Sejumlah Tokoh Agama Mengucapkan Ikrar Bersama Pada Peringatan Kemerdekaan Indonesia

0
15

Dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-74, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah Jawa Timur mengadakan acara bertajuk, “Konser Kebangsaan Dalam Bingkai Indonesia Merdeka.”

Kebersamaan memperingati Kemerdekaan Indonesia ini digelar di GKI Diponegoro pada 19 Agustus 2019. Sekitar 400 orang, termasuk tokoh lintas agama, organisasi keagamaan dan organisasi kemasyarakatan memadati gedung gereja yang berada di jalan Diponegoro, Surabaya tersebut.

Lagu-lagu kebangsaan, seperti Indonesia Raya, Satu Nusa Satu Bangsa, Syukur, Rayuan Pulau Kelapa, Garuda Pancasila, dan Padamu Negeri menjadi nyanyian wajib yang menyelingi selama acara berlangsung.

Sebagai penyelenggara acara, Pdt. Lindawati Mismanto selaku Ketua Umum BPMSW Sinode Wilayah Jawa Timur menyampaikan sambutannya. Selain mengajak untuk tetap bersatu sebagai bangsa, sebagai manusia, sebagai pembawa perdamaian serta persahabatan, pendeta GKI Manyar ini mengingatkan tentang ‘kasih’ yang menghilangkan ketakutan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang semula didaulat sebagai keynote speaker berhalangan hadir karena sedang menyelesaikan permasalahan Jawa Timur dan Papua. Ada pun pesan Gubernur disampaikan oleh yang mewakili, antara lain menjaga NKRI dan keberagaman.

Sebagai panitia penyelenggara, Pdt. Didik Tridjatmiko menjelaskan tujuan perhimpunan ini. Diinisiasi paska pemilu dan teror bom beberapa waktu lalu, muncul gelora menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama. Membangun persaudaraan sejati dan merayakan bersama sebagai bangsa, merenda dan membuat harmoni bersama.

Pdt. Em. Abdi Widyadi yang mengaransemen lagu di konser kebangsaan turut memberi wejangan, bahwa kita semua sahabat, tak ada permusuhan dan kebencian. Itulah perjuangan kita.

Refleksi tentang kemerdekaan disampaikan Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. Ada dua poin. Pertama, bahwa “kita sebenarnya sudah merdeka”. Namun, seiring itu banyak sekali problem yang kita hadapi. Misal, isu Papua dan teror dengan menggunakan konten-konten kebencian. Jika setiap hari kita di doktrin dengan ideologi negatif, maka yang keluar dari pikiran kita ideologi tersebut. Kedua, prasangka etnis dan ras. Prasangka ini sudah mendarah daging di tubuh kita tanpa kita sadari. Isu ras harusnya tidak ada yang dituding, justru diri sendirilah yang harus dituding.

“Jangan berputus asa dari kasih Tuhan. Hidup harus seimbang antara kekuatiran dan harapan. Para pendiri bangsa sudah memberi contoh tentang harapan proklamasi dan sumpah pemuda yang akhirnya terwujud hingga sekarang ini,” tegasnya

Lantas, bagaimana memulai mewujudkan kemerdekaan itu? “Lakukan dari diri kita lebih dulu, jika kita memiliki mimpi yang baik jangan menuntut orang lain, tetapi tuntutlah diri kita lebih dulu”, pungkasnya.

Doa bersama oleh perwakilan masing-masing agama mengakhiri rangkaian acara. Sebelum ditutup, para tokoh tersebut membacakan ikrar bersama:

  1. Kami sebagai hamba Sang Pemilik kehidupan bertekad untuk merajut harmoni, memperjuangkan perdamaian dan keutuhan ciptaan di bumi Indonesia.
  2. Kami sebagai anak-anak bangsa yang diciptakan dari tanah Ibu Pertiwi dan dihembusi nafas Khatulistiwa berjanji untuk saling percaya dan bergotong royong membangun Indonesia.
  3. Kami insan merdeka Nusantara tak akan membiarkan segala benih permusuhan tersemai dan dibuahi angkara.

Kiranya Indonesia makin jaya sentosa selamanya! Merdeka! Merdeka! Merdeka!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here