Melayani Sambil Bekerja atau Bekerja Sambil Melayani?

0
37

Banyak orang beranggapan bahwa mengikut Tuhan tidak perlu susah-susah bekerja. Tuhan kan selalu menjaga kita, Ia tidak membiarkan kita dan tidak akan meninggalkan kita. Tinggal mengikut Tuhan, maka hidup kita terjamin. Benarkah demikian?

Saat kita melamar pekerjaan, hal pertama yang ditanyakan adalah pengalaman kerjanya. Belum pernah bekerja, pernah bekerja atau masih bekerja. Pengalaman ini yang nantinya dijadikan pertimbangan apakah kita diterima atau tidak, di samping persyaratan lain, seperti pendidikan, kesehatan, status dan lain sebagainya.

Nah, sebagai orang percaya kira-kira pekerjaan seperti apa yang Tuhan mau? Tentu kita sepakat bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan untuk kemuliaan nama Tuhan adalah yang Tuhan mau. Masalahnya, seringkali kita melakukannya hanya untuk kepentingan diri sendiri. Boro-boro untuk Tuhan, untuk orang lain saja terkadang sembunyi-sembunyi dengan apa yang dikerjakannya. Ada yang takut kalau orang lain tahu, sebab yang dikerjakan adalah pekerjaan yang dianggap rendah oleh kebanyaan orang, atau bisa saja pekerjaan kotor alias tidak halal sehingga orang lain tidak boleh tahu.

Ada juga orang yang bekerja tetapi dengan malas-malasan. Ah, yang penting terima gaji tiap bulan, lantas seenaknya sendiri dalam bekerja.

Ada lagi tipe orang yang tidak mau bekerja, apalagi harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Orang-orang seperti ini oleh pemerintah dihitung sebagai angka pengangguran. Bukankah mereka yang menganggur belum tentu tidak mampu bekerja? Banyak dari mereka yang sebenarnya bisa bekerja, tetapi tidak mau melakukannya, bukan?

Seperti memilih jurusan ketika hendak meneruskan sekolah, jurusan yang diambil seringkali karena mengikuti kemauan orang tua atau ikutan teman. Demikian juga dengan pekerjaan, banyak orang memilih pekerjaan hanya melihat jabatan dan besarnya penghasilan. Bukankah jenis pekerjaan dapat memengaruhi kepribadian kita? Jika sebuah pekerjaan yang kita jalani tidak sesuai kemampuan diri, maka bukan hasil baik yang kita peroleh. Sebaliknya, justru akan menghambat kita bekerja sesuai kehendak Tuhan.

Pekerjaan adalah bagian dari hidup kita untuk tetap bisa berelasi dengan Tuhan, jadi pilihlah perkerjaan dimana kita masih bisa menerapkan nilai-nilai seturut kehendak-Nya.

Bekerja Untuk Melayani

Dalam melayani Tuhan juga demikian. Tuhan tidak memilih orang menjadi pelayan-Nya bila orang tersebut tidak suka bekerja. Mau melayani Tuhan tetapi malas bekerja, atau bekerja tetapi asal-asalan. Dalam Matius 4: 18b dituliskan, “. . . Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan”. Menunjukkan bahwa mereka (murid-murid Yesus) sedang dan suka bekerja. Mereka bukan pengangguran tetapi orang-orang yang rajin bekerja.

Jika ingin melayani Tuhan tetapi malas bekerja, jangan harap Tuhan akan memakai kita dalam pekerjaan-Nya. Atau melayani Tuhan tetapi dengan sisa-sisa tenaga dan kemampuan kita. Ketika seseorang sedang barada dalam kejayaan duniawi, jangankan melayani Tuhan, mengingat Tuhan saja hampir tidak ada waktu. Namun, ketika kejayaannya tersebut telah hilang, baru ingat untuk melayani Tuhan.

Ada pula orang melakukan pelayanan tetapi hanya untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa ia sudah melayani Tuhan. Bergabung dengan beberapa misi pelayanan gereja, menjadi guru Sekolah Minggu, menduduki jabatan Majelis dan lain sebagainya tetapi hanya sekedar menginginkan status sebagai pelayan Tuhan? Tuhan ingin setiap orang yang melakukan pelayanan, melakukannya dengan sepenuh hati dan jiwa. Pelayanan dan pekerjaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ada kesungguhan dan totalitas yang Tuhan tuntut dalam melakukan pekerjaan dan pelayanan. Sebab dimana pun kita bekerja, disitulah juga pelayanan kepada Tuhan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here