Sudahkah Gereja Berperan Sebagai Lembaga Pendidikan?

0
129

Salah satu pertanyaan mendasar yang muncul terkait agama dan pendidikan adalah bagaimana sesungguhnya posisi agama dalam konteks pendidikan. Salah satu jawaban mendasar adalah agama termasuk salah satu lembaga pendidikan. Literatur klasik tentang pendidikan paling tidak menyebut tiga lembaga pendidikan, yakni  keluarga, sekolah, dan agama.

Keluarga disebut sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama. Disebut pertama, karena dalam keluargalah pendidikan dimulai. Disebut utama, karena praktis fondasi pribadi manusia dibangun di sana. Dasar yang telah dibangun di dalam keluarga, akan amat menentukan perjalalan hidup manusia selanjutnya. Secara teoritis dasar yang salah dapat dibenahi, tapi itu berarti diperlukan waktu lebih lama untuk menghantar manusia menjadi dewasa. Pendidikan menjadi tidak efisien, ketika dasarnya tidak ditata dengan baik sejak dini.

Agar ada kesamaan persepsi, perlu dikemukakan di sini bahwa berbicara tentang pendidikan sebagai sistem, berarti berbicara tentang komponen pendidik, peserta didik, tujuan dan isi pendidikan, stretegi pendidikan, dan evaluasi pendidikan. Komponen-komponen ini ada dalam lembaga pendidikan mana pun, entah keluarga, sekolah, maupun agama. Ketika pendidikan tidak maksimal dalam memainkan perannya, maka yang pertama dan utama perlu di kaji adalah  kondisi peran komponen-komponen ini.

Pertanyaan mendasar terkait lembaga dan komponen pendidikan dalam konteks agama adalah apakah lembaga agama telah memainkan perannya secara memadai sebagai lembaga pendidikan? Konkritnya, apakah komponen-komponen pendidikan agama telah ditata logis dan sistematis, dalam mengemban perannya sebagai lembaga pendidikan?

Agama yang pertama dan utama?

Di Indonesia, keluarga menjadi syah oleh agama. Negara hanya mencatat, agamalah yang mensyahkan. Kalau dilihat lebih jauh ke dasar negara, sila Ke-Tuhanan Yang Maha Esa menempati sila pertama. Lalu apakah bisa dikatakan bahwa lembaga agama adalah lembaga pendidikan pertama dan utama? Bagi penulis sebagai akademisi pendidikan, secara yuridis-filosofis, jawabannya adalah ya. Entah secara Teologis.

Sebagai  guru yang mengampu matakuliah teori dan filsafat pendidikan, pertanyaan yang hampir selalu muncul di ruang kuliah adalah apakah tugas agamawan selesai hanya sampai pada menikahkahkan umat? Bukankah itulah tugas termudah agamawan? Dalam konteks agama sebagai lembaga pendidikan, pertanyaannya adalah apakah tugas gereja selesai ketika telah menikahkan jemaat? Kalau hanya sampai di situ, maka begitu mudahnya tugas gereja sebagai lembaga pendidikan. Jadi, seharusnya jawabannya tidak. Tugas gereja tidak hanya sampai menikahkan jemaat, melainkan mengawal pernikahan itu menuju keluarga yang berkenan di mata Tuhan, dan tentu saja berguna bagi sesama.

Pertanyaan berikut yang lebih operasional adalah bagaimana cara gereja mengambil peran sebagai  lembaga pendidikan? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat diadopsi maupun diadaptasi dari praktik pendidikan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pertanyaan-pertanyaan praktis yang mesti dijawab dalam konteks pendidikan sebagai sistem adalah siapakah yang disebut sebagai pendidik di gereja, siapakah peserta didiknya, apa tujuan dan isi pendidikan atau kurikulum gereja, bagaimana sebagaiknya kurikulum itu ditata, bagaimana strategi pendidikan di gereja, serta bagaimana evaluasi pendidikan di gereja?

Rumus Umum Pendidikan Efektif-efisien

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, semoga para pengelola gereja, khususnya para pendeta, telah mendapatkan ilmunya ketika mengenyam pendidikan teologia. Tentu saja pengelola  gereja dapat pula bertanya atau berguru pada para ahli di bidang ini.

Secara garis besar, pendidikan akan efektif dan efisien bila memenuhi ketentuan berikut. Pertama, pendidiknya adalah orang yang berbakat dan berminat menjadi guru. Sejumlah indikator dapat diajukan untuk menemukan guru yang berbakat dan berminat menjadi guru. Meminjam teori kecerdasan majemuk Gardner (Frames of mind: The Theory of Multiple Intelligence, 1993), misalnya, seorang pendidik idealnya adalah seseorang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi.

Kedua, peserta didik belajar berangkat dari bakat dan minatnya. Rumusnya, temukan bakat peserta didik, jadikan bakat itu sebagai minat, dan dari sana pendidikan dimulai.

 Ketiga, tujuan dan isi pendidikan ditata secara logis dan sistematis. Konkritnya, misalnya dimulai dari dekat ke jauh, dari khusus ke umum, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui, dari konkrit ke abstrak dan sejenisnya.

Keempat, strategi pendidikan, khususnya metode dan media pendidikan, ditata agar mengakomodir pelbagai kondisi terkait pendidikan. Kondisi dimaksud misalnya, keunikan karakteristik peserta didik, spesifikasi tujuan dan isi, ketersediaan sarana dan prasarana, serta tren teori pendidikan yang menjanjikan perubahan. Untuk saat ini misalnya, pendidikan yang melibatkan sedang menjadi tren dan diyakini mampu memaksimalkan hasil belajar siswa.

Kelima, efisiensi dan efektifitas pendidikan hanya dapat diketahui melalui evalauasi terstandar. Untuk itu, diperlukan alat evaluasi yang memenuhi prinsip valid dan realiabel.

Dapatkah gereja sebagai lembaga pendidikan, dikelola berdasarkan rumus umum di atas? Para pengelola gereja tentu lebih paham menjawabnya. Tetapi apa pun jawabannya, diperlukan sinergi positif antara pelbagai lembaga pendidikan kalau kita ingin efektif dan efisien membangun negeri ini melalui pendidikan. Boleh jadi, pada gilirannya, sekolah justru belajar dari gereja tentang bagaimana cara mengelola pendidikan secara efektif dan efisien, jika gereja dapat memainkan perannya secara signifikan sebagai lembaga pendidikan. Semoga!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here