Bersyukur

0
174

Tahukah Anda bahwa ada satu hal yang mudah dilakukan tetapi kerap kali dilupakan? Ya, bersyukur! Kalimat ini sering diabaikan orang karena beberapa alasan. Namun, sebelum membahas alasan-alasan tersebut marilah kita membaca cerita singkat berikut:

Seorang pemuda sedang duduk di kursi depan sebuah bus ketika seorang pria tua naik ke dalam bus. Pria itu memandang ke sekitar untuk mencari kursi kosong. Maka pemuda itu berdiri dan memberikan kursinya kepada pria tua itu.

Setelah beberapa saat, pemuda itu bertanya kepada pria tua itu, “Maaf, baru saja bapak berkata apa?” Pria yang telah duduk dengan nyaman itu tampak sedikit terkejut dan berkata, “Saya tidak berkata apa-apa tadi?”

Mendengar jawaban itu, pemuda tadi sambil tersenyum berkata, “Oh saya pikir tadi saya mendengar bapak mengatakan ‘Terima kasih’.”

Cerita di atas menggambarkan bagaimana seseorang yang tidak biasa berterima kasih. Di dalam kamus bahasa Indonesia, terima kasih sama saja dengan rasa syukur. Dan berterima kasih berarti mengucap syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan.

Sedangkan bersyukur berasal dari kata “syukur” yang artinya rasa terima kasih kepada Tuhan. Bersyukur biasanya dilakukan seseorang karena terhindar dari maut, memperoleh apa yang diinginkan, menerima kabaikan, sembuh dari penyakit dan lain sebagainya.

Ada 3 hal yang membuat seseorang sulit bersyukur
  1. Sulitnya seseorang untuk bersyukur karena tidak memiliki rasa cukup atas apa yang dimilikinya.

Kapan kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki? Ada kalimat, “Kalau bisa dua kenapa harus satu?” Kalimat inilah yang memicu seseorang untuk mencari lebih banyak meski dengan menempuh segala cara. Dan ketika hanya bisa memperoleh satu, lantas merasa tidak puas dengan apa yang diperolehnya.

Setiap orang cenderung tidak pernah cukup sampai ia tidak tahu lagi apa yang dibutuhkan. Seorang pemuda menginginkan hidup kaya, ia lalu bertekad mewujudkan keinginannya tersebut dengan bekerja keras. Singkat cerita, semua keinginan itu terpenuhi. Tapi apakah pria itu merasa cukup? Tidak, pria itu  belum merasa cukup dan terus mencari kekayaan lebih dan lebih lagi, karena apa yang ia cari belum memenuhi keinginannya. Sudah punya satu ingin mendapat dua, sudah dapat dua ingin punya tiga dan seterusnya.

2. Karena menganggap hal yang terjadi dalam hidupnya adalah hal biasa yang tidak perlu untuk disyukuri.

Ah, saya mendapatkan ini semua karena kerja keras saya sendiri, wajar kan?” Ucap seorang pengusaha kaya raya. Bukankah kita juga sering merasa seperti itu? Kita bekerja dan menerima penghasilan, kita melakukan sesuatu dan mendapat imbalan, kita melakukan kebaikan dan mendapat pujian. Semua itu wajar dan biasa terjadi dalam kehidupan kita bukan? Maka, tidak ada yang perlu disyukuri. Kerapkali kita lupa bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Apa yang kita kerjakan dan peroleh bukan kebetulan.

  1. Karena sering membanding-bandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain.

Penyakit yang bernama ‘iri’ menjadi penyebab untuk tidak bersyukur. Meski sudah punya rumah, masih iri dengan rumah tetangga yang kelihatan lebih indah. Sudah punya mobil, masih iri dengan mobil orang lain yang lebih keren. Bahkan sudah memiliki istri cantik, masih kepingin istri teman sendiri yang terlihat lebih seksi. Sikap iri biasanya terjadi tatkala melihat orang lain hanya dari sisi yang baik dan enaknya saja tanpa melihat pergumulannya.

Di saat seseorang membanding-bandingkan segala sesuatu dengan milik orang lain, maka yang muncul bukanlah rasa bersyukur tetapi justru rasa tidak puas. Nah, jika sudah tidak puas dengan apa yang di dapat pastilah sulit untuk mengucap syukur. “Apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya? Kok rumah tangga kami selalu kekurangan bahkan hidup kami hanya begini-begini saja.” Gerutu seorang ibu.

Seringkali seseorang lebih suka menuntut. Seorang anak selalu menuntut orangtuanya begitu juga sebaliknya; seorang istri menuntut suaminya atau sebaliknya; atau seorang bawahan selalu menuntut atasannya dan sebaliknya. Begitu juga dengan hubungan manusia dengan Tuhannya. Bukankah manusia lebih suka menuntut ketimbang menaati perintah-Nya?

“Saat kita terlalu banyak menuntut, maka kita akan kehilangan kebahagiaan hidup.”

Bersyukur Untuk Hal Buruk

Bersyukur bukan saja untuk hal-hal baik tetapi untuk hal-hal buruk pun kita patut bersyukur, sebab dibalik hal-hal buruk tersebut pasti ada kebaikan yang bisa kita syukuri. Allah menghendaki agar kita senantiasa bersyukur, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Karena pada dasarnya kebaikanlah yang dijanjikan oleh Allah atas kelangsungan hidup kita. Dan hidup akan menjadi indah bila kita dapat mensyukurinya. Orang yang bersyukur dapat menerima kenyataan, tetapi orang yang tidak bersyukur lari dari kenyataan. Jadi, orang yang bersyukur tidak perlu menunggu ketika ia berkelimpahan, ketika ia sukses atau tercapai apa yang ia inginkan.

Hidup adalah Bersyukur

Masih ingatkah kita dengan kisah sepuluh orang kusta yang ditahirkan oleh Yesus dari kustanya? Sepuluh orang kusta itu bertindak benar karena tidak mencari pengobatan alternatif atau datang ke ‘orang pintar’ tetapi mereka datang kepada Sang penyembuh hingga semuanya ditahirkan.

Apa selanjutnya yang terjadi? Kesepuluh orang kusta yang beroleh kesembuhan itu hanya seorang yang datang tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. (Lukas 17:11-19). Akhir dari kisah ini, Yesus bertanya, “. . . Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Dimanakah yang sembilan orang itu?” (ayat 17)

Apa makna dari pertanyaan yang dilontarkan Yesus tentang hal itu? Artinya, kita sudah ditahirkan dari belenggu dosa dan beroleh kebaikan dari Tuhan, maka tidaklah pantas untuk tidak bersyukur. Hidup itu akan menjadi indah bila kita dapat mensyukuri apa yang ada pada kita.

Waktu kita berdoa maka Allah akan memampukan kita melihat kebaikan-Nya sehingga kita mampu mensyukurinya. Tetapi bila kita tidak berdoa maka kita akan menganggap semua yang terjadi adalah hal biasa, bahkan sering kali kita cenderung melihat kelebihan orang lain hingga kita bersungut-sungut jadinya. Karena itu milikilah hati yang senantiasa mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa. Bagaimana dengan Anda?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here