GKI JATIM, GEREJA YANG FENOMENAL

0
33

Jas Merah

Bung Karno sang proklamator pernah berpesan dengan dua kata: “Jas Merah” Ini akronim dari “Jangan sekali-kali Melupakan sejarah”.  Ternyata ujaran tersebut benar ketika sekarang kita memasuki zaman milenial. Ada yang mengatakan zaman digital, karena semua diukur dengan digital akibat perkembangan Indormasi Technologi (IT) yang diidolakan banyak orang.

Kini zaman berubah dengan cepat. Para milenial cenderung menyikapi dengan kondisi dan situasi yang serba canggih dan akurat, tidak bertele-tele. Pernahkah pembaca memikirkan cikal bakal gereja kita yang bernama GKI (Gereja Kristen Indonesia) Jatim. Dari manakah gereja ini bereksistensi atas kehendak dan rencana Tuhan?

Perumpamaan Penabur

Kalau Anda cermat membaca perikop Matius 13: 1-23, tentang benih yang ditabur itu. Ada empat kondisi sipenerima benih,  jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu dan sebagian di tengah semak duri. Dan sebagian di tanah yang baik, lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puh kali lipat” (Matius 13: 8). Nah, seperti itulah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah Jawa Timur dihadirkan seperti yang kita kenal saat ini.

Pentingnya Buku Alkitab

Di zaman digital, buku yang bernama Alkitab tidak begitu disentuh. Kecuali beberapa hamba Tuhan yang sedang melayani Firman Tuhan di mimbar. Bagaimana kalau Alkitab itu robek? Tentu kita tidak menghendaki. Tapi suatu kenyataan yang tak bisa dipungkiri oleh pemuda Oei Soei Tiong yang bekerja di Sidoarjo. Tempat dimana dia bekerja sebagai  pembuat mercon, matanya tertuju dengan lembaran Alkitab yang hendak dibuatnya membungkus mercon. Anehnya, kertas tipis yang satu ini tidak jadi dipakai sebagai pembungkus mercon. Ia menyimpan dan penasaran karena kata-kata dari potongan Injil Yesus Kristus menurut Yohanes pasal 10:11. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-domba-Nya”

Peran Roh Kudus

Pertobatan bisa melalui pemberitaan Firman, tetapi juga bisa melalui literatur (bacaan) Alkitab. Melalui kesaksian, tetapi juga melalui cara yang fenomenal, seperti robekan lembar halaman Alkitab.  Hanya karena penasaran Oei Soei Tiong dengan robekan Alkitab, dia pergi ke seorang pendeta di Mojowarno. Kota Mojowarno ini dulu menjadi pusat kekristenan di Jawa Timur.Setelah dijelaskan panjang lebar, mengertilah Oei Soei Tiong yang dimaksud “Gembala yang baik” adalah Tuhan Yesus yang dapat menyelamatkan dia. Imannya cepat bertumbuh bak benih baik yang ditabur seperti perumpamaan di atas. Ia dibaptis Zendling J. Kraemer di Kendal  Payak tanggal 9 Februari 1898.

Begitulah cara Tuhan memanggil orang pilihan-Nya dengan cara yang fenomenal. DR. Hendrik Kraemer seorang gerejawan, ternyata kerap berkunjung dan bermalam di rumah Oei Soei Tiong di Bangil. Dari tempat pusat  persemaian di Bangil inilah Injil tersebar ke kota-kota lain di Jawa Timur. Benarlah kata Firman Tuhan dalam Yohanes 3:8 “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau kemana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh”.

Benih yang Berbuah

Luar biasa Kreamer melakukan penginjilan di lingkungan orang-orang Tionghoa, sekitar tahun 1896. Menjelang tahun 1897 ada 125 orang yang dibaptis dan menjadi  anggota jemaat Kendal Payak. Bisa dibayangkan perjalanan Oei Soei Tiong dari Sidoarjo ke Kendal Payak/ Malang yang cukup melelahkan.  Demikian pula beberapa jemaat gereja Jawa di Mlaten (dekat Porong) juga diinjili. Pada bulan Desember anak-anak dari Bangil diundang di rumahnya untuk kebaktian Natal. Saat itu dibentuk paduan suara dan mereka kemudian melayani di Gudo, Mojosari, Mojokerto, Jombang untuk mewartakan Kabar Baik Injil Yesus Kristus.

Singkat cerita, wakil-wakil jemaat hasil penginjilan Oei Soei Tiong yaitu dari Surabaya, Bangil, Mojokerto, Mojosari, Malang dan Bondowoso hadir dalam Vergadring (sidang) gereja pada tanggal 22 Februari 1934 di Bangil. Sejak itu resmilah Raad Gredja Besar atau Tay Hwee Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) – Oost Java.Peristiwa bersejarah inilah yang dimaknai sebagai lahirnya sebuah institusi bernama GKI Jawa Timur. Sekarang bernama GKI Sinode Wilayah Jawa Timur.

Kesatuan yang beragam

Beragam tentu tidak sama dan tidak perlu disamakan. Yang sudah sama tentu jangan dibedakan.  Itulah yang tersirat di Tata Gereja – GKI (Gereja Kristen Indonesia) tahun 2009. Yang dinyatakan dalam Mukadimah alinea 8 menyebutkan bahwa wujud kesatuan GKI adalah kesatuan yang fungsional. Ia dicerminkan dalam bentuk kesatuan yang organis, dengan tetap menghargai dan memanfaatkan semua kekayaan serta kepelbagaian warisan historis.

Lebih lanjut dalam alinea 8 ini dikatakan bahwa kesatuan GKI bukanlah kesatuan yang bersifat abstrak, tetapi kesatuan yang dinampakan dalam satu organisasi yang utuh dalam satu Tata Gereja.

Tiga tetapi Satu

Nah, ini bukan Trinitas lho. Tetapi mengingat GKI berasal dari GKI Jawa Barat yang bercorak Sinodal, GKI Jawa Tengah yang bercorak Presbiterial dan GKI Jatim yang bercorak Presbiterial Sinodal. Jadi mereka memiliki warisan historis yang berbeda-beda dalam konteks lingkungan yang khas. Kesatuan ini harus terbuka kepada kepelbagaian yang ada dan tidak menekankan keseragaman yang mematikan kreatifitas dan kekayaan warisan historis oleh masing-masing bagian tiga unsur di atas.

Bertolak dari sini maka setiap tanggal 22 Februari GKI Sinwil Jatim tetap memperingati dan mensyukuri anugerah Tuhan sebagai bagian dari GKI yang menyatu dan mengesa.

Para pendeta pendahulu tahun 1934-1959

Tidak berpretensi mengkultuskan Oei Soei Tiong sebagai founding father GKI Sinwil Jatim. Walau kenyataannya beliau dijuluki Paulus-nya di GKI Jatim yang mbabat alas. Pertobatannya juga fenomenal, hanya pemberitaan dari robekan halaman buku Alkitab.

Ada beberapa pendahulu kita yang telah menumbuh suburkan ladang GKI di Jatim ini. Ini perlu kita kenang dan ketahui bagaimana mereka mengembangkan ladang Tuhan tempo doeloe dengan method jadul (zaman dulu), bukan dengan digital. Kesaksian mereka sudah dibukukan dalam buku 25 (dua puluh lima) tahun Majalah Berkat Edisi Khusus No. 100 tahun 2014 setebal 224 halaman. Ini yang saya katakan Jas Merah (Jangan sekali-kali meningalkan sejarah), tertutama pada generasi milenial yang sekarang memegang tampuk kepemimpinan GKI.

Pahlawan-pahlawan iman itu adalah:

  1. Pdt. Petrus Oei Sioe Tiong melayani tahun 1934-1946
  2. Pdt. Hwan Ting Kiong (Maranatha Imanuel Gamaliel) – tahun 1940-1975
  3. Pdt. Kwa Yoe Liang – tahun 1943 – 1946.
  4. Pdt. Thio Kiong Djien (L. Theopilus)  – 1947-1971.
  5. Pdt. Lie Tie Jong (T.J. Lintang) – 1951-1971.
  6. Pdt. Oei Liang Bie (Agustinus Johanes Obadja) – 1953 – 1969.
  7. Pdt. Kwee Tiong Bien (Matius Metusaleh) 1956 – 1973.
  8. Pdt. Han Bing Kong 1958 – 1971.
  9. Pdt. Tan Kiem Tjoe (Jojakim Atmarumeksa) 1958 – 20
  10. Pdt. Kwee Tik Hok (Jahja Kumala) 1959 – 20

Gereja dan Eklusivisme

Gereja GKI Ku-Now (1934-1950) dan GKI zaman Now jelas berbeda. Situasi dan kondisi masyarakat juga jauh berbeda. Sebagai gereja yang terpanggil di masa penjajahan Belanda, bahkan sebagian anggotanya juga orang keturunan Tionghoa lebih mempunyai kecenderungan sbb:

Kecenderungan pada menutup diri (eksklusif), lebih mengutamakan kelompok (egoisme kolektif). Bersikap pragmatis dan lebih bergantung kepada pimpinan atau pendeta. Masih bersikap pendeta centris, segala pergumulan iman berpulang apa jawab pendeta. Kecenderungan pertimbangan untung rugi mewarnai semua program pembelanjaan anggaran pelayanan gereja. Ini dimaklumi karena saat itu anggota gereja berkisar 80-90 persen adalah warga keturunan Tionghoa.

Kebanyakan keturunan Tonghoa ini juga banyak yang berdagang sebagai pengusaha. Bersikap save play dalam menghadapi tantangan dunia sekuler. Bahkan lebih mementingkan aspek prosedural ketimbang eksistensial. Tidak heran saat itu masih ada jabatan Syamas yang kemudian diganti dengan nama Diaken. Dan saat ini hanya ada dua jabatan saja, yaitu pendeta dan penatua.

Berteologia adalah hak umat

Perkembangan gereja tidak lepas dari pada bagaimana mereka memahami visi dan misi gereja masa kini. Setiap umat memang sedang berteologia, itu yang disebut teologia prima. Mensyukuri berkat Tuhan tiap hari itulah bentuk teologia prima yang dilakukan umat Tuhan. Karena kata Theos yang artinya Allah, yang diimani setiap umat diekspresikan baik dalam doa, ucapan syukur, pujian, penyembahan dan sebagainya.

Lain halnya dengan teolgia sekunda  yang sudah dikembangkan dan dibakukan dalam suatu sistematika berjenjang. Teologia sekunda bersifat universal, dan memenuhi strata secara akademis. Ini yang kita kenal dengan nama Seminari, Bible Collage, Sekolah Tinggi Teologi dan sebagainya. Yang ini sekarang telah memungkinkan anggota gereja mendalami di pelbagai sekolah teologia yang ada. Ini sebenarnya yang merupakan aset gereja dimana anggota-anggotanya dapat mendedikasikan pelayanannya sebagai mitra kerja Majelis Jemaat.

Memahami orang yang berbeda

Kalau di atas hanya terdapat 10 pendeta masa 1934-1959, sebenarnya ada satu hamba Tuhan, Pdt. Gouw Kiem Hok (Benyamin Agustinus Abednego), yang sudah melayani sejak 1959, sebagai pendeta di GKI Indramayu, Jawa Barat. Baru  tahun 1964 terpanggil  di GKI Residen Sudirman dan ikut berperan serta dalam kancah Sinode GKI Jatim. Beliau dikenal sebagai teolog yang menekuni bidang hukum gereja. Termasuk di antaranya Tata Gereja (Tager) GKI Jatim tahun 1965 yang berisi 100 pasal, dengan jumlah 39 halaman dalam format buku. Tahun 1997 menjadi 97 pasal dengan jumlah 101 halaman. Kemudian Tager 2003 oleh GKI dikembangkan menjadi 293 halaman. Dan terakhir diperbaiki tahun 2009   dengan 214 pasal sebanyak 366 halaman.

Dalam keseharian sosok yang satu ini lebih mengedepankan kebersamaan. Dikenal sebagai teolog ekumenis dengan keterlibatannya di pelbagai organisasi seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia  (GMKI), Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), Dewan Gereja di Asia (DGA) dan Dewan Gereja se Dunia (DGD). Pesan Pdt. Abednego yang tidak dilupakan BERKAT ketika dia menyatakan: “Membiasakan jemaat mengenal satu warna pandangan, akan membuat mereka berpandangan sempit. Jangan terlalu kuatir dengan pandangan yang kontroversial kalau kita mau mendewasakan jemaat” (Majalah BERKAT Th 1992).

Mengenang untuk Memotivasi ke Depan

Tahun 2019 GKI Sinwil Jatim memasuki usia 85 tahun pada tanggal 22 Februari dengan jumlah sekitar 45.000. anggota jemaat. Suatu prestasi tapi bukan untuk prestige. Karena semua itu adalah anugerah dan penyertaaan

Tuhan semata-mata. Kini GKI Sinwil Jatim telah menjadi satu sinode dengan pengikraran satu Gereja Kristen Indonesia (GKI) pada 26 Agustus 1988. Karenanya tahun ini tidak ada perayaan secara khusus  tetapi ada liturgi khusus pada hari minggunya di masing-masing gereja dalam lingkup Siwil Jatim. Kita boleh bersyukur, namun harus tunduk menyadari betapa tidak berartinya kita untuk melihat karya agung Allah. Makin kita melihat diri kita besar, makin kita tidak dapat melihat karya Allah yang begitu besar. Namun, makin kita melihat diri kita kecil, kita akan menyadari keberadaan dan pelayanan dalam satu barisan Allah yang besar. Dirgahayu 85 tahun GKI Sinwil Jatim. Benedictus – Benedicta

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here