Sudahkah Gereja Melakukan Pemuridan?

0
98

Salah satu krisis dalam pemuridan masa kini adalah krisis kedangkalan terhadap pemahaman Firman Tuhan. Pergumulan untuk menghasilkan murid-murid dengan kedalaman pemahaman dan kecintaan terhadap Firman Tuhan ini adalah hal kritis yang harus diperhatikan pemimpin gereja masa kini. Hal ini berhubungan dengan kurang jelasnya pemahaman tentang bagaimana membaca dan memahami Alkitab secara benar. Mengalami Kristus dalam pembacaan Firman Tuhan adalah vital dalam pemuridan masa kini.

Menghadapi krisis tersebut, inilah waktunya gereja-gereja Tuhan serta semua unsur yang ada di dalamnya melakukan sebuah gerakan, bagaimana membangun murid-murid Kristus yang berpusat pada Firman Tuhan.

International Disciple Making Churches Conference atau konferensi IDMC adalah suatu seri konferensi tentang bagaimana suatu gereja atau organisasi Kristen dapat menjalankan misi Tuhan Yesus secara efektif melalui strategi pemuridan bersengaja yang alkitabiah. Konferensi ini membahas prinsip-prinsip penting pemuridan, juga membahas kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan gereja dalam melakukan pemuridan serta langkah-langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh gereja dalam melakukan pemuridan yang benar.

Awalnya konferensi ini dimulai oleh Rev. Edmund Chan seorang pastor visionary dari Covenant Evangelical Free Church (CEFC) di Singapura pada tahun 1995. Selanjutnya dilaksanakan tiap tahun di Singapura dengan jumlah peserta yang terus bertambah.

CEFC sendiri adalah sebuah gereja yang telah menerapkan pemuridan sebagai misi utama gereja serta menjalankannya dengan setia. Tuhan memberkatinya menjadi salah satu gereja dengan pertumbuhan yang sehat dan cepat di Singapura. Didirikan tahun 1978 dengan hanya 17 orang sebagai anggota pertama. Namun, di tahun 2018 karena kesetiaan melakukan pemuridan dan kasih karunia Tuhan, maka mereka telah bertumbuh menjadi jemaat dengan jumlah kehadiran lebih dari 6.000 orang dengan tiga pusat ibadah.

Dalam rangka Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus. Konferensi ini tidak hanya diadakan di Singapura tetapi CEFC telah bekerjasama dengan beberapa gereja di pelbagai negara seperti di Filipina, Malaysia, Thailand, Indonesia, Jepang, Australia dan beberapa negara di benua Afrika dan telah menjadi berkat bagi puluhan ribu pemimpin gereja di dunia untuk melaksanakan Amanat Agung Kristus.

IDMC 2018 yang digelar di Grand City Conference and Expo Center Surabaya pada 23-24 Maret 2018 ini, adalah konferensi pemuridan keempat yang merupakan kelanjutan dari konferensi pemuridan sebelumnya. Adapun pembicara yang dihadirkan, antara lain Rev. Edmund Chan, Rev. Dr. Peter Tan-Chi, Rev. Tony Yeo, Ps. Sharon Fong dan Felix Wong, Pdt. Yakub Tri Handoko, Hartono Sugianto, Benny Pattinasarane, dan Kresnayana Yahya.

Setelah membahas tentang, “murid seperti apakah yang seharusnya kita hasilkan” pada IDMC 2015, kemudian membahas “bagaimana cara melipatgandakan murid yang otentik” di tahun 2016. Selanjutnya IDMC 2017 mengambil tema “Cultivating Your Inner Life”, yang membahas bagaimana sebagai murid Kristus dapat menumbuhkan kehidupan batiniah kita. Maka IDMC 2018 dengan tema “Getting Into The Word” ini bertujuan mengajak peserta dapat membaca Alkitab secara benar.

Bukan itu saja, konferensi yang dihadiri sekitar 2.900 orang ini mengajak semua peserta dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus melalui pembacaan Firman Tuhan. Bagaimana membaca Firman Tuhan bukan sekedar membaca suatu buku, tetapi bagaimana Firman itu menjadi hidup sehingga menimbulkan perasaan yang “Woow” karena kita berjumpa dengan Allah yang hidup.

Siapa saja yang boleh mengikuti konferensi ini? Disamping pendeta dan hamba Tuhan, majelis jemaat atau penatua, aktivis gereja atau pengurus komisi, pemimpin kelompok sel, pemimpin organisasi kerohanian Kristen, dan guru-guru sekolah Kristen. Konferensi ini juga ditujukan untuk semua orang Kristen yang ingin mengalami pertumbuhan spiritual mendalam, dan ingin membantu orang lain untuk bertumbuh menjadi murid Kristus yang memiliki kedalaman relasi dengan Tuhan.

Karena itu, dalam konferensi ini panitia menyediakan bea siswa bagi sekitar 500 hamba Tuhan dari daerah, guru-guru Kristen, pemimpin pelayanan sekolah dan kampus, mahasiswa sekolah teologi dan mahasiswa Kristen.

Sebagai Penyelenggara acara tahunan ini dilaksanakan oleh panitia pelaksana yang merupakan kerjasama antara BAMAG Surabaya, GKI Pregolan Bunder, GKKAI, GKKK, GKA Gloria, GKA Elyon, GBI Diaspora dan Covenant Evangelical Free Church – Singapore. Selain itu, juga melibatkan beberapa tokoh dan aktivis gereja di Surabaya, seperti Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Kebangunan Kalam Allah Indonesia (GKKAI), Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK), Gereja Kristen Abdiel (GKA), Gereja Bethel Indonesia (GBI), Gereja Kristus Tuhan (GKT), Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK), Gereja Mawar Sharon (GMS), Morning Star Church, dan Surabaya City Blessing.

Rev. Edmund Chan saat membawakan salah satu sesi di IDMC 2018

Pada salah satu sesi yang dibawakan Rev. Edmund Chan dengan pokok bahasan “Building Word Centered Discipleship”, di situ diungkapkan tentang bagaimana menanamkan kesukaan, kesetiaan, dan kedisiplinan pada Firman Tuhan.

Selanjutnya, pria yang aktif dalam kegerakan pemuridan di gereja-gereja tersebut menegaskan, bahwa Alkitab bukan hanya berisi pesan, tetapi sebuah perjumpaan dan bagaimana kita melihat Allah. Tidak hanya mengetahui, tetapi mengenal Allah. “Jangan ikuti pola, ikuti prinsipnya yaitu berjalan bersama Allah. Menyerahkan agenda pribadi kita, murid yang berpusat pada Firman, berjalan bersama Allah, berjalan dalam kemenangan, dan punya sejarah iman dalam hidup bersama Allah,” lanjutnya.

Lima hal yang harus dimiliki seorang murid Kristus, yaitu mengembangkan pertanggungjawaban dalam Firman Tuhan, mengetahui keuntungan apa dalam menyelami Firman Tuhan, memiliki satu jalur tindakan tertentu, kedisiplinan, dan pemberdayaan. “Bagaimana membangun murid yang berpusat pada Firman Tuhan dengan gairah dan kesukaan kita akan Firman Tuhan dan itu akan menular,” imbuh Edmun Chan yang telah menulis banyak buku itu.

Antusiasme peserta IDMC 2018

Antusiasme peserta pada konferensi ini sangat tinggi, terbukti mereka mengikutinya penuh semangat sejak awal hingga akhir acara. Sebab selain sesi-sesi yang dibawakan sangat menarik, juga ada pelbagai lokakarya dengan beragam tema, antara lain pengambilan keputusan untuk para pemimpin Kristen. Berbagi Firman Tuhan kepada para skeptis, menghidupkan Firman Tuhan dalam keluarga. Sumber daya untuk memuridkan generasi yang akan datang, dan potret kemuridan Kristen di Indonesia dan bagaimana menyelamatkannya.

Di sesi workshop bertema “Living Out The Word in The Family” yang dibawakan Ps. Sharon dan Felix Wong, audiens diajak untuk menghidupi Firman dalam keluarga. Ada pelbagai cara yang diungkap pasangan yang telah 15 tahun menikah ini, antara lain relasi adalah kunci menentukan untuk menghidupi Firman, yaitu relasi dengan Allah, relasi antara suami dengan isteri, relasi dengan anak-anak kita.

Bagi keluarga yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, harus segera memutuskan untuk terhubung kembali satu sama lain, caranya dengan memutuskan “jebakan” kesibukan kita, dari pekerjaan dan media sosial. Cara lainnya adalah terhubung satu sama lain dalam percakapan.

Saat sesi workshop dengan tema “Living Out The Word in The Family”

Hubungan adalah kunci bagaimana kita menghidupi Firman Tuhan, karena itu luangkan waktu satu dengan yang lain, waktu membaca Alkitab bersama-sama, waktu untuk berdialog dengan anak-anak. Memuridkan berarti membicarakan Firman Tuhan terus menerus dan dimana saja. Dan itu dilakukan sebagai keluarga, sebab gereja dan keluarga haruslah berpartner.

Mari menghidupi Firman di dalam keluarga dan meninggalkan warisan rohani. Jangan hanya meninggalkan harta pusaka, tinggalkan juga warisan rohani.

Di waktu terpisah BERKAT mewawancarai Ketua Umum Badan Musayawarah Antar Gereja (BAMAG) Surabaya, Pdt. Dr. Sudhi Dharma, M.Th. terkait dengan IDMC 2018 ini. Menurut Sudhi Dharma, acara ini adalah sebuah berkat bagi gereja, karena kita seperti disadarkan kembali tentang peran utama gereja, sehingga potensi, energi, waktu yang dimiliki gereja tidak hanya dipakai ke dalam. Tetapi dengan adanya IDMC, pemuridan itu disadarkan untuk mulai bergerak.

Pdt. Sudhi Dharma bersama salah satu pembicara, Rev. Peter Tan-Chi

Lebih lanjut hamba Tuhan GBI Diaspora ini mengomentari, bahwa materi yang diberikan benar-benar aplikatif, sesuatu yang tidak sulit ditangkap dan dikerjakan. “Saya menilai materi ini bukan hanya memperlengkapi hamba Tuhan tetapi memperlengkapi jemaat, menyadarkan jemaat sehingga bisa jadi akan mengeliminir pandangan jemaat terhadap gereja yang sudah aktif melakukan pemuridan-pemuridan itu,” paparnya.

Selanjutnya konferensi ini menjadi kesempatan untuk terbukanya ‘tembok-tembok’ gereja. Karena kecurigaan antar gereja akhir-akhir ini masih cukup tinggi, maka itu dengan adanya acara ini kecurigaan tersebut bisa di eliminir. “Waktunya gereja untuk tidak diam melihat Indonesia, apalagi kalau melihat pada Amanat Agung. Sebuah momentum bahwa inilah waktunya Tuhan, gereja dapat kembali pada panggilannya,” pungkasnya. (john/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here