Memaknai “God Centered Education” Bagi Guru Kristen

0
96

Pada zaman ini pendidikan dalam konteks sekolah lebih cenderung human centered. Hal itu terlihat dari aspek kurikulum yang terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak didik. Sekolah dan guru dituntut untuk melayani keperluan anak didik dan keluarga yang mendukung pembelajarannya.

Jika guru mengkomunikasikan keyakinannya walau sesuai visi dan misi sekolah, orangtua atau stakeholders cenderung memandangnya sebagai pelanggaran hak azasi manusia. Guru Kristen di desak untuk berhati-hati, bahkan bila perlu tidak lagi menyatakan identitas dirinya sebagai pengikut Kristus.

Alkitab sebagai pedoman hidup guru Kristen menyatakan, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan haruslah mempermuliakan Allah (bd. Kol. 3:23). Dengan demikian para guru patut memahami, bahwa perannya sebagai pendidik dan pengajar mestilah untuk mempermuliakan Allah. Hasratnya yang paling dalam ialah menuntun anak didik mengenal pribadi dan karya Tuhan Yesus Kristus. Sekali pun guru bukan pengajar Agama Kristen, namun kerinduannya ialah anak didik yang dilayani dapat melihat Allah yang hidup melalui perkataan, sikap dan perbuatannya.

Mengapa God-centered Education?

Ada landasan Alkitab mengapa guru Kristen patut memikirkan dan berkomitmen kepada pendidikan berpusatkan Allah. Dalam Ulangan 6:4-5 ditegaskan panggilan untuk mengasihi TUHAN yang Esa dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Kemudian, panggilan itu harus diajarkan, dipercakapkan orangtua kepada anaknya baik di rumah maupun di luarnya; pada waktu pagi, siang maupun malam. Kalau anak tidak melihat integritas pada ayah dan ibunya, maka penyimpangan sikap dan perilaku yang bertumbuh.

Di masa Israel kuno penulis kitab hikmat menekankan bahwa takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan. Itu sebabnya para pendidik yang dihadirkan Allah di tengah umat termasuk imam, nabi, raja, orang bijak dan ahli Taurat berupaya menuntun orangtua dan anak agar mengenal Yang Mahamulia, Pencipta, Pemelihara, Penebus, Pembaru hidup manusia. Kitab Injil menyatakan penegasan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya agar mereka mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan.

Ahli sejarah pendidikan agama Kristen, Robert Boehlke (1991) dan Michael Anthony, mengemukakan beragam perbuatan gereja mula-mula mendidik warga jemaat untuk mengenal Allah di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Ketika gereja dipengaruhi bahkan ditekan oleh paham yang menjauhkan mereka dari kasih karunia Allah pada masa kekaisaran Romawi, bangkitlah para pendidik besar seperti Tertulianus, Crysostomus, Agustinus, dan Clementus dari Alexandria. Ketika gereja ditantang oleh ajaran bahwa keselamatan diperoleh oleh perbuatan semata,  maka Martin Luther, John Calvin, Zwingly serta Amos Comenius menyuarakan pendidikan bagi warga jemaat untuk memahami sola scriptura, sola gratia dan sola fide.

Bagaimana Memaknai Guru Kristen?

Jika diterima bahwa pendidikan sepatutnya dikelola oleh para guru dengan berpusat kepada Allah, bagaimanakah caranya mereka meresponi? Hal inilah yang menjadi bahasan dalam tulisan singkat ini. Untuk itu di bawah ini ada delapan pokok pikiran yang disulkan.

Pertama, guru bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, sebab Dia adalah maha pribadi yang kekal, realitas tertinggi. Dia ada walau tidak terlihat. Cara guru mewujudkan hal itu ialah dengan mempelajari Alkitab dan membaca buku-buku yang membahas pokok-pokok keyakinan Kristen. Mengikuti aktivitas pembinaan warga jemaat atau memasuki pendidikan teologi dapat memotivasi pertumbuhan pengertian guru tentang Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Tuhan Yesus Kristus. Bertumbuh mengenal Allah berarti semakin memiliki pengertian yang lebih baik dan mempunyai relasi yang akrab dengan Dia.

Kedua, guru melihat dirinya sebagai karunia Allah bagi dunia ini. Guru yang setuju bahwa pendidikan harus berpusat kepada Allah, menyatakan komitmen bahwa dirinya ialah pemberian istimewa bagi anak didik yang diajari. Guru menyadari betapa indahnya kesempatan yang Tuhan berikan menjadi saluran pengetahuan dan hikmat serta moralitas yang baik bagi anak didik. Sikap demikian membangkitkan rasa syukur. Guru mengerti bahwa berkat yang diterimanya dari Allah bukan hanya pengampunan dosa dan kehidupan kekal, tetapi juga bahwa dirinya diciptakan kembali untuk menjadi rekan sekerja-Nya melalui dunia pendidikan.

Ketiga, guru memandang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) dari sudut Allah Pencipta dan Pemelihara. Ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk memahami penyataan Allah melalui alam semesta dan ciptaan lainnya, melalui pendekatan rasional dan empiris. Kebenaran, kasih dan hikmat-Nya dinyatakan melalui beragam ciptaan. Teknologi merupakan karya manusia untuk menghasilkan karya berikutnya yang bermanfaat bagi kesejahteraan diri dan lingkungannya. Seni merupakan ekpresi kelembutan dan keindahan yang ada pada diri Allah sang Khalik. Sebab itu, guru memahami bahwa ia patut mempelajari penyataan Allah secara khusus sebagaimana dikomunikasikan oleh Alkitab dan melalui relasi pribadi dengan Yesus Kristus beserta Roh Yang Mahakudus.

Keempat, guru membangun rasa hormat kepada Allah. Dalam Alkitab digunakan kata takut untuk menyatakan sikap sujud kepada Sang Pencipta. Rasa hormat membuat guru mengerti bahwa ruang kelas dimana ia berinteraksi dengan anak didik adalah tempat dimana Allah juga hadir. Kesadaran demikian membuat guru menaruh hormat pula kepada anak didik yang diciptakan menurut rupa dan gambar-Nya. Guru memandang mereka bukan seperti mesin, benda atau hewan. Anak didik dengan berbagai ragam latar belakang merupakan utusan-utusan Allah untuk belajar dari gurunya bagaimana menghormati-Nya melalui studi, doa, pujian, dan percakapan.

Kelima, guru meningkatkan profesionalitasnya. Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen (2005) supaya guru efektif, maka ia harus terus belajar membangun kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogi dan kompetensi profesionalnya. Kompetensi kepribadian mencakup kedewasaan moral, kematangan iman, dan konsep diri yang sehat. Kompetensi sosial meliputi kesediaan berrelasi dengan anak didik dan orangtua atau walinya, serta kerjasama dengan teman seprofesi. Komptensi pegagogi termasuk kreatifitas mengajar. Kompetensi profesional meliputi penguasaan bidang ilmu yang diajarakan. Sekarang ini guru profesional ditandai oleh Sertifikat Guru yang dimiliki setelah melalui pendidikan, pelatihan dan pengujian. Pemerintah telah memberikan tunjangan profesi bagi guru supaya semakin mengembangkan kompetensi diri. Peluang ini patut dimaknai guru Kristen sebagai ucapan syukur dan kesempatan untuk melayani sesama dengan ketulusan dan kepedulian. Guru yang peduli membuka ruang hati dan ruang rumah atau kantornya bagi kehadiran anak didik. Dalam konteks itu terjadilah interaksi penuh makna.

Keenam, meneladani Kristus, guru belajar taat kepada Allah (Ibr. 5:8). Bicara tentang ketaatan, Alkitab mengingatkan kita kepada Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, ketika ditekan supaya meninggalkan iman kepada Allah, mereka memilih taat dan setia walau harus menghadapi hukuman yang tidak adil. Mereka tidak menjual iman kepada TUHAN (Yahweh) demi naik pangkat atau jabatan di pemerintahan Nebukadnezar. Di zaman pemerintahan raja Darius, Daniel rela dimasukkan ke gua singa daripada harus meninggalkan ketaatannya kepada TUHAN yang memberinya hikmat dan pengetahuan (Dan. 1:17-20). Teladan Daniel dan kawan-kawan ini patut menjadi sumber inspirasi bagi para guru Kristen, khususnya yang dipanggil atau diberi peluang oleh Allah untuk melayani anak didik di lingkungan sekolah-sekolah negeri.

Ketujuh, guru setia menjaga kekudusan hidupnya sebab dirinya merupakan bait Allah. Guru Kristen yang menyadari bahwa dirinya telah ditebus oleh darah Kristus, sehingga dipandang benar oleh Allah, berkoitmen untuk menjaga anggota tubuhnya supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Penyerahan diri itu akan membuat guru bertahan dan menang ketika pencobaan dari dalam dan luar dirinya mengemuka. Benih ilahi yang Tuhan hadirkan membuatnya mampu mengambil keputusan tidak untuk dosa dan kejahatan, dan mengatakan ya kepada kebenaran, kasih dan keadilan (1 Yoh. 3:9). Pemahaman demikian amat krusial di zaman ini mengingat terpaan godaan dan pencobaan hidup termasuk melalui internet.

Kedelapan, guru berketetapan hidup dan dipimpin oleh Roh Kudus. Tuhan Yesus menegaskan bahwa Roh Kudus diutus ke dunia untuk menyertai dan mendiami para pengikut-Nya (Yoh. 14:16-17). Dia mengajari mereka. Dia menuntun mereka untuk lebih mengenal Allah Bapa dan Putera (Yoh.15:26, 27; 16:13-14). Juga dikatakan oleh Alkitab bahwa Roh Kudus memberikan hikmat dan kreatifitas bagi mereka yang bersedia berjalan bersamanya (bd. Ef. 1:17). Apapun mata pelajaran yang diampu oleh guru jika ia mengandalkan hikmat dan tuntunan Roh Tuhan, maka tugasnya dapat ditunaikan dengan kasih, sukacita, kesetiaan dan keberanian. Wibawa atau kharisma ilahi sudah pasti akan menyertai guru yang bersedia mendapat bimbingan Roh Tuhan.

Di tengah tekanan pendidikan humanistik dan naturalistik yang berkembang dewasa ini, guru Kristen sepatutnya berkomitmen untuk berpihak kepada pendidikan teistik. Mazmur 139 kiranya mendidik para guru untuk memahami bahwa mereka tidak bisa menjauhkan diri dari Allah. Dia adalah realitas tertinggi sekalipun tidak terlihat oleh mata, sebab kehadiran Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia tidak hanya hadir dalam pembelajaran agama Kristen, tetapi juga dalam interaksi pembelajaran bidang studi lainnya. Karena Allah adalah sumber pengetahuan, maka guru patut membawa anak didiknya dalam doa supaya mata hati, jiwa, emosi dan pikirannya dibuat cerdas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here