Upaya Ekumenis Yang Riil

0
31

The Givenness of Unity in Christ

Pernah ada pemahaman bahwa yang harus ditempuh oleh gereja yang terlibat di dalamnya adalah “ mengusahakan keesaan gereja”. Dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa upaya seperti itu keliru secara teologis.

Pertama, seolah-olah keesaan gereja itu belum ada dan karenanya masih harus diusahakan. Padahal dalam Iman kita mengakui bahwa pada hakikatnya keesaan gereja itu sudah ada di dalam Kristus. Karena Kristus itu satu, esa, maka selaku Tubuh Kristuspun esa. Kristus tidak mungkin terbagi.

     Kedua, seolah-olah keesaan gereja sepenuhnya bergantung dari upaya dan daya manusia. Memang manusia sebagai warga gereja terpanggil untuk memainkan perannya. Namun segala sesuatu pertama-tama harus bergantung pada Tuhan. Tuhanlah yang empunya gereja dan empunya kerja. Manusia diperkenan-Nya untuk menjadi  “kawan sekerja-Nya” (1 Kor 3 : 9). Dilihat dari sudut ini, maka “keesaan gereja” yang telah ada di dalam Kristus kita terima sebagai sesuatu yang diberikan di dalam Kristus dengan perantara Roh Kudus-Nya

     Peranan kita sebagai gereja adalah menampakkan apa yang telah diberikan itu, apa yang pada dasarnya telah ada di dalam Kristus harus kita tampakan dengan lebih jelas. Mengapa penampakan keesaan gereja ini penting? Ayat mas gerakan ekumenis di dalam Yoh 17 : 21 “….supaya mereka menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita….” Pertanyaan tadi terjawab melalui ungkapan selanjutnya, yaitu: “ …..supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.  “Keesaan gereja yang bertumbuh pada keesaan Yesus dan Bapa, patut ditampakkan kepada dunia, agar dunia percaya kepada Yesus, utusan Bapa.

     Perlu pula peningkatan “penampakan keesaan” yang menjadi masalah adalah adanya perbedaan kadar penampakan dari keesaan yang sudah ada itu. Seberapa jauh kadar keberhasilan atau kegagalan gereja dalam upaya tersebut, itulah yang menjadi masalah. Penampakan keesaan itu bisa terlihat jelas (oleh dunia), atau kurang jelas. Apakah penampakan keesaan itu sudah jelas,.Apakah penampakan keesaan itu sudah jelas, bila dalam kenyataanya nama gereja-gereja itu saling berbeda, pola beribadah, saling berlainan, dan sebagainya ?

     Selama rentang perjalanan sejarah yang terjadi adalah peningkatan setapak demi setapak ke arah keesaan gereja yang kian menjadi lebih jelas. Itulah yang menjadi pekerjaan rumah bagi gereja untuk terus-menerus “ meningkatkan ” melalui berbagai upaya bersama.

Upaya Ekumenis Lainnya

Dalam iman kita mengakui bahwa gereja sebagai Tubuh Kristus adalah satu. Namun kenyataan riilnya begitu banyak gereja, malah terjadi pertentangan di antara berbagai gereja tersebut. Ada aliran gereja tertentu yang pernah menganut prinsip multiplying by dividing, yaitu “ memperbanyak dengan jalan perpecahan “. Perpecahan gereja dilihat sebagai sesuatu positif. Tetapi sering pengakuan yang tampak bagus itu sesungguhnya dipakai guna menutupi pertentangan pribadi di antara tokoh-tokoh gereja itu.

     Karena itu pelu digaris bawahi bahwa :
  1. Tidak ada gereja yang sempurna
  2. Perpecahan bukanlah kehendak Tuhan, melainkan karena ulah kelemahan manusia
  3. Masing-masing gereja harus saling mengakui saham atas dosa perpecahaan gereja, langsung atau tidak langsung
  4. Masing-masing gereja harus bersedia bertobat sambil mengakui peran dosanya yang telah merobek-robek Tubuh Kristus.

     Masing-masing gereja perlu lebih sering berdialog agar dapat melihat hal-hal positif pihak mitra dialog. Sebaliknya, dialog sukar terlaksana manakala ada pihak dirinya paling benar dan sempurna. Reformasi gereja harus berlangsung terus menerus.

Dewan gereja-gereja sedunia

Diawali oleh pembentukan International Missionary Council pada tahun 1910 di Edinburgh inggris. Gereja-gerja di Barat sudah terpecah-pecah sejah era Reformasi pada abad ke-16. Untunglah pada waktu yang bersamaan terjadi usaha misi dan pekabaran Injil ke dunia Timur. Banyak zendeling atau misionaris  yang terkirim. Gairah mereka menebarkan Injil kasih Allah, kerap ditanggapi dengan menerbarkan Injil Kasih Allah , kerap ditanggapi dengan sinis oleh penduduk pribumi di dunia Timur. Perpecahan dan keberaneka ragaman gereja ternyata menjadi batu sandungan. Para misionaris lalu bergumul dengan serius. Demi bisa berbagi aneka pergumulan tersebut, mereka sepakat untuk bertemu dan berkumpul di sebuah konferensi . Sejak itulah terus diadakan konferensi-koferensi serupa. Lambat laun disadari bahwa tidak cukup bilamana mereka  secara pribadi saja yang mengerti pentingya prinsip-prinsip ekumenis seperti pada butir tiga di atas, Bukankah yang harus bertobat dan mengupayakan ialah gereja-gereja sebagai institusi.

     Dilandasi kesadaran tersebut maka pada Sidang Raya WCC ketiga di New Delhi tahun 1961, IMC gereja Ortodoks Timur diterima sebagai gereja-gereja anggota WCC.

     Wawasan penting yang dicetuskan WCC sering berdampak luas bagi kehidupan manusia. Misalnya humanization, yang di Indonesia kemudian dikenal seutuhnya dan masyarakat seluruhnya”. Usaha beranekaragam “ dialog ternyata tidak hanya berlaku di lingkungan intern belaka, tetapi WCC jugalah yang merintis serta memprakarsai di dalamnya “ dialog-dialog antar umat beragama”.

DGI Menjadi PGI

Salah satu tonggak penting dalam sejarah DGI/PGI terjadi pada sidang Raya ke: X di Ambon tahun 1984. Dalam sidang ini nama DGI diubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Bersamaan dengan itu disahkan “ Lima Dokumen Keesaan Gereja-gereja di Indonesia” yaitu :

  1. Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB) 1984-1989
  2. Pernyataan mengenai Pemahaman Bersama Iman Kristen di Indonesia ( PBIK)
  3. Piagam saling mengakui dan saling menerima diantara gereja-gereja anggota PGI
  4. Tata Dasar Persekutuan Gereja-gereja Indonesia
  5. Menuju kemandirian Teologi, Daya, dan Dana

Dari kelima dokumen itu yang langsung merupakan upaya ekumenis riil dan operasional tercermin dari dokumen ketiga. Mengapa? Karena di dalamnya tercantum dibukanya kemungkinan untuk tukar – menukar keangotaan (atestasi); tukar – menukar pelayan Firman Tuhan; saling mengakui baptisan; saling menerima keikutsetaan dalam Perjamuan Kudus dan lain-lain . Sebagian dari praktik saling mengakui dan menerima ini sebetulnya sudah diterapkan di sana-sini. Tetapi masih juga ada berbagai keengganan atau kesulitan: Misalnya beberapa gereja aliran Calvinis, mungkin masih mengharuskan seseorang yang sudah dibaptis di suatu gereja Pentakosta untuk mengikuti katekisasi terlebih dahulu. Jadi, penerimaan bersyarat, Atau, ada pula gereja tertentu yang tidak mau atau kurang welcome terhadap pengkhotbah GKI.

Sinode Am Gereja Kristen Indoneia

Semangat ekumenis di tingkat international dan nasional ternyata memacu para pemimpin GKI untuk mengambil langkah riil. Pada sidang keenam tahun 1984 di Salatiga dampaknya terasa langsung sampai ke grassroots yaitu jemaat. Akhirnya ditetapkan pula lagu   Berderaplah satu karya Pdt.Em.Hosea Abdi Widhyadi sebagai Hymne GKI. Selain itu dalam sidang dicetuskan pula “ ikrar Pernyatuan GKI” yang memuat upaya kesatuan yang esensial dan structural. Dia antaranya menyempurnakan liturgi, rumusan Pengakuan iman Rasuli, dan nyanyian.

   Ketiga hal tersebut bisa direalisasikan pada sidang ketujuh tahun 1988 di wisma Kinasih, Bogor. Momentum penting sidang ini adalah penetapan kesatuan tiga Sinode GKI Jabar, Jateng, dan Jatim menghadiri Gereja Kristen Indonesia, Penyataan GKI ini merupakan kesaksian penting bagi PGI dan Indonesia.

     Peristiwa pengurangan gereja-gereja angota PGI dari kalangan GKI, yang semula tiga menjadi satu dalam sidang Raya PGI di Irian Jaya merupakan tonggak sejarah ekumenis yang penting. Semangat ini harus terus dilanjutkan dan ditinggatkan. Selanutnya Gki mengupayakan penyatuan Tata Gereja yang disempurnakan pada tahun 2003. Keesaaan memang tidak terbatas secara spiritual semata, tapi juga secara struktural demi melancarkan upaya ekumenis yang fungsional.

Christian Conference of Asia ( CCA)

Untuk lingkup Asia, dikenal pula Young Men’s Christian Association (YMCA/IMKA). Adalah unik bahwa Australia dan Selandia baru terhisap dalam CCA yang didirikan di Prapat, Sumut Tahun1957, Sejak itu diadakan Sidang Raya. Sidang Raya di berbagai tempat di negara Asia, Australia, dan selandia Baru,

     Atas kemurahan Tuhan saya bisa hadir mewakili Sinode Am GKI pada Sidang Raya Ketujuh yang diadakan pada 18-28 Mei di Bengalore, India Selatan. Tema sidang Raya ini adalah “ Living In Christ With People” (Hidup di dalam Kristus bersama rakyat biasa) . Sebelum sidang Raya ini saya sempat hadir sebagai salah seorang pria dalam sebuah Asian’s Women Forum. Ternyata di sini unsur wanita tidak dilebur atau disatukan dalam komisi Dewasa. Sebetulnya, kekhasan wanita layak tetap diakui serta dihargai kodrat khususnya.

 Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Agaknya kegiatan yang paling lazim adalah “kebaktian akumenis”, misalnya kebaktian Natal Bersama. Kegiatan lain ialah seminar-seminar pembinaan jangka panjang atau pendek, tentang misi pekabaran injil, soal kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. Ada juga yang disertai ‘live In’, di mana para peserta tinggal beberapa hari bersama di keluarga lain. Atau kegiatan ‘Outbound’ untuk pengenbangan afeksi dan psikotomotorik di alam bebas. Suka duka di antara para peserta dari latar belakang gerejani yang berbeda merupakan pengalaman yang sangat bermanfaat.

     Studi lanjut juga bisa memperluas cakawala ekumenis penerima beasiswa, entah diadakan pada lingkup nasional, regional, maupin international, Saya pribadi telah menempuh studi lanjut di Union Theological College di Manila , Filipina selama setahun (1965-1966) dan di Ecumenical Institute di Jenewa, Swiss selama satu semester.

     Sekembalinya dari studi-studi lanjut tersebut juga pengalaman ekumenis sebelumnya sikap dan pandangan saya berubah total. Semangat ekumenis lalu menjadi darah daging untuk kiprah pelayanan selanjutnya. Last but not least, kegiatan ekumenis lewat jalur karya tulis di berbagai bentuk kepustakaan, baik buku atau Majalah kesadaran dan ketertiban ekumenis.

Dibutuhkan keterbukaan

Sesungguhnya Tuhan menyediakan berbagai peluang upaya ekumenis yang sangat luas. Ke depan peluang itu akan terbentang semakin luas. Kairos telah terpampang jelas untuk kita isi dengan karya nyata. Yang penting ialah adanya keterbukaan di satu pihak namun pada pihak lain tidak sampai kehilangan jati diri. Sikap asal terbuka saja bisa mengaburkan indentitas diri. Tetapi mengukuhi jati diri saja bisa menyebabkan semuanya serba kaku dan mandeg.Yesus dalam menggenapi misi Allah Bapa telah turun ke dunia sebagai manusia seutuhnya, tetapi di dalam berbuat demikian Yesus tak kehilangan jati diri ke Allahan-Nya itulah dasar teologi ekumenis kita.

                                                                                           *) Pendeta Emeritus GKI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here