Peran Gereja di Era Milenial

0
26

A growing number of people are leaving the institutional church for a new reason. They are not leaving because the have lost their faith. They are leaving the church to preserve their faith.” (Reggie McNeal)

Suatu pagi seorang rekan mengirimkan gambar yang berisi kutipan dari Reggie McNeal di atas. Saya ingin menerjemahkannya secara bebas: “Semakin bertambah jumlah orang yang meninggalkan gereja institusional untuk sebuah alasan yang baru. Mereka meninggalkan gereja bukan karena tak beriman lagi. Mereka meninggalkan gereja untuk memelihara iman mereka.”

Sayang dalam kutipan yang pendek itu saya tak mendapatkan definisi apa arti gereja yang institusional. Namun, saya bisa menduga, dan semoga tidak salah-salah amat, bahwa Reggie McNeal sedang mengamati sebuah tren yang baru. Gereja-gereja yang disebutnya institusional itu tak lagi dipandang cukup untuk memelihara iman, sehingga orang-orang tertentu memutuskan untuk pergi ke gereja-gereja yang lain. Bukan karena kehilangan iman, namun justru untuk menjaga imannya tetap hidup.

Dalam pengalaman yang terbatas, ketika berkhotbah di gereja-gereja kontemporer tertentu di Surabaya, saya seringkali melihat dan menjumpai anggota gereja-gereja tradisional, seperti GKI, GKJW, HKBP dan GPIB, hadir di sana. Bukan sekadar hadir, bahkan beberapa orang menjadi aktivis kunci.  Percakapan setelah ibadah biasanya mengungkapkan alasan mereka meninggalkan gereja yang lama: gak ada gregetnya, rapat terus acaranya, ribut terus di sana dan ujung-ujungnya mereka berkata kurang lebih,” Saya merasa tidak bertumbuh.”

Saya tidak ingin langsung membenarkan pernyataan tersebut, karena di pihak lain gereja yang ditinggalkan seringkali juga memberikan label seperti: tidak setia, biang kerok masalah, atau orang yang sulit kepada mereka yang meninggalkan gereja yang lama. Jadi, mana yang benar?

Yang benar adalah fenomena perpindahan anggota gereja, apa pun alasannya, menunjukkan bahwa anggota gereja sekarang punya kebebasan dan pilihan. Tak lagi ada ikatan sosial apalagi organisasional yang mampu mencegah mereka untuk berpindah ketika mereka merasa tak mendapatkan apa yang diharapkan. Bahkan di era milenial seperti masa kini tetap setia di satu gereja bukan jaminan bahwa gereja itu yang mewarnai iman dan keyakinannya karena mereka dapat mengakses materi tulisan, gambar, video dan bahkan live streaming dari gereja lain, bukan?

Zaman Terus Berubah: Sadarkah Kita?

Tuhan Yesus pernah mengungkapkan dengan keras, ”Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? (Lukas 12:56). Konteks percakapan ini adalah banyak orang Israel waktu itu, khususnya ahli Taurat dan orang Farisi, membaca nubuatan tentang kehadiran sang mesias dan apa yang akan mesias itu perbuat. Yesus datang dan menggenapi nubuat itu. Ia membuat perubahan besar lewat perkataan dan karya-Nya, namun mengapa mereka tak juga percaya? Yesus menggambarkan perubahan itu meninggalkan jejak seperti rupa bumi dan langit, kapan hari terik dan kapan akan hujan. Bagi saya, Tuhan Yesus sedang menunjukkan bagaimana perubahan zaman itu meninggalkan jejak yang kasat mata. Perubahan zaman itu sejelas awan yang bertiup, dan mendung yang mendadak hadir. Hanya orang munafik yang mengingkari perubahan kasat mata tesebut.

Perhatikanlah zaman di mana kita hidup saat ini. Teknologi berubah dengan cepat. Segala sesuatu makin mudah dan juga makin murah karena teknologi. Dulu orang rasanya malu setengah mati bila terpaksa menjadi ojek motor atau supir taksi, kini orang berbondong-bondong mendaftar menjadi driver ojek dan taksi online yang penghasilannya juga lebih baik dari masa lalu. Media Sosial juga telah mengubah sumber berita kita. Tak hanya ada satu sumber, kita punya beragam sumber. Pendapat ahli bisa dibantah orang awam di media sosial. Orang bebas mengekspresikan diri dengan segala keanehannya. Masih ingat soal kerajaan fiktif itu?

Zaman berubah, sadarkah kita? Lihat saja di tangan kita. Nyaris tak ada lagi yang masih memakai Blackberry, bukan? Jangan bersikap munafik dengan mengatakan bahwa segala sesuatu masih seperti yang dulu. 

Zaman Terus Berubah: Bagaimana Sikap Kita?

Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? (Lukas 12:57). Perkataan  TuhanYesus ini sebenarnya adalah tantangan bagi tiap orang untuk mengambil sikap dan keputusan. Perkembangan zaman memberikan tantangan moral yang baru. Kita dituntut untuk mengambil keputusan berdasarkan apa yang kita nilai sebagai kebenaran.  Perubahan dan perkembangan zaman, serta implikasi moralnya, tak memberi ruang bagi orang untuk hanya berdiam diri.  Apa keputusan yang harus diambil berdasarkan keyakinan akan kebenaran.

Contoh sederhana, misalnya adalah anak-anak yang mengikuti kebaktian anak atau yang lazim disebut Sekolah Minggu. Apakah mereka diperbolehkan mengikuti sekolah minggu dengan gawai di tangan mereka, atau harus memasukkan gawai itu kesaku mereka? Demikian pula anggota atau simpatisan yang menghadiri kebaktian minggu?

Salah satu ciri era milenial adalah mobilitas yang makin tinggi. Makin sulit untuk mengumpulkan banyak orang untuk duduk bersama dan melakukan rapat gerejani. Nah, apakah diskusi di grup WA bisa menjadi pengganti rapat BPMJ atau PMJ? Demikian pula ada perubahan yang harus kita lakukan terkait dengan aktivitas-aktivitas gerejani kita, bukan? Apakah masih relevan dan menjawab kebutuhan di era milenial ini?

Zaman Terus Berubah: Apakah Gereja Bersedia Terus Belajar?

Salah satu ciri jemaat perdana di era para rasul, selain bertekun dalam doa dan persekutuan, adalah kesediaan mereka untuk terus belajar. Mereka merenungkan dan mempelajari Firman Tuhan.  Inilah salah satu tugas gereja yang penting. Apakah gereja masih terus mempelajari dan menggali firman dan memperlihatkan relevansi firman itu dalam kehidupan sehari-hari?

Seringkali berita mimbar bukanlah uraian pengajaran Firman Tuhan namun telah berganti dengan analisa sosial politik, perspektif psikologis, motivasi bisnis atau pendekatan terbaru terkait satu problem tertentu. Teks Alkitab, dan bahkan Leksionari yang ada, tak diulas sama sekali atau tidak secara memadai. Lebih mirip seminar motivasi, analisis sosial politik atau ceramah kebudayaan.

Sayang sekali kesempatan seminggu sekali untuk menguraikan Firman Tuhan dan menunjukkan relevasinya tak optimal tereksekusi lewat mimbar minggu. Tugas untuk mempelajari Firman Tuhan dan menunjukkan relevansinya dalam hidup sehari hari masih menjadi tugas gereja, anggota dan pimpinan, untuk terus belajar.

Tugas belajar kedua adalah mempelajari sumbangsih dari pelbagai bidang ilmu dan perkembangan teknologi yang dapat diterapkan untuk membuat gereja makin bugar dan segar melayani anggota jemaat di era milenial ini. Sebagai contoh sederhana: betapa mengenaskannya dan tidak ramah lingkungannya gereja yang masih melakukan survei secara tertulis padahal google form dapat digunakan karena mayoritas anggota memegang gawai di tangannya. 

Dalam penanganan kasus-kasus pastoral, saya rasa perkembangan Psikologi akan memberikan banyak input yang berarti agar pendekatan gereja lebih relevan. Misalnya ketika berurusan dengan stres dan depresi yang makin mewarnai kehidupan manusia di era milenial ini. Dari sosiologi kita akan mendapatkan input apa yang sedang terjadi dengan masyarakat tempat gereja hadir dan melayani. Demikian pula perkembangan teknologi informasi yang pasti memberikan banyak manfaat bagi kehidupan bergereja.

Ya, tugas gereja, pimpinan dan anggota, di era milenial adalah terus belajar. Belajar Firman Tuhan dan belajar perkembangan pengetahuan. Tanpa belajar sebenarnya kita sudah mati walau belum dikremasi. Terus belajar. Yang terbaik masih akan datang!

Penulis: Pdt. Wahyu Pramudya, pendeta GKI Ngagel, Surabaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here