Temu Raya Pemuda GKI 2017 (TRP SEMARANG ) – “Urip Iku Urup”

0
354

Salah satu agenda kegiatan pemuda di lingkup Gereja Kristen Indonesia yang berbobot dan banyak ditunggu adalah TRP GKI (Temu Raya Pemuda GKI). Temu Raya Pemuda kali pertama dihelat tahun 2012 di Bandung dengan tema “Simplicity, Solidarity, Society.”

Selang dua tahun kemudian diadakan lagi TRP 2K15 di Surabaya, “Banggao Rek dipilih sebagai tema besar yang ditujukan untuk memiliki kebanggaan sebagai orang muda GKI. Saya tidak akan bercerita panjang tentang sejarah atau awal mula terbentuknya TRP GKI hingga sekarang, namun saya mencoba berbagi cerita yang tergores di TRP Ketiga di Kota Semarang.

11 hingga 14 Mei 2017 adalah pelaksanaan Temu Raya Pemuda GKI di Semarang. Saya dan Rendy Kurniawan sebagai utusan dari GKI Kebonagung Kabupaten Malang. Berikut ulasannya.

Hari Pertama

GKI Stadion Semarang menjadi lokasi ibadah pembuka. Tepat pukul 16.00 Ibadah pembuka dengan tema ‘Bebaskan Dirimu’ dipimpin Pendeta Addi Soselia Patriabarra dengan gaya khasnya yang menggebu mengajak pemuda GKI menjadi pemuda yang bebas berekspresi namun bertanggung jawab. Beliau juga menyampaikan, bahwa kebebasan merupakan kebahagiaan pemuda yang memang harus didapatkan, meskipun tidak semua kebebasan dapat didapatkan oleh pemuda.

Pukul 17.45 dilanjutkan dengan hadirnya 3 orang pendeta yang merupakan simbolis dari perwakilan pendeta dari masing-masing Sinode Wilayah. Pendeta Yollanda dari Sinode Wilayah Jawa Barat, Pendeta Supatmo dari Sinwil Jawa Tengah, dan Pendeta Ariel dari Sinode Wilayah Jawa Timur. Sambutan dari ketua panitia TRP Semarang menggambarkan sebuah pembuktian bahwa hadirnya 570 pemuda GKI tidak menunjukkan bahwa GKI belum menua seperti yang digambarkan secara umum. Dilengkapi lagi dengan pengenalan wadah muda-mudi GKI dapat berkreasi, “IGNITE”.

Dilanjutkan dengan sesi 1 oleh Pendeta Paulus Lie dari GKI Gejayan yang mengusung tema ‘Gereja Kristen meng-Indonesia’, dimana disampaikan bahwa GKI merupakan wujud Gereja Nusantara, ditunjukan dari nama itu sendiri hingga suku dan budaya yang dibawa oleh masing-masing jemaat yang tergabung dalam GKI, ada pemaparan dari cita-cita bangsa Indonesia sendiri yang juga merupakan cita-cita GKI. Seusai semua rangkaian acara hari pertama, peserta dibagi menjadi 2 kelompok besar.  Kelompok besar beristirahat di Hotel Studio One termasuk saya, dan kelompok lainnya di UTC Semarang.   

Hari Kedua

Tanggal 12 Mei 2017 pukul 07.30 peserta TRP sudah berada di GKI Peterongan. Sesi 2 dimulai dengan pilihan tema ‘Bangunlah Jiwanya’ yang kali ini kesempatan Pendeta Joas Adiprasetya memimpin jalannya sesi. Bercerita dan mengajak pemuda sadar bahwa yang paling penting untuk dibangun dalam diri bukanlah fisik, namun jiwa dan isi hati, termasuk juga kehidupan gereja. Dikatakan bahwa, “gereja yang berhasil bukan gereja yang banyak menyelesaikan atau mengadakan kegiatan, namun gereja yang punya dampak adalah yang jauh lebih berhasil”.

Dijelaskan juga bahwa pemuda harus memiliki mental Kristen yang progresif dan mau keluar dari zona nyaman, serta memilki pemikiran tidak dualistik yang hanya terbatas pada pemikiran (benar vs salah). Agar perkataan tersebut nampak nyata dan bukan hanya kata-kata belaka, panitia menyiapkan satu narasumber sebagai contoh nyata dalam dunia, Sosok Pendeta Jalanan (Pdt. Agus Sutikno) seorang narasumber yang ditunggu-tunggu peserta TRP ikut bergabung dalam diskusi dan naik ke atas panggung. Beliau bercerita tentang awal mula mengenal Yesus di sebuah bangku stasiun. Dan sejak saat itu membuatnya memutuskan tekad untuk melayani Tuhan sebagai pendeta. Beliau juga bercerita tentang pergumulan pribadi yang sangat besar dimana keluarganya hingga kini belum percaya Yesus sebagai Juruselamat. Sesi 2 berakhir dan semoga pemuda GKI mewarisi semangat yang dibawa Pendeta Joas dan Pendeta Jalanan di sepanjang hidup.

Sesi 3 dipimpin oleh Pendeta Andri Purnawan dengan tema lanjutan ‘Bangunlah Badannya’. Dalam sesi ini banyak disinggung tentang radikalisme yang banyak terjadi belakangan ini di Indonesia khususnya, hingga cara menghadapi dan melawan Radikalisme yang ada. Diakhir sesi, peserta TRP diajak melakukan satu bentuk aksi nyata bahwa pemuda GKI tidak diam menghadapi radikalisme dan ketidakadilan yang ada di Indonesia. 570 pemuda pada pukul 12.26  bergeser ke lapangan parkir di sebelah gereja dengan membawa satu bendera merah putih di genggaman tangan, sambil berteriak bersama menyuarakan Ikrar dan Sikap Kebangsaan.

Satu narasumber yang juga ditunggu-tunggu akan hadir di depan peserta TRP, Cameo Project diberikan kesempatan untuk bercerita dan berbagi pengalaman sebagai contoh pemuda Indonesia yang kreatif dan berdampak lewat passion-nya pada pukul 14.00 hingga 15.30, Yossi sebagai salah satu penggagas Cameo Project, banyak bercerita mengenai suka duka dalam dunia kreatifnya serta passion-nya untuk menjadi berkat buat orang Indonesia bersama Timnya, serta memberikan pandangan baru bahwa untuk menjadi agen perubahan tdak harus terkotak dengan aktif Bela Negara, mengikuti seminar pertahanan Negara, namun harus menjadi agen perubahan sesuai dengan passion masing-masing. Jika ingin mengetahui banyak mengenai Cameo Project yang sangat menginspirasi cukup mengetik “Cameo Project” di Youtube atau Instagram

Pukul 16.45 ada sebuah kegiatan yang tak kalah menarik juga, Kapita Selekta 1 “Karya Anak Bangsa”. Para peserta bebas untuk memilih bidang apa yang yang menjadi ketertarikan pribadi. Saya memutuskan mengikuti kelas yang membahas Bidang Politik dan Hukum. Dalam bentuk talkshow kelas ini memiliki 2 narasumber yang pakar dibidangnya. Pendeta Albertus Patty dan Kak Sahat Martin selaku ketua GMKI Pusat. Mereka berdua secara bergantian memaparkan bahwa pemuda gereja selama ini hanya sibuk dalam dunia spiritual dan enggan masuk ke dalam problem politik dan hukum. Saat ini paradigma tersebut harus segera diubah dan pemuda harus masuk dalam sistem, serta mengubah sistem politik yang salah nantinya. Sesi ini ditutup dengan tanya jawab dan perkataan Ahok yang dikutip tahun 2011 dalam sebuah surat kabar, “orang baik harus masuk kekuasaan agar kekuasaan dapat digunakan untuk kebaikan banyak orang”.

Kapita Selekta 2 “Karya Anak Bangsa” masih dengan pilihan 2 bidang yang berbeda, yaitu Ekonomi Kreatif dan Lingkungan Hidup. Saya memilih Bidang Lingkungan Hidup yang dipimpin Pendeta Yollanda Pantao dan Bapak Jefrey Gideon Saragih sebagai narasumber.

Hari Ketiga

Jadwal yang tertulis di buku kegiatan ada kegiatan CSR. Pada pukul 07.00 WIB masih dalam kelompok masing-masing berangkat ke tempat CSR. Peserta boleh memilih ke sekolah, panti jompo hingga pesisir pantai Semarang. Saya berada dalam kelompok dimana harus menanam 1500 pohon bakau di pesisir pantai.

16.30 WIB semua peserta sudah berada di dalam gedung UTC Semarang. Kami ditugaskan berdiskusi mencari problem gereja sekitar dan bersama mencari solusi untuk bisa berdampak bagi sekitar. Ada juga penampilan pembuka dari adat dan budaya masyarakat Semarang, Gambang Semarang. Turut hadir Walikota Semarang yang juga memberikan sambutan di depan peserta TRP.

Hari Keempat

14 Mei 2017 adalah hari terakhir dalam rangkaian TRP Semarang. Kami berkesempatan berkunjung ke salah satu ikon kota Semarang selain lumpia, yakni Lawang Sewu. Setelah puas menikmati Lawang Sewu, peserta berkumpul di Gedung Teater Karang Turi. Kami mendapat kesempatan luar biasa.  Bertemu dengan sosok luar biasa, tokoh Indonesia yang  menginspirasi, beliau jemaat GKI di Jakarta sekaligus hingga kini menjabat sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia di dalam Kabinet Presiden Joko Widodo, Bapak Enggartiasto Lukito. Beliau mengajak pemuda GKI untuk aktif dalam pembangunan negara khususnya, beliau juga berpesan agar pemuda Kristen jangan takut untuk berpolitik.

Tiba di penghujung TRP Semarang. Ibadah penutup dipimpin Pendeta Budimeoljono Reksosoesilo dengan ibadah pengutusan berjudul Tema Besar, “Urip Iku Urup”. Dan pada akhirnya harus berpisah ke tempat masing-masing dengan membawa jiwa baru, hati baru, pengalaman baru yang tergores dalam ingatan dan misi baru dalam hidup. Pemuda GKI tidak boleh redup, terus bercahaya membawa perubahan, Pemuda GKI tidak boleh Redup terus terang memancarkan Kasih yang nyata untuk dunia, khususnya Indonesia.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here