Rugi

0
113

Setiap kita pasti pernah mengalami keadaan rugi, entah rugi secara fisik, misalnya kehilangan uang, harta, dan benda-benda berharga. Atau rugi secara non fisik, misalnya kehilangan waktu, kesempatan atau manfaat. Rugi adalah lawan kata dari ‘untung,’ yaitu keadaan dimana tidak memperoleh laba.

Tetapi ada juga, meski sudah memperoleh laba masih juga merasa rugi karena labanya itu sedikit. Sebagai contoh, saat hendak membeli laptop untuk anak, saya bertemu dengan  penjual di salah satu toko komputer yang ada di mall. Setelah menyebutkan kriteria laptop yang saya butuhkan, si penjual menunjukkan beberapa merek dan jenis laptop yang dipajang di tempat itu. Setelah menentukan pilihan laptop yang mau saya beli, tiba-tiba penjual itu mengatakan, “Bapak rugi kalau beli tipe ini! Harusnya ini saja pak,” sambil menunjuk laptop lain. Sedikit kaget saya bertanya, “lho, rugi bagaimana? Saya kan beli barang baru, bermerek dan bergaransi.” Rupanya penjual tadi ingin agar barang yang terjual adalah barang yang lebih mahal. Dengan begitu ia mendapat untung lebih besar.

Setiap transaksi jual beli, baik penjual maupun pembeli sama-sama tidak mau rugi. Karena itu jika hendak membeli atau menjual sesuatu, orang pasti mempertimbangkannya secara matang. Ketika saya akan menjual mobil bekas, saya mengiklankannya hingga beberapa kali sampai menemukan pembeli yang menawar paling tinggi. Ya, jika tidak mau rugi memang harus sabar, teliti dan hati-hati.

Secara duniawi hal memperhitungkan untung rugi tidaklah salah, sebab tidak ada orang yang tidak mencari keuntungan dalam hidupnya. Jangankan dalam berbisnis, mulai dari memilih pekerjaan, memilih teman, memilih jodoh, memilih tempat tinggal, memilih sekolah, sampai memilih gereja pun dilihat dulu apakah menguntungkan atau merugikan. Bahkan saking kuatirnya, sepasang suami istri terlebih dulu membuat perjanjian harta milik sendiri secara terpisah saat hendak menikah. Ada pula orang yang mau menolong orang lain, melakukan pelayanan, menjadi aktivis gereja dan menjadi hamba Tuhan ditimbang dulu untung ruginya.

Untung dan rugi bisa punyai makna berbeda bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya, negara merasa rugi dengan banyaknya korupsi yang terjadi. Sebaliknya, bagi para koruptor menjadi sebuah keuntungan.

Bencana longsor yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, membuat masyarakat juga pemerintah mengalami banyak kerugian. Tetapi dibalik bencana tersebut masih ada juga yang diuntungkan, misalnya kerusakan yang timbul akibat dari bencana itu, dapat membawa keuntungan tersendiri bagi pekerja bangunan yang membangun kembali bangunan yang rusak tersebut.

Suatu kali dalam perjalanan luar kota bersama keluarga, kami terjebak dalam kemacetan panjang hingga mencapai 10 kilometer. Usut punya usut, ternyata jauh di depan kami ada perbaikan jalan yang rusak akibat tanak longsor. Bagi kami hal itu merupakan kerugian, sebab waktu dan tenaga terbuang percuma. Tetapi di sisi lain ada beberapa orang memanfaatkan kemacetan tersebut dengan berjualan sesuatu, seperti minuman, makanan kecil dan lain sebagainya. 

Jadi keadaan rugi bagi sebagian orang belum tentu rugi bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Namun, ada satu keadaan dimana tidak ada kata ‘rugi.’ Ya, keadaan itu hanya terjadi saat kita menyerahkan segala sesuatu yang terjadi hanya kepada Kristus. Ketika kita melakukan sesuatu, entah itu pekerjaan, pelayanan, usaha, maupun rumah tangga hanya dalam tangan kuasa Allah, maka apa pun yang terjadi adalah sebuah keuntungan, karena kita percaya bahwa rancangan Tuhan adalah yang terbaik bagi hidup kita.

Merasa Untung Meskipun Rugi

Jika hidup kita di dalam Kristus dan Kristus hidup di dalam kita, maka tidak ada kata rugi dengan apa yang telah kita lakukan. Seperti dikatakan Paulus dalam Filipi 1:21 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Paulus tahu persis apa yang terjadi pada dirinya. Apa pun yang dibanggakan manusia secara duniawa, tidak ada artinya dibandingkan hidup setelah mengenal Kristus.

Dalam hidup, kita sering memperhitungkan untung rugi. Jika kita merasa rugi saat melayani Tuhan, entah di gereja, di rumah tangga, di pekerjaan, itu berarti kita belum mengenal Kristus secara benar. Rugi hanya bisa dihitung jika kita melayani Tuhan dengan konsep dunia. “Jika saya melayani, apa yang saya dapat?” Atau, “Bagaimana kalau yang saya lakukan ternyata sia-sia?

Mengikut Kristus bukan masalah diuntungkan atau dirugikan, tetapi IA menghendaki sebuah hubungan terus menerus antara kita dengan-Nya. Dan Allah tidak memberi sesuatu yang menurut kita selalu menguntungkan, tetapi DIA memberi kepastian keselamatan bagi kita yang mau mengikut-Nya.

Apakah perkataan Yesus berikut ini membuat kita merasa rugi? “Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34).*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here