Menjadi Gereja Dambaan? Empat Hal Ini Patut Dijalani

0
90

Selain disebut sebagai institusi atau lembaga dari penganut Kristiani, gereja juga disebut sebagai tempat persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus. Ironisnya, masih banyak orang memandang gereja hanya sebagai gedung.

Saat orang bertanya, “hendak pergi ke gereja mana?” Biasanya mereka akan mengatakan gereja Baptis, gereja Metodis, gereja Injili, atau denominasi lainnya. Seringkali merujuk pada suatu denominasi atau bisa dikatakan sebatas bangunan saja.

Menjadi gereja dambaan tentunya bukan dilihat dari kemegahan gedungnya, jumlah jemaat yang datang di setiap jam kebaktian, atau besarnya uang persembahan yang masuk. Sebaliknya, kehadiran gereja harus nyata dan memberi dampak positif pada lingkungan sekitarnya. Ukuran agar menjadi gereja dambaan tentulah harus berlandaskan kepada Firman Tuhan, sehingga pada akhirnya nanti menjadi gereja yang didambakan Tuhan dan segenap umat manusia di seluruh dunia.

Apakah gereja Anda dan saya sudah menjadi gereja dambaan? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita melihat 4 catatan dalam Alkitab tentang keberadaan gereja mula-mula:

Bersatu

Hal yang sulit untuk dilakukan, apa kenyataannya? Sekarang ini malah banyak gereja yang terpecah-pecah. Boleh saja berkembang, karena itu berarti gereja menjadi banyak dan merata di pelbagai tempat. Namun, sayangnya gereja yang terpecah tersebut cenderung berdiri sendiri-sendiri. Boro-boro bersatu, yang terjadi malah persaingan tidak sehat, saling berlomba menjadi hebat dipandang, sampai-sampai ada rumor “mencuri domba.”

Jumlah gereja makin bertambah, tetapi tidak mau bersatu. Alkitab menegaskan bahwa begitu pentingnya sebuah kesatuan, sehingga Yesus sendiri pun menjadikan kesatuan sebagai pokok doa agar gereja-Nya senantiasa bersatu. Kesatuan berbeda dengan keragaman, sebab seperti kita tahu masing-masing gereja punya perbedaan dalam liturgi maupun visi, tetapi tetap satu Tuhan, satu iman dan satu babtisan Roh Kudus. “Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu.” (Efesus 4:4).

Kesatuan di sini bukan sekedar berkumpul atau mengadakan pertemuan akbar antar gereja, tetapi ada proses ketersalingan di antara gereja, baik saling memperhatikan, saling menopang dan saling melayani diantara sesama gereja. Proses ketersalingan inilah yang akhirnya akan saling membangun di dalam Kristus.

Bertekun

Nah, banyak gereja yang kepingin-nya instan. Cepat punya gedung megah, jemaat yang banyak dan pemasukan yang melimpah. Hal ini boleh saja, karena itu merupakan dambaan setiap gereja. Bukannya dengan pemasukan yang banyak, gereja dapat melakukan kegiatan lebih banyak pula? Namun, sesuatu yang instan biasanya tidak bertahan lama apalagi dengan cara tidak benar. Ingat, untuk menjadi gereja dambaan tidak hanya gedungnya. Gereja dambaan adalah gereja yang kehidupannya dibangun selaras dengan pengajaran Firman Tuhan. Gereja tidak membangun ajaran menurut prinsip dunia maupun prinsip pribadi, tetapi bertekun dalam pengajaran sesuai prinsip Firman Tuhan.

Dengan bertekun berarti ada proses yang terjadi, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti dan di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (Kis. 2:46-47).

Memberi

Salah satu sifat Allah adalah memberi, bahkan nyawan-Nya sendiri melalui pengorbanan Kristus diberikan untuk kita. Jadi sudah jelas bahwa Allah mendambakan gereja yang suka memberi. Sebagai contoh adalah gereja Makedonia. Gereja Makedonia suka memberi meskipun mereka sangat miskin. Gereja Makedonia memberi dalam kekurangan bukan dalam kelimpahan.

Di mata Allah, keberadaan gereja bukan ditentukan dari apa yang diterima atau di dapatkannya, tetapi dari apa yang diberikan. Banyak menabur tentu akan banyak menuai, inilah yang seharusnya menjadi prinsip gereja Tuhan. “Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.” (2 Kor. 8:3).

Melayani

Bukan gereja kalau tidak melayani. Namun, apakah pelayanan yang dilakukan dengan kerelaan sendiri? Atau melayani tetapi dengan terpaksa dan sekedar melayani? Ada gereja yang melakukan pelayanan dengan harapan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Melayani tetapi tujuannya ingin dipuji dan mencari ketenaran diri sendiri. Gereja seperti inilah yang hanya berorientasi pada ketenaran duniawi.

Dalam melayani butuh kerelaan hati. Bahwa konsentrasi atau prioritas utama dalam melayani dikarenakan oleh keberadaan Allah. “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” (2 Kor. 8:4).

***

Gereja adalah tubuh Kristus yang terdiri dari semua orang percaya, meski berbeda-beda tetapi memiliki kesatuan di dalamnya. Seperti anggota tubuh yang berbeda baik bentuk, fungsi maupun posisinya, namun perbedaan yang ada itu sebagai kekayaan dan keindahan.

Menjadi gereja dambaan bukan lantas dibuat atau dipromosikan agar didambakan, tetapi gereja yang melakukan empat hal diatas dengan benar. Gereja dambaan adalah gereja yang ada sukacita meluap meski seringkali mengalami pencobaan. Bukan pencobaan yang menggerogoti keberadaan gereja, tetapi justru dengan pencobaan itulah gereja makin bekerja melakukan fungsinya. Dengan kata lain, gereja dambaan berarti gereja yang siap masuk dalam pencobaan tetapi menyikapinya dengan sukacita, karena dibalik semua itu Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here