Laksamana (purn) Bernard Kent Sondakh: Dari Nakhoda Kapal Perang Kini Nakhoda Yayasan KIDS

0
806

Puri Galaxy, Surabaya. Kelam malam mulai menjemput senja. Udara panas kota Pahlawan masih terasa menyengat. Namun ketidaknyamanan ini segera sirna, saat saya melangkah ruang tamu yang artisik dengan aksen pernak-pernik aksesori Angkatan Laut. Pak Kent dan Ibu Henny mengajak BERKAT bincang santai di teras halaman belakang nan asri. Di pepohonan, lampu pijar LED berkedip naik turun menambah suasana damai obrolan kami.

Laksamana (purn) Bernard Kent Sondakh dilahirkan di Tobelo, Halmahera Utara  tanggal 9 Juli 1948. Putra ke tujuh dari duabelas saudara,  pasangan suami istri Karel Sondakh dan Paulina Anno.  Karel seorang petani tapi juga nelayan bekerja mengantarkan barang dagangan kebutuhan sehari-hari antar pulau.

Itu sekelumit cerita orang bersahaja di Tobelo yang berhasil mengantar anaknya  dipanggil Presiden Megawati dan diminta menjadi Kepala Staf Angkatan Laut Republik Indonesia. Tanggal 25 April 2002 Kent dilantik di Istana Merdeka. Saat itu Presiden hanya memberi pesan singkat. “KSAL harus menertibkan perairan tanah air”. Dia tak pernah menduga dan merencanakan jenjang karirnya. “Semua karena anugerah Tuhan. Saya hanya mau mengabdi kepada negara,” tutur Kent kepada BERKAT.

Diinspirasi Lingkungan

Tidak heran kalau Kent akrab dengan laut, karena dibesarkan di lingkungan sekitar laut. Di Tobelo itu juga dia biasa bergaul dengan kelasi dan perwira kapal-kapal perang yang  berlabuh di Halmahera. Waktu kecil dia dan teman-teman biasa membawakan buah-buahan atau makanan buat pelaut di kapal, lalu mereka diizinkan naik dan bermain di kapal perang. Hal Itu menumbuhkan kegandrungannya pada TNI-AL.  Apalagi kalau melihat para perwira TNI-AL berdiri tegap di kapal dengan seragam putih bersih, membuat Kent makin ingin masuk ke TNI-AL.  Lepas lulus SMP, Kent Sondakh meneruskan SMA di Ternate dan kembali bergaul dengan anggota TNI-AL.

Selepas lulus dari SMA 1966, dia berangkat ke Surabaya untuk mengikuti serangkaian test di Akademi Angkatan Laut  (AAL). Kent lulus tes dan diterima di AAL. Sampai akhirnya tahun 1970 lulus sebagai angkatan ke-16. Sejak lulus, selama delapan belas tahun dia ditugaskan di laut terus menerus berganti-ganti kapal. Pernah sekitar enam bulan ditugaskan di Mabes TNI-AL Cilangkap tahun 1985, lalu kembali lagi ke kapal sampai terakhir menjadi Komandan KRI Rencong-622 hingga 1988.

Menikah dengan Adat Jawa

Sejak menjadi taruna TNI AAL Kent telah berkenalan dengan Henny Utami yang lahir di Sukabumi, namun dibesarkan  di Surabaya. Henny adalah putri seorang perwira polisi yang tentunya hidup dalam kedisiplinan. Tidak seperti pasangan umum yang layaknya dapat menikmati pernikahan dengan bulan madu.

Beberapa hari sebelum berangkat tugas ke Timor Timur, Kent menikahi gadis idamannya  pada tahun 1975. Untuk pernikahan itu, Kent hanya diberi izin cuti dua hari saja. Dari Surabaya, Kent berangkat ke Bondowoso, untuk melangsungkan pernikahan dengan adat Jawa. Dia memakai blangkon untuk pertama kali itu. Setelah prosesi pernikahan selesai, esoknya ia segera kembali ke Surabaya untuk berlayar. Demikian dikisahkan Ibu Henny, istri pak Kent. 

Keluarga Harmonis

Keterpisahan mereka berdua karena tugas Kent tidak membuat surut kisah kasih pasangan harmonis ini. Waktu-waktu  itulah dipergunakan Henny untuk menjadi pengajar di Institut Teknologi Surabaya (ITS). Kesibukan itu menjadi berarti bagi dia dan bagi ITS.

Meski sebagian besar hidup bertugas di laut, Kent selalu menjaga kedekatan dengan keluarga. Ketika bertugas di Jakarta, keluarga tetap tinggal di Surabaya. Gajinya tak cukup untuk hidup bersama di Jakarta. Jadi dia tinggal di mess dan tiap akhir pekan Kent pulang ke Surabaya.

Dari pernikahannya, Kent Sondakh dianugerahi tiga anak, John Frederiko (38) lahir tahun 1976, John David Nalasakti (35), lahir th 1979 yang mengikuti jejak ayahnya menjadi perwira TNI-AL. Kedua putranya sudah menikah. Tahun 1999 dianugerahi Tuhan lagi seorang putri,  Joane Natasya Saraswati. Sejak itu Henny tinggal di Jakarta bersama anak bungsunya, namun setiap minggu dia tetap mengajar di ITS. Gajinya dari ITS pas untuk naik pesawat bolak-balik untuk  mengajar ke Surabaya. Kini Joane Natasya berusia 15 tahun dan sekolah di Singapore.

Karir yang Menanjak

Setelah lulus Sekolah Staf dan Komando TNI-AL (Seskoal) pada 1989 Kent Sondakh sempat ditempatkan di Mabes AL Cilangkap sebagai Staf Operasi Perencanaan dan Latihan. Di tempat itu Kent mendapat tugas sebagai Komandan KRI Oswal Siahaan -354 selama dua tahun. Setelah masuk Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI dan lulus 1994, Kent tidak pernah lagi bertugas di kapal.

Pendidikan yang pernah diterima antara lain, Kursus Komandan Kapal Atas Air (1985), Seskoal Angkatan-26 (1988/1989), Operational Artilery di Yugoslavia (1990), Sesko ABRI Angkatan-20 (1993/1994), dan KSA Angkatan-8 Lemhannas (2000). Ia pernah ditugaskan sebagai Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Barat (1995), Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal III (1996), Komandan Komando Pendidikan TNI AL (Kodikasl; 1997), Asrena Kasal (2000), Asops Kasal (2000), dan Irjen TNI (2001).

Sebagai militer, Kent Sondakh sudah terbiasa dengan ketidakpastian tugas yang harus dia jalani. Dan pada pemerintahan Presiden Megawati, akhirnya diangkat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut dari 25 April 2002 hingga 18 Februari 2005.

Beberapa Tanda Jasa Bintang dan Satya Lencana yang diperoleh antara lain: 1.Mahaputera, 2. Dharma, 3. Yudha Dharma Pratama , 4. Yudha Dharma Nararya,
5. Jalasena Pratam a, 6. Jalasena Nararya, 7. GOM VII, 8. Seroja, 9. Veteran Pembebasan Kemerdekaan Tim-Tim, 10. Kesetiaan  XXIV dan 11. Dwidya Sistha.

Keberagaman dan Kesatuan

Bicara tentang keberagaman, pak Kent merujuk pada semboyan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika. Filosofi ini harus dipahami benar karena bangsa ini terdiri dari multi etnis, ras, agama dan kepercayaan. Boleh saja menyebut ke bhinekaan itu, tapi jangan sampai melanggengkannya perbedaan itu lalu mengabaikan persatuannya. Bukankah di Alkitab,  kita ini juga terdiri dari banyak anggota, tetapi merupakan kesatuan di dalam Kristus? (Roma 12: 4-7, 1 Korintus 12: 12-27). Sejatinya keberagaman baik di gereja maupun dalam kehidupan berbangsa merupakan karunia Tuhan yang harus disyukuri.

Jadi kalau diperhatikan, bentrokan-bentrokan antar kelompok masyarakat yang terjadi selama ini, umumnya disebabkan adanya  upaya mempertahankan perbedaan yang ada. Satu kelompok merasa lebih superior daripada kelompok yang lain. Sesungguhnya, semua itu harus dilebur menjadi satu: Indonesia!; demikian tandasnya.

Pemimpin yang Melayani

Kini usianya sudah 66 tahun, masih kelihatan gagah dan bugar. Pria tampan yang dulu menjadi nahkoda kapal perang, kini menjadi Nahkoda bahtera KIDS (Kasih Indonesia Damai Sentosa) milik Kristus. Kepadanya dipercayakan ladang pelayanan Kristus yang begitu luas untuk bersama awak Bahtera KIDS mengumandangkan Amanat Agung Kristus.

Ada banyak pelayanan yang ingin dijangkau bapak tiga anak dan enam cucu ini untuk mempersembahkan hidupnya bagi kemuliaan Tuhan melalui Yayasan KIDS. Karena itu ketika usai peneguhan bersama seluruh Dewan Pembina, Dewan Pengurus dan Dewan Pengawas di GKI Manyar tanggal 28 September 2014; Ibu Henny, istrinya menyambut dengan ciuman mesra sebagai tanda dukungan kepada suami terkasih.

Pak Kent, selamat menjadi Pemimpin yang melayani dan menjadi Pelayan yang memimpin. (willy ps.doc.berkat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here