Kejatuhan Seringkali Membuat Orang Putus Harapan. Ternyata Hanya 3 Hal Ini Jawabannya

0
125

45 menit sebelum keberangkatan Kereta Api jurusan Surabaya-Jogya. “Saya sudah tidak sanggup lagi mengahadapi kenyataan ini,” keluh seorang teman semasa SMA dulu. Putus asa, kecewa, dan hilang harapan terlihat di wajahnya yang nampak lebih tua dari usia sebenarnya.

Petang itu saya mengantarkan teman saya itu pulang setelah beberapa hari ada urusan di Surabaya. Lantunan lagu-lagu lawas dari penyanyi di Stasiun Gubeng turut mengiringi obrolan kami berdua. “Saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, dari tahun ke tahun seolah tidak ada perubahan apa pun.” ungkapnya dengan nada lirih dan tatapan mata menerawang.

Rupanya teman saya ini belum bisa menerima keadaannya sekarang ini. Dari apa yang diceritakan kepada saya, semuanya tentang kejatuhannya di masa lalu. Ya, dari orang yang pernah merasakan kejayaan sampai menjadi direktur sebuah perusahaan, kini hanya menjadi orang biasa yang tidak punya apa-apa. Kemajuan teknologi dan persaingan telah membuat perusahaannya gulung tikar.

Kebanyakan orang tidak mampu menghadapi kejatuhan. Dari mempunyai kedudukan tinggi, kuasa, fasilitas dan kekayaan berubah total karena tiba-tiba hilang begitu saja. Imbasnya pun sangat dahsyat, dari stres, putus asa, kecewa, tak berpengharapan, merasa tidak berharga, hingga keinginan mengakhiri hidup.

Kejatuhan semacam itu jauh lebih sakit dari apa pun. Orang lain menjadi tidak hormat lagi, kawan maupun sahabat mulai meninggalkannya, relasi menjauh, bahkan saudara sendiri mulai tidak menganggap lagi keberadaannya.
Jika melihat kondisi tersebut, 3 hal ini bisa menjadi solusinya:

1. Menerima Kenyataan Bahwa yang Terjadi Adalah Rencana Terbaik Dari Tuhan

“Tuhan, kenapa kok harus saya yang mengalami hal seperti ini? Sampai kapan saya harus begini?” Itulah kalimat yang sering terlontar dari orang yang mengalami kejatuhan dalam hidupnya. Ada protes yang ditujukan pada Tuhannya, kalau sudah begitu cenderung menuntut pemulihan secepatnya dari Tuhan tanpa belajar menangkap maksud dibalik semua itu.

Bukankah di setiap kejadian pasti ada hikmat Tuhan yang harus kita tangkap? Terkadang seolah Tuhan tidak mendengarkan doa kita, tetapi sebenarnya Ia sedang mengerjakan sesuatu bagi hidup kita yang lebih baik. Namun, seringkali manusia hanya mengukurnya dari jabatan dan kekayaan yang telah diraih.

Nilai hidup tidak hanya diukur dari hal-hal duniawi semacam itu, tetapi lebih kepada kualitas dan iman percaya kita kepada Tuhan.

Saya hanya bisa menguatkan teman saya tersebut jika semua yang terjadi adalah rencana terbaik dari Tuhan. Pasti ada maksud baik dari semua itu, hanya saja kita belum mengetahuinya. Menerima kenyataan dan berusaha berdamai dengan masalah yang dihadapi adalah hal bijak yang harus dijalani.
Pertolongan Tuhan akan terjadi justru ketika kita mau mengakui serta berserah sepenuhnya akan kuasa-Nya. Mengakui kelemahan dan keterbatasan kita di hadapan Tuhan akan membuat kita kuat menghadapi segala persoalan. Ingat bahwa yang kita andalkan adalah yang empunya kuasa atas hidup kita.

2. Tidak Mudah Putus Asa Karena Di Depan Pasti Ada Jalan Keluar

Saat berdoa tentu orang berharap bahwa doa yang dipanjatkan dikabulkan, bukan? Tetapi bagaimana jika doa itu belum terjawab? Itulah hebatnya sebuah doa, meskipun belum terkabul orang tetap terus melakukannya, mengapa? Karena ada keyakinan bahwa setiap doa yang dipanjatkan selalu ada pengharapan, meskipun pengharapan itu tidak bisa dipastikan kapan terwujud.

Prinsip doa ini menjadi alasan setiap orang tetap berpengharapan. Sebaliknya, orang yang tidak berpengharapan dan tawar hati akan sulit memanjatkan doa. Putus asa dan kekecewaanlah yang menjadi penyebab utamanya. Itu berarti lebih kepada bagaimana sikap kita menghadapi situasi itu.
Seperti kebanyakan orang, teman saya lebih memilih menyerah terhadap kejatuhan ketimbang berusaha memulai kembali dan berharap bahwa Tuhan pasti memberi pertolongan.

Terus berharap akan menjadi kekuatan kita menjalani hidup. Sebaliknya, putus asa malah membuat diri kita lemah, sulit bangkit kembali, padahal masih banyak peluang bisa kita lakukan. Seperti doa, teruslah dilakukan dan biarlah Tuhan sendiri yang bekerja.

3. Percaya Pada Kemampuan Diri dan Kemauan Untuk Terus Belajar

Kemampuan adalah modal utama kita yang harus terus diasah. Dan belajar terus menerus akan membuat kemampuan kita itu semakin meningkat. Carilah sebanyak mungkin referensi baik melalui bacaan atau pun mentor yang berkompeten di bidangnya.

Menyadari bahwa bidang pekerjaan apa pun tetap perlu belajar lagi agar hasilnya maksimal. Kejujuran serta ketekunan yang dilakukan terus menerus akan membawa pada kesuksesan sebenarnya. Jangan berorientasi pada hasil cepat tetapi dengan cara tidak benar. Yang terpenting kesungguhan diri serta kemauan melakukan yang berasal dari hati.

Orang kalah adalah mereka yang pada saat jatuh tidak berani bangkit kembali. Sedangkan pemenang adalah mereka yang selalu berusaha bangkit pada saat terjatuh.

“Orang yang berjalan maju dengan manangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mazmur 126:6)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here