Kebersamaan Bergereja, Bukan Sekedar Berkumpul

0
120

We can not be one, as long as we do not love one another .
We can not love one another, as long as we do not know each other.
We can not know each other, as long as we do not see each other .

Kardinal Desire Joseph Mercier (1851-1926)

Berbicara tentang gereja sebagai tubuh Kristus, tidak terlepas dari fakta sejarah yang melatarbelakanginya. Dari situlah kita memahami kesetiaan, keberhasilan tetapi juga kegagalan umat pilihan Allah dalam memenuhi Amanat Agung Kristus.

Gereja membutuhkan pembaharuan manakala ia tidak lagi menampakkan hakikat yang paling esensi sebagai tubuh Kristus. Berangkat dari pemahaman inilah tanggal 31 oktober 1517, Martin Luther memproklamirkan 95 dalilnya yang ditempel di depan gedung gereja Wittenberg. Titik pijak Martin Luther memang benar yaitu Back to the Bible. Dengan motto: Sola Fide, Sola Gratia, Sola Scriptura, maka terukirlah babak reformasi dalam sejarah gereja.

Kebebasan meneliti dan menelaah Alkitab, di satu sisi memang positif, namun di sisi yang lain terjadilah beragam penafsiran di lingkungan gereja-gereja Protestan. Di samping itu faktor-faktor non-teologis juga ikut memicu gereja-gereja terpecah (schisma), dan ini biasanya berkisar masalah pribadi atau kepentingan satu/beberapa orang.

Kita dapat merefleksikan sejarah berulang kali, namun kita hanya mendapat kesempatan mengisi sejarah gereja itu satu kali saja. Bukankah sejarah tidak mungkin berulang kembali, sebagaimana peribahasa mengatakan “the flow of river that never return

Kebersamaan pada Masa Rasuli

Sering kali kita cukup puas apabila bisa menggalang suatu pertemuan akbar antar gereja. Namun, kita perlu berhati-hati bahwa acara itu belum mencerminkan kebersamaan yang asasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia hanya mengartikan kebersamaan adalah “hal bersama.“ Karena itu untuk mengerti kebersamaan bergereja, kita harus menggali pengertian ini dari gereja purba. Ada banyak rujukan yang bisa kita peroleh dari Perjanjian Baru. Namun, dua kata yang dominan adalah kata (homothumadon) yang dibentuk dari dua kata (homos) = sama dan (thumos) = pendapat, pikiran. Jadi homothumadon  = sepakat, sekata. Dalam Bahasa Inggris diartikan with one mind atau accord. Homothumadon juga berarti permufakatan, permusyawaratan.

Kata homothumadon dipakai sebelas kali dalam Perjanjian Baru dan 10 kali terdapat dalam Kisah Rasul, misalnya pasal 1:14 a “Mereka semua bertekun dengan sehati (homothumadon) dalam doa bersama-sama . . ..” Demikian juga Kisah Rasul 2:46a “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul (homothumadon) tiap-tiap hari dalam bait Allah.” Juga dipakai dalam kaitan pemilihan utusan yang terjadi pada sidang di Yerusalem, misalnya Kisah Rasul 15:25 “Sebab itu dengan bulat hati (homothumadon) kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus. . . “

Kata lain adalah sinagoge yang diserap dalam bahasa Inggris synagogue = a place where people assemble. Kata (sunagoge) dalam bahasa Yunani berasal dari kata (sun) = bersama dan kata (ago) = membawa. Kata ini dipakai dalam Yakobus 2:2 “Sebab, jika ada orang masuk ke dalam kumpulanmu (sunagoge).

Dengan demikian kebersamaan bukan sekedar acara bersama, namun mempunyai arti rohani yang berasal dalam konteks gereja sebagai mitra kerja  Allah. Bandingkan dengan 1 Petrus 2: 9: Kebersamaan bergereja harus dilihat sebagai kesatuan yang utuh yaitu: “bangsa yang terpilih dan kudus, imamat rajani dan sebagai umat kepunyaan Allah yang mempunyai panggilan memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia”.

Kebersamaan Sesuai Pola Yesus

Dalam kebersamaan Yesus dengan murid-murid-Nya dan orang banyak, Ia selalu mengutamakan prinsip komunikasi yang dialogis. Hal ini sangat ditentukan oleh kepribadian, sikap, dan pandangan-Nya terhadap mitra bicara-Nya. Yesus selalu bersikap berteman dan ramah tanpa suatu prasangka terhadap mitra bicara-Nya. Hal ini diwujudkan dengan tegur sapa yang lembut, sopan dan mau mendengar serta mengerti keadaan yang diajak dialog. Diperlukan hati yang terbuka dan ketulusan untuk mendengarkan isi hati mitra bicara. Ada kesediaan mempercayai mitra bicara yang berlanjut dengan saling mempercayai. Dialog yang sejati diteladani oleh Yesus dalam Filipi 2: 5-7 dengan kata (ekenosen) yaitu mengosongkan diri atau dengan kata lain: mengalahkan kepentingan sendiri. Ekenosen adalah tenses Aorist – Aktif – Indikatif dari kata (kenoo) yang berarti mengosongkan. Terjemahan Fil 2:7 Alkitab NIV: “but he himself nothing” dan King James “but made himself of no reputation”.

Karena itu dalam seluruh proses kebersamaan dibutuhkan komunikasi yang dialogis. Bisa saja kita berkomukasi tetapi dalam sikap menggurui mitra bicara kita, sehingga yang terjadi adalah komunikasi monologis.

Yesus tidak berteori saja, tetapi mengambil contoh-contoh yang mudah dimengerti orang lain. Ia menciptakan suasana yang santai tetapi penuh perhatian pada pokok pembicaraan. Ini yang lebih utama, bahwa Ia berdialog memberi penghargaan dan perhatian kepada orang lain. 

Kebersamaan bergereja harus dilihat dalam perspektif ketersalingan, keterlibatan, keterbukaan dalam komunikasi yang dialogis. Perasaan superiority complex, apalagi disertai prasangka terhadap mitra bicara dan mitra kerja, akan menjadi penghambat dalam kebersamaan bergereja. Bagaimanapun juga komunikasi antar Gereja sangat ditentukan oleh orang-orang yang ada di baliknya (baca: mewakilinya). Pribadi-pribadi sebagai manusia baru yang terus menerus dibaharui oleh Roh Kudus akan membuat kebersamaan itu menyenangkan hati Tuhan. Itulah kerinduan-Nya bagi gereja-gereja di Indonesia zaman ini juga. Pemulihan gereja sedang berlangsung, dan itu merupakan tantangan bagi kebersamaan bergereja mengamalkan Amanat Agung-Nya.

Kebersamaan bergereja melalui Gerakan Ekumene

Mengapa keesaan gereja identik dengan ekumene? Istilah ekumene berasal dari bahasa Yunani yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan gereja. Kata itu terbentuk dari dua kata, yaitu kata benda (ho oikos) yang berarti  ‘rumah’ dan kata kerja (meno) yang artinya ‘tinggal’. Sehingga kata ekumene diartikan: ‘dunia yang didiami’.

Istilah ekumene dipakai dalam Perjanjian Baru sebanyak 15 kali, namun diartikan secara politis karena seluruh dunia disejajarkan dengan daerah Kekaisaran Romawi (band. Lukas 2:1). Jadi sebenarnya istilah ekumene berasal dari suasana politik yang kemudian dipindahkan ke dalam situasi gereja.

Secara resmi konsili Konstantinopel tahun 381 untuk pertama kalinya menyebut dengan nama konsili oikoumene. Sayang istilah ini kemudian disempitkan menjadi ‘mewakili-keputusan yang diambil konsili-konsili ekumene’. Kemungkinan besar Zinzendorf (1700-1760) adalah orang pertama yang menggunakan kata ekumene dalam arti yang lebih moderen. Kata ekumene ini digabungkannya dengan keesaan gereja Kristen di dunia. Demikian juga istilah ekumene pertama yang diadakan oleh Evangelical Alliance di London tahun 1846.

Usaha mempersatukan kembali gereja-gereja juga dirintis oleh Craemer (Inggris), Calvin (Swiss), Melanchton (Jerman), dan Hugo de Groot (Belanda). Gema penyatu ini segera menyebar ke seluruh dunia gerakan ekumene atau keesaan gereja. Abad ke-20 Uskup Nathan Soederblom memberi arti ekumene secara resmi yaitu: tugas gereja adalah berada di dalam dunia. Ekumene kemudian berarti gereja-gereja yang bersama-sama bergumul mencapai keesaan Injili dan yang melalui sikapnya, kegiatan dan aktivitasnya mau membuktikan keesaan yang berasal dalam dunia pada masa kini.

Keanekaragaman tidak sama dengan polarisasi atau pertentangan. Dalam kesatuan bangsa Indonesia juga terlihat keanekaragaman suku, budaya, tradisi, namun mereka dapat mengikrarkan kesatuannya dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Lalu mengapa gereja sulit menjabarkan kebersamaan itu dalam visi dan misinya?

Barangkali para pemimpin gereja masih berpikir secara Ekklesiocentris yaitu berpusat pada gerajanya, jemaatnya, denominasinya. Seharusnya gereja yang terlibat dalam kebersamaan ini harus berpikir secara Kristocentris yaitu berpusat padaKristus sebagai Kepala gereja.

Perbedaan dan keanekaragaman jangan dilihat sebagai penghalang, tetapi harus dilihat sebagai kekayaan gereja-gereja Tuhan untuk saling memberi dan menerima (to give and to take). Kebersamaan Gereja harus melihat satu kesamaannya yang asasi dalam ‘doktrin primer’ Yesus Kristus, Anak Allah Juruselamat. Pengakuan iman ini sudah akronim dari: Iesous Christos Theos Huios Soter.  Dalam bahasa Yunani ICHTUS  artinya ‘ikan’ dan dipakai sebagai simbol pengikut Kristus. Di katakombe atau gua-gua mereka menggambar simbol  ini untuk saling mengenal sebagai orang percaya yang memiliki satu pengakuan iman. Bukan masanya lagi mempertajam ‘doktrin sekunder’ seperti cara baptisan dan sebagainya. Dalam hal prinsip, kita harus mempunyai satu pendapat. Dalam hal praktis, biarlah kita tetap dalam keanekaragaman, misalnya cara menyanyi, menyembah. Yang satu memperkaya yang lain tanpa harus berpretensi bahwa yang satu ini adalah yang benar.

Kebersamaan Gereja Melalui BAMAG

Konsultasi Pemimpin Gereja Nasional dan Pemimpin Lembaga Pendidikan Kristen se Indonesia di Bogor akhir Nopember 1995, berpendapat bahwa diperlukan adanya Badan Musyawarah Antar Gereja di setiap daerah. Rasanya seperti ada angin segar yang ditiupkan untuk era Kebersamaan Gereja, mengingat gereja-gereja secara struktural masih terkait dengan tiga pimpinan gereja nasional yaitu keberadaan PGI, PII, dan DPI.

Kenyataan gereja-gereja di Jawa Timur dan khususnya Surabaya memiliki keanggotaan salah satu dari tiga kelompok tadi yang membuat gereja masih terkotak-kotak. Karena itu sudah sepantasnya kebersamaan Gereja yang sudah berhasil digalang oleh BAMAG Surabaya dapat mempercepat proses keesaaan gereja secara rohani.

Perlu diperhatikan oleh gereja-gereja, bahwa kebersamaan disini bukan sekedar berkumpul, tetapi ada proses ketersalingan di antara gereja, baik saling memperhatikan, saling menopang dan saling melayani diantara sesama gereja. Proses ketersalingan inilah yang akhirnya akan saling membangun di dalam Kristus. Hidup dalam proses ketersalingan atau timbal balik diantara satu dengan yang lain seringkali diingatkan melalui kitab Perjanjian Baru. Proses ketersalingan ini hendaknya menjadi hal yang terutama dalam Kekristenan. Salam kebersamaan.

*) Senior Editor Majalah Berkat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here