Pererat Toleransi Melalui Wisata Religi

0
9

Dalam rangka memperingati hari ulang  tahunnya yang ketiga, Forum Beda tapi Mesra (FBM) mengadakan wisata religi. Ada pun tempat-tempat yang dikunjungi, antara lain: Klenteng TITD Teng Swie Bio, Krian; Buddha Tidur, Trowulan, Mojokerto; Pura Bina Yoga, Mojosari; Pondek Pesantren Amanatul Ummah, Pacet; Penghayat Kepercayaan, Gunung Kawi; dan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Solagratia, Bumenrejo.

Wisata religi yang berlangsung pada 28 – 29 September 2019 ini bukanlah kali pertama diadakan FBM. Sebelumnya sudah ada dua wisata religi, yaitu wisata religi 1 yang diadakan 13 – 14 Desember 2017, dan wisata religi 2 pada 7 – 9 Desember 2018.

“Merajut Harmoni Dalam Kebhinnekaan” adalah tema yang diusung pada wisata religi yang diikuti sekitar 70 orang dari pelbagai agama dan kepercayaan. Di tiap tempat yang disinggahi, peserta mendapat penjelasan dan berdialog langsung dengan tokoh agama setempat.

Merajut harmoni sekaligus menimba ilmu keragaman agama dan budaya. Ya, sebab di setiap tempat ibadah yang dikunjungi ada pemaparan dari tokoh agama setempat. Di Klenteng Teng Swie Bio misalnya, peserta tidak hanya mendapat penjelasan tentang  Tridharma yang berarti tiga ajaran (Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme), tetapi juga disuguhi pertunjukan Barongsai dan wayang Potehi.

Begitu juga di Buddha Tidur, peserta mendapat penjelasan tentang sejarah Indonesia, serta diajak memahami hubungan antara budaya dan agama. Pemaparan ini disampaikan Budi Santoso selaku Pembina FBM. Ada juga Hana Amalia Vandayani dari Yayasan Pondok Kasih yang juga sekaligus Pembina FBM, memaparkan Pancasila beserta sila-sila yang ada sebagai implementasi dari kebenaran, keadilan dan kerukunan di Indonesia.

Sedangkan di Pura Bina Yoga, peserta menikmati suasana layaknya di Bali dengan nuansa bangunan Pura sebagai latar belakang. Keguyuban pun nampak setelah FBM memperkenalkan diri sebagai forum yang pengurus dan anggotanya terdiri dari lintas agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia.

Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah, Pacet menjadi tujuan keempat wisata religi ini. Ponpes yang berdiri tahun 2006 ini telah memiliki sepuluh ribu murid, dengan dua ribu lima ratus murid mendapat beasiswa. Menariknya, murid yang belajar di Ponpes ini, beberapa berasal dari negara-negara lain diluar Indonesia. “Ke depan Ponpes ini akan membuat universitas bertaraf Internasional,” ujar Kiai Asep selaku pimpinan Ponpes.

Tujuan akhir hari pertama wisata religi ini adalah tempat persembahyangan Penghayat Kepercayaan di Gunung Kawi. Di tempat ini peserta beristirahat sekaligus menginap. Esok harinya, yaitu 29 September 2019 sebagian peserta melakukan ziarah ke makam yang ada di Gunung Kawi tersebut.

Hari kedua wisata religi ditutup dengan berkunjung ke Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Solagratia, Bumenrejo. Kunjungan ini sekaligus menutup berakhirnya wisata religi 2019. Persiapan matang dari GPdi dalam menyambut kedatangan FBM menjadi acara yang berdampak luas. Kedatangan Kepala Desa setempat, Muspika, dan Majelis Ulama Indonesia sebagai bukti bahwa acara ini mendapat sambutan positif.

Tak hanya itu, ada pula dialog tentang bagaimana kerukunan di Indonesia berdasarkan sejarah, kondisi sosial, agama dan budaya beserta tantangan yang dihadapi. Sebagai pembicara, antara lain Pdt. Agustinus Madika, selaku pendeta GPdI; Joni dari Pondok Kasih; KH. Achmad Suyanto, Ketua Umum FBM; Banthe Jayamedho, Pembina FBM; dan Subur dari Penghayat Kepercayaan.

Bersama Kepala Desa, Muspika, Majelis Ulama Indonesia di GPdI Bumenrejo

Kesimpulan dari dialog tersebut, antara lain bertekad bersama-sama memerangi segala bentuk persoalan yang dapat merusak bangsa; menyadari siapa kita sebagai ciptaan Tuhan; Kasih dan perdamaian harus diutamakan; terus melakukan upaya bersama mendampingi generasi penerus mewujudkan persatuan dan kemajuan Indonesia; memviralkan virus-virus kebaikan agar terwujud harmoni diantara keberagaman. Wisata religi merupakan langkah awal untuk membuka dialog serta tindakan nyata dalam mewujudkan persatuan di tengah perbedaan, sebab perbedaan bisa menjadi kemesraan jika di dalamnya ada kasih yang terus di tebarkan. (doc/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here