Mencetak Generasi Toleran Yang Bisa Menjadi Agen Perdamaian

0
92

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. (Soekarno)

Ungkapan Soekarno di atas adalah tentang kekuatan sebuah persatuan, sebab tanpa persatuan akan sulit mewujudkan sebuah negara yang kuat, aman, makmur, maju, dan sejahtera. Tanpa persatuan niscaya mudah dijatuhkan oleh pelbagai macam provokasi, baik oleh faham-faham ekstrim yang sifatnya memecah belah, hingga maraknya berita hoax sebagai alat untuk menakut-nakuti.    

Biacara tentang toleransi, Indonesia merupakan negara yang sejak dulu identik dengan yang namanya toleransi, baik dalam hubungan lintas agama, budaya, suku maupun kehidupan sosial. Toleransi ini sudah menjadi nafas dan gaya hidup masyarakat Indonesia, sehingga sulit untuk dihilangkan begitu saja. Namun, kemudian muncullah faham-faham ekstrim yang merusak ideologi bangsa ini. Faham ekstrim tersebut masuk dan disusupkan kelompok-kelompok tertentu dengan kepentingan-kepentingan tertentu, akibatnya akan merusak sifat toleransi itu sendiri dan berusaha mengubahnya menjadi intoleransi.

Melihat keadaan yang makin jauh dengan ideologi negara serta tujuan dasar negara Indonesia yaitu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, maka Forum Beda Tapi Mesra (FBM) dan Forum Kebangsaan Jawa Timur bekerjasama dengan organisasi-organisasi keagamaan dan aliran kepercayaan yang ada di seluruh Jawa Timur, menggelar acara bertajuk “Jambore Pemuda Lintas Iman 2018. Acara dengan tema “Pemuda Lintas Iman Sebagai Agen Perdamaian dan Kesatuan NKRI” ini merupakan pertama kali diadakan di Jawa Timur.

Kegiatan selama 3 hari, dimulai tanggal 2 hingga 4 November 2018 tersebut bertempat di Asrama Dodik Bela Negara Rindam Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Adapun pesertanya antara lain dari Mahasiswa Pancasila (MAPANCAS), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jatim, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) Jatim, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Jatim, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Penghayat Sapto Darmo, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI), Baladhika Karya, Gerekan Pemuda ANSOR Surabaya, Ikatan Mahasiswa Bangkalan (IKAMABA), Pemuda Budhis, dan lain-lain. Semuanya ada sekitar 68 peserta.

Kegiatan jambore pemuda

Selama tiga hari peserta diberi pelbagai pembekalan wawasan kebangsaan, antara lain kesadaran bela negara dan kebhinnekaan, pembekalan bahaya radikalisme dan terorisme, penyuluhan anti narkoba dan penanganannya, kepemimpinan, toleransi beragama, tentang cinta kasih dan perdamaian, pemahaman Pancasila dan Ideologi Negara, dan lain sebagainya yang tentu berkaitan dengan bela negara. Karena itu panitia menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Wakil Komandan Resimen Induk (Rindam) V Brawijaya, Kol. Inf. Bambang Sujarwo; Kanit V Satintelkam Polres Malang Kota, Inspektur Polisi Dua, Lubis Ibroril Chosam; Wakil Komandan Dodik Bela Negara, Mayor Sumardi; Rektor Universitas Islam Raden Rahmat, Hasan Abadi; Ibu Hanna Amalia dari Pondok Kasih; dan Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, Dr. Budi Sukorilanto, M.Si. 

Tak hanya itu, di hari ketiga peserta diminta lebih mengenal lebih akrab satu sama lain melalui kegiatan outbond, kemudian dilanjut dengan melakukan kunjungan ke tempat-tempat ibadah seperti Masjid, Gereja, Pura, dan Vihara yang berada disekitar lokasi jambore.

Dalam acara pembukaan dilakukan penyerahan cinderamata oleh Ketua Umum FBM, KH. Ahmad Suyanto kepada Kol. Inf. Bambang Sujarwo sebagai Wakil Komandan Resimen Induk (Rindam) V Brawijaya. Kepada BERKAT, pak Bambang biasa di sapa mengatakan bahwa acara ini sebagai sarana untuk saling akrab, saling satu. Perbedaan janganlah ditonjolkan, tetapi harus disyukuri sehingga menjadi satu kesatuan. Acara seperti ini adalah salah satu bentuk menjalin kebersamaan.

“Ke depannya perlu dipikirkan bersama, perlu ditindaklanjuti hal seperti ini. Yang pasti kita menyatukan semua perbedaan, berkolaborasi satu sama lain. Apakah saat ini konteknya masalah agama, atau masalah suku dan lain-lain, tetapi perbedaan yang menjadi terbukanya konflik harus dieliminir. Diharapkan nanti mereka menjadi agen-agen perdamaian di mana mereka berada, baik di kampus, di tempat kerja, maupun di lingkungan masyarakat,” paparnya lebih lanjut.

Kolonel Bambang yang juga sebagai pembicara tentang materi “Kesadaran Bela Negara dan Kebhinnekaan” ini menambahkan, bahwa kegiatan ini merupakan suatu implementasi dari teori-teori yang ada. Salah satu bentuk yang dibangun adalah toleransi serta gotong-royong.

“Harapan ke depan, kegiatan jambore ini bisa merasuk jiwa generasi muda sebagai pilar bangsa. Mereka bisa menjadi agen perdamaian di mana mereka berada, implementasi dalam kehidupan sosial, dan praktik dilapangan lebih penting daripada sekedar slogan,” imbuhnya

Pemuda Sebagai Garda Negara

Sebagai penerus bangsa, kaum muda haruslah punya ideologi kuat terhadap negara yang berlandaskan Pancasila. Jangan sampai ideologi yang ada tersebut digantikan ideologi lain yang nampaknya baik, bahkan dengan doktrin yang menggiurkan para kaum muda sekarang ini.     

Generasi muda adalah generasi yang suka dengan hal-hal baru, sehingga gampang di iming-imingi sesuatu yang baru, karena itu penguatan ideologi negara yang ada ini harus terus dilakukan. Salah satunya dengan mengenal dan memahami lebih dekat ragam kepercayaan yang ada di Indonesia. Sehingga jika ada faham ekstrim yang menunggangi agama atau kepercayaan yang ada, maka tidak serta merta menuduh dan menghakimi salah satu agama tersebut, sebab musuh terbesar kita justru muncul dari dalam bangsa kita sendiri.

Jambore Pemuda Lintas Iman 2018 ini diadakan sebagai wujud penguatan kembali akan fungsi pemuda sebagai garda negara. Pemuda sebagai penerus bangsa harus kuat menghadapi gempuran-gempuran yang sifatnya memprovokasi baik melalui faham-faham ekstrim maupun berita hoax. Mampu memilah mana yang bertujuan untuk kepentingan bangsa dan mana yang hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu.

Di acara penutupan jambore, A. Nur Aminuddin selaku ketua panitia berpesan kepada seluruh peserta, agar cara berpikir yang sudah terbentuk secara sistematis ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus disebarluaskan. Kecintaan terhadap kesatuan dan persatuan hendaknya menjadi bagian dari imannya, sehingga bisa memahami satu dengan yang lainnya.

Sebagai bentuk tidak lanjut ke depan, para peserta berkomitmen terus melakukan kegiatan bersama baik dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Salah satunya adalah dengan melakukan sosialisasi kepada teman-teman baik di kampus, di lingkungan tempat tinggal dan lain-lain. Memberi pemahaman bersama bahwa perbedaan baik agama, suku, ras bukan menjadi masalah untuk bersama membangun bangsa. Melakukan pertemuan-pertemuan rutin satu atau dua bulan sekali dalam suasana santai dan akrab, hal ini sebagai bentuk tindak lanjut untuk mengasah dan berdiskusi, serta menjalin komunikasi.

Kiranya kegiatan Jambore Lintas Iman seperti ini dapat menjadi kegiatan rutin yang dilakukan satiap tahun. Tentu dengan peserta yang lebih banyak lagi, dan dari pelbagai macam kalangan yang ada. Hidup kesatuan dan persatuan! (doc/brkt)

Sebagai komitmen bersama, di acara penutupan para peserta membacakan Deklarasi Pemuda Lintas Iman yang berisi:

  1. Setia kepada Pancasila, UUD 45, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
  2. Menjunjung tinggi persaudaraan, kesetiakawanan sosial lintas iman, dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia.

Menjaga suasana damai dan ketentraman, sebagai perwujudan rasa persaudaraan dalam kebangsaan serta berperang melawan hoax, fitnah dan rong-rongan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here