Gita Puja Bangsa 2019, Pergelaran Lintas Budaya Bernafaskan Keagamaan dan Kebudayaan Indonesia

0
3

Yayasan Pondok Kasih berkolaborasi dengan Forum Beda tapi Mesra (FBM) dan Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Surabaya menggelar Pergelaran Gita Puja Bangsa 2019 di Surabaya Town Square (Sutos), Surabaya pada Sabtu (2/11/2019).

Acara yang bernafaskan kebangsaan, budaya dan keagamaan ini diadakan di antara momen  memeringati hari Sumpah Pemuda dan menyambut hari Pahlawan 2019. Seperti disampaikan Ketua Panitia, Johny R.M. Sirait kepada BERKAT.

“Acara ini digagas oleh Hana Amalia Vandayani, Pimpinan Yayasan Pondok Kasih, Surabaya. Ia menyampaikan kerinduannya menggelar sebuah pergelaran lintas budaya dan agama yang berisi musik, nyanyian, tarian, ekspresi dan lain-lain yang bernafaskan keagamaan dan kebudayaan Indonesia,” paparnya.

“Jika kita sudah bisa menari bersama, berseminar bersama, berdoa bersama, menyanyi bersama, berekspresi bersama, sebenarnya itu simbol kerukunan dan jati diri bangsa. Bagaimana memelihara kebangsaan dan merajut keindonesiaan kita, itulah yang menjadi tujuan utama dari acara Pergelaran Gita Puja Bangsa ini,” ujar Johny.

Dia menambahkan, pergelaran ini juga menjadi salah satu bentuk usaha-usaha untuk menangkal adanya radikalisme dan intoleransi, sehingga pertahanan bangsa ini tetap kuat.

BERKAT bersama ketua panitia, Johny R.M Sirait

Usai sambutan dari BAMAG Surabaya dan dari Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur, acara Gita Puja Bangsa dibuka oleh Ketua Umum FBM didampingi Bakesbangpol dan ketua panitia.

Seminar Kebangsaan

Sebagai pembuka Pergelaran Gita Puja Bangsa, diadakan seminar kebangsaan untuk mempersiapkan kita dalam memahami keindonesiaan dari segala perspektif. Karena itu dihadirkan narasumber yang berkompeten di bidang ilmu masing-masing, antara lain Prof. Dr. Haryono, M.Pd. dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M.Si dari tokoh Nahdlatul Ulama, Dr. Bambang Noorsena, SH., MA. pendiri Institute for Syriac Christian Studies, dan Letkol Inf. Drs. Didi Suryadi, M.AP. dari kesatuan Stardam V Brawijaya.

Sebagai pembuka seminar, Prof, Haryono menjelaskan bahwa Pancasila Sebagai Warisan Suci Kita Bersama. “Pancasila menjadi bintang penuntun untuk bersatu. Ketika kita bertemu, jangan hanya berhenti pada toleransi, tetapi dapat menciptakan kreasi. Bertemunya bibit yang berbeda akan menghasilkan bibit unggul. Inses menghasilkan sesuatu yang buruk, tetapi bibit yang jauh menghasilkan yang baik,” ungkapnya.

“Jangan hanya melihat etnis karena belum tentu mewakili keseluruhan, bersinergilah dengan pelbagai elemen yang ada,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pancasila dalam tataran sudah selesai, dalam ilmu harus diperjuangkan bersama. Jangan sampai pikiran kita dipenuhi janji-janji yang tidak masuk akal. Idiologi pancasila melebihi kapitalis, khilafah dan komunisme.

“Jangan mengklaim kebenaran mutlak, tetapi bagaimana kita hidup dengan nilai keluhuran dan peradapan,” pungkas Haryono.

Prof. Ali Maschan Moesa sebagai narasumber kedua menjelaskan Religiusitas Bangsa di Tengah Keberagaman. Ada degradasi kualitas dari para tokoh agama, loyalitas bukan pada Tuhan tetapi pada agamanya. Menjadi salah kaprah serta kesalahan pada semua agama ketika beragama tidak untuk Tuhan tetapi untuk agamanya.

Ali Maschan menjelaskan, Pertama, agama menjadi alat politik. Kedua, radikalisasi politik atas nama agama. Dan ketiga, loyalitas agama kepada Tuhan, bukan agamanya.

“Jangan berhenti pada kerukunan, beranikan diri mendeklarasi dan mentransformasi, sebab hakikat agama adalah kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan yang Maha Esa,” ungkapnya.

Sebagai narasumber ketiga, Dr. Bambang Noorsena memberikan materi Melestarikan Budaya Sebagai Jati Diri Bangsa. Kuncinya adalah dialog dan saling bertemu.

Bambang Noorsena menjelaskan, Indonesia sebagai sebuah kesatuan territorial, politik dan budaya merupakan tempat bertemunya budaya-budaya besar dunia, seperti Cina, India, Arab dan Eropa. Sejak zaman kuno, wilayah Indonesia bukan wilayah yang terisolasi, melainkan terbuka dengan kebudayaan-kebudayaan luar.

“Dengan demikian, Nusantara tidak hanya ‘hamparan’ (antara) ribuan pulau (nusa) disepanjang garis katulistiwa, tetapi juga ‘hamparan nilai-nilai pelbagai budaya’ yang datang dari pelbagai penjuru dunia. Hamparan aneka budaya itu saling bertemu dan melakukan dialog kebudayaan yang dinamis,” paparnya.

“Hamparan pulau-pulau mapun nilai-nilai budaya ini sudah dijumpai jauh sebelum bangsa Indonesia menuliskan sejarahnya sendiri. Jejak-jejak historis eksistensi Indonesia, tidak hanya ditemukan dalam catatan Cina dan India, tetapi jauh sebelumnya bahkan sudah dijumpai dalam catatan Romawi, Yunani, dan Timur Tengah,” ungkap Bambang.

Dia menambahkan, bahwa Pancasila berasal dari multi bahasa bahkan sebelum era Islam, Hindu, Buddha dan lain sebagainya. “Ungkapan-ungkapan yang kita maknai bukan dari satu agama, tetapi dari beragam yang sangat majemuk ini,” tuturnya.

“Hidup kita seperti dua rel kereta yang saling membutuhkan, ketika rel itu dijadikan satu maka kereta akan roboh. Saling menerima adalah kuncinya. Dan bukan manusia diciptakan untuk agama, tetapi agama diciptakan untuk manusia. Dari dialog menjadi dewasa mengakui perbedaan untuk saling mendukung,” pungkasnya.

Letkol Inf. Drs. Didi Suryadi, M.AP. sebagai pembicara terakhir menerangkan tentang Membangun Ketahanan Bangsa Di Tengah Arus Globalisasi Saat Ini. Nasionalisme menjadi salah satu aspek untuk ketahanan negara.

“Bangsa Indonesia lahir bukan atas dasar persamaan kelahiran, kesukuan, asal-usul kedaerahan, rasa tau pun keagamaan, tetapi berdasarkan kesamaan keinginan atau cita-cita untuk merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” ujar Didi Suryadi.

“Dalam bela negara, ada ancaman militer dan ancaman non militer. Ancaman non militer lebih berbahaya dari pada ancaman militer, sebab selain sulit diprediksi, ancaman ini sulit diidentifikasi. Ancaman tersebut antara lain: Ancaman berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan informasi, serta keselamatan umum,” paparnya lebih lanjut.

Didi menambahkan, media sosial (medsos) menjadi faktor terbesar sebagai ancaman non militer. Karena itu gunakanlah medsos untuk kroscek informasi agar tidak terprovokasi bahkan jadikan sebagai media untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Ketahanan nasional akan tercapai jika diawali dari membangun ketahanan pribadi terlebih dulu, kemudian meningkat kepada ketahanan keluarga, dilanjutkan ketahanan lingkungan, serta ketahanan daerah,” ingatnya.

Parade Dimulainya Pergelaran

Selesai seminar kebangsaan, acara dilanjutkan parade tokoh lintas agama sebagai tanda dimulainya pergelaran budaya Indonesia, seperti hadrah, barongsai, tarian nusantara maupun daerah, pencak silat, tari barong, doa dan nyanyi bersama. (john/brkt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here