Kuatkan Rasa Nasionalisme, Bendung Radikalisme

0
60

Salah satu cara paling mudah memecah belah kesatuan bangsa adalah aksi radikalisme. Aksi ini biasanya dibarengi dengan teror seperti peledakan bom bunuh diri yang terjadi di pelbagai tempat di Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan cara-cara yang jitu. Seperti apa?

Kawan-kawan Aliansi Pelajar Surabaya berkolaborasi dengan Gerakan Masyarakat (GeMa) Indonesia, dan Polrestabes Surabaya mengadakan acara nonton bareng (nobar) film “22 Menit” dan Dialog Kebangsaan. Film ini merupakan kisah nyata dari peristiwa bom yang terjadi di Jakarta pada 2016 lalu. Sebagai narasumber dari acara yang digelar di Lenmarc Mall Surabaya ini adalah Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan dan Suko Widodo selaku pakar komunikasi publik Universitas Airlangga Surabaya.

Nobar dan Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan pada 28 Juli 2018 tersebut dihadiri oleh para pelajar, guru, polri, dan pemuka agama dari pelbagai lintas agama. Bertindak sebagai moderator, seorang pelajar SMA yang mewakili generasi milenial, Aryo Seno Bagaskoro.

Melalui paparanya, Kombes Rudi Setiawan mengatakan, bahwa salah satu antisipasi menangkal radikalisme adalah dengan menumbuhkan semangat nasionalisme. Semangat ini harus ditumbuhkan terutama di kalangan generasi milenial yang sering dijadikan target kelompok-kelompok radikal.

“Rasa nasionalisme ini yang bisa membendung radikalisme. Tumbuhkan rasa nasionalisme di kalangan generasi milenial,” imbuhnya.

Selanjutnya Kombes Rudi mengungkapkan, bahwa langkah-langkah pencegahan terhadap radikalisme ini telah dilakukan jajaran Polrestabes Surabaya. Dialog-dialog dalam rangka memberi pemahaman menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga sudah dilakukan.

Sementara itu Suko Widodo yang juga Ketua Perhumas Surabaya menjelaskan, bahwa nasionalisme adalah kunci utama menangkal penyebaran virus radikalisme. Melalui rasa nasionalisme ini, kesatuan dan persatuan di tengah perbedaan bisa dimunculkan.

“Radikalisme muncul karena disebabkan banyak hal, antara lain interaksi antar bangsa yang kian meningkat, kurangnya kepercayaan terhadap pemerintah, serta kurang efektifnya pendidikan kebangsaan,” tegasnya.

Ketua Umum GeMa, Liza Kusuma juga mengatakan, nobar dan dialog kebangasaan ini bertujuan memberi pemahaman tentang berbangsa dan bertanah air yang baik dan benar. Bagaimanapun generasi milenial adalah ujung tombak bangsa Indonesia.

Tak ketinggalan, Aryo Seno Bagaskoro sebagai moderator dialog kebangsaan generasi milenial bersama polri yang juga ketua Aliansi Pelajar Surabaya, kepada BERKAT mengatakan, film ini sendiri bercerita tentang bahaya radikalisme yang apabila tidak ditangani sejak awal dapat mengakibatkan kerusakan pada sel-sel kebangsaan yang selama ini dibangun.

Polisi sebagai perangkat negara yang bertugas di bidang keamanan punya tanggung jawab besar menekan pengaruh-pengaruh tersebut. Kalau kata pak Suko, “jadi polisi itu berat, kamu nggak akan kuat.” Karena itu masyarakat selayaknya turut serta berperan dalam upaya-upaya menjaga keutuhan NKRI.

Dalam kegiatan kali ini misalnya, kami sengaja melibatkan banyak pelajar dan anak-anak muda sebagai panitia dan peserta acara untuk mempertegas komitmen kami mengajak sebanyak mungkin anak muda terlibat dalam gerakan kebangsaan.

“Hal ini sangat membanggakan karena di akhir acara, pak Kapolres berkenan untuk membantu menggerakkan semangat ini menjadi energy yang lebih berkelanjutan. Salah satunya dengan melakukan gerakan pasang bendera ke rumah-rumah menjelang peringatan Hari Kemerdekaan,” pungkas pelajar SMAN 5 Surabaya tersebut. (doc/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here