Kebersamaan Anak Lintas Iman

0
38

Dalam rangka memfasilitasi anak-anak lintas iman untuk meningkatkan kebersamaan dan saling menghargai, Kebersamaan Pembina Pelayanan Gerejawi (KEMBANG) Bidang Anak GKI Sinode Wilayah Jawa Timur menggelar acara dengan tema “Kebersamaan Anak Lintas Iman”.

Acara yang diselenggarakan pada 22 September 2018, di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder Surabaya ini bertujuan “mempertemukan anak untuk bermain bersama dan mengajak anak menghargai perbedaan”. Tema “Bullying” merupakan satu-satunya yang disampaikan di acara yang dihadiri oleh sekitar 70 peserta anak dari pelbagai lintas iman.

Adapun acara yang di inisiasi oleh komunitas hamba Tuhan non pendeta ini menghadirkan dua pembicara. Satu pembicara membawakan tema khusus untuk anak, dan satu pembicara lagi memberikan seminar yang ditujukan bagi para orang tua anak. Keduanya diadakan di ruangan terpisah.  

Dra. Ec. Enny Dewi, M.Th. berbicara dengan tema “Berteman Itu Asyik” yang menekankan kepada anak pentingnya mengetahui tanda-tanda pelaku bullying maupun korban bullying beserta penanganannya. Sedangkan Monique Elizabeth Sukamto, S.Psi., M.Si. menguraikan tentang “Waspada! Bullying di sekitar anak” yang dikemas dalam seminar parenting.

Sesuai tema nya, acara untuk anak lintas iman ini dibuat benar-benar mengasyikkan. Selain memberi pengetahuan kepada anak, juga banyak game-game menarik yang membuat betah anak untuk terus bermain, sebab permainan yang diberikan menuntut kerjasama dan kesepakatan hati antar anak. Tentu saja ada banyak souvenir dibagikan sebagai penyemangat serta apresiasi mereka.

Anak dan Perilaku Agresif

Setidaknya ada 3 macam tipe anak berkaitan dengan bullying yang dijelaskan oleh Enny Dewi, yaitu pem-bully, korban bully, dan pengamat. Bagi anak pembuli sebaiknya segera bertobat dan cari pertolongan; bagi korban bully segera bicara ke teman, orang tua dan guru; sedangkan tipe pengamat adalah mereka yang menolong pembuli dan korban kemudian menjadi teman yang baik.

Perilaku agresif yang melibatkan niat untuk menyakiti orang lain atau disebut dengan bullying ini bisa dilakukan dengan pelbagai cara. Misalnya secara fisik, yaitu memukul, menendang, menjambak, mencekek dan mengancam; secara verbal atau lisan, yaitu melalui kata-kata kasar dan kata-kata mengejek. Selain itu ada juga “cyber bully”, yaitu komen-komen tidak baik melalui media sosial. Adapun tujuan pem-bully adalah merendahkan korban dan membuat dirinya bangga.

 

Lima Bahasa Kasih

Setiap manusia mempunyai: depresi, ketakutan, dan kecemasan. Sedangkan kebutuhan manusia adalah dikasihi, dan dihargai. Karena itu ada 5 bahasa kasih yang membuat orang merasa dikasihi, yaitu: 1. Diberi hadiah, 2. Kata-kata pujian, 3. Melayani dan dilayani, 4. Disentuh, 5. Ditemani.

 

Lantas apa yang harus dilakukan? Kita harus menyadari bahwa “kamu dikasihi”; “bersyukur”; dan “temukan talentamu”.

Di akhir sesi Enny Dewi mengajak semua anak untuk menyadari bahwa kita semua berharga karena Tuhan.  Kalau penghargaan terhadap dirinya tinggi, maka akan menjadi tinggi hati dan sombong. Sebaliknya, kalau rendah diri maka akan minder. “Kita ini tidak sombong kalau punya, tidak minder kalau tidak punya,” pungkasnya.

Saling menghargai dan menghormati satu sama lain adalah kunci utama kebersamaan. Sudah sepatutnyalah sedini mungkin anak-anak dikenalkan dan diajak mengenal satu sama lain yang berbeda-beda ini menjadi kebersamaan, sehingga mengasilkan karya dan kerja membangun bersama bangsa yang berbhineka.

Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup dengan meletuskan balon secara bersama sebagai lambang membuang hal-hal yang tidak baik yang menghambat sebuah persahabatan, dan seperti balon pula, terkadang persahabatan mudah pecah meskipun kita telah hati-hati menjaganya. (doc/brkt).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here