FBM Paparkan Program Kerja Di Acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Kebangsaan

0
116

Meski baru memasuki usia dua tahun, Forum Beda tapi Mesra atau biasa disingkat FBM ini telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain, wisata religi ke pelbagai tempat ibadah, melakukan bakti sosial bagi anak yatim piatu dan masyarakat kurang mampu, dan lain sebagainya. Hal ini tentu hasil dari kerja bersama pengurus maupun anggota FBM yang datang dari pelbagai agama dan kepercayaan.

Kali ini, dalam rangka kegiatan rutin bulanan, FBM bersama Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) mengadakan Halal Bihalal dan Silaturahmi Kebangsaan pada 16 Juli 2018. Acara yang digelar di Gedung Pondok Daud, Jalan Taman Prapen Indah Surabaya ini, selain dihadiri pengurus FBM dan pengurus BAMAG, hadir pula tokoh-tokoh lintas iman seperti, Prof. Sahid HM, Pdt. Simon Filantropha, I Wayan Suraba, dan Bingky Irawan. Sedangkan dari organisasi kemasyarakatan antara lain, Gusdurian, Roemah Bhinneka, INTI, dan PSMTI.

Ketua BAMAG Pdt. Dr. Sudhi Dharma, M.Th. sekaligus sebagai tuan rumah acara tersebut dalam sambutannya mengatakan, bahwa harapan kita terhadap FBM ini adalah punya tanggung jawab sebagai warga bangsa yang menyadari bahwa indonesia yang berbhinneka ini adaah satu kekayaan yang Tuhan percayakan pada bangsa ini. Namun, jika keragaman ini tidak terjaga maka akan menimbulkan masalah. “Nah, FBM diupayakan bisa memberi kontribusi kecil untuk bisa memelihara dan memanfaatkan perbedaan yang ada,” imbuhnya lebih lanjut.

Pada sesi berikutnya, dipaparkan tiga program kerja FBM ke depan yaitu pertama, pemberdayaan dan pengembangan Desa Tematik melalui pertanian; kedua, Jambore Pemuda Lintas Agama yang diharapkan menciptakan dan melahirkan agen-agen perdamaian, dan ketiga, membuat media cetak dan online sebagai media promosi, dokumentasi dan aktualisasi FBM.

Ketua umum FBM, Drs. KH. Ahmad Suyanto sedang memberi pemaparan

Di kesempatan itu, Drs. KH. Ahmad Suyanto sebagai Ketua Umum FBM menjelaskan arti dari silaturahmi. Menurutnya silaturahmi dibedakan menjadi empat macam. Pertama, silaturahmi keturunan yaitu kita semua sebagai keturunan Adam, bahwa beda adalah nyata tetapi rukun adalah keharusan. Kedua, silaturahmi Fikriyah yaitu mengutamakan penyamaan visi dan misi untuk membangun NKRI. Ketiga, silaturahmi jasmaniah yaitu saling menyapa, berjabat tangan, berangkulan dalam rangka mempererat persaudaraan. Keempat, silaturahmi batiniah yaitu silaturahmi yang harus dimiliki setiap hamba Tuhan.

Acara keakraban ini dilanjutkan kesan pesan, serta masukan-masukan ide dari para tokoh agama yang tentunya berguna bagi kebaikan masyarakat dan bangsa yang multi spektrum. Sebagai tamu kehormatan, Prof. Dr. H. Sahid HM, M.Ag., M.H melalui paparannya membuka wawasan kita tentang asal usul Halal Bihalal itu sendiri. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini menjelaskan, bahwa Halal Bihalal adalah budaya Bangsa Indonesia, bukan ajaran Islam, bukan ajaran Arab Saudi, Mesir, Iran, Irak maupun Libya.

Ketika presiden pertama Indonesia, Soekarno mengalami kekacauan politik pada masa itu, atas petunjuk seorang kiai besar maka diadakan pertemuan seluruh elemen masyarakat, kemudian dipakailah kata ‘halal bihalal’ dan ‘silaturahmi’. “Jadi halal bihalal di sini dalam rangka silaturahmi kebangsaan. Ini budaya bangsa!” tegasnya.

Perbedaan itu hanyalah yang insidentil, Islam pergi ke masjid, Kristen di gereja, Budha di vihara, Hindu di pura dan lain-lain, tetapi nilai kemanusiaannya sama. “Jadi, menyangkut masalah Kebhinnekaan, membangun sebuah kemesraan, perbedaan adalah keniscayaan, mari kita bangun silaturahmi dalam rangka memuji Tuhan Yang Maha Esa, kita berlindung kepada-Nya dengan penuh kasih Tuhan,” pungkasnya.

Selanjutnya mewakili umat Kristen, Pdt. Simon Filantropha mengawali sambutanya dengan mengungkapkan, bahwa ternyata hari raya umat Islam dirayakan oleh umat yang bukan Islam. Bukankah Kita patut berbahagia jika perayaan hari raya kita dirayakan oleh orang lain?

Hal kedua dipaparkan pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) tersebut adalah tentang peristiwa bom yang terjadi di Surabaya. Peristiwa bom itu mengajarkan kita bahwa yang namanya kenyamanan dan keamanan tidak bisa sendiri, tapi harus bersama sehingga membuat orang lain aman.

“Bahwa yang namanya perdamaian, persaudaraan, kedamaian itu bukan taktik, jangan jadikan taktik strategi tetapi jadikan cara hidup. Perdamaian, persaudaraan harus jadi cara hidup. Tidak cukup beda tapi mesra tetapi harus dirawat sehingga menjadi cara hidup kita,” lanjutnya.

Hal ketiga yang tidak kalah penting dan menjadi pembelajaran bagi kita adalah semboyan yang selalu diucapkan Presiden Jokowi, yaitu ‘kerja, kerja, dan kerja’. Artinya bahwa kegiatan seperti seminar, diskusi, rapat, ceramah, maupun kotbah hanya menghasilkan “alasan”. Tetapi kalau kerja akan menghasilkan “perbuatan”. “Karena itu mari kita bekerja, supaya dari kerja menghasilkan perbuatan. FBM bukan cuma diomongkan dan menghasilkan alasan, tetapi harus kerja dan menghasilkan perbuatan,” tutur Pdt. Simon diakhir sambutannya.

Usai penyampaian kesan dan pesan dari perwakilan Kementerian Agama Kota Surabaya, sambutan berikutnya oleh Romo Bingky Irawan dari Konghucu. Melalui ungkapan singkatnya Romo Bingky mengatakan, bahwa FBM ini harus kita pahami dan perlukan untuk kebersamaan. Yang berbeda hanya kendaraan tetapi yang sama adalah kasih. Melestarikan alam semesta melalui program Desa Tematik serta Jambore Pemuda Lintas Agama, akan menyatukan kasih untuk meneruskan bahwa Indonesia tetap menjadi Bhinneka Tunggal Ika.

Sedangkan Bante Tedja dari Buddha memberikan sebaris kalimat pendek yang mempunyai arti mendalam, yaitu bahwa sebaik-baiknya kata adalah doa, dan sebaik-baiknya doa adalah berbuat kebajikan.

Tak ketinggalan, tokoh dari Hindu I Wayan Suraba diakhir kalimat sambutannya mengatakan, bahwa yang paling penting dalam kehidupan ini adalah kebersamaan, kita berbeda tapi kita bersama sama. “Bagaikan sayap sulit menemukan pohon cendana dalam hutan, sulit menemukan mutiara dalam laut, sulit menemukan emas dalam gunung, tetapi semuanya ditemukan di sini,” ungkapnya.

Doa bersama dari pelbagai agama dan kepercayaan

Selain itu juga ada sambutan dan kesan pesan dari Iryanto Susilo mewakili Roemah Bhinneka sekaligus umat Katolik, serta Mardikin mewakili Aliran Kepercayaan. Acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Kebangsaan ditutup dengan doa bersama oleh tujuh orang tokoh yang mewakili tujuh agama dan aliran kepercayaan yang ada di Indonesia. (john/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here