Media Cetak Versus Media Online, Siapa Lebih Unggul?

0
35

Di saat istilah zaman now populer dan media daring (on-line) menguasai hampir seluruh kebutuhan informasi, baik berita maupun hal-hal lainnya, tak salah bila Majalah Berkat mengangkat tema Media Cetak di tengan Maraknya Media On-Line pada temu wicara (talk show) dalam rangkaian acara Tri Dasawarsa Majalah Berkat tahun 2018 ini. Acara yang diselenggarakan di GKI Emaus Jalan Argopuro Surabaya pada 14 Juli 2018 menghadirkan 4 nara sumber. Mereka: Willy Purwosuwito, M.A., M. Th. (Majalah Berkat), Pdt. Andri Purnawan S. Si. (GKI Darmo satelit Surabaya), Anom Surahno, S.H., M.Si. (Pemkot Surabaya) dan Fanny Lesmana M. Med. Kom.(pakar media dan komunikasi). Wouw… mantap nih.

Majalah Berkat mengundang utusan gereja-gereja di lingkup GKI dan di luar GKI, universitas dan sekolah Kristen, institusi-institusi yang terkait denga Berkat, lembaga Alkitab Indonesia (LAI), kontributor-kontributor Berkat, dan beberapa lembaga lain serta peroranganyang berkecimpung di dunia media. Tepat sekali tema yang diangkat, karena Berkat ingin mengetahui sejauh mana keberadaaanya saat ini dan di masa depan dan perannya apakah masih sama atau akan tergantikan dengan media daring. Banyak media cetak yang telah gulung tikar dan digantikan dengan media daring dengan nama yang sama. Ada  majalah Tempo, Jawa Pos, Kompas yang tetap muncul dengan versi cetak (oplahnya terus tergerus) dan juga versi daring.

Media cetak yang tutup lapak cukup banyak. Di antaranya; Sinar Harapan, Hai, Bola, majalah komputer Chip, TRAX (musik), Kawanku, tabloid Soccer dll.Di luar negri ada nama-nama beken yang tidak beredar lagi: Readers Digest, New York Time, Washington Post, Bloomberg Finance dll. Bagi media yang belum terlalu populer dan penghasilan dari iklan belum besar, masih mengandalkan pemasukan dari penjualan, tentu akanmenjadi berat sekali bila oplahnya tergerus setiap saat. Kalau ada orang meninggal kita memberikan ucapan Rest In Peace (R.I.P.) maka di media cetak juga populer istilah R.I.P. yang kepanjangannya Rest In Print. Walau banyak menderita, orang media cetak masih guyon juga…

Para Nara Sumber berkata…

Kembali ke talk…show…! Temu Wicara yag diadakan di lantai 4itu menyoroti Berkat dari berbagai aspek. Ayo kita ikuti saja… Diawali dengan paparan Willy Purwosuwito, M.Th, M. A. sebagai pihak yang aktif di Yayasan Berkat maupun di Majalah Berkat sejak awal terbit. Willy menegaskan tentang peran media Kristen sebagai PIPA (Pekabaran Injil – Pemahaman Alkitab) yang meneruskan Air Hidup kepada pembaca. Media Kristen juga harus memiliki visi sebagai corong Kabar Keselamatan di dalam Yesus, mempersatukan seluruh umat sebagai mitra kerinduan Yesus dan menjangkau masyarakat dari pelbagai kalangan (multi spektrum) seperti pelayanan yang Yesus lakukan.

Sebagai majalah yang lahir dari rahim GKI, Berkat mengikatkan diri pada Tata Gereja GKI, Mukadimah (Alinea 10) yang berbunyi: dalam kebersamaan yang dijiwai oleh Iman Kristen serta semangat persatuan dan kesatuan bangsa, GKI (Majalah Berkat) membuka diri untuk bekerja sama dan berdialog dengan gereja-gereja lain, pemerintah, serta kelompok-kelompok dalam masyarakat guna mengusahakan kesejahteraan, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka tak heran, pada Berkat ada rubrik seperi lintas agama dan budaya, gereja dan masyarakat, lintas ekumene. Berkat tidak asing mengunjungi gereja-gereja lintas denominasi, mewancarai tokoh-tokoh Katolik, tokoh non Kristen, ataupun meliput kegiatan dan rumah ibadah agama lain.

Pdt. Andri Purnawan sebagai nara sumber kedua, mengaku hanya sebagai pelanggan Majalah Berkat.Selain memaparkan hasil-hasil pengamatan tentang kemerosotan jumlah dan pembaca media cetak, Andi juga jeli melihat kekuatan media cetak. Kekuatan itu seperti; penulisan yang lengkap (5W+1H), penulisan yang dapat dipercaya karena terverifikasi setelah melalui penyuntingan yang baik, konsumen yang loyal pada usia di ats 35 tahun. Andi mengusukan agar Majalah Berkat: menerbitkan aplikasi on-line untuk memuat berita yang bersifat reportase tanpa serta merta meninggalkan versi cetaknya.

Menyajikan materi-materi yag berbobot dengan masa edar sepanjang waktu (life time). Seperti opini, refleksi analitis, biografis dan edukatif.

Anom Surahno sebagai nara sumber berikutnya melihat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 134 Juta (data 2016) dengan komposisi usia dan prosentase pengguna : 55 tahun 10% (13,2juta), 45-54 tahun 18% (23,8juta), 35-44 tahun 29,2% (38,7juta), 25-34 tahun 24,4% (32,3juta) dan 10-24 tahun 18,4% (24,4 juta). Angka yang sangat besar dan menggambarkan perkembangan pemakai internet di masa-masa mendatang. Anom menambahkan bahwa media cetak tetap dapat survive asalkan :

Mempertahankan diri sebagai media dokumentatif dengan berbagai keunikannya, mengubah diri dari media pemberita kejadian (street-news) ke media pemaparan mendalam (depth-news), memperhatikan pola lay-out poster (eye catching dan informatif) dan membentuk komunitas.

Fanny Lesmana yang berpengalaman luas mengelola media Kristen tetap melihat pentingnya media cetak Kristen sebagai media bersifat literasi bagi pembacanya. Masalahnya, pembaca di gereja maupun di Indonesia memiliki ketertarikan literasi yang sangat rendah. Bila diperingkatkan, kita menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Selain itu, dikotomi antara bacaan rohani dan bacaan umum, menyebabkan pembaca agak menjauhi majalah rohani.

Berkat yang isinya bervariatif diharapkan bisa menjembatani hal ini sehingga tetap menjadi bacaan yang disukai anggota gereja. Tantangan lain adalah dari generasi milenial, generasi tanpa literasi media, generasi yang enggan melakukan verifikasi dan enggan memahami hal yang dianggap dalam dan rumit seperti bacaan yang panjang, yang biasa terdapat pada media cetak.

Moderator temu wicara Desemba Titaheluw membuat acara berlangsung lancar dan menyenangkan. Sekitar 30 peserta hadir sore itu.

Perwakilan LAI memberikan tanggapan bahwa kemerosotan jumlah dan pembaca media cetak banyak dijumpai di kota-kota besar Indonesia. Dia juga menipis berbagai perkiraan bahwa LAI tidak akan mencetak Alkitab lagi dan tutup. Alkitab dan juga buku atau majalah cetakan masih sangat dibutuhkan di desa-desa dan di pelosok tanah air ini. Bahkan ada banyak penduduk Kristen yang belum pernah melihat apalagi memiliki dan membaca Alkitab. Setiap tahun permintaan Alkitab pada LAI selalu tinggi untuk dibagikan ke penduduk Kristen di seluruh Indonesia. (doc/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here