Brilliant Yotenega: Perintis Online Self Publishing di Indonesia

0
96

Berawal dari kecintaan membaca buku, Brilliant Yotenega yang akrab dipanggil Ega, merintis usaha online self publishing di Indonesia melalui laman nulisbuku.com. Laman yang menjadi partner bagi penulis untuk menulis, mengunggah, menerbitkan, hingga mencetak karya dalam bentuk buku sesuai permintaan (print on demand) secara mandiri.

Selain itu, tersedia pula beberapa layanan tambahan yang bisa dipilih penulis, seperti penerbitan ISBN, pembuatan sampul, percetakan, paket, sampai pemasaran. Kini hanya dengan membuat akun pada laman nulisbuku.com, menerbitkan buku tidak lagi sekedar impian belaka bagi para penulis.

Semua Dimulai Dari Tujuan Sederhana: Meningkatkan Minat Baca

Ega yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Komisi Pemuda GKI Residen Sudirman Surabaya, mengajak rekan-rekan pengurus Komisi Pemuda memanfaatkan waktu luang dengan membuat blog untuk dibaca bersama. “Apa yang aku baca aku tulis. Awalnya belum bisa menulis sendiri, masih menyadur. Sebutkan sumbernya, bukunya, supaya kita sama-sama baca buku.” Kemudian berlanjut dengan membuat majalah. “Mulai dari yang selembar/leaflet hitam-putih, sampai yang cover-nya berwarna. Lagi-lagi tujuan awalnya sederhana, untuk meningkatkan minat baca. Minimal teman-teman (pemuda-Red.) atau lingkungan gereja kita concern (perhatian-Red.) pada membaca.”

Bergerak di dunia percetakan, Ega kemudian mengenal teknologi print on demand dan menyadari prospek usaha penerbitan buku mandiri secara online yang masih belum ada di Indonesia. Ega mempunyai rencana memulai usaha online self publishing, dan untuk itu ia membeli mesin cetak baru yang harganya tidak murah. Namun, akses internet yang ketika itu masih sulit dan mahal serta pasar yang masih belum siap, membuat Ega harus menerima kenyataan pahit kegagalan usaha di tahun 2008. “Karena mendahului trend, timing-nya (waktu-Red.) belum pas,” kenang Ega. Mesin pun dijual.

Dilontarkan Tuhan: Man makes plans… and God laughs. ~ Michael Chabon

Keadaan memaksa Ega meninggalkan kota Surabaya, mengikuti istri terkasih bekerja pada perusahaan milik keluarganya di Jakarta. Sungguh masa yang berat, apalagi jika mengingat kegagalan usaha yang dialami Ega itu terjadi justru tak lama setelah ia memulai kehidupan pernikahan. “Memang ada masalah, sekarang apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi itu. Ada sih pikiran kerja lagi di Surabaya, di bidang yang lain. Tapi yang paling sulit ketika itu adalah bagaimana mempertahankan semangat untuk bangkit. Apalagi karena sudah enggak (tidak-Red.) sendiri lagi, sudah ada tanggungan keluarga.” “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” (Amsal 19:21)

Ega menyaksikan betapa rancangan Tuhan tidak terselami oleh manusia dan ia menyadari bahwa ketika manusia berencana, Tuhan tertawa. “My plan is no plan – rencanaku adalah tidak ada rencana. Tidak ada yang bisa direncanakan, selain harus berjalan bersama Yesus, selangkah demi selangkah dalam iman,” papar Ega. Ega kemudian melihat situasi yang dihadapinya saat itu diijinkan Tuhan untuk memberikan wawasan baru padanya. “Karena kalau hanya berada di dalam komunitas tertentu itu saja (di Surabaya-Red.), kita punya semuanya, kenal semua, comfort zone (zona nyaman-Red.). Enggak berkembang dan kita juga enggak tahu kita punya potensi apa saja. Jadi sama Tuhan aku dilontarkan. Tiba-tiba ke Jakarta, City of Opportunity – kota dengan pelbagai kesempatan.”

Memulihkan Kembali Kepercayaan Diri yang Hilang

Setibanya di Jakarta Ega segera mencari pekerjaan, dengan bekerja Ega berharap akan mendapatkan kembali kepercayaan dirinya yang hilang sebagai pribadi dan juga sebagai seorang Kepala Rumah Tangga. Setiap hari, dengan ditemani secangkir lemon tea seharga lima ribu rupiah di sebuah gerai makanan siap saji, ia memanfaatkan koneksi wifi gratis untuk mengakses situs lowongan pekerjaan yang ada di Indonesia dan memasukkan lamaran pekerjaan. Satu bulan berlalu dan belum ada panggilan wawancara. Meskipun Ega sudah memiliki pengalaman kerja yang mumpuni di dunia percetakan dan sebelumnya sempat mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, bahkan pernah memiliki usaha di bidang desain produk, ia harus menerima kenyataan betapa sulitnya bersaing mencari pekerjaan di Jakarta tanpa adanya selembar ijazah dari perguruan tinggi.

Keadaan terasa semakin berat ketika kemudian istrinya memberitahukan kehamilannya pada Ega. Kabar kehadiran calon jabang bayi, yang seharusnya menjadi berita sukacita, menjadi tantangan baru yang harus ia hadapi. Belum lagi mendapatkan pekerjaan, sekarang ia harus berpacu dengan waktu untuk menyiapkan biaya persalinan sang istri dan kebutuhan bayinya. Gelora gelombang badai kehidupan kembali menghantamnya. “Tapi aku selalu yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah. Kalau Dia memberikan kepercayaan padaku, Dia percaya aku mampu.” Menghadapi ketidakpastian yang membentang didepan mata, Ega pun melangkah setapak demi setapak perjalanan hidupnya dengan bersandar pada iman. “Yang penting percaya,” ujar Ega.

Ketekunan Ega pun membuahkan hasil di bulan ketiga. Ega mendapat panggilan kerja sebagai desainer grafis di sebuah toko handphone Cina. Walaupun dibayar dengan gaji yang jumlahnya tidak besar, Ega bekerja dengan sungguh-sungguh. Dalam bekerja, ia melakukan prinsip extra mile seperti yang ada di Alkitab. “Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” (Matius 5:41)

Disuruh bikin desain alternatif 2, aku bikin 4. Bikin 4, aku bikin 6. Disuruh besok, aku hari ini. Jadi memberi lebih.” Perlahan tapi pasti, pekerjaan itu membuat kepercayaan dirinya berangsur pulih. Sebulan bekerja, gaji Ega dinaikkan 50% oleh atasannya. Tak berselang lama, Ega ditawari interview di sebuah perusahaan baru dan berhasil menjadi karyawan pertama di perusahaan itu. Selain bisa bereksplorasi lebih di perusahaan yang baru, penghasilan Ega pun semakin bertambah dari sebelumnya. Kepercayaan dirinya dipulihkan dan masalah finansial keluarga dapat diatasi. “Tuhan tetap bekerja dalam segala sesuatu bagi mereka yang mengasihi Dia. Itu yang aku yakini. Tugas kita mengasihi Dia, mempercayai Dia. Kebutuhan kita itu urusan Tuhan, tugas kita percaya Dia. Tugas Tuhan memenuhi kebutuhan kita,” demikian Ega menyaksikan.

Puaskah Tuhan? Menghidupkan Kembali Impian Melalui Visi

Aku selalu mencari, apakah Tuhan ingin aku jadi seperti ini saja?” Dengan berjalannya waktu, naluri kewirausahaan Ega kembali tergugah, namun ia terbentur kendala ketiadaan modal. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya. “Yang aku baca adalah modal bukan satu-satunya yang bisa menghalangi untuk kamu menjadi entrepreneur, tapi niatmu apa, visimu apa. Nah, Maxwell (John C. Maxwell – penulis dan motivator-Red.) kan selalu ngomong tentang visi misi. Apa yang bisa kamu kontribusikan untuk bangsa ini? Itu pertanyaan yang setiap pagi muncul.”

Ega pun menginventarisir apa yang dia lakukan dalam sepuluh tahun terakhir. Kemampuan apa yang selama ini ia asah dan apa yang ia inginkan. Ia punya kemampuan di bidang printing, desain, mengerti teknologi print on demand, dan menginginkan buku. Online self publishing diluar negeri sudah ada, tapi di Indonesia masih belum ada. Akhirnya waktu untuk mewujudkan impian merintis online self publishing di Indonesia telah tiba.

Ada dua elemen penting dalam pembuatan online self publishing, yaitu software dan hardware. Melalui sebuah event, Ega dipertemukan dengan Aulia Halimatussadiah pemilik toko buku online yang kemudian bekerja sama dengannya dalam mempersiapkan pembangunan website. Langkah berikutnya, untuk sisi hardware, Ega harus mendapatkan mesin cetak. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, Ega menyadari bahwa daripada membeli mesin cetak baru, lebih efektif dan efisien jika ia menjalin kerjasama dengan pemilik mesin cetak.

Ia pun kemudian menghubungi beberapa orang pemilik mesin cetak di Jakarta, namun tidak berhasil meyakinkan mereka untuk bergabung dalam online self publishing. Hampir menyerah, Ega teringat akan seorang pemilik mesin cetak. “Satu-satunya orang yang belum aku hubungi adalah seorang teman lama yang punya sebuah penerbitan di Surabaya. Aku terbang ke Surabaya hanya untuk mempresentasikan ini. Tidak sampai satu menit, dia bilang: ‘Apapun yang kamu bikin, tak (aku dalam bahasa daerah Surabaya-Red.) dukung.’” Mukjizat Tuhan kembali terjadi lagi dan hari itu menjadi hari yang akan terus diingat Ega.

Bekerjasama dengan Penerbit Mizan, pada tanggal 08 Oktober 2010 nulisbuku.com resmi diluncurkan pada acara Indonesia Book Fair di Istora Senayan Jakarta, dengan ditandai penerbitan buku dari 99 penulis melalui event99 Writers in 9 Days (99 Penulis dalam 9 Hari). Sejak itu Ega memutuskan resign dari kantor tempatnya bekerja dan mendedikasikan diri untuk nulisbuku.com secara penuh. Hingga kini, nulisbuku.com mempunyai lebih dari 50.000 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia dan telah memiliki 4.000 judul buku serta bisa mencetak 150 judul buku per bulan. Tidak hanya hadir sebagai solusi bagi penulis di Indonesia, nulisbuku.com juga hadir sebagai solusi bagi industri buku, tingkat minat baca, serta meningkatnya budaya sharing knowledge di Indonesia.

Anak muda sekarang harus mempergunakan waktu luang dengan baik.“Apa yang kamu kerjakan ketika di waktu luang, itu yang akan membentuk masa depanmu. Jangan-jangan itu passion-mu, yang Tuhan taruh dihati kamu, kamu bisa hidup dengan itu,” ujar Ega. Kini Ega telah sukses menggapai impian yang dicapainya melalui proses perjalanan yang tidak mudah, berkali-kali harus berada dalam situasi yang tidak pasti yang membuatnya hampir menyerah.

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam kekurangan.

 “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:12-13). Ayat itu menguatkan Ega dalam perjuangannya untuk tetap bersandar pada janji Tuhan yang senantiasa memberikan jaminan perlindungan dan kekuatan dalam menghadapi tantangan ketidakpastian hidup. “Keberanian menghadapi tantangan untuk melangkah di ketidakpastian itu harus dilatih. Generasi muda harus terbiasa menghadapi tantangan, karena kedepannya keniscayaan itu pasti terjadi. Jika kita terbiasa menghadapi ketidakpastian, kita akan terbiasa menemukan solusi di tengah dunia yang sepertinya tidak ada solusi. Kita selalu bisa melihat celah. Our life is full of surprise and let God surprise you everyday – hidup kita penuh dengan kejutan, biarkan Tuhan memberikan kejutan padamu setiap hari. Raihlah impianmu, kejar sekarang wahai anak muda!”

Menyikapi maraknya informasi yang begitu mudah diputarbalikkan di media dewasa ini, Ega pun berpesan, “Orang Kristen harus menulis; kesaksian perjalananmu bersama Tuhan Yesus. Karena satu-satunya tulisan yang akan dipercaya generasi mendatang adalah tulisan kita. Agar mereka bisa mengenal Tuhan Yesus yang benar melalui cerita kesaksian hidup yang ditulis.” Ega sendiri telah menuangkan kesaksian perjuangan hidupnya dalam sebuah buku yang berjudul “In The Eye of The Storm” melalui nulisbuku.com. Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Mari, tuliskan kisahmu untuk pengenalan Tuhan Yesus kita yang benar bagi generasi mendatang!

Profil Brilliant Yotenega

Lahir: Surabaya, 3 Juni 1978
Istri: Nuraini Cynthia Dewi

Anak:
  • Arne Ezramarthyan Yotenega

  • Aeldra Ezekiel Yotenega

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here