Guyub Bocah Ajak Belajar Keberagaman

0
10

Guyub Bocah adalah sebuah perkumpulan yang memiliki jejaring yang semula pada tahun 2014 hanya empat komunitas anak desa kemudian seiring berjalannya waktu menjadi lebih dari 30 komunitas di Jawa Tengah dan DIY. Guyub bocah mengusung isu pemenuhan hak anak, penanggulangan bencana, multikultural, lingkungan dan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Guyub Bocah bersama antar anak melewati batas-batas desa dan wilayahnya untuk secara aktif memperjuangkan dan menyerukan tentang keberagaman, seperti yang dihelat pada Minggu, 7 April 2019.

Belajar Keragaman

Bertajuk “Guyub Bocah Belajar Keberagaman” lebih dari 100 anak dan pendamping yang berasal dari berbagai komunitas anak pelbagai desa seperti Forum anak Trunuh, Bolang Semanggi Surakarta, PIA Padangan, Sanggar Lare Joyomukti Keningar Magelang, Sanggar Omah Sireb Wonosari Klaten, PIA Ngenden Kebonarum dan beberapa komunitas lain berkumpul di Balai Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten. Setelah mendapat pengarahan dari Kepala Desa setempat dan dipandu oleh pengurus Guyub Bocah, maka selanjutnya para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok berasal dari berbagai desa sehingga mereka berbaur dan saling berkenalan satu sama lain.

Berkunjung ke GKI Klaten

Kunjungan pertama adalah ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klaten. 150 anak memasuki gereja yang pagi itu sedang melaksanakan kebaktian dan mereka dipersilakan naik ke balkon. Oleh pendeta, anak-anak Guyub Bocah disambut dengan suka cita. Setelah lima belas menit di dalam gereja dan mendengar pendeta memimpin kebaktianan, anak-anak kemudian diajak untuk ke gedung Sekolah Minggu yang terletak di belakang gereja.

Gedung Sekolah Minggu dibagi menjadi dua yakni untuk para remaja dan untuk anak-anak. Dengan dipandu oleh panitia dari gereja setempat, anak-anak itu berinteraksi dengan pendeta yang sedang mengajar. Beberapa pertanyaan diajukan oleh anak-anak yang beragama Islam, tentang apa tugas dan kewajiban seorang pendeta, dan apakah pendeta perempuan diperbolehkan menikah, seperti halnya pendeta laki-laki.

Berkunjung ke Pura Pitamaha

Usai di GKI Klaten, peserta kemudian mengunjungi Pura Pitamaha yang terletak di Ketandan. Oleh pemangku pura dan beberapa pengurus, beberapa di antaranya adalah remaja, para peserta diperkenalkan tentang sejarah berdirinya pura, dan denah lokasi pura. “Dulu, lokasi pura juga digunakan untuk parkir para jemaaht gereja St. Ignatius,” ujar salah seorang pemangku Pura menjelaskan di hadapan anak-anak. Selain mempertanyakan tentang arti dan simbol warna gapura pada pura, beberapa pertanyaan terkait hari-hari besar agama Hindu juga menjadi bahan pertanyaan. Hidangan berupa kue masih hangat tersedia di piring-piring. Para peserta menikmati sajian tersebut.

Ke Gereja Katolik

Tidak jauh dari lokasi Pura Pitamaha, hanya berjarak beberapa langkah saja, para pembelajar keberagaman ini lalu menuju Gereja St. Ignatius. Di samping gereja, masih dalam satu bangunan, anak-anak Guyub Bocah disambut oleh puluhan anak-anak yang tergabung dalam Pendampingan Iman Anak (PIA). Dipandu oleh pengurus gereja dan Kak Dela dari Guyub Bocah, anak-anak saling berkenalan. Hingga tiba waktu pukul 12.00. siang, ketika lonceng gereja dibunyikan. Anak-anak kemudian memasuki gereja dan saat itu banyak hal yang bisa dipelajari terkait misa dijelaskan oleh Romo.

Ke Vihara Bodhivamsa

Vihara Bodhivamsa adalah tujuan berikutnya. Vihara yang dipenuhi pohon-pohon dan bangunannya terdiri dari banyak ruangan tersebut menarik perhatian anak-anak Guyub Bocah. Ada tiga pengurus yang menjelaskan secara detail, ukiran relief yang menempel pada bengunan, ruangan semadi, hingga asrama bagi yang ingin berlatih semadi yang bangunannya terletak di belakang. “Ruangan ini minim fasilitas dan alat-alat elektronik, yang ada adalah ruang untuk tidur, pun nantinya disekat.

Para peserta training, satu sama lain tidak saling berbicara dan terputus dari dunia luar. Tidak boleh membawa telepon genggam,”ujar salah seorang Budhis. Selain ruang tidur dan ruang semadi, juga ditunjukkan pula ruangan dapur yang cukup luas. “TIdak banyak persediaan makan di kulkas. Nyaris kosong. Tetapi para peserta training tetap disediakan makan dengan jadwal ketat, ”dan benar saja, di ruangan yang cukup luas tersebut minim alat-alat memasak dan alat makan.

Ke Ponpes Mamba’ul Hisan

Tujuan terakhir para peserta belajar tentang keberagaman adalah Pondok Pesantren Mamba’ul HIsan yang terletak di Jalan Pemuda, Bareng Lor, Klaten Utara. Pengasuh Ponpes Mamba’ul Hisan, Kholilul Rohman yang juga dosen di IAIN Surakarta menyambut para peserta di salah satu ruangan pondok. Nah, disinilah para peserta dibagi dalam beberapa kelompok melakukan diskusi terkait kegiatan yang dilakukan sebelumnya.

Diskusi kelompok kemudian membuahkan sebuah karya berupa lukisan, yang menyiratkan pesan-pesan keberagaman. Dari sebelas kelompok, lalu para peserta mempresentasikannya kemudian diambil satu pemenang sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja kelompok. 

Rangga (11th) peserta dari Solo menyatakan kegembiraannya, karena untuk pertama kali bisa mengikuti rangkaian acara dari awal sampai akhir. Siswa SD Muhammadiyah di Surakarta tersebut menyampaikan harapannya agar acara semacam bisa diadakan lagi. Demikian pula Kristo (10th), salah seorang anggota Pendampingan Iman Anak (PIA) Padangan Klaten juga menyatakan kegembiraannya mengikuti acara. “Kegiatan belajar keberagaman dan multikultural sudah beberapa kali kami lakukan. Sebelum ini kami pernah menyelenggarakan hal yang sama namun berlokasi di Kota Yogyakarta, bahkan kami mengunjungi Klenteng juga. Lalu tahun lalu untuk memperingati Hari Anak Nasional (HAN) kami juga mengusung tema keberagaman dengan mengambil lokasi di Universitas Sebelas Maret serta mengunjungi tempat-tempat peribadatan yang berada di dalam lokasi kampus,”terang Ruri Putri Kriswanto, CEO Guyub Bocah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here