Cegah Radikalisme Melalui Pendidikan Kebhinnekaan

0
6

Radikalisme telah merambah ke pelbagai tempat di Indonesia termasuk lembaga pendidikan. Survey mengatakan, beberapa dari siswa sekolah dasar hingga universitas telah terpapar faham radikal. Jika dibiarkan terus, jumlah ini akan makin bertambah. Apa yang harus dilakukan?

Untuk menjawab persoalan tersebut, maka Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Surabaya mengadakan dialog lintas agama yang digelar pada 21 Oktober 2019. Acara yang menjadi agenda rutin tahunan BAMAG ini mengambil tema, “Mewujudkan Pendidikan Formal yang Mendukung Pluralis Kebhinnekaan.”

Menghadirkan dua pembicara yang telah lama berkecimpung di dunia pendidikan, Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M. Ag., Dosen Perbandingan Agama UIN Sunan Ampel; dan Dr. Takim Andriono dari Perhimpinan Pendidikan dan Pengajaran Kristen (PPPK) Petra, Surabaya.

Acara yang dihadiri pengurus BAMAG serta kawan-kawan lintas agama ini menghadirkan pula penanggap dari tokoh-tokoh agama antara lain, dari Islam diwakili KH. Achmad Suyanto, Ketua Umum Forum Beda tapi Mesra; dari Buddha diwakili Haryanto Tanuwijaya; dari Kristen diwakili Pdt. Suwignyo; dari Konghucu diwakili Liem Tiong Yang; dari Penghayat Kepercayaan diwakili Naen Suryono; dan dari Katolik diwakili J. Jusi Qwensi.

Pembicara pertama, Ahmad Zainul Hamdi menjelaskan tentang radikalisme di dunia pendidikan. Bagaimana faham radikal itu masuk hingga menjadi terorisme. Menurut Penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) 2011, menemukan fenomena sangat mencengangkan terkait radikalisasi di sunia pendidikan. Penelitian yang melibatkan 590 responden dari total 2.639 guru PAI, dan 993 siswa Muslim di SMU dari total 611.678 murid SMU se-Jabodetabek. Survey ini menemukan fakta bahwa 63 persen responden menerima penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan keagamaan.

Begitu juga survey dari The Wahid Foundation terhadap 1.626 aktivis Kerohanian Islam (Krohis) SLTA. Di temukan ada 60 persen siap jihad ke wilayah konflik saat ini, 68 persen setuju berjihad di masa mendatang, 37 persen sangat setuju dan 41 persen setuju Indonesia menjadi negara Islam dengan membentuk kekhalifahan.

Bahkan pertengahan tahun 2018, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengemukakan bahwa tujuh perguruan tinggi negeri top di Indonesia  telah terpapar radikalisme. Dan tidak menutup kemungkinan universitas lain juga.

Dosen program studi agama-agama ini juga mengatakan, bahwa narasi kebencian ini bisa dibangun melalui media sosial. Kaum muda adalah penikmat media sosial yang sangat tinggi (survey CSIS 2017). Anak muda lebih banyak belajar agama dari media sosial daripada kiai yang ceramah secara langsung.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Selain sekolah harus memperkuat pemahaman keindonesiaan guru-guru terutama guru agama, juga harus menggandeng organisasi masyarakat keagamaan yang moderat dalam melakukan kegiatannya, hal ini untuk memperkecil celah masuknya radikalisme.

Hal lain yang perlu dilakukan, adalah memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk hidup berdampingan dengan individu atau kelompok lain yang berbeda. Baik dari sisi keyakinan, keagamaan, etnis, maupun budaya. Bisa juga dengan menciptakan siswa kader damai yang bisa terus menerus menyuarakan perdamaian, toleransi, dan kebhinnekaan.

Tak kalah penting, yaitu peran kemenristekdikti dan kemeterian lain yang terkait perlu menyelenggarakan pendidikan yang menghormati kebhinnekaan melalui penyiapan tenaga pendidik, buku ajar, dan lingkungan pendidikan yang multikulturalis dan pluralis.

Sedangkan pembicara kedua, Takim Andriono menjelaskan secara konkrit kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan siswa PPPK Petra dalam rangka menyuarakan toleransi dan kebhinnekaan. Mengajak siswa memiliki kepedulian, antara lain dengan melakukan kunjungan ke panti asuhan, rumah singgah, terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan, belajar dan bermusik bersama anak lintas agama, live in (hidup dan berinteraksi dengan masyarakat desa), serta student leadership camp, dan lain-lain.

“Anak-anak gayeng terlibat ketika ada kegiatan yang dirancang bersama. Perjumpaan yang berbeda menjadi sangat penting dan mudah diterima,” papar Takim Andriono di akhir penyampaian materi.

Sesi berikutnya adalah mendengar pendapat serta masukan dari para penanggap dialog lintas agama yang digelar di Gedung Pondok Daud, Jl. Taman Prapen Indah, Surabaya ini. Sebagian besar dari para penanggap tersebut setuju bahwa pendidikan yang menghormati kebhinnekaan harus diutamakan. Menanamkannya sedini mungkin, yang berarti tidak hanya lembaga sekolah, tetapi harus ada keterlibatan penuh orang tua dalam mendidik anaknya.

Menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi kita semua, bahwa radikalisme akan terus hidup dan menggerogoti bangsa ini melalui pelbagai cara. Ditambah lagi masih banyak orang atau kelompok tertentu yang tujuannya hanya mencari kekuasaan dengan segala cara. Karena itu, upaya pendidikan yang menuju pluralis dan kbhinnekaan harus sering dilakukan. (doc/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here