Alkitab, Masih Pentingkah?

0
4

Tema yang saya ajukan dalam tulisan ini, mungkin, bagi sebagian orang Kristen terdengar aneh dan terlalu retoris. Untuk apa dipertanyakan? bukankah Alkitab masih sangat penting dan relevan bagi kehidupan? Mengapa harus dipertanyakan kembali?

Pertanyaan balik semacam ini memang benar adanya. Setiap orang Kristen pasti akan berseru “penting” baik mereka yang rajin membaca Alkitab maupun mereka yang masih mencari injil Lukas di Perjanjian Lama. Semua orang akan beramai-ramai mensepakatinya. Namun, persoalannya “apakah ketika orang berseru penting, artinya semuanya beres?” Tentu harus dibuktikan keabsahan jawaban itu; karena ketika kita mencoba mendekatkan antara jawaban dengan kenyataan, kerap kita temukan keduanya tidak berbanding seimbang.

Sebagai contoh, sekalipun ini tidak serta merta membuktikan penting atau tidak penting Alkitab bagi orang Kristen. Di Gereja yang saya layani, Majelis Jemaat menempatkan satu lemari etalase yang bertuliskan “ barang-barang tertinggal“. Rupanya fenomena barang tertinggal pasca ibadah dinilai cukup tinggi maka Majelis Jemaat bersengaja menempatkan lemari tersebut agar jemaat mudah mendapatkan kembali barangnya yang tertinggal.

Dalam etalase ada banyak barang, dari kacamata hingga sisir, dari tas kecil hingga Alkitab. Sampai sejauh ini saudara pasti dapat menebak, barang terbanyak yang tertinggal adalah Alkitab, dan ironis, hingga hari ini, Alkitab tersebut tidak ada yang mencari dan mengambilnya. Hingga ketika Alkitab-Alkitab itu sudah “menggunung”, kami sumbangkan kepada mereka yang memerlukannya.

Kira-kira masihkah jawaban “penting” itu relevan dengan kenyataan? Mengapa orang Kristen tak mencarinya? Sementara ketika dompet/handphone tertinggal, jemaat segera mencari dan menemukannya? Masih pentingkah Alkitab?

Kekuatiran terbesar adalah kita sering tak menyadari bahwa orang Kristen modern tak punya cukup ruang untuk menghargai dan mencintai Alkitab. Jika sebatas mengakui pentingnya Alkitab, saya rasa tidak satupun yang menyangkal. Namun, bagaimana bisa menilai Alkitab ‘penting’ ketika penerimaan dan penghargaan terhadap Alkitab terasa amat minim.

Persoalan kita tentu tidak sesederhana ini, tetapi sebuah pertanyaan reflektif adalah sejauh mana Alkitab mempengaruhi kehidupan kita. Apakah ide-ide kehidupan yang kita jalani, bertitik tolak dari kebenaran Alkitab? Apakah berita Alkitab sudah menjadi inspirator dan motifator kehidupan? di tengah masyarakat dunia yang “haus” akan motivasi, adakah orang Kristen menimba motivasi dari berita Alkitab? Seberapa jauh hidup kita bertumbuh dari pembacaan dan perenungan Alkitab? seberapakah kecintaan kita pada Alkitab, sehingga hidup kita diwarnai dan dipengaruhi olehnya?

Alkitab Sebagai Pusat Kehidupan

Kepada Jemaat di Efesus (Efesus 4:11-15), Rasul Paulus menyampaikan nasihat yang penting dalam kerangka pembangunan tubuh Kristus. Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Kata kuncinya adalah “diperlengkapi” (katartismon). Siapa yang diperlengkapi? Rasul Paulus katakan ..”untuk memperlengkapi orang-orang kudus” (to prepare God’s people for works of service – NIV). Ketika LAI menyebut “orang-orang kudus” tentu tidak ada kait mengkaitnya dengan kesempurnaan atau tanpa cacat cela, namun lebih dimaknai sebagai “orang – orang yang dikuduskan”.

Kekudusan dikaitkan dengan kasih karunia Allah atas orang-orang percaya. Kasih karunia Allah yang menyelamatkan manusia dan menjadikan manusia dipulihkan untuk mengerjakan karya Allah (lihat Efesus 2:1-10). Sebab itulah “orang-orang kudus” diperlengkapi (Katartismon). Katartismon mengandung arti medis yang bermakna membereskan, menyempurnakan, memulihkan dari sakit, menyambung tulang yang patah.

Kehadiran para “nabi, rasul, pemberita Injil, gembala, pengajar (pejabat gerejawi), berfungsi untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan agar setiap orang kudus mencapai kesatuan iman, memiliki pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, Dewasa, bertumbuh, tidak mudah diombang-ambingkan rupa-rupa pengajaran, berpegang teguh pada kebenaran di dalam kasih dan membangun diri dalam kasih.

Orang-orang kudus diperlengkapi agar secara pribadiia menjadi dewasa (memiliki pengetahuan yang benar, bertumbuh, tidak mudah diombang-ambingkan angin pengajaran) dan secara komunal (kesatuan iman) ia mampu menjadi bagian dari pembangunan tubuh Kristus. Disinilah keberadaan “pejabat gerejawi” penting. Namun, yang perlu disadari bahwa keberadaan para pejabat gereja bukan sumber kelengkapan. Mereka adalah alat di tangan Tuhan. Sumber kelengkapan ada pada hikmat Kristus yang tertulis dalam Alkitab. Alkitab adalah sumber, dasar pertumbuhan dan pembentukan. Setiap pejabat gereja tidak membawa pesannya sendiri tetapi pesan Tuhan.

Melalui Alkitab, orang-orang kudus dipandu pada tujuan yang benar. Sebuah fakta kehidupan, dunia ini penuh penyesat dan kesesatan. Ketika seseorang tak memiliki pedoman dalam hidupnya, seseorang akan tersesat. Manusia perlu petunjuk akurat untuk benar-benar menemukan kebenaran. Beberapa orang mengilustrasikan Alkitab ibarat waze (aplikasi penunjuk arah) yang menuntun langkah seseorang. Seseorang harus bersedia dipandu pada arah yang benar, sekalipun arah yang ditunjukkan kerap tidak selalu memuaskan. Ketika seseorang tunduk pada kebenaran Alkitab maka dipastikan seseorang menuju pada kehidupan yang tepat.

Melalui Alkitab orang-orang kudus terjaga konsistensinya. Menyamakan Alkitab dengan aplikasi Waze tentu memiliki kelemahan, karena ketika seseorang sudah paham arah maka waze tidak lagi diperlukan. Alkitab adalah kompas yang menjaga seseorang pada satu tujuan dalam hidupnya. Dunia terus berubah; apa yang hari ini benar, bisa jadi esok tak lagi benar, atau yang hari ini salah amat mungkin esok menjadi kebenaran. Kebenaran dalam Alkitab menjaga setiap orang-orang kudus tetap konsisten pada kebenaran yang hakiki.

Setiap orang percaya perlu menempatkan Alkitab sebagai pusat kehidupannya. Karena itu alangkah pentingnya memelihara waktu-waktu teduh pribadi dan keluarga dalam pembacaan Alkitab. Di dalam pembacaan Alkitab, persekutuan dengan Bapa tercipta; komitmen hidup benar ditekankan dan kasihpun diperjuangkan. Sebagai jemaat Tuhan, alangkah bijaksananya jika Alkitab yang kita miliki (hard copy/buku) tak tergantikan dengan mobile Bible.

Ada nilai sejarah yang tak tergantikan dengan mengatasnamakan praktis atau kenyamanan. Alkitab dalam keadaannya perlu mendapat apresiasi sebagai warisan Gereja yang telah mewarnai dunia dan turut membangun hidup. Yang terakhir, biarlah Alkitab terbaca bagi semua orang melalui hidup kita. Bacalah Alkitab dan jadikan diri kita sebagai kitab terbuka yang dibaca banyak orang.

Penulis: Pdt. Imanuel Gunawan Prasidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here