Bagaimana Gereja Memanfaatkan, Teknologi Informasi dan Komunikasi

0
448

Sekitar 20 tahun lalu orang yang membawa telepon seluler di saku baju, tas, atau genggaman tangannya masih bisa dihitung dengan jari. Sebaliknya, kini hampir tak seorangpun yang menghadiri kebaktian di gereja tanpa membawa pesawat telepon nirkabel ini. Uniknya alat ini telah berubah menjadi smart-phone yang bukan lagi sekedar alat komunikasi melainkan menjadi multi fungsi, mulai dari kamera digital yang bahkan bisa digunakan untuk selfie, Alkitab elektronik, synchronized agenda, email, social media, dipakai untuk main video game, nonton film dan sebagainya.

Bayangkan sarana multi media ini menyediakan begitu banyak informasi di depan mata penggunanya. Namun hampir semuanya bukan berasal dari gereja yang bersumber dari kebenaran Firman Tuhan. Tak heran jika  anggota jemaat lebih banyak menerima dan berinteraksi dengan pengajaran dari dunia dan oleh karenanya membentuk cara pandang duniawi.  Nasihat Rasul Paulus, agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia, melainkan berubah melalui pembaharuan budinya, sehingga mampu mengenal kehendak Allah (Roma 12:2), menjadi semakin sulit untuk diwujudkan.

Pesatnya Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Jika tahun pembuatan mesin cetak manual Guttenberg (1436) dianggap sebagai tonggak awal kehadiran perangkat media komunikasi, maka dibutuhkan rentang lebih dari 500 tahun hingga munculnya Personal Computer (PC) sekitar awal tahun 1980an. Namun hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 tahun multi media telah berkembang terutama karena didukung oleh munculnya berbagai perangkat lunak (software).

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak hanya meningkat pesat secara eksponensial tetapi juga semakin luas pemakainya, semakin merata tak peduli strata sosial dan ekonomi, semakin bersifat pribadi, semakin membuat pengguna terkoneksi dengan banyak pengguna lain, semakin cepat, semakin mudah dalam penggunaan, semakin tersedia, semakin interaktif dan kolaboratif. Tentu saja ada sisi negatifnya, di mana orang semakin dibuat sibuk berinteraksi satu dengan yang lain, semakin kehilangan privasi karena keberadaannya akan semakin terdeteksi. Apa yang telah dilakukan gereja dalam membekali anggota jemaatnya menghadapi ini semua? Membiarkannya atau memberikan bimbingan bagaimana memanfaatkannya secara bijak?

Gereja Menjangkau Generasi Digital

Anak-anak dan para remaja kelahiran tahun 2000 ke atas adalah generasi digital. Mereka muncul ke dunia ketika Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam bentuk gadget begitu tersedia. Mereka sangat akrab dengan teknologi ini sejak usia sangat dini. Tak heran jika cara mereka bermain, berkomunikasi, bersosialisasi, berkolaborasi, dan belajar sangat berbeda dari generasi orangtua mereka. Generasi inilah yang akan menjadi anggota dan pemimpin jemaat masa depan. Sementara itu perhatian dan upaya gereja untuk menjangkau mereka sangat minim.

Gereja masih menggunakan cara-cara pembinaan terhadap mereka yang tidak berbeda dengan cara pembinaan terhadap generasi sebelumnya. Banyak gereja belum menggunakan perangkat-perangkat teknologi untuk menjangkau mereka yang sangat terbiasa dan akrab dengannya. Alokasi anggaran bagi pembinaan anak dan remaja pun sangat minim, jauh di bawah alokasi untuk membiayai program-program bagi anggota dewasa. Jangan salahkan mereka jika pada suatu saat nanti gereja menengarai mereka sebagai generasi yang terhilang.

 

Gereja Menjangkau Wilayah-wilayah Terpencil

Gereja-gereja di kota besar umumnya masih sibuk dengan dirinya sendiri. Berbagai program yang diselenggarakan lebih banyak mengarah ke dalam atau dengan kata lain untuk melayani anggotanya sendiri. Kalaupun gereja memiliki program pelayanan, program tersebut hanya menjangkau area terdekat di sekitar gereja. Itupun seringkali masih bersigat karitatif, lebih berupa memberi ikan daripada memberi kail dan mengajarkan bagaimana menggunakannya.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari barat ke timur lebih dari 5000 km dengan lebih dari 17000 pulau. Sebagian besar belum dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai. Kualitas pendidikan di daerah-daerah terpencil sangat tertinggal. Kapasitas manusia dan kesejahteraan penduduk di pelosok tanah air masih sangat rendah, sekalipun tanah dan air di mana mereka tinggal penuh dengan kekayaan alam yang melimpah. Banyak di antara pulau-pulau ini dihuni oleh saudara-saudara kita seiman. Pedulikah gereja-gereja di kota besar terhadap mereka?

Jika alasan sulit untuk peduli adalah karena terhalang oleh jarak dan waktu, maka Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah solusinya. Teknologi ini adalah infrastruktur yang relatif termurah untuk menjangkau mereka. Itulah yang telah mulai dilakukan oleh Klasis Banyuwangi GKI Sinode Wilayah Jawa Timur dengan mengadopsi sebuah ICT Learning Center (Pusat Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi) di Numfor, Biak dan juga GKI Taman Aries, Jakarta yang mengadopsi sebuah ICT Learning Centre di Sentani. Keduanya di Papua.

Dengan menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dilengkapi dengan sambungan internet, para guru di daerah-daerah seperti ini dapat diperlengkapi, bahkan difasilitasi agar dapat meningkatkan kualifikasi akademik mereka dalam rangka memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah. Para guru Sekolah Minggu dapat dibekali, demikian pula para pemimpin jemaat dan anak-anak muda di sana. Melalui sarana ini, tele-conference dapat dilakukan sesering mungkin tanpa harus setiap kali terbang dengan biaya yang cukup besar.

 Gereja Perlu Menyusun Strategi dan Membuat Langkah Awal

Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan gereja dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus agar gereja “pergi” dan “menjadikan semua bangsa muridKu” justru menjadi sangat mungkin karena tersedianya teknologi ini. Gereja tak perlu kehilangan generasi digital dan bisa membantu saudara-saudara seiman nun jauh di sana dengan bantuan teknologi. Namun tentu saja gereja perlu untuk terlebih dahulu menyusun rencana strategis dan menggalang pemahaman dan kesehatian sebelum memutuskan untuk memanfaatkan teknologi untuk mendukung upaya menjangkau generasi digital dan saudara-saudara seiman di berbagai pelosok tanah air.

Program-program kerja gereja perlu dikaji ulang dengan melihat peluang sekaligus tantangan yang ada. Berbasis rencana strategis yang telah disusun, gereja kemudian perlu segera membuat langkah awal. Mungkin saja pada tahap awal akan banyak tantangan dan bahkan mungkin kegagalan, namun dengan pantang berputus asa serta dengan tetap mengandalkan pertolongan Tuhan, niscaya gereja akan mampu menjawab kebutuhan yang ada.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here