Mengutuk “Sorga” Yang Menjadi Biang Teror

0
52

Sungguh menyesakkan ketika mendengar bencana kemanusiaan meledak di Minggu Paskah VII, 13 Mei 2018. Bom bunuh diri menyeruak di Gereja SMTB Ngagel, GPPS Arjuna dan GKI Diponegoro, dan beberapa Gereja di Surabaya– yang beruntung, karena bom yang disusupkan berhasil diamankan sebelum meledak.  Belum reda hujan informasi di media tentang peristiwa Minggu pagi itu, malamnya terdengar berita ledakan di Rusunawa, Taman Sidoarjo, yang merenggut korban para teroris dan keluarganya sendiri. 

Terlepas dari kian banyaknya keprihatinan dan kecaman yang menyeruak karena jumlah korban yang ditimbulkan oleh terror ini, di benak saya terselip tanya yang tak bisa pudar, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa di balik ini semua? 

Sementara orang sibuk mengecam perilaku para teroris tersebut, saya justru miris dan prihatin dengan keadaan mereka. Bagaimana bisa sebuah keluarga yang nampak bahagia dan hidup cukup menunaikan aksi laknat yang menimbulkan daya rusak yang sedemikian besar dan menasional? Saya tak habis pikir: apa  yang sedang dikejar oleh  keluarga DO –  yang saleh itu? Ia punya istri cantik nan keibuan,  dua anak lelaki tampan dengan sorot mata cerdas, serta dua putri yang imut dan ceria. Namun semua kebaikan itu justru didedikasikan secara kompak untuk melakukan aksi yang mematikan. Mengapa ia sedemikian benci terhadap gereja hingga bekerja secara partisipatif bersama seluruh isi rumahnya untuk menghancurkan orang-orang Kristen? Mungkin memang gereja terlihat arogan, menjengkelkan dan menyakiti. Namun itu tak mungkin terjadi jika tidak ada dorongan yang dahsyat yang berkait dengan penghayatan spiritual tertentu. 

Tak ada seorang kepala keluarga yang ingin menjerumuskan keluarganya dalam kebinasaan. Tak ada orang tua yang ingin memusnahkan anaknya dalam aksi sia-sia. Namun ada banyak orang  rela melakukan apa saja demi apa yang ia yakini. Meski terkadang keyakinan itu menuntut tumbal yang melampaui suara nurani dan nalar yang waras, seseorang tetap melangkah dengan taat dan merasa terhormat. Mereka menghayati segala aktivitas ekstrim itu sebagai kebaikan yang berupah sorga. Maka  lahirlah tindakan radikal yang dilakukan dengan heroik. Menumpahkan darah secara halal. Menghancurkan peradaban dengan legitimasi spiritual, upahmu besar di sorga!

Memang sungguh menyedihkan, bahwa ternyata peradaban kita tak dihancurkan oleh para berandalan, melainkan oleh orang-orang saleh yang penuh ketulusan. Maka tanpa ragu saya berpendapat bahwa sesungguhnya para pelaku teror adalah korban. Mereka adalah orang-orang baik yang disesatkan oleh para provokator berjubah agama. Yang menciptakan ilusi tentang sorga yang melambai-lambaikan tangannya bagi para penumpah darah. Sorga yang menuntut pembayaran hidup yang penuh kebencian. Sorga yang menciptakan kehancuran di dunia. Sorga yang demikian telah menjadi barang dagangan para provokator.  

Ketika  semua pihak mengutuk aksi para teroris yang saleh itu, para provokator itu masih bebas berkeliaran, berkhotbah dengan ujaran-ujaran kebencian, membangkitkan kemarahan, mendelegitimasi pemerintah yang sah – dengan iming-iming sorga tentunya. Sejatinya mereka adalah penyesat yang sesungguhnya. 

Kini darah telah tertumpah, puing kehancuran telah tertimbun. Sebagian dari para korban penyesatan itu telah tewas. Sebagian lagi masih menunggu waktu untuk mengekspresikan keyakinan sesatnya – meski dalam kejaran aparat. Namun para penyesat itu justru melenggang di tempat-tempat terhormat, di media-media, instansi-instansi dan diperlakukan dengan hormat dan segan.

Memang terorisme tak punya agama. Namun membelokkan bahwa aksi terorisme hanya didorong motif politik adalah kenaifan yang sulit dicerna nalar. Kita tak boleh abai bahwa hasrat politis ini telah menggunakan doktrin-doktrin keimanan sebagai kendaraan terefektifnya? Karena itu saya menyerukan (entah didengar atau tidak): 

  1. Indonesia yang tersohor dengan toleransi harus zero tolerance terhadap ideology tertutup dan mengutuk ‘Sorga’ yang memecah belah  mengalalkan pertumpahan darah!
  2. Negara perlu tegas – jangan abu-abu terhadap segala doktrin yang mendompleng kekejaman Tuhan!
  3. Oleh karena itu politik yang membangkitkan kebencian harus dieliminir dari bumi pertiwi!
  4. Memanggil seluruh tokoh agama dan seluruh komponen bangsa untuk mengabdikan ajaran dan iman percayanya bagi kebaikan dan kesejahteraan bersama. Mari bergandengan tangan, bergotong royong meneguhkan iman yang melawan segregasi- yang menghancurkan perabadan!

 

Surabaya, Paskah VII 2018, 

Penulis: Pdt. Andri Purnawan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here