Mengunjungi Bran Castle, Romania

0
67

Hari mulai senja, hujan turun rintik-rintik ketika kami tiba di Bran, Transylvania, Romania Utara.Cuaca dingin dan basah. Dalam hati saya berpikir, ”Sungguh saat yang tepat untuk mengunjungi kastil (istana) yang selama ini dikenal sebagai Istana Dracula.”

Memang Bran Castle atau dalam bahasa Romania “Castelul Bran,” dikenal sebagai tempat kediaman Count Dracula, tokoh horror, vampire  penghisap darah yang menyeramkan. Menarik juga untuk mengeksplorasi istana tua ini, apalagi saat menjelang senja, basah, suram dan dingin.

Perlahan-lahan kami menanjak naik di jalan batu yang licin karena hujan, dengan pepohonan hutan di kiri kanan. Setelah kelokan terakhir barulah nampak menjulang di atas sana bangunan istana, bertengger sunyi di puncak batu karang. Sebuah salib batu berukir macam batu nisan menyambut kami di penghujung jalan batu. Setelah itu barulah ada dataran sebagai pelataran istana dan kami pun tiba di tangga pintu masuk istana.

Memang bukan istana yang besar dan cantik seperti istana-istana lain di Eropa, tapi memiliki 60 ruang. Jadi ruang-ruang yang kami masuki pun ukurannya tidak besar, bahkan untuk ukuran “istana/kastil” bisa dikatakan kecil, terhubung dengan banyak tangga naik turun yang sempit. Beberapa tangga sudah direnovasi , hingga walaupun sempit dan berkelok bisa dijalani dengan enak. Tetapi beberapa tangga yang semula adalah “lorong rahasia” dibiarkan  asli dari batu hitamyang sudah tidak rata lagi karena pemakaian beratus tahun. Beberapa ambang pintu yang rendah membuat kami harus sering membungkuk untuk melewatinya.

Dibangun pada 1382  Bran Castle semula didirikan sebagai istana-benteng karena lokasinya yang strategis di puncak bukit karang, kira-kira 30  km dari Brasov, sebuah kota dagang yang maju.  Dari ibukota Romania, Bucharest ( Bucuresti) kira2 170 km ke utara.

Sejak masa kejayaan Romawi,  semenanjung Balkan yang secara geografis terletak antara  Eropa dan Asiamemang tak lepas dari imbas perluasan kekuasaan kedua belah fihak. Abad ke 14 itu sedang gencar2nya invasi kesultanan dinasti Ottoman Turki ke Eropa. Prajurit2 Turki sering menyerang, merampok dan membakar desa2 . Adalah gagasan yang cemerlang dari Raja Hongaria, Louis I dari Anjou untuk mengajak para bangsawan,saudagar dan pemuka/tuan tanah (para “boyar”) kota Brasov mengumpulkan dana dan membangun menara penjaga di puncak bukit. Memang dari menara Castelul Bran ini kami bisa melihat sekitar dengan leluasa, juga BranPass, jalan celah yang menembus bukit Carpathia bisa terawasi, hingga kedatangan musuh bisa terdeteksi dengan cepat.

Dengan berjalannya waktu, istana tua inipun mengalami perubahan dan perbaikan. Kini kawasan ini dimiliki oleh keluarga Raja Romania . Pada masa Perang Dunia I, Ratu Marie (cucu Ratu Victoria dari Inggeris), permaisuri Raja Ferdinand dari Romania, tanpa mengenal lelah turut merawat, menolong para prajurit  korban peperangan, membantu rumah2 sakit . Beliau juga berjasa dalam perjanjiandiplomatik yang menghindarkan Romania dari kehancuran yang lebih parah. Karena jasa-jasa beliau, pada 1920 pemerintah Romania menghadiahkan Castelul Bran yang sejak semula menambat hatinya, sebagai milik pribadi keluarga. Maka beliaupun mengadakan banyak renovasi serta memasukkan aliran air dan listrik  (bayangkan, ngeri juga bukan, kalau harus memasuki istana batu yang tua tanpa listrik, hanya cahaya lilin atau obor. . . )

Ratu Marie wafat pada 18 Juli 1938 dan pemeliharaan istana ini diteruskan oleh salah seorang puterinya, Puteri Ileana yang memiliki rasa sayang terhadap Bran castle seperti sang ibu. Bahkan semasa perang dunia II (1942-1945) beliaupun mengikuti jejak ibunda ikut merawat prajurit-prajurit korban peperangan di rumah-rumah sakit. Namun, pasca perang ketika Romania memilih menjadi republik, Raja Mihai harus turun tahta (1947) dan keluarga kerajaan pun mengungsi keluar Romania. Maka oleh pemerintah kastil ini dijadikan museum. Barulah pada tahun 2009 pemerintah Romania mengembalikan kawasan istana Bran kepada keluarga Puteri Ileana.

Count Dracula

Lalu apa hubungannya dengan Count (Pangeran) Dracula, vampir penghisap darah yang mengerikan? Memasuki Castelul Bran, ada dua ruang di Menara Utama (Main Tower) disediakan untuk penjelasannya. Tercetak dalam dua bahasa, Romania dan Inggris tergantung papan bertuliskan kisah historis tentang “Vlad Dracul,” disandingkan dengan kisah legendarisnya, novel horror “Count Dracula” buah pena Bram Stoker (1847-1912), seorang penulis Irlandia pada 1897.

Dalam fakta sejarah, Romania mengenalnya sebagai Vlad III, atau Vlad Tepes (1431-1476), voivode (“Raja”, penguasa) daerah Wallachia pada 1448 dan 1456-1462. Gelar “Tepes” yang berarti “penyula” didapatnya karena kebiasaannya menjatuhkan hukuman sula (menusuk si terhukum dari bawah ke atas dengan kayu pancang dan kemudian ditancapkan di tanah, biasanya di luar kota. Kematian bisa ber jam-jam, tapi bisa juga dalam beberapa hari dengan penuh kesakitan).

Pada zaman di mana penyaliban dan dibakar hidup-hidup adalah suatu kebiasaan, hukuman sula (Inggr: impaling) juga bukannya terlalu aneh. Tapi memang Vlad Tepes (Vlad the Impaler) memecahkan rekor dengan banyaknya penyulaan yang diperintahkannya, diperkirakan hampir 40.000 jiwa.

Sejarah mencatatnya sebagai seorang pemimpin yang cerdik, lurus dan gagah berani, pemurah pada mereka yang jujur namun kejam terhadap lawan. Beliau berkeyakinan bahwa hanya pemimpin yang kuat saja yang dapat mengatur keamanan internal di dalam negeri sekaligus mempertahankannya dari serangan musuh-musuh di luar. Visi ini tertuang dalam suratnya (10 September 1456) kepada penduduk kota Brasov : “Jika seorang pemimpin kuat dan berkuasa ia dapat membuat kedamaian yang dia inginkan, tapi jika ia lemah, orang lain yang lebih kuat akan datang menundukkannya.”

Maka Vlad Tepes menerapkan sistem kepemimpinan otoriter yang menjunjung tinggi kejujuran dan kerja keras. Kemalasan dan semua ketidak jujuran akan dihukum dengan berat, disula. Ini berlaku tanpa kecuali, bagi para penduduk setempat, rakyat jelata maupun para tuan tanah (“boyar”) juga bagi para pedagang Transylvania yang sebagian besar adalah orang-orang Saxon (keturunan Jerman); dan prajurit Turki, musuh utamanya.

Memang sejak jatuhnya Constantinopel sebagai benteng Kristen di timur ke tangan kesultanan Turki, daerah Wallachia berbatasan langsung dengan Bulgaria yang telah dikuasai Ottoman Turki. Vlad III yang membenci Turki menolak tuntutan Sultan untuk tiap tahun membayar upeti maupun mengirimkan 1000 anak-anak mudanya untuk dididik sebagai prajurit-prajurit Turki.

Ratu Marie dari Romania (1875-1938)

Catatan sejarah mengenai Vlad III ini sangatlah kontroversial. Manuskrip Jerman menggambarkan beliau sebagai penguasa yang luar biasa kejam. Tidak heran jika orang-orang Jerman membencinya, karena suatu kali ketika pedagang (yang sebagian besar adalah orang-orang Saxon keturunan Jerman) dan tuan-tuan tanah di kota Brasov menolak untuk membayar pajak, Vlad III yang menganggap mereka adalah pembangkang yang hanya cari keuntungan diri sendiri tanpa memikirkan kepentingan rakyat, segera mengerahkan tentaranya membasmi dan membakar kota, menewaskan puluhan ribu jiwa.

Catatan lain mengisahkan kekejamannya dalam membalas dendam kematian ayah dan kakaknya yang disebabkan oleh tipu daya para boyar. Vlad III mengundang mereka dalam suatu jamuan makan dan menanyakan berapa kali pergantian penguasa telah mereka alami. Nyatanya rata-rata mereka telah mengalami 7 kali pergantian penguasa atau lebih. Maka Vlad menyuruh menangkap mereka dan dihukum sula dengan alasan semua telah ikut ambil bagian dalam mengacaukan pemerintahan demi keuntungan sendiri, bukannya membangun pemerintahan yang adil dan mantap bagi kesejahteraan rakyat. Tak kurang dari 500 orang boyar disula di luar kota untuk memberikan “pelajaran.”

Bahkan sebuah ukiran kayu menggambarkan betapa Vlad Tepes dengan gembira berpesta di tengah rimba tonggak kayu penyula dengan tubuh-tubuh tertancap di atasnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah menjadi mayat membusuk. Sebuah syair mengutarakan betapa para pengawalnya harus menguatkan diri terhadap bau busuk dan anyir darah serta berdebarnya hati karena tidak mustahil mereka pun akan mengalami nasib yang sama.

Manuskrip lain dari Rusia bernada lebih positif. Ada banyak catatan tentang keteguhan hati Vlad III dalam membela negara, mempertahankannya dari serangan bangsa Turki yang tak kunjung berhenti; dan  upayanya menegakkan hukum, menjunjung tinggi kejujuran.

Sekali peristiwa ada seorang pedagang Transylvania singgah dan bermalam di sana. Esok harinya ia mendapati bahwa ternyata uangnya hilang sebesar 160 dukat. Ketika melaporkan hal itu pada Vlad Tepes, Vlad menjanjikan bahwa si pencuri pasti tertangkap dan uangnya pasti kembali. Benar saja, sang pencuri pun tertangkap. Diam-diam Vlad memerintahkan bawahannya memasukkan 161 dukat ke kantung si saudagar.

Ketika saudagar itu menerima kembali kantung uangnya dan menghitungnya, segera ia kembali menghadap Vlad dan mengembalikan kelebihan 1 dukat tersebut. Maka Vlad Tepes pun memujinya dan berkata: “Seandainya kau tidak mengembalikan yang 1 dukat itu, pastilah kujatuhi hukuman sula karena ke tidak jujuranmu.”

Vlad Tepes begitu ditakuti hingga ada kisah bahwa ia meletakkan cawan emas di mata air yang sering dilewati para pedagang untuk mereka minum. Sampai lama setelah pemerintahannya berakhir cawan itu tetap di sana, tidak hilang. Tidak seorang pun berani mencurinya.

Kisah lain menceritakan tentang 20.000 orang-orang Turki, termasuk para prajurit yang dihukum sula dan dipancangkan di luar kota Tirgoviste, ibu kota Wallachia . Pemandangan ini membuat Sultan Mahmud II dari Turki tidak tahan dan menarik mundur tentaranya, kembali ke Konstantinopel. Tidak heran orang-orang Turki menyebutnya Kazikli Bey, Sang Penyula.

Lalu bagaimana pula dengan sebutan Count Dracula? Memang Vlad III selalu menyebut dirinya Vlad Dracul, artinya Vlad putera Dracul. Pada th.1431, ayahnya yakni Vlad Basarab II mendapat anugerah medali kehormatan dari Kaisar Luxembourg, Sigismund di Nurenberg karena jasa-jasanya membela kekristenan, melawan bangsa Turki.  Dengan demikian beliau tergabung dalam kelompok Ksatria Naga (order of the Dragon atau dalam bahasa Latin “draco”) Pembela Kekristenan. Ini merupakan kebanggaan besar, hingga Vlad Basarab menggunakan nama Dracul sebagai nama keluarga, dan keturunannya disebut wangsa Draculesti. Juga lambang Ksatria Naga yang bergambar naga dengan sayap terbentang dan bergantung pada sebuah salib dipakainya sebagai lambang keluarga.Tapi cerita-cerita rakyat Romania juga menghubungkan naga (drac) sebagai mahluk rekanan iblis. Apalagi orang-orang Turki juga menyebut Vlad Tepes Dracul sebagai Seitanoglu, anak iblis.

Agaknya dongeng rakyat dan kisah historis tentang seorang bangsawan kejam yang “haus darah” di jantung daerah Transylvania inilah yang menginspirasi Bram Stoker, penulis Irlandia untuk menuliskan novel fiksi Dracula. Dan Castelul Bran yang sunyi sendiri di atas bukit karang sangat cocok sebagai seting lokasinya. Padahal Bram Stoker sendiri tidak pernah pergi ke Transylvania.

Realitanya, Bran Castle bukanlah tempat kediaman Vlad Tepes Dracul, namun beliau pernah ditawan sekitar dua bulan lamanya di istana ini. Memang kekejamannya dan sikapnya yang tidak pandang bulu dalam menegakkan kejujuran dan pemerintahan yang stabil mengundang banyak musuh. Meskipun seumur hidupnya beliau berjuang melawan Turki, para bangsawan lain terus berusaha dan bersekongkol untuk menjatuhkannya. Hingga akhirnya Raja Hongaria Matei Corvin menyuruh untuk menangkapnya (1462); membuatnya beralih agama dari Kristen Orthodox menjadi Katolik, mengikuti sang raja. Bahkan Sultan Turki, Mahmud II kemudian menjadikan Radu cel Frumos (Radu yang cakap), adik kandung Vlad III sebagai panglima Turki untuk menghadapi kakaknya sendiri. Radu dapat dikalahkan, tetapi akhirnya pada 1476 Vlad Dracul pun terbunuh oleh tentara Turki dengan bantuan para bangsawan yang mengkhianatinya

Itulah sebabnya sekalipun rapat terbungkus kisah-kisah bernada minor, bahkan namanya dikisruhkan menjadi tokoh legenda yang menyeramkan, bagi rakyat Romania Vlad Dracul III adalah seorang pahlawan pembela negara, pembela kekristenan.

Di Sighisoara, kota kelahirannya, didirikan patung untuk menghormatinya. Dan kisah Dracula yang dipopulerkan oleh film-film Hollywood  bagi mereka adalah bagaikan iklan, daya tarik yang mengundang banyak turis mancanegara mengunjungi Romania. Pangeran Charles, putera mahkota Inggris pernah mengakui adanya hubungan keluarga langsung dengan Vlad Dracul. Beliau sering mengunjungi Brasov, bahkan membeli beberapa rumah di sana untuk tempat berlibur.

Mengunjungi Bran Castle mengingatkan kita agar jangan gampang percaya akan apa yang dunia populer katakan, sebab realitanya mungkin jauh berbeda. Namun, yang lebih penting adalah pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan Vlad Tepes Dracul, bahwa sekali pun kita mempunyai tujuan yang luhur dan mulia, dalam pelaksanaannya sungguh-sungguh diperlukan hikmat yang dari atas, bukannya hikmat manusia yang menuju kepada kebinasaan (Yak.3 : 13-18)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here