Servant Leadership Conference 2017: Mengapa Melayani?

0
199

Surabaya, 1 Desember 2017. Ratusan anak muda dari pelbagai denominasi gereja memadati ruang ibadah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Residen Sudirman Surabaya untuk mengikuti Servant Leadership Conference 2017, disingkat SLC17. SLC ini hadir dari kerinduan melihat anak-anak Tuhan mau melayani dengan passion dan antusiasme tinggi untuk memberikan yang terbaik bagi pelayanan mereka.

Acara yang bernuansa anak muda banget ini dibagi dalam dua kegiatan, seminar dan KKR. Pujian dan penyembahan mengawali dibukanya seminar yang digelar awal bulan Desember 2017 tersebut. Meski acara ini diadakan atas inisiatif anak-anak muda GKI, namun dari 250 orang yang hadir tidak semuanya dari GKI, mereka datang dari pelbagai denominasi gereja, antara lain Gereja Bethany, GBI, GBT, Gereja Mawar Saron, GPIB, GPPS, HKBP, bahkan ada dari Gereja Kristen Injili di Papua. Jika ditotal ada 68 gereja.

Christian Aditya, selaku ketua panitia mengungkapkan mengapa acara ini digelar. “Ketika kita hadir di dunia ini kita mau berdampak, karena itu kita harus punya motivasi yang benar tentang kehidupan dan tentang melayani Tuhan. Dan ketika kita tahu melayani yang benar, tahu dasar yang benar, maka kita bisa menjadi pribadi yang berdampak,” tegasnya.

Sementara Pdt. Timotius Wibowo lewat renungan singkatnya memberikan dasar-dasar dalam pelayanan. Mengapa melayani? Itulah pertanyaan yang dilontarkan pendeta GKI Residen Sudirman tersebut kepada peserta seminar. Jika melayani supaya diberkati, dapat dipastikan akan berakhir dengan kekecewaan. Melayanilah sebab kita sudah diberkati.

Alasan lain mengapa melayani, yaitu sebagai aktualisasi diri dan eksistensi sosial. Namun, dari semua itu hal terpenting dalam melayani adalah dilakukan dengan kasih kepada Kristus. “Melayani adalah konsekuensi logis dari hubungan kita dengan Tuhan.”

Pak Tim, demikian panggilan akrab Pdt. Timotius Wibowo juga mengingatkan, jangan sampai karena keasyikan melayani lantas melupakan hubungan kita dengan Tuhan. Seperti dilakukan kaum ateis, mereka bersekutu, bersorak-sorak bernyanyi, dan saling menopang satu sama lain layaknya sebuah gereja, tetapi tidak ada Tuhan di dalamnya.

Dalam melayani haruslah didasarkan pada hukum kasih. Baik kekuatan (Ulangan 6:5), maupun akal budi (Matius 22:37) merujuk pada hal yang sama, yaitu pengendalian diri. “Karena itu adalah mustahil untuk mengasihi Allah tanpa kesediaan untuk mengendalikan diri,” tutup Pdt. Timotius.

Melayani Sebagai Jati Diri

Josept K., inisiator GKI Summer Camp dan Temu Raya Pemuda GKI, yang merupakan salah satu pembicara di acara ini berbagi pengalaman sekaligus memberikan motivasi bagaimana melayani sebagai anak-anak Tuhan. “Melayani bukan sekedar tindakan tetapi identitas,” ungkapnya.

Kaum muda dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah di dunia. Ini berarti Allah memiliki misi untuk menyatakan kerajaan-Nya di bumi. Sedangkan kepemimpinan berhubungan dengan karakter, jiwa dan kepribadian.

Jadi menjadi pelayan bagi Kristus berarti kita dituntut untuk tidak mementingkan diri sendiri, tidak mencari pengakuan, melakukannya dengan rendah hati, dan taat pada panggilan-Nya. Begitu juga dengan kepemimpinan menurut Kristus. Kepemimpinan berarti memberdayakan murid-murid-Nya, menyatakan kebenaran, visioner transformatif, dan taat pada panggilan-Nya.

Pembicara lain yang turut berbagi pengalaman serta memberikan motivasi bagi anak-anak muda gereja, yaitu Billy Simpson, anak muda berbakat yang melayani Tuhan sebagai Singer-Songwriter JPCC Worship. Diakhir seminar diisi dengan diskusi kelompok dan talkshow yang dipandu panitia, banyak pertanyaan menarik yang dilontarkan peserta seminar kepada ketiga pembicara.

Sedang pada acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang digelar malam harinya, diisi sharing oleh drumer terkenal Indonesia, Echa Sumantri, dilanjut ibadah yang dipimpin Pdt. Martin dari GKI Bondowoso.

Butuh sebuah proses untuk menjadi pelayan Tuhan, dan proses tersebut bukan instan tetapi kesiapan diri dalam kasih dan ketaatan untuk dibaharui terus menerus. Bagi kita kesediaan dirilah yang dituntut Tuhan hingga kita siap menjadi rekan sekerja Allah dalam pelayanan. Siapkah Anda? (john/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here