribadi sering menulis tentang pejuangan rakyat kecil dan ini menuntut saya untuk mampu meresapi semua unsur itu. Jadi menulis itu penting sekali. Menulislah dan jangan pernah berhenti. (Ferderikus Ama Bili, Koordinator  Kristen Hijau Malang)

Bagi saya, menulis itu sarana untuk membebaskan seseorang dari sikap diam. Dengan menulis, kita bisa mengutarakan apa pun yang ada di dalam hati dan pikiran kita, seolah-olah kita ini sedang berdialog dan berkaca pada diri sendiri. Oleh karena itu, jangan ragu untuk menulis. Jangan bungkam dan diam, melainkan suarakan suara kenabian kita lewat tulisan. (Yohannes Augustha Bambang Sethiawan, Kader Pendeta GKI)

Dokumentasi foto: Tim Eklesia Prodaksen
*Dimuat majalah Berkat nomor 115 Juni 2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here