Merajut Keberagaman Merawat Kebhinnekaan

0
6

Dunia dan segala isinya diciptakan Allah dalam keberagaman. Ada terang ada gelap, ada matahari, ada bulan dan bintang. Ada pegunungan, ada pantai dan lautnya, aneka tumbuhan dan hewan, baik di darat dan di laut. Demikian juga Allah menciptakan manusia, ada pria dan wanita. Tubuh manusia-pun terdiri dari anggota-anggota tubuh yang berbeda baik sifat maupun fungsinya. Justru keberagaman itu menunjukkan kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan.

Menyikapi Keberagaman

Salah satu sikap kita sebagai umat beriman adalah bersyukur. Karena dengan bersyukur, kita dapat menikmati kehidupan yang Allah berikan. Sebagai anak bangsa yang dilahirkan di persada Indonesia, kita menikmati kebesaran Allah yang luar biasa. Nyanyian Kidung Jemaat No. 337 diberi judul “Betapa Kita Tidak Bersyukur”, inilah penggalan syairnya . . .

Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur;
lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.

Bumi yang hijau, langitnya terang, berpadu dalam warna cemerlang;
indah jelita, damai dan teduh, persada kita jaya dan teguh.
Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa
;

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang beragam. Beragam sukunya, agama, tradisi dan sebagainya. Keberagaman tersebut dapat dirajut lewat budaya dan kegiatan bersama dan aksi sosial.Selain menjadi jembatan saling memberi (sharing) keberagaman juga menjadi basis kompetisi dalam kebaikan (goodness) dan kepentingan bersama (mutual interest). Karena itu kompetisi ini harus dibangun dalam bingkai dan semangat kebersamaan dan kesatuan negara yang berazaskan Pancasila. 

Merajut Persahabatan

Tahun 1972, penulis tinggal di kampung Jl. Potroagung, Surabaya. Kami tinggal di rumah seadanya yang berukuran 6x15m. Tetangga rumah seberang  jauh berbeda luasnya, milik seorang perwira polisi LetKol. Sukardi. Selain itu beliau  juga menjabat sebagai Takmir Masjid Potroagung. Entah bagaimana hubungan saya dengan beliau layaknya sudah seperti saudara saja. Suatu hari putri pertama kami sakit panas dan dia datang ke rumah saya menawarkan membawa kami dengan mobilnya ke dr. Pitono, ahli penyakit anak yang dia kenal.  Hari sudah larut malam, dan beliau tetap mendampingi saya sampai selesai diperiksa. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 1.00. pagi.

Sebagai seorang Muslim yang bertaqwa dia sudah memberikan pertolongan yang sangat berarti bagi saya. Hubungan tetangga ini terus berlanjut dengan harmonis ketika satu hari dia berkata: “Kalian ini pantas jadi anak saya”, dan jadilah saya anak angkatnya. Begitu indahnya persahabatan, saya anak pendeta, tapi mempunyai bapak angkat seorang Muslim yang juga seorangTakmir Masjid. Bukankah keyakinan kita yang berbeda itu tidak menjadi penghalang untuk saling menolong bahkan saling mengasihi? Sayang beliau sudah pulang kerahmatullah.

Ngobrol soal hakikat masing-masing agama, justru meperkaya wawasan kami untuk saling menghargai indahnya keberagaman itu. Yang sering kami cari adalah persamaan dari masing-masing kitab suci kami dan bukan mempertentangkannya. Ternyata banyak mutiara indah yang kita temukan ketika tanpa berpretensi apapun kita berdialog dengan ketulusan hati.

Merajut Keberagaman

Memahami keberagaman tidak semudah membalik tangan. Sejatinya  yang kita dapati adalah berbeda dengan yang kita imani. Bukankah kita mendapat perlakuan yang diskriminatif di lingkup terkecil seperti dalam keluarga?  Lalu kita dapati dalam lingkup masyarakat juga? Bahkan dalam pelbagai aspek kehidupan sekalipun, yang kita dapati adalah perbedaan. Maka keberagaman itu penting untuk dirajut, dijaga, dianyam dalam bingkai kesatuan dan kebersamaan tadi. Salah satu hal yang terpenting dari proses menjaga keberagaman adalah sikap toleransi. Toleransi sudah sejak dahulu dikenal di Indonesia. Sebagai bangsa yang besar, yang meliputi pulau-pulau, dengan beragam ras, suku bangsa, bahasa dan agama. Toleransi adalah sikap mental yang mau menghargai keadaan orang lain walau berbeda pola pikir kita.

Berawal dari Dialog

Omong-omong itu kunci sebuah komunikasi yang harmonis. Bahasa keren nya dialog. Kesehatian dimulai dengan bertemu. Dengan bertemu kita saling mengenal. Dari mengenal kita bisa memahami dan berlanjut dengan saling mengasihi.  Bermula Ketum Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Pdt. Dr. Sudhi Dharma berinisiatif mengundang pemuka-pemuka agama yang ada di Surabaya untuk makan bersama di RM Delisia.

Pertemuan itu sarat dengan dialog dari hati ke hati  mengamati situasi dan kondisi tanah air  dalam berbangsa dan bernegara. Kesimpulannya: Audience prihatin dan harus ada upaya pencerahan merekatkan tali silahturahmi yang terganggu.

Silahturahmi itu berlanjut pada tanggal 3 September 2016 di kebun durian milik Ir. Tirta Santoso. Suasana nyaman dan udara sejuk di Trawas banyak memberi inspirasi para tokoh agama yang hadir. Maka digagaslah sebuah forum lintas agama yang dinamakan Forum  Beda tapi Mesra yang disingkat FBM.Mereka sadar bahwa mereka berbeda dalam keyakinan agama masing-masing. Namun mereka juga sadar bahwa Indonesia itu rumah kita yang harus dirawat bersama.

Kita merdeka karena kita berbeda. Tidak ada Indonesia tanpa ada Konghucu, Hindu, Budha, Kristen dan Islam. Justru keberagaman dalam beragama ini memiliki satu tujuan luhur yang kemudian lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Jadilah  Pancasila sebagai alat pemersatu yang di dalamya memiliki filosofi Bhineka Tunggal Ika. Dengan kata lain berbeda-beda tapi tetap satu. Dengan sila pertama ke Tuhanan Yang Maha Esa, maka tidak perlu dipersoalankan peran tiap-tiap agama dalam bersama membangun negeri tercinta  ini.

Merawat Keberagaman

Membangun itu mudah, tapi merawat itu jauh lebih sulit kalau tidak disertai dengan komitmen dan niat  yang tulus. FBM tidak berkiprah pada partai politik. FBM adalah organisasi keagamaan yang majemuk yang bukan supra organisasi dari lembaga-lembaga keagamaan yang sudah ada. FBM adalah komunitas musyawarah dalam berjejaring dengan semua lembaga agama dalam kesetaraandengan konsepgive and take.

Sejatinya FBM lahir dalam lingkup terbatas yang dihadiri unsur-unsur Yayasan Masjid Indonesia (YAMMI), Yayasan Sosial Bakti Moral (YSBMI), Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG), Yayasan Pondok Kasih, Vihara Dharma Jaya, Tri Dharma Hong San Ko Tee. Pertemuan itu secara aklamasi memilih K.H. Drs. Ahmad Suyanto sebagai Ketua Umum FBM.

FBM lahir karena komitmen yang kuat dari pemimpin-pemimpin agama untuk merawat dan melestarikan kebhinekaan yang ada. Itu dimungkinkan karena  para Pembina, Penasihat dan Pengurus bertekad menggalang kesatuan dalam keberagaman  (Unity in Diversity). Yang beda tidak perlu disamakan. Dan sudah sama tidak perlu dibedakan. Dalam FBM tidak berlaku lagi Aku dan Kamu. Yang ada adalah Kita. Bahwa kita ini menerima amanah melestarikan apa yang sudah dicanangkan founding fathers bung Karno, bapak proklamator bangsa Indonesia.

Visi FBM adalah melestarikan amanah Pancasila dalam berbangsa dan bernegara berdasarkan UUD, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan misi menjalin tali silahturahmi dan persaudaraan antar sesama anak bangsa. Mewujudkan kerukunan dengan saling menghormati keyakinan masing-masing agama.

Karena itu dibutuhkan sikap ketersalingan yaitu berpikir positif, menghargai sesama insani, menerima kelebihan orang lain. Mengembangkan sikap kepedulian pada lingkungan sekitar untuk mewujudkan NKRI yang gemah limpah loh jinawi (tentram dan makmur serta sangat subur).

Menyatukan Visi ke Depan

Atas anugrah Tuhan bulan September 2019 yang lalu berkenan mensyukuri HUT yang ke-3. Suatu rentang waktu yang masih singkat, namun telah berdampak banyak dalam mengedepankan kerukunan dan kebersamaan antar anak bangsa. Respon positif dari kunjungan wisata religi telah membuahkan adanya relasi pimpinan umat beragama untuk saling mengenal dan memahami esensi masing-masing agama. Bahkan ditindak lanjuti untuk mengadakan acara bersama. Jiwa gotong royong adalah filosofi budaya kita sejak dulu.  

Salah satu kegiatan FBM adalah menyelenggarakan seminar dan diskusi kebangsaan dalam semua aspek. Baik itu aspek agama, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Kerjasama dengan BAMAG terlihat sangat kompak dalam menjabarkan nilai-nilai kebangsaan, terutama dalam mengantisipasi deredikalisasi, intoleransi, krisis kerukunan anak bangsa, degradasi nasionalisme dll.

Kiprah FBM membutuhkan derap langkah yang terpadu dari Pembina, Penasihat dan Pengurus. Belajar dalam bersinergi selama tiga tahun, diharap semua komponen tetap fokus pada visi utama. Kedepankan kebersamaan, kesampingkan kepentingan pribadi (vested interest) dan mengabdi dengan ketulusan sesuai iman yang menyatu dengan tindakannya. Melalui FBM kita belajar untuk bertumbuh dewasa dalam mengejawantahkan iman yang dipahami. Tentu dengan guyub, gotong royong dan ketersalingan kita mewujudkan kerukunan yang diridhoi Allah.

Seperti pemazmur katakan: “Alangkahbaiknya dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Mazmur 133: 1, 3b). Dirgahayu FBM. Gusti tansah amberkahi sedaya ingkang rukun. Salam Pancasila.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here