Mengenal Eva Kristiaman: Menulis dengan-Nya

0
69

Kesenangan dan bakat menulis sudah dirasakan Eva Kristiaman (Eva) sejak duduk di bangku SMP-SMA di kota Batu. Mengikuti lomba puisi dan mengisi majalah dinding sejak remaja membuat Eva saat ini seakan manunggal dengan dunia tulis-menulis. Pelbagai pelatihan dan loka karya penulisan dan penerbitan lokal maupun internasional pernah diikutinya, membuat tulisannya dikenal pula secara international sebagai tulisan yang muncul dari hati.

Di tengah kesibukannya merawat ibu kandung dan menangani pesanan makanan lezat sehat, BERKAT mewancarai jarak jauh Eva, seorang penulis yang sekarang tinggal di Merrylands, Sydney, Australia.

Tinggal berdua di sebuah paviliun sewa dengan ibu kandungnya sekaligus merawatnya, tidak membuat Eva kelabakan dan tidak sempat menangani hal-hal lain. Bahkan beberapa bulan terakhir ini Eva melayani rantangan khusus healthy tasty food yang cocok bagi penyandang diabetes dan lansia. Jangan dipikir kalau wira-usaha rantangan sesuatu hal yang sederhana dilakukan seperti di Indonesia. Untuk memulainya Eva harus mengikuti pelatihan yang disediakan pemerintah bagi mereka yang akan berusaha di bidang tertentu. Berbagai aspek dipelajari dalam pelatihan itu. Pelatihannya cukup ketat dan lengkap serta benar-benar berguna bagi mereka yang akan memulai usaha sendiri.

Setelah selesai dan mendapatkan sertifikat kelulusan, barulah boleh mulai berusaha. Usaha yang dilakukan memang hanya dipasarkan terbatas pada teman-teman gereja, kenalan-kenalan dekat, yah kenalan dekat di sekitar ring satu sampai satu-setengah lah, ga jauh-jauh. Usaha ini bersifat total action loh. Apa maksudnya? Mulai dari menentukan menu yang akan dimasak dan harganya; belanja bahan pangan; menyiapkan bahan untuk dimasak, memasak; memasukkan dalam wadah dan mengirim pesanan dengan kendaraan umum, dilakukan Eva sendiri. Total action benar-benar kan?

Eva lahir dan dibesarkan di kota wisata Batu, Jawa Timur. Lahir di sebuah keluarga kecil, sederhana dan mencintai Tuhan. Ayah ibunya setiap menjelang makan malam mengajak keluarga kecil ini membaca firman dari Saat Teduh, berdoa dan menyanyikan lagu hymne. Kemampuannya berwira-usaha sangat mungkin diwarisi dari orang tuanya, yang produsen dan penjual kripik kentang khas Batu. Ini makanan yang huenak pol dan menjadi oleh-oleh khas dari Batu (Batu ya, bukan batu…). Kalau kita cocok rasanya, bisa-bisa kripik kentang kemasan 250 gram ludes dalam sekejap. Karena kepindahan orang tuanya ke Australia, usaha ini tutup dan resep kripik kentang telah dijual.

Jemaat ke Jemaat

Eva mengawali tugas pelayanannya kepada dunia anak-anak di GKI Temanggung, Jawa Tengah pada 1995. Di jemaat ini Eva khusus melayani Komisi Sekolah Minggu (SM). Beberapa hal yang dilakukannya; pelatihan dan membantu para guru sekolah Minggu dan pengurus komisi dalam menjalankan pelayanan mereka. Juga memberikan bimbingan rohani pada orangtua, anak-anak dan guru Sekolah Minggu. Tahun 1996 Eva pindah ke Jakarta dan bekerja di PPA sebagai staf dan juga pelatih untuk Pelayanan Anak. Di samping itu juga mengadakan pelatihan bagi guru-guru senior Sekolah Minggu dari pelbagai denominasi di Jakarta.

Balik kampung ke Jawa Timur, pada 1997 Eva dipanggil oleh GKI “Emaus” Surabaya untuk membina Sekolah Minggu di jemaat tersebut. Mengadakan persiapan dan pelatihan untuk guru-guru SM, memberikan bimbingan rohani kepada orangtua anak SM, anak-anak SM dan juga guru-guru SM. Keterampilannya dalam menceritakan kisah-kisah Alkitab, berkhotbah dan memberikan Pemahaman Alkitab semakin melengkapi pelayanannya di jemaat tersebut. Sampai 1999 Eva melakukan karya layanan di jemaat ini. Kecintaannya pada dunia anak membuatnya semakin maju, lengkap dan mendalam dalam memberikan bimbingan.

Ke Jakarta Aku kan Kembali

Pada 2001 Eva bergabung dengan “KiTa”, majalah rohani bulanan untuk anak-anak yang diterbitkan dan beredar di Jakarta. Eva bertindak sebagai Managing Editor, penulis dan penerjemah sekaligus penyunting artikel untuk saat teduh harian. Juga mengkoordinir ilustrasi dan disain bagi setiap penerbitan “KiTa”. Mirip dengan tugas kepala koki di sebuah restoran. Buku “KiTa” yang diterbitkan harus terdiri atas bahan-bahan yang terpilih, dimasak dengan benar, matang dan “enak” dimakan anak-anak, cocok dan membuat anak-anak mendapatkan gizi yang cukup. Kiatnya dalam merancang dan memasarkan “KiTa” membuat tiras majalah tersebut naik berlipat, dari 1.500 exp menjadi 3.000 exp. setiap terbitannya.

Karya layanan Eva di dunia anak semakin lengkap dan menyeluruh. Eva menjadi host acara radio untuk anak-anak “Ananda Bahagia” pada radio Pelita Kasih, radio swasta Kristen di Jakarta. Selain memberikan materi yang sudah direkam sebelumnya, setiap Minggu Eva siaran langsung dan berinteraksi dengan anak-anak. Pendengar acara ini mencapai sekitar 6.000 anak-anak. Jumlah yang besar untuk ukuran sebuah acara rohani anak-anak di radio, sekaligus pertanda nyata dunia anak-anak memang nancep di sanubari Eva. Pada siaran Minggu itu juga diadakan kuis dengan hadiah Majalah “KiTa”. “KiTa” menjadi semakin dikenal, digemari dan dicari anak-anak.

Eva juga mulai memasarkan majalah-majalah edisi lama yang numpuk di gudang. “KiTa” sebenarnya bisa dipakai berulang karena bukan majalah berita, isinya tidak pernah basi. Maka dijualah dalam bentuk paket/gabungan berisi beberapa majalah sekaligus. Paket ini juga laris manis dengan harga baik. Sehingga dalam beberapa bulan saja, gudang telah bersih dari majalah “KiTa” lama. Bentuk karya-layanan Eva tidak hanya dalam menerbitkan dan memasarkan majalah rohani anak-anak saja. Di “KiTa” Eva juga mengadakan persekutuan doa untuk seluruh staf, karyawan bahkan juga kontributor atau relasi yang mau hadir.

Ke Jemaat lagi

Eva mengakhiri tanggung jawabnya di “KiTa” sebagai Managing Editor di tahun 2002. dan di akhir tahun yang sama Eva bergabung sebagai tenaga paruh waktu di GKI Taman Aries , Jakarta. Tugas utamanya tetap membina Komisi Sekolah Minggu. Beberapa hal yang dilakukannya; pelatihan dan membantu para guru SM dan pengurus komisi dalam persiapan dan menjalankan pelayanan SM mereka. Juga memberikan bimbingan rohani pada orangtua, anak-anak dan guru SM. Keterampilannya dalam menyeritakan kisah-kisah Alkitab, berkotbah dan memimpin Pemahaman Alkitab melengkapi pelayanan Eva.

Walau melayani secara resmi di sebuah jemaat, Eva tetap tertaut dengan dunia penulisan. Suatu hari Eva ke Bandung menemui Mary Jane, seorang misionari yang bekerja sebagai komunikator dan dosen di sebuah seminari Alkitab. “Eva agar kontak H.A. Oppusunggu, Direktur Bina Kasih Press di Jakarta. Dia akan adakan pelatihan dan loka-karya untuk penulis” kata Mary Jane. Loka-karya dan pelatihan selama seminggu itu berjudul “Writing Children’s Stories” dan dipimpin oleh Larry Brook, pelatih penulis dari Media Associates International (MAI). Eva mengikuti acara itu (Maret 2002) dengan antusiasme tinggi, cocok banget dengan kebutuhannya.

Dari GKI Taman Aries, tahun 2005 Eva melangkahkan kaki karya layanannya di bidang SM pada jemaat GKI Samanhudi, Jakarta. Di beberapa kesempatan Eva juga memberikan pelatihan dan seminar bagi guru-guru SM dan juga melatih secara khusus 20 guru SM untuk menjadi guru-guru SM yang berkualitas baik. Dunia penulisan dan dunia anak-anak benar-benar ngoyot (Jw:berakar kuat) dalam dirinya. Kok bisa sih?

Penulis kehidupan

“Penulis kehidupanku menempatkan aku hadir di tengah keluarga kecil dan sederhana di Batu, Jawa Timur”, demikian Eva menulis tetang masa kecilnya. Eva masih ingat sekali saat kecil pun dia sudah sangat ingin membaca koran setiap hari karena ada cerita bersambung di halaman 3. Bacaan favorit Eva adalah “Si Kuncung”, majalah mingguan anak-anak yang sangat populer di era 60-70an (Anda pernah baca? berarti Anda sudah senior). Hari ini datang, 16 halaman Si Kuncung langsung disikat habis hari ini juga….

Ibunya dan kakak lakinya bertugas untuk pengadaan buku bagi perpustakaan SM di gereja kota itu. Siapa yang paling rajin membaca menghabiskan buku-buku itu semua? Ya si Eva kecil ini. Treasures of the Snow/Berani Mebembus Badai, The Chronicles of Narnia/Berkelana Di Narnia, The Pilgrims Progress/Perjalanan Seorang Musafir, danThe Jungle Doctor/Dokter Rimba Raya adalah sebagian buku klasik terjemahan yang sudah Eva baca habis. Eva juga mulai akrab dengan nama-nama David Livingstone, Corrie Ten Boom dan John Sung karena senang membaca biografi mereka. Beberapa buku penulis Kristen dalam negeri yang diterbitkan oleh penerbit Kristen juga menjadi santapan Eva.

Mungkin di antara pembaca juga pernah dibacakan cerita dari buku gede hard cover hijau? Betul, buku tulisan Anne de Vries itu berisi kisah-kisah Alkitab bergambar. Oleh mamanya sejak bayi (iya, bayi…) Eva sudah diceritakan kisah-kisah dalam buku itu, sampai kemudian Eva dapat membacanya sendiri. Rupanya kemampuan sebagai penutur cerita sangat dipengaruhi oleh mamanya yang juga seorang guru SM yang rajin. Suatu berkat Tuhan yang indah yang Eva syukuri. Nilai-nilai dan kebenaran Tuhan, bersamaan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dalam kisah-kisah tadi, buku-buku, koran dan majalah, semuanya memberi Eva dasar kokoh menjadi penutur kisah yang baik dan penulis seperti yang Tuhan kehendaki.

Kehidupan Doa

Papa Eva pada 1965 memproduksi raket bulutangkis dan tenis terbuat dari kayu. Usaha ini memang ramainya musiman, tidak rutin. Sampai suatu hari mama Eva berkata, “…kita sudah tidak punya uang, ayo kita berdoa minta kepada Tuhan”. Mereka sambil berlutut berdoa, mulai dari yang termuda bergilir sampai pada yang tertua. Eva masih berusia 5 tahun, adiknya 4 tahun dan kakaknya 9 tahun. Begitu kata “amin” selesai diucapkan papa Eva,  “teeet… teeet…” bel rumah berbunyi. Papa Eva yang membuka pintu menjumpai 2 orang India (Sikh) berdiri di depan pintu. Mereka memesan raket-raket cukup banyak dan saat itu juga langsung memberikan uang muka pesanan.

Peristiwa ini menjadi tonggak sangat penting dalam kehidupan Eva. “Mengetahui bahwa Allah dapat dipercaya dan Dia adalah Allah yang hidup, secara luar biasa selalu menyemangati aku saat menghadapi kesulitan. Sebuah peristiwa kairos yang memperkaya kehidupanku dan menjadi sumber yang tiada ternilai harganya bagi dunia penulisanku”, demikian pengakuan Eva.

Doa menjadi hal sangat penting bagi Eva sebagai penulis Kristen, dan Eva selalu meminta teman-teman dekatnya untuk mendoakan dia dan untuk tulisannya. Tuhan adalah sumber gagasan yang dibutuhkan saat Eva menulis. Dia menolong Eva untuk melihat, merasakan, membayangkan dan mengingat segala kenangan dan pengalaman yang dialami Eva. Tuhan memberikan gagasan, wawasan dan kata-kata yang tepat untuk tulisannya. Bahkan saat mengalami writer’s block (buntu ide) dimana orang lain tidak bisa menolong, Tuhan-lah yang dapat menolong Eva.

Biografi pertama

Saat mengikuti Littworld 2004 di Tagaytay Filipina, Eva berkonsultasi dengan Lawrence Darmani, pelatih dan penulis Kristen asal Ghana dan kontributor tetap Our Daily Bread. Penulis yang meraih penghargaan internasional ini seorang yang baik dan rendah hati. Darinya Eva berkesempatan mendapatkan cara yang akan membuat pembaca tidak bosan membaca sebuah biografi. “No, no, don’t make it chronological. Chronology is boring. Write short stories, and then sew it; sew it from story to story.” (Jangan membuatnya sebagai kronologi. Kronologi membosankan. Tulis cerita-cerita pendek dan kemudian kaitkan, kaitkan cerita satu dengan lainnya).

Suatu saat Eva mendapat tawaran dari seorang pendeta di Perth Australia untuk menulis biografi pendeta tersebut. Eva harus ke Perth 1-2 minggu untuk melalukan wawancara dan juga mencari pelbagai sumber bagi tulisannya. Biografi direncanakan akan diedarkan saat kebaktian emiritasi pendeta tersebut Juli 2013. Di Januari 2013, Eva mulai melakukan wawancara dan pengumpulan materi biografi. Banyak hal yang harus dilakukan, sehingga rencana peluncuran Juli 2013 tidak terpenuhi. Dalam prosesnya, ternyata Eva belajar, bahwa buku semacam ini harus diterbitkan tepat sesuai waktu Tuhan.

Dibutuhkan 10 bulan untuk menyelesaikan “BERANI BERBUAT BERANI BERTANGGUNG JAWAB” buku biografi Pdt. Em. Iwan Kosasih. Banyak hal baru muncul dalam penggalian informasi dan materi sehingga memerlukan beberapa konfirmasi. Buku berisi cerita pernik warna-warni kehidupan Iwan Kosasih, yang terangkai apik dan enak dibaca. Biografi ini kemudian diluncurkan pada Oktober 2013 di Jakarta. Eva sangat bersyukur mengikuti bimbingan Tuhan, karena bila memaksakan diluncurkan bulan Juli, pasti akan timbul penyesalan bagi banyak pihak.

Setelah sekitar dua jam, BERKAT mengakhiri wawancara dengan Eva. Memang banyak hal yang belum tertuang dalam tulisan ini. Banyak sekali, jauh lebih banyak daripada yang tertulis. Melihat penyertaan luar biasa Tuhan yang Hidup dalam perjalanan kehidupan Eva, kita sungguh mendapatkan wawasan dan kekuatan baru tentang pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan anak-anak-Nya. Terpujilah Dia kekal selamanya. (Berkat/yahud)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here