Kepekaan dan Keterbukaan

0
335

     Salah satu kunci berkomunikasi dalam berteman, berkeluarga dan bergereja terletak bagaimana kita bisa menangkap apa yang dimaksud mitra bicara kita, bukan apa yang dikatakannya. Seperti pepatah bahasa Inggris mengatakan: “Words do not have meanings, people give meaning to words” Jadi kata-kata itu diberi arti oleh pendengar (komunikan), tergantung bagaimana cara ia mendengarkan atau merasakannya.

Belajar lebih Peka

     Kepekaan atau senssitivity adalah ketrampilam membaca bahasa badan (body languange) atau komunikasi yang tidak diucapkan dengan kata-kata. Kepekaan ini penting  dalam berkomunikasi dengan orang yang akan kita ajak bicara. Dari wajahnya, dari sikap dan perilaku atau sesuatu yang tidak sewajarnya terjadi pada seseorang, pasti ada sesuatu yang sedang ia hadapi. Misalnya suami kita pulang dengan wajah kusut dan tanpa banyak omong seperti biasanya, akh pasti ada sesuatu yang sedang dialami ketika tadi di kantor. Namun juga ada orang yang pandai menyembunyikan perasaan, yang semacam ini makin sulit kita langsung mengertinya.

     Orang yang makin dewasa dalam iman, makin dapat menguasai dirinya  dan ini juga diwarnai dengan karakter dan temperamen yang melatar belakanginya. Tetapi ini bukan ukuran iman saja, ada juga orang yang pandai memakai topeng-topeng, pandai bersandiwara sehingga kita bisa terkecoh. Untuk golongan seperti ini, hanya Roh Kudus saja yang dapat menuntun dan memberi hikmat kepada kita siapa dan bagaimana orang yang sedang kita hadapi.

Hal-hal praktis yang dapat kita tangkap dari reaksi-reaksi spontan yang keluar dari mulut seorang. Simak beberapa celotehan mereka sebagai contoh:

  • – Orang lagi kesal kok dia bercanda saja terus!
  • – Kalau aku salah, ya sudah, tak apa kau tegur. Tetapi jangan kasar begitu di
  •   depan orang banyak!
  • – Saya sudah menceritakan semua kesulitan-kesulitanku, masak dia tetap tidak
  •   mau mengerti?
  • – Dia kan tahu kalau aku lagi repot membantu orang tua yang sibuk bekerja,
  •   masak dia memaksa-maksa aku ikut retreat pemuda?  Masak pantas ditambah 
  •   khotbah singkat lagi: “Cari dulu kerajaan surga nanti semua dilengkapi!  Dasar
  •   dia memang tidak pernah mau membantu orang tuanya!”

Kondisi dan situasi seperti ini tidak membuahkan komunikasi yang baik karena kita tidak peka. Kita harus peka menghadapi orang yang akan kita ajak berkomunikasi, baik kondisi, situasi dan emosinya. Sebuah komunikasi yang efektif tidak hanya diwujudkan dengan pengertian secara nalar saja (aspek kognitif). Dalam berkomunikasi juga  dibutuhkan untuk memahami perasaan seseorang (aspek afektif). Sinergi keduanya ini bisa kita sebut sebagai komunikasi dengan bahasa hati, maka efektivitasnya juga sampai ke hati. Itu maknanya bicara dari hati ke hati. 

Bisa disebut pula komunikasi sambung rasa. Dua pihak sama-sama merasakan,  memahami, mengerti yang sedalamnya (encounter), bukan basa-basi lagi. Ujung-ujungnya akan berbuahkan sebuah kesepakatan. Kepekaan dalam berkomunikasi juga termasuk kalau kita menjadi pendengar yang baik.  Karena itu orang sering berkata: “Kita diberi dua telinga tetapi satu mulut” Jadi kita harus pandai mendengarkan sebagai kepekaan berkomunikasi yaitu mendengarkan secara positif. (Lihat BERKAT  No. 89 Edisi Juni 2013 hal 12-13).

Dibutuhkan Keterbukaan

Keterbukaan: adalah salah satu aspek  lancarnya komunikasi menjadi komunikasi yang efektif. Keterbukaan itu sendiri adalah mental attitude’ (sikap mental) seseorang terhadap orang lain. Sebagai sikap mental, keterbukaan juga mempunyai dua aspek yaitu terbuka kepada orang lain (terbuka keluar) tetapi juga terbuka pada diri sendiri (terbuka ke dalam).

Terbuka kepada orang lain adalah sikap untuk berani mengungkapkan jati diri, pikiran, perasaan, pendapat, tanggapan tentang apa saja baik itu mengenai diri kita ataupun mengenai hal-hal yang di luar diri kita. Memang sikap terbuka harus dipertimbangkan dengan situasi maupun kondisi orang yang sedang kita hadapi. Keterbukaan bukan berarti segala sesuatu yang ada dalam diri kita harus diungkapkan secara transparan, karena keterbukaan diperlukan sejauh mana kita bisa mencapai titik kulminasi sebagai proses yang bertingkat untuk mendapatkan keselarasan dalam komunikasi yang efektif.

Orang yang senantiasa berkembang sesuai zaman adalah orang yang terbuka untuk “menerima masukan” berupa saran/nasihat dari orang lain. Ini yang dikatakan keterbukaan ke dalam, yaitu terhadap diri sendiri. Seseorang akan responsif, mempertimbangkan dan mau mengubah ide/sikap bila itu memberi “nilai positif” bagi dirinya untuk berkembang. Sikap mental terbuka ke dalam ini adalah kesediaan menerima pernyataan diri orang lain yang diungkapkan kepada kita, baik itu ungkapan yang tidak menyenangkan maupun yang menyenangkan, tidak mudah tersinggung dan marah karena  mendengar pernyataan orang lain.

Agar keterbukaan ke luar dan ke dalam bisa terwujud, memang dibutuhkan  beberapa faktor antara lain:

 

  1. Adanya rasa percaya pada orang lain. Keterbukaan itu akan otomatis terungkap manakala kita mengenal seseorang, kita percaya bahwa mitra bicara kita memiliki itikad baik, pernyataannya dapat diandalkan. Kalau ini terjadi timbal balik maka wujud komunikasi yang encounter itu akan tercapai.
  2. Merasa dihargai oleh mitra bicara kita. Hubungan orang tua dan anak bisa kurang efektif, karena orangtua selalu bersikap menggurui, mendikte dan menganggap si anak belum banyak makan ‘asam dan garam’, demikian umumnya ungkapan orang tua. Karena itu sikap menghargai orang lain, apapun status sosialnya akan membuat orang itu terbuka kepada kita.
  3. Merasa diterima artinya kehadirannya diterima sebagaimana adanya, baik fisik maupun pola pikir dan latar belakang budaya atau agama. Sikap berburuk sangka atau apriori karena informasi yang keliru yang pernah kita dengar tentang seseorang akan menghambat proses penerimaan ini.

Memang akhir-akhir ini dengan maraknya modus kejahatan kita perlu waspada, tetapi kita perlu berhati-hati pula agar sikap kewaspadaan tidak serta merta mengubah sikap mencurigai. Jarak mewaspadai dan mencurigai memang sangat tipis, tetapi hanya dengan hikmat kita bisa menilai seseorang yang sedang kita ajak bicara.

Terbuka untuk mengungkapkan juga terbuka untuk mendengarkan. Terbuka mengungkapkan diri secara jujur dan wajar, juga terbuka menerima orang lain sebagaimana adanya. Semuanya ini makin indah kalau diri kita sendiri terbuka pada Firman Tuhan yang tiap hari kita baca dan renungkan. Bahkan peka akan kehendak Tuhan dengan apa yang dikehendaki-Nya melalui kehidupan kita sehari-hari.  Baik antar anggota keluarga, gereja dan masyarakat. Keterbukaan dibutuhkan oleh seorang komunikator, tetapi juga berlaku untuk komunikan, karena keterbukaan adalah ketersalingan dalam sebuah komunikasi.

*) Senior Editor MajalahBerkat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here