Melalui Penyakit Ini, Aku Belajar Memahami Hidup

0
118

Ku takkan lupa AnugrahNya……………Ku takkan lupa KasihNya………….”

Pengalaman dioperasi dan rasa sakit yang tak tertahankan tak membuatnya menjadi gadis yang mudah menyerah dan putus asa dalam menjalani hidup masa remajanya. Pemulihan luka batin dan mujizat yang telah menyembuhkan menjadikannya pribadi yang kuat dan Ia pun memenuhi panggilan pelayanan-Nya dan menjadi semangat dan motivasi bagi orang yang telah divonis dokter tidak ada harapan lagi untuk hidup.

Disa Christian, gadis pemuda yang lebih akrab dipanggil Caca ketika di rumah, saat ini sedang kuliah di salah satu Universitas di Surabaya dan juga aktif mengikuti pelayanan Tim musik angklung di GKI Manyar ini mulai bercerita. “Tepatnya 3 tahun yang lalu ketika aku merasa ada yang aneh dengan nyeri di perutku. Terasa sakit sekali dan sakit itu sering timbul. Awalnya aku merasa mungkin adalah nyeri haid biasa atau sakit maag, ”tutur gadis kelahiran tahun 1995 ini.

Klimaksnya pada pertengahan 2012 Disa merasa sakit di perut yang tidak tertahankan serta  perut yang mendadak membesar, lalu Disa memutuskan pergi ke dokter untuk memeriksakan diri dan melakukan serangkaian tes. Dari pemeriksaan ternyata Disa terkena kanker ovarium, tepatnya ovarium kanan dan jenisnya tumor malignant (tumor yang bersifat ganas). Betapa kaget dan bingung dirinya mendengar vonis dokter. Akhirnya ia menjalani operasi pertamanya pada bulan Juli 2012. Operasi itu telah mengangkat sekitar 3 kg daging di dalam perutnya dan berat badannya turun dari 53 kg menjadi 45 kg. ”

Waktu itu walau berat badanku turun drastis tapi aku bisa sedikit bernafas lega, masih bisa sekolah kembali walau hanya “pupuk bawang,” kenang Disa. Dalam proses pemulihan pasca operasi itu ia masih harus menjalani kemoterapi sebanyak 4 kali. ”Sakit sekali rasanya ditusuk jarum berkali-kali, apalagi pembuluh darahku kecil sehingga susah obatnya untuk masuk, tetapi Puji Tuhan pada saat itu rambutku ngga’ rontok seperti cerita ngeri kebanyakan orang,”  kata gadis penyuka makanan asin ini.

Suatu hari pada bulan Juni 2013, nyeri di perut itu datang lagi. Kali ini disertai rasa mual yang berujung pada muntah setiap kali ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. ”Waktu itu aku sedang liburan di Batu, rencananya 3 hari, tapi hari ke-2 aku sudah balik ke Surabaya, karena makanan kesukaan dan seenak apapun tidak bisa dimakan, rasa sakitnya melebihi waktu sebelum operasi pertama,” kenang anak pertama dari empat bersaudara ini.

Sekembalinya ke Surabaya, dokter menyarankan melakukan MRI untuk melihat penyebaran kankernya. Hasil tes yang diterima menyatakan di ovarium kiri juga terdapat sel kanker, bahkan menyebar ke bagian usus juga. Dokter menyarankan untuk dilakukan operasi kembali, operasi kali ini disarankan agar diluar usus ditempel kantong untuk pembuangan BAB. Operasi pun sebenarnya akan percuma karena kanker yang diderita telah meningkat menjadi stadium 4C.

“Waktunya tidak akan lama lagi,” kata dokter. Sontak seluruh keluarga kaget, menangis dan di luar dugaan, pemulihan keluarga Disa terjadi. Ketika seluruh keluarga berdoa bersama-sama, saling menguatkan dan mengampuni, hadirat Tuhan benar benar-benar terasa. “ Papa terus mendoakan dan menyemangati. Papa selalu bilang, “Dalam Nama Tuhan Yesus Disa sudah  sembuh, bilur-Nya dan darah-Nya telah menyembuhkan.”  Kenang Disa menirukan ucapan papanya.

Setiap hari, Disa merasakan sakit di seluruh tubuh hingga terkadang sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit. Obat anti nyeri sejenis morfin dengan dosis tinggi yang diberikan pun tidak mempan, rasa sakit yang luar biasa terus terasa, seolah-olah obat anti nyeri tersebut tidak berfungsi. Di saat kondisi tersebut papa selalu mengajak memuji Tuhan dan tidak sampai 5 menit, Disa bisa tertidur pulas dan rasa sakit pun seketika tidak terasa. Jadi ketika obat anti nyeri sejenis morfin tersebut terlihat tidak berfungsi, memuji Tuhan adalah obatnya.

Benar, Mujizat itu memang nyata. . . disaat ku, tak berdaya Kuasa-Mu yang sempurna, ketika ku berdoa. . . Mujizat itu Nyata. “Tepat sebelum pulang dari rumah sakit aku bisa BAB lancar, tanpa harus ditempel kantung di luar usus,” kenang Disa. Sungguh janji-Nya dan penyertaan-Nya selalu ada. Dia memang tabib yang ajaib. Bahkan, di bulan September 2013,  Disa bisa haid lagi, padahal seharusnya kanker itu sudah menyebar ke ovarium kirinya. Apa yang manusia katakan, belum tentu sama seperti kehendak Tuhan. Saat ini pun Disa sudah duduk di bangku kuliah dan tak henti-hentinya bersyukur buat semua keajaiban-Nya di dalam hidupnya.

Pembaca, masa sakit dapat menjadi masa pembelajaran untuk memperkaya hidup kita. Belajar tentang arti memahami hidup, memahami karya Tuhan dan menggunakan kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya. Jika hari ini kita hidup sehat dan bugar, hargailah itu sebagai kesempatan untuk menjalani hidup yang menyenangkan hati-Nya. . . Namun, kala kita mesti menanggung sakit, kita tetap dapat mengucap syukur, selalu percaya dan bersandar pada Tuhan, Mujizatnya pasti ada setiap hari.

Oleh : Disa Christian

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here