Dalam Menghadapi Masalah, Apa Harus Kita Lakukan?

0
289

Oleh: Pdt. Timotius Wibowo

Masalah, yaitu sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan), tidak pernah absen dari kehidupan kita. Setiap hari, sejak pagi hingga petang, kita bertemu dengan pelbagai macam masalah. Sebagian dari masalah-masalah tersebut dapat dengan mudah kita selesaikan sehingga kita menyebutnya sebagai masalah yang ringan, atau bahkan sama sekali tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah.

Namun, sebagian dari masalah-masalah tersebut tidak dapat kita pecahkan dengan mudah karena keterbatasan kemampuan kita. Kita menyebut masalah-masalah semacam ini sebagai masalah yang berat. Ketika bertemu dengan masalah yang berat inilah kita biasanya merasa enggan menghadapinya dan cenderung ingin menghindarinya. Padahal, seperti kita tahu, suatu masalah – baik yang berat maupun ringan – tidak akan pernah terselesaikan apabila kita tidak mau menghadapinya. Sebaliknya, jika kita terus-menerus menghindarinya, masalah tersebut justru akan menjadi semakin rumit, semakin sulit diselesaikan, dan semakin buruk dampaknya bagi kehidupan kita.

Mazmur 55 merekam pengalaman pemazmur menghadapi masalah yang berat di dalam hidupnya. Pemazmur hidup di tengah lingkungan masyarakat jahat dan tidak takut akan Allah (ay. 10-12, 20b). Dalam sebuah lingkungan yang jahat, tidaklah mudah bagi pemazmur untuk hidup dalam kebenaran. Tekanan, penganiayaan, bahkan ancaman kematian adalah tantangan yang harus dihadapinya dari hari ke hari (ay. 4-6). Dalam situasi yang sulit seperti itu, kehadiran seorang sahabat tentu sangat berarti. Namun, sahabat yang diharapkannya memberikan dukungan justru mencela dan mengkhianatinya (ay. 13-15; 21-22). Alih-alih membantu menyelesaikan masalahnya, sahabat yang dipercayainya itu justru memperberat beban penderitaan yang harus dipikulnya. Lalu, bagaimanakah pemazmur bersikap? Apa yang dilakukannya dalam situasi seperti itu?

Langkah pertama yang dilakukan pemazmur adalah berseru/berdoa kepada Allah. Berseru atau berdoa kepada Allah nampaknya memang bukan sebuah jurus yang istimewa dalam menghadapi masalah. Namun, di sini ada hal penting yang patut kita catat mengenai cara pemazmur berseru dan berdoa, yaitu ketekunannya. Ia bukan hanya sekadar berdoa; Ia berdoa dengan tekun. Di ayat 2, pemazmur berseru: “Berilah telinga, ya Allah, kepada doaku, janganlah bersembunyi terhadap permohonanku.” Menurut Anda, sudah berapa kalikah pemazmur berdoa kepada Allah? Satu kali? Atau, dua kali? Tentu, lebih dari itu. Jika ia baru sekali atau dua kali saja berdoa, dia tidak akan berseru seperti itu. Pemazmur merasa bahwa Allah tidak memberi telinga kepadanya dan merasa bahwa Allah menyembunyikan diri karena ia telah berdoa berulang kali, namun Allah belum mengabulkan doanya.  Meski demikian, pemazmur tidak berhenti berseru kepada Allah. Ia tetap berdoa dengan tekun. Paling sedikit tiga kali dalam sehari (ay. 18, “di waktu petang, pagi, dan tengah hari”),

Ia berdoa dengan segenap hati, membawa masalahnya ke hadapan Tuhan. Ketekunan pemazmur dilandasi oleh keyakinannya bahwa pada waktunya nanti Allah akan menyelamatkannya (ay. 17). Doa yang dilakukan dengan tekun inilah yang kemudian menghasilkan kesaksian dan pengajaran yang disampaikannya di ayat 23, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”

Ketika bertemu dengan masalah yang berat, kita tentu juga berseru dan berdoa kepada Allah. Namun, belajar dari pemazmur, kita patut bertanya: “Seberapa tekunkah kita berdoa?” Pada kenyataannya, tidak banyak orang Kristen yang berdoa dengan tekun. Kebanyakan dari kita terlalu cepat menghentikan doa kita. Mengapa demikian? Kita mengharapkan jawaban yang cepat dari Tuhan. Kita merasa cukup berdoa sekali atau dua kali saja dan kemudian memberikan giliran kepada Tuhan untuk melakukan apa yang kita minta. Atau, mungkin tanpa kita sadari, kita sesungguhnya tidak lagi menempatkan doa sebagai langkah yang terpenting untuk menghadapi masalah kita.

Langkah kedua yang dilakukan pemazmur adalah menghadapi masalahnya. Menghadapi masalah membutuhkan keberanian. Keberanian ini sering kali hilang pada waktu seseorang melihat bahwa masalah yang dihadapinya lebih besar dari kemampuannya. Itulah sebabnya, alih-alih menghadapi masalahnya, banyak orang cenderung ingin menghindarinya. Hal inilah yang pada awalnya terjadi pada diri pemazmur. Di ayat 7-8, pemazmur mengutarakan keinginannya untuk terbang atau berlari sejauh mungkin dan bermalam di padang gurun. Dalam situasi yang normal, tentunya ini bukan keinginan yang wajar. Ungkapan semacam ini menunjukkan bahwa pemazmur sedang mengalami tekanan emosional yang berat (atau, dengan istilah yang lebih sering kita dengar, stress). Sikap bermusuhan dan ancaman dari orang-orang di sekitarnya membuat pemazmur tertekan dan ingin “lari” dari situasi yang dihadapinya. Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh Yeremia ketika ia merasa sangat tertekan oleh sikap orang-orang di sekitarnya (Yer. 9:2).  Seperti yang kita ketahui, padang gurun bukanlah tempat tinggal yang baik untuk dihuni. Di padang gurun nyaris tidak ada apa-apa untuk mendukung kehidupan seseorang, apalagi membuatnya bahagia. Padang gurun adalah tempat yang paling jauh dari kehidupan manusia. Tempat seperti inilah yang diharapkan seseorang  yang ingin menghindar dari kenyataan hidup yang berat.

Apakah Tuhan mengabulkan harapan pemazmur dan memberinya “sayap” untuk melarikan diri dari masalahnya? Tidak! Tuhan tidak memindahkan pemazmur dari tempatnya berada. Ini berarti bahwa pemazmur harus tetap menghadapi masalahnya. Ada kalanya Tuhan mengizinkan kita menghadapi masalah yang berat, yang membuat kita sangat sedih atau sangat cemas. Kita pun berharap agar Tuhan menolong kita untuk menghindar atau lari dari masalah tersebut. Namun, Tuhan justru “memaksa” kita untuk menghadapinya. Mengapa demikian? Selain untuk melatih kita agar lebih terampil menghadapi berbagai tantangan hidup, masalah-masalah yang berat juga sering dipakai Tuhan untuk memantapkan iman kita (ay. 24b).  Ketika menghadapi masalah yang berat itulah kita mendapatkan kesempatan untuk lebih mengenal Allah, mengalami kasih-Nya, dan melihat kuasa-Nya bekerja di dalam hidup kita.

Ketika menghadapi masalah yang berat, ketekunan berdoa dan keberanian untuk menghadapinya adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Ketekunan berdoa akan memberikan kekuatan rohani kepada kita, sehingga kita berani menghadapi masalah kita. Begitu juga, berani menghadapi masalah adalah sikap yang paling konsisten dengan doa kita. Kesungguhan dan ketekunan kita memohon agar Allah terlibat dalam masalah kita seharusnya memang dilandasi oleh keinginan kita untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here