Ecclesia Semper Reformanda Est, Refleksi 500 tahun Reformasi Martin Luther

0
191

Dengarlah, Tuhan dan Santo Petrus memanggilmu. Perhatikan keselamatanmu dan mereka yang kau cintai yang telah meninggal dunia. Dengarkan suara sanak dan sobatmu yang telah mati meratap “Kasiani kami…kasihani kami… kami sangat tersiksa … kamu bisa menebus kami dengan murah…” Dengar, buka telingamu ketahuilah kamu bisa membebaskan mereka, segera saat koin berdenting dalam peti ini, jiwa tersebut akan terlepas dari Purgatorium. Maukah kamu hanya dengan seperempat florin menerima surat penebusan yang bisa membawa jiwa itu ke surga? (Johann Tetzel)

Ini adalah bagian dari kotbah yang diulang – ulang oleh Tetzel, imam gereja di Jerman yang menyebabkan Martin Luther geram dan memasang 95 Dalil pada 31 Oktober 1517 yang dikenal sebagai Reformasi Gereja. Mengapa Luther marah dan menantang? Apa yang sedang dijual oleh Tetzel?

Supaya kita bisa mengerti dan memahaminya kita harus melacak balik ke masa itu: theologianya, situasi sosial politik dan moral gereja serta masyarakatnya.

Situasi Sosial Politik Dan Moral

Pada abad 4 kekaisaran Romawi terbagi menjadi 2: Kekaisaran Romawi Timur yang bertahan hingga 1453 dan Romawi Barat yang hancur karena digerogoti bangsa Jerman, Perancis, Inggris, Skandinavia, Rusia dsb. Di wilayah barat bermunculan nergara-negara kecil sebagai pengganti imperium Romawi yang sangat luas itu. Gereja pada waktu itu juga terbagi menjadi 2 bagian besar: Gereja Barat dan Gereja Timur. Gereja Timur adalah gereja-gereja di bagian timur kekaisaran Romawi, sedangkan Gereja Barat adalah gereja yang berada di wilayah barat, negara-negara Eropa. Pada abad 5 Uskup yang berkedudukan di Roma mengangkat diri sebagai pemimpin gereja barat dan mengklaim sebagai penerus tahta kerasulan Petrus dengan gelar Paus. Reformasi Martin Luther pada abad 15 itu terjadi di Jerman, Gereja Barat.

Di wilayah barat (Eropa) sejak abad 4 hingga 15 terjadi persaingan dan perebutan kekuasaan antar negara di Eropa dan antara negara-negara dengan Paus yang ingin menguasai negara-negara secara theokratis. Kadang Paus menang tapi juga kalah. Di kalangan gereja sendiri jabatan Paus, Kardinal dan Uskup diperebutkan sehingga pernah suatu saat ada 3 orang Paus yang saling bersaing dan saling menjatuhkan. Diperebutkan karena jabatan itu sumber kekuasaan dan kemakmuran, gereja berhak atas pajak dan sumber keuangan lainnya dari masyarakat.

Maka pada waktu itu seorang Uskup apalagi Paus adalah orang yang sangat kaya raya dan sangat berkuasa, begitu menggiurkan. Siapa pun bisa menjadi Uskup atau Paus kalau  bisa merebut posisi itu baik dengan cara politik, militer atau dengan menyuap sekali pun. Akibatnya hidup kudus sebagai murid Tuhan kurang mendapat penghargaan bahkan moral pemimpin gereja boleh dibilang sangat bobrok. Paus Pius II tahun 1463 mengecam pedas perilaku para pemimpin gereja. Paus Alexander VI (1492–1503) dituduh sering meracuni pesaingnya, juga mempunyai gundik hingga 7 orang, para imam bawahan juga mengikutinya, homoseksual, foya-foya, mabuk dan pelacuran sudah umum dilakukan oleh pemimpin agama.

Berkaitan dengan Tetzel tadi, Paus Leo X mengadakan bargaining, Albertus dari Mainz (1490–1545) yang masih berusia 20 tahun diangkat menjadi Kardinal & Uskup Agung. Paus sedang mengadakan proyek besar yaitu pembangunan Basilika Santo Petrus yang butuh dana sangat besar. Albertus wajib menyetorkan dana besar bagi Paus, oleh sebab itu ia menunjuk Johann Tetzel sebagai pengumpul dana dengan cara menjual surat Indulgensi.

Dosa, Purgatorium Dan Indulgensi

Gereja Barat mengajarkan 3 jenis dosa: Dosa Ringan, Dosa Mematikan dan Dosa Asal. Dosa asal diperoleh setiap manusia yang diturunkan dari Adam. Sedangkan untuk menentukan Dosa Ringan atau Mematikan dilihat dari 3 hal:  1. Apakah tindakan tersebut memang pada dirinya jahat 2. Apakah tindakan tersebut dilakukan karena ketakutan, mabuk, lalai atau terpaksa 3. Apakah motivasi dari perbuatan itu.

Ini membuat persoalan dosa menjadi rumit sehingga dibutuhkan pengakuan dosa dan gereja menawarkan Sakramen Tobat melalui imam untuk mengurangi atau menghapus dosa mereka. Pada Konsili keempat di Lateran (1215) diundangkan bahwa setiap orang beriman wajib mengaku dosa sedikitnya satu kali dalam setahun.

Gereja Barat berpandangan bahwa dunia setelah kematian itu: Neraka, Surga dan tempat yang oleh Paus Gregorius IV disebut Purgatorium. Orang yang belum dibaptis pasti masuk neraka, disiksa dengan api selamanya, sedangkan yang sudah dibaptis pasti masuk surga.

Masalahnya, bagaimana dengan yang sudah dibaptis tapi melakukan dosa mematikan? Jalan keluarnya adalah mereka harus dibersihkan dari dosa dengan api di tempat yang disebut Purgatorium. Berapa lama? Tergantung kuantitas dan kualitas dosanya bisa sangat lama. Jadi pada abad 15 hampir setiap orang menyadari bahwa mereka pasti akan masuk ke Purgatorium karena hanya orang suci dan tak bercela saja yang bisa langsung ke surga. Masyarakat sangat dihantui siksaan setelah kematiannya.

Theologi itu memberikan kekuatan dan kekuasaan yang besar kepada gereja terhadap setiap orang. Mulanya Paus berpendapat bahwa pengurangan hukuman di Purgatorium bisa dengan berziarah ke tempat keramat, ikut perang salib, atau sedekah kepada orang miskin, juga bisa dengan misa khusus. Untuk mengadakan misa khusus orang harus membayar kepada imam, misa diadakan berseri bisa sampai  30 kali misa. Theologi penghapusan hukuman Purgatorium ini disebut dengan Indulgensi dan ternyata memicu komersialisasi terhadap indulgensi. Orang bisa membeli penghapusan dari siksa api tanpa terlalu repot dengan pertobatan dan hidup kudus.

Theologi inilah yang sedang dipasarkan dan dijual oleh Tetzel melaui kotbah-kotbahnya untuk mengumpulkan dana bagi Uskup dan Paus. Lalu apa urusannya dengan Martin Luther?

Martin Luther

Luther lahir pada era yang disebut “Lahir Kembali” (Renesan) dengan semboyan “ad fontes” (kembali ke sumbernya) para pemikir khususnya di Itali tertarik untuk mempelajari kebudayaan yang pernah besar yaitu Yunani dan Romawi. Mereka sering disebut sebagai Humanis. Dante (1265–1321), tokoh humanis, mengecam lembaga kepausan agar tidak mengejar kesenangan duniawi, dan mengusulkan agar negara seharusnya ditata secara sekuler, pernyataan yang biasa bagi kita sangatlah bermakna waktu itu karena zaman pertengahan tidak ada pemisahan antara politik dan religi yang disebut theokrasi dan dalam theokrasi Paus tampil mewakili Tuhan.

Dalam bidang theologi, tampillah sosok Desiderius Erasmus (1469–1536). Ia adalah seorang anak haram dari imam gereja di Roterdam yang dipaksa masuk menjadi biarawan. Dia mempelajari bahasa Yunani kuno dan menulis ulang kitab Perjanjian Baru dalam bahasa aslinya, Yunani. Cetakan pertama terbit Maret 1516. Disini “ad fontes” berarti kembali ke Alkitab asli yaitu Perjanjian Baru Yunani. Selama ini Alkitab yang dipakai Gereja Barat adalah versi Vulgata berbahasa latin. Erasmus terkejut, Vulgata yang isinya banyak membenarkan praktek gereja ternyata tidak sesuai aslinya.

Martin Luther adalah putra dari buruh tambang di Eisleben, Jerman yang ingin anaknya menjadi pengacara agar kehidupan sosial mereka berubah. Martin dikuliahkan di Erfurt, namun ketika berusia 21 tahun (1505) Luther berhenti kuliah dan menjadi biarawan Agustinus akibat bernazar setelah lolos dari sambaran halilintar. Disana Luther belajar theologia, 1507 ia ditahbiskan menjadi imam. 1510 diutus ke Roma untuk urusan ordo dan setelah itu menjadi guru besar studi Alkitab di Universitas Wittenberg, ia menafsirkan kitab Mazmur dan Surat Paulus kepada jemaat Roma, Galatia serta Ibrani.

Luther seorang yang sangat serius beragama, ia sangat takut akan siksaan di  Purgatorium, ia dihantui rasa bersalah sehingga ia sering mengaku dosa dan menerima misa untuk pengampunan. Ini terjadi berulang-ulang dan tak pernah membuatnya tentram. Roma pada waktu itu adalah tempat ziarah utama karena di sana terdapat kuburan Petrus, banyak tempat keramat dan tempat Paus bertahta. Luther sangat senang ketika diutus ke Roma karena ia akan berziarah untuk mengurangi hukumannya dan keluarganya melalui doa-doa di tempat keramat itu. Namun justru di Roma Luther melihat segala kerusakan moral pemimpin gereja sehingga muncullah keraguannya terhadap pemimpin gereja dan ajarannya.

Pada tahun 1514 saat mempelajari Kitab Roma 1:16-17, Luther terbelalak sadar …  gereja dan ajarannya salah jalan, bahwa sebenarnya keselamatan diterima hanya melalui iman (sola fide) sebagai karunia dari Tuhan secara gratis (sola gracia) bukan atas perbuatannya atau anugerah dari pimpinan gereja, purgatorium juga tidak dikenal Alkitab. Luther yakin bahwa Alkitab harus berada di atas semua ajaran gereja termasuk Paus, karena ia adalah asal muasal (ad fontes) dari semua tradisi gereja, manusia bisa salah dan menyimpang dari kebenaran. Hanya Alkitab yang bisa menjadi sumber kebenaran dan ajaran gereja, prinsip ini disebut Sola Scriptura.

Ketika Tetzel memasarkan Surat Indulgensi, Luther sangat marah sehingga dia memasang di pintu gereja istana Wittenberg selebaran yang berisi 95 sanggahan berdasarkan Alkitab terhadap gereja tentang ajaran dan hak Paus atas keselamatan orang. Waktu itu tanggal 31 Oktober 1517 dan sejak saat itu Gereja Barat pecah menjadi banyak kepingan, Gereja Katolik Roma meneruskan tradisi Gereja Barat, namun kini ia hanya menjadi satu dari banyak denominasi gereja yang ada.

Refleksi

Risih, sedih dan malu … itulah ekspresi yang muncul ketika membaca sejarah pra reformasi. Gereja Kristen menjadi begitu merosot moral dan ajarannya. Tuhan pun tidak rela, Ia ingin gereja-Nya direformasi. Ia mempersiapkan melalui para pemikir Renesan, akhirnya Ia mengutus Martin Luther untuk mengeksekusinya dari dalam gereja sendiri. Semua itu terjadi atas kehendak-Nya.

Tahun ini kita memperingati Reformasi Gereja ke 500 tahun, layaklah kita bercermin diri. Bagaimana pun gereja dikelola oleh manusia, tak ada satu pun manusia yang sempurna yang terbebas dari nafsu dan kesalahan. Demikian juga gereja kita, senantiasa munculkan sikap kritis – profetis berdasarkan Alkitab. Tuhan harus menjadi  pemimpin gereja, maka gereja harus selalu mereformasi diri seperti ungkapan Agustinus ini: Ecclesia semper reformanda est . (HTH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here